Pukul lima pagi, kebun mangga itu berbau embun dan tanah yang baru dingin.
Kalila bangun sebelum alarm. Kebiasaan lama. Dulu ia bangun karena takut; sekarang tubuhnya saja yang belum tahu bahwa tidak ada lagi yang perlu ditakuti sepagi ini. Ia berbaring sebentar dan mendengarkan. Ayam Bibi Mai di kandang belakang. Sapu lidi menggaruk halaman. Batuk kecil Ken di luar sana, jauh, di antara pohon-pohon.
Tidak ada langkah asing. Tidak ada mobil yang berhenti terlalu lama di depan pagar.
Ia turun dari ranjang dan melipat selimut. Lalu kakinya membawanya ke jendela lebih dulu, sebelum ke kamar mandi, seperti biasa.
"Sudah lama, Kalila," gumamnya pada kaca. "Berhenti, dong."
Kaca itu tidak menjawab. Di luar, kabut tipis menggantung setinggi lutut di antara batang-batang mangga, dan Ken berdiri di sana dengan sarung tangan kebun dan kepala mendongak, memandangi satu dahan seperti orang yang sedang berdebat dengan pohon.
Kalila keluar membawa dua gelas kopi.
"Kalah?" tanyanya.
"Belum," kata Ken. "Dia mau berbuah di ujung. Padahal ujungnya kurus. Nanti patah."
"Terus?"
"Terus aku bujuk."
"Pohon tidak bisa dibujuk."
"Makanya aku belum kalah," kata Ken, dan mengambil gelasnya. Jari-jarinya kotor dan ia tetap memegang gelas itu dengan dua tangan, seperti orang kedinginan padahal tidak.
Kalila menghirup kopinya, lalu berhenti. Baunya terlalu tajam pagi ini. Ia menaruh gelas itu di atas batu.
"Tidak enak?"
"Enak. Cuma belum mau."
Ken tidak bertanya lagi. Itu salah satu hal yang paling Kalila sukai darinya: laki-laki ini tahu kapan sebuah jawaban sudah selesai.
Pukul enam, keluarga Bibi Mai datang. Tiga motor, satu gerobak, dan suara anak-anak yang langsung berlari ke arah ruang kaca di ujung kebun. Ruang kaca itu dibangun bertahun-tahun lalu oleh Faris. Sekarang isinya rak bibit, ember, dan tumpukan peti kayu. Kalila pernah berpikir untuk merobohkannya. Ia tidak jadi. Bangunan tidak bersalah atas apa yang terjadi pada orang yang membangunnya.
"Bu Kalila!" Bibi Mai melambai dari gerobak. "Yang blok tengah sudah tua semua. Hari ini saja, ya, sebelum hujan."
"Berapa peti?"
"Kalau anak-anak tidak makan di pohon, empat puluh."
"Kalau makan?"
"Tiga puluh delapan," kata Bibi Mai, lalu tertawa sampai bahunya naik.
Pak Adi datang paling akhir, memakai topi lebar, membawa timbangan gantung yang kaitnya sudah karatan. Rambutnya putih hampir semua sekarang. Dulu laki-laki ini duduk semalaman di lorong dekat kamar Kalila, punggung tegak, tidak tidur, karena ada orang yang memutuskan bahwa Kalila adalah barang yang bisa dimiliki. Sekarang pekerjaannya menimbang mangga dan mengomeli anak-anak yang memanjat tanpa alas kaki.
"Turun, Ntan! Kulit mangga itu licin!"
"Tidak licin, Pak!"
"Nanti kalau jatuh, saya yang dimarahi ibumu, bukan kamu."
Kalila menonton dari beranda dan merasakan sesuatu yang butuh waktu lama untuk ia kenali namanya. Bukan bahagia. Lebih tenang daripada bahagia. Sesuatu yang isinya cuma: hari ini akan berjalan seperti kemarin, dan itu bukan berita buruk.
Pukul tujuh mereka ke pasar.
Sutini sudah menunggu di depan los ikan dengan dua keranjang dan wajah orang yang sudah menawar sejak sebelum matahari naik. Rambutnya diikat tinggi. Ia memanggil Kalila dengan suara yang sama seperti bertahun-tahun lalu, waktu keduanya harus bicara pelan-pelan supaya tidak ada yang mendengar.
"Lama," katanya. "Kembungnya sudah habis."
"Kata siapa habis?" Kalila menunjuk baskom. "Itu apa?"
"Itu punya orang."
"Punya orang mana?"
"Punya saya," kata Sutini. "Saya kan orang."
Rania datang dari arah los sayur, mendorong roda kursinya sendiri di jalan pasar yang basah, lalu berhenti di depan tanjakan beton di mulut los ikan. Ia mengeluarkan meteran gulung dari tas.
"Tunggu," katanya. "Jangan ada yang berdiri di situ."
"Untuk apa?" tanya Sutini.
"Mengukur." Rania menarik meteran, menempelkannya ke beton, membaca angkanya. "Naiknya dua puluh dua senti. Panjangnya cuma seratus sepuluh. Ini bukan landai. Ini tembok yang malu-malu."
"Terus?"
"Terus saya tulis. Nanti saya bawa ke pengelola pasar."
"Mereka tidak akan dengar," kata Sutini.
"Sekali dua kali memang tidak," kata Rania sambil menggulung meterannya. "Tapi saya datang tiap Kamis. Lama-lama lebih murah membetulkan tanjakan daripada mendengarkan saya."
Kalila membuka mulut. Ia hampir berkata, biar Mbak saja yang bicara ke pengelola, Mbak kenal orangnya. Kalimat itu sudah sampai ke ujung lidahnya.
Ia menelannya. Ia beli ikan.
Menelan kalimat itu terasa seperti pekerjaan. Betul-betul seperti mengangkat sesuatu yang berat.
"Mbak mau bilang sesuatu," kata Rania tanpa menoleh.
"Tidak."
"Mulut Mbak terbuka setengah tadi."
"Aku mau bilang ikannya mahal."
"Ikannya memang mahal," kata Sutini dari belakang keranjang. "Tapi bukan itu yang mau dibilang."
Rania tersenyum sedikit dan menulis angka di buku kecilnya. Tulisannya rapi, huruf-hurufnya berdiri tegak. Di halaman sebelumnya ada tujuh tanjakan lain, lengkap dengan tanggal dan nama losnya.
"Sudah tujuh," kata Kalila.
"Delapan," kata Rania. "Yang di depan mushala belum saya hitung karena kemarin ditutup gerobak es."
"Kamu benar-benar datang tiap Kamis?"
"Tiap Kamis," kata Rania. "Kadang Selasa juga, kalau pengelolanya sedang ada."
Mereka pulang sebelum pukul sembilan. Di jalan, keranjang ikan itu bergoyang di pangkuan Sutini, dan bau amisnya bercampur dengan bau mangga dari peti-peti di bak belakang. Kalila memandang punggung tangannya sendiri di setir dan berpikir bahwa dulu ia menyangka hidup yang tenang itu artinya tidak ada yang perlu dikerjakan. Ternyata bukan. Tenang itu justru pekerjaannya penuh, hanya saja tidak ada yang mengintai di ujungnya.
Di rumah, panen berjalan sampai lewat tengah hari. Bau mangga masak itu penuh dan manis dan sedikit memusingkan kalau terlalu dekat. Getah menempel di lengan dan mengering jadi garis-garis cokelat. Peti-peti disusun di depan ruang kaca. Ken mencatat angka di buku dengan tulisan yang hanya bisa dibaca oleh dirinya sendiri.
"Berapa?" tanya Kalila.
"Empat puluh satu."
"Kata Bibi Mai empat puluh."
"Anak-anaknya tidak jadi makan di pohon," kata Ken. "Mereka makan di gerobak."
Sore, langit berubah kelabu di sisi barat. Ken bilang ia mau ke kota sebentar, mengantar contoh buah ke pembeli baru. Sebentar, katanya. Dua jam.
Pukul tujuh malam ia belum pulang.
Kalila menelepon. Tidak diangkat. Ia menelepon lagi. Nada sambung itu panjang sekali, dan di sela-selanya kepalanya mulai bekerja sendiri: cepat, rapi, kejam. Ia melihat jalan. Ia melihat mobil berhenti. Ia melihat dua orang turun dari mobil itu. Ia sudah pernah melihat gambar itu terjadi sungguhan, dua kali, dan tubuhnya menghafalnya jauh lebih baik daripada apa pun yang pernah ia pelajari di sekolah.
Devan. Faris. Dua nama yang tidak pernah ia sebut keras-keras di rumah ini, tapi selalu ada di dalam hitungan menit semacam ini.
Ia berdiri di beranda dengan telepon di tangan sampai lampu motor Ken belok masuk pagar, pukul delapan lewat.
Ken turun sambil membawa kantong berisi jeruk.
"Macet," katanya. "Ada perbaikan jalan di—"
"Kenapa tidak angkat telepon."
Ken berhenti. Ia melihat wajah Kalila dan langsung tahu bahwa jeruk tidak akan menyelamatkannya malam ini.
"Di saku belakang," katanya pelan. "Tidak terasa."
"Aku telepon sebelas kali."
"Maaf."
"Aku tidak minta maaf." Suara Kalila naik, dan ia membiarkannya naik. "Aku minta kabar. Kalau kamu telat, bilang telat. Satu baris saja. 'Aku telat.' Dua kata."
"Kalila—"
"Kamu tahu isi kepalaku selama satu jam tadi apa?"
Ken menaruh kantong jeruk itu di lantai beranda. Pelan. Seperti orang yang sedang mengosongkan tangan supaya bisa dipakai untuk hal lain.
"Tahu," katanya. "Makanya aku tidak akan bilang kamu berlebihan."
Kalila menarik napas. Marahnya kehilangan pegangan, lalu meluncur turun menjadi sesuatu yang lebih tua dan lebih capek.
"Aku tidak mau jadi istri yang menghitung menit," katanya. "Aku benci itu. Ibuku begitu ke ayahku, dan rumah kami jadi seperti kantor absen."
"Ini bukan absen."
"Terus apa?"
"Kabar," kata Ken. "Kabar itu bukan izin. Aku tidak minta izin kamu untuk pulang jam berapa. Aku cuma memberi tahu kamu bahwa aku masih ada."
Kalila diam. Angin dari kebun membawa bau tanah yang mau kena hujan.
"Aturannya begitu saja, ya," lanjut Ken. "Aku kirim kabar, bukan minta izin. Kamu terima kabar, bukan memberi nilai. Kalau aku lupa, kamu boleh marah seperti tadi. Aku tidak akan bilang kamu lebay."
"Dan kalau aku yang lupa?"
"Aku marah. Sama kerasnya."
"Setuju," kata Kalila.
Ken mengangguk sekali, seperti orang yang baru saja menandatangani sesuatu. Lalu ia mengambil kantong jeruknya lagi.
"Jeruknya kebanyakan," kata Kalila.
"Iya."
"Kenapa beli sebanyak itu?"
"Karena aku telat," kata Ken, "dan aku panik."
Kalila tertawa. Tawa itu keluar dengan tidak rapi, setengah menabrak sisa marahnya, dan begitu keluar seluruh malam terasa longgar kembali. Ia mengambil satu jeruk, mengupasnya di beranda, lalu membaginya dua.
Mereka duduk di sana sampai lampu di rumah Bibi Mai padam. Bau hujan datang dari arah kebun: tanah, daun, sedikit getah. Tangan Ken menemukan tangan Kalila di antara kulit jeruk. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memutar cincin di jari Kalila dengan ibu jarinya, pelan-pelan, seolah sedang memastikan benda itu masih ada di tempatnya.
"Masuk," kata Kalila akhirnya, dan suaranya sudah berubah.
Ken masuk. Kalila mematikan lampu beranda dan menutup pintu. Di luar, hujan mulai turun, keras di atap seng gudang, lembut di atas daun.
Besok paginya, bau kopi membuat perut Kalila berputar lagi.
Ia berdiri lama di dapur, memegang gelas yang tidak jadi diminum, menghitung mundur di kepalanya. Sekali. Dua kali. Hasilnya sama.
Dari luar terdengar suara Ken, sedang berdebat dengan pohonnya.
Kalila menaruh gelas itu, menyandarkan punggung ke meja dapur, dan tersenyum ke arah lantai. Senyum kecil. Takut. Dan tidak bisa dihentikan.
Bersambung.