Sukowati ternyata sebuah desa di kaki bukit, tiga jam berkendara dari kota. Maya berangkat saat fajar, boneka porselen di kursi belakang, kini dibungkus tiga lapis kain dan diikat tali—bukan karena ia percaya itu menahannya, tapi karena ia butuh ilusi kendali.
Sepanjang jalan, ia merasa diawasi. Sesekali, di kaca spion, ia bersumpah melihat kain bungkus boneka bergerak, seakan sesuatu di dalamnya menggeliat. Sekali, ia mendengar tawa kecil. Ia menyalakan radio sekeras mungkin dan terus menyetir.
Pasar lama Sukowati adalah bangunan tua bergaya kolonial, sebagian sudah runtuh, sebagian masih dipakai pedagang. Bau rempah, kain, dan tanah basah bercampur. Maya menyusuri lorong-lorong sempit, mencari kios nomor 9.
Kios itu di sudut paling belakang, hampir tersembunyi. Tirai-tirai kain batik tua menggantung di depannya. Dan di dalam, duduk di kursi kayu, seorang perempuan sangat tua—mungkin sembilan puluhan—dengan rambut putih disanggul, mata keruh, tapi tatapan yang tajam menembus.
"Kamu Maya," kata perempuan itu, bukan bertanya. "Keponakan Sari. Aku lihat dari matamu. Mata keluarga itu."
"Anda... S?" Maya ragu.
"Namaku Suryani. Tapi sudah lama tidak ada yang memanggilku begitu." Ia memberi isyarat agar Maya masuk dan duduk. "Letakkan dia di sana. Jauh dari kita. Di atas garam itu."
Maya baru sadar ada lingkaran garam di sudut kios. Ia meletakkan boneka di sana, lega bisa melepaskannya.
Suryani menatap boneka itu lama, dengan ekspresi yang Maya tidak bisa baca—benci, sedih, takut, dan anehnya, sayang.
"Tahun 1923," Suryani mulai, suaranya serak, "aku masih gadis kecil. Di desa ini ada keluarga kaya, keluarga Reksa. Salah satu anak perempuan mereka, Nawang, sakit keras. Ibunya tidak rela melepaskannya. Maka ia memanggil Mbah Wira, dukun paling disegani, untuk melakukan 'nyawan'—membuat boneka penampung roh, agar Nawang tidak benar-benar pergi."
Maya mendengarkan, napasnya tertahan.
"Tapi ada yang salah." Suryani menutup mata. "Mbah Wira tua dan tamak. Ia tidak hanya menampung roh Nawang. Ia mengikat sesuatu yang lebih lapar ke dalam porselen itu—roh kelana, makhluk tanpa nama yang ia kira bisa ia kendalikan untuk menjaga Nawang. Ia salah. Makhluk itu memakan Nawang dari dalam, mengambil wajahnya, suaranya, kenangannya. Sekarang yang ada di boneka itu bukan Nawang. Ia hanya memakai nama Nawang. Ia jauh lebih tua, dan jauh lebih lapar."
"Lalu bagaimana Anda terlibat?" tanya Maya.
Suryani membuka mata, dan ada air di sana. "Karena akulah yang membuat boneka itu. Aku murid Mbah Wira. Aku yang menjahit gaunnya, melukis wajahnya, memasang matanya. Tanganku yang memberinya bentuk." Ia mengangkat tangannya yang keriput dan gemetar. "Dosaku berusia seratus tahun. Dan setiap orang yang mati karena boneka itu—Bu Yanti, Sari, dan entah berapa lagi sebelumnya—adalah darah di tanganku."
Hening menggantung berat.
"Kenapa Anda berikan ke keluarga Sari?" Maya hampir berbisik.
"Aku tidak memberikannya." Suara Suryani mengeras. "Boneka itu yang memilih. Ia selalu bergerak menuju keluarga Reksa—keturunan Nawang. Sari... ibumu... kamu. Kalian semua keturunan keluarga Reksa, Maya. Boneka itu pulang ke darahnya sendiri. Itu sebabnya ia memilihmu. Itu sebabnya, di antara semua, kamu yang paling sulit lolos."
Maya merasa lantai seakan amblas di bawahnya. "Saya... keturunan Nawang?"
"Adik Nawang. Garis adiknya." Suryani mengangguk pelan. "Dan boneka itu, sepanjang seratus tahun, terus mencari jalan pulang ke keluarganya. Sekarang ia sudah di tangan keturunan termurni yang tersisa. Kamu."
Dari sudut kios, di atas garam, kain bungkus boneka itu perlahan terbuka sendiri. Dan mata biru kaca itu menatap Maya, berkilau, seolah tersenyum mendengar kebenaran akhirnya terucap.