"Bisa dihentikan?" tanya Maya, suaranya nyaris putus. "Tolong katakan ada cara menghentikannya."
Suryani memandangnya lama. "Ada. Tapi mahal. Dan berbahaya."
Ia bangkit dengan susah payah, mengambil sebuah kotak kayu tua dari balik tumpukan kain. Di dalamnya, kertas-kertas lapuk penuh tulisan tangan, sebotol kecil cairan gelap, kemenyan, dan sebilah jarum jahit perak yang sudah menghitam.
"Catatan Mbah Wira," kata Suryani. "Aku mencurinya saat ia mati, lima puluh tahun lalu. Aku tidak pernah berani memakainya. Tapi kamu—mungkin kamu harus."
Ia membentangkan kertas itu. "Ritual untuk melepaskan roh kelana dari boneka harus dilakukan oleh dua orang: yang membuat boneka, dan yang sedarah dengan rohnya. Itu aku, dan itu kamu." Suaranya bergetar. "Roh kelana terikat ke porselen oleh jahitan—bukan jahitan kain, tapi jahitan ruh. Mbah Wira menjahit makhluk itu ke dalam boneka dengan benang yang direndam darah Nawang. Untuk melepaskannya, jahitan itu harus dibuka, lalu rohnya dipulangkan ke tempat ia seharusnya: ke kubur Nawang yang asli."
"Di mana kubur Nawang?"
"Di pemakaman tua desa ini. Tapi yang sulit bukan itu." Suryani menatapnya tajam. "Saat jahitan dibuka, makhluk itu akan bebas sejenak. Ia akan mencari tubuh untuk masuk. Tubuh hidup, sedarah, agar ia bisa lahir kembali dan tidak pernah bisa diusir. Ia akan mencoba masuk ke dalam dirimu, Maya. Dan kamu harus menolaknya—dengan keinginanmu sendiri—lalu kita kunci dia ke kubur sebelum fajar. Kalau kamu lengah, kalau kamu ragu sedikit saja, ia akan menempatimu. Dan tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu."
Maya menelan ludah. "Kenapa saya harus mempercayai Anda? Anda yang membuat semua ini."
"Justru karena itu." Mata tua Suryani basah lagi. "Aku ingin mati dengan tenang, Nak. Seratus tahun aku menanggung dosa ini. Aku terlalu tua. Boneka itu mengejarku dulu, tapi aku lari, ganti nama, sembunyi. Aku biarkan orang lain jadi tumbal supaya aku selamat. Itu kepengecutan yang membuatku tidak bisa tidur selama lima puluh tahun." Ia meraih tangan Maya, genggamannya dingin tapi erat. "Biar aku tebus. Sebelum aku mati. Izinkan aku membantumu mengakhirinya."
Maya menatap perempuan tua itu, lalu menatap boneka di atas garam. Pita merah, gaun renda, mata biru. Wajah yang seratus tahun lalu dibuat oleh tangan yang kini menggenggamnya.
"Baik," kata Maya akhirnya. "Malam ini. Pemakaman tua."
Suryani mengangguk, dan untuk pertama kalinya, sesuatu seperti harapan melintas di wajahnya yang keriput.
Tapi saat itu, dari dalam lingkaran garam, suara kecil itu berbicara—jernih, manis, dan sedingin es.
"Suryani," kata boneka itu, dan perempuan tua itu membeku. "Sudah lama sekali. Kamu menua dengan jelek. Tapi tidak apa-apa. Aku tidak butuh kamu lagi." Bibir porselen melengkung. "Aku punya yang lebih muda sekarang. Yang lebih segar. Yang lebih... sedarah."
Mata biru itu beralih ke Maya.
"Kamu pikir kamu akan mengunciku malam ini?" Suara tawa kecil, renyah, mengerikan. "Aku sudah seratus tahun menunggu kepulangan ke darahku. Dan kamu sendiri yang membawaku ke sini. Terima kasih, Maya. Kamu anak yang baik. Sekarang aku tinggal beberapa langkah dari pulang ke dalam tubuhmu."
Lilin di kios padam satu per satu. Dan di luar, meski masih sore, langit mendadak gelap seperti malam.