Lantai top eksekutif Gtech Digital selalu terasa seperti lemari es raksasa. Sunyi, kaku, dan didominasi oleh warna abu-abu monokrom. Bagi Nara, melangkah ke lantai ini sama saja dengan menguji nyali. Dengan tinggi badan yang pas-pasan dan sweter rajut kebesaran berwarna pastel yang ia kenakan, Nara terlihat seperti kelinci yang tersesat di sarang serigala.
Di ujung lorong, di balik meja kaca besar, duduk sang CEO: Adrian. Pria itu adalah definisi hidup dari kata "sempurna tapi tidak tersentuh". Rahangnya tegas, setelan jasnya tidak pernah lecek selembar benang pun, dan matanya setajam pisau bedah.
Nara menarik napas dalam-dalam, memeluk map laporan keuangan divisi kreatif erat-erat.
"Kamu bisa, Nara. Cuma mengantar map, lalu kabur," bisiknya pada diri sendiri.
Nara mengetuk pintu kaca. Tok. Tok.
"Masuk," terdengar suara berat dan dingin dari dalam.
Nara melangkah masuk dengan senyum paling ceria yang ia punya. "Selamat pagi, Pak Adrian! Ini laporan revisi kampanye digital untuk bulan depan dari tim kreatif."
Adrian tidak langsung mendongak. Jemarinya masih menari di atas kibor, menyelesaikan surel penting. Ketika dia akhirnya mengangkat wajah, tatapan matanya langsung mengunci Nara. Dingin, tanpa ekspresi.
"Kamu terlambat tiga menit," ucap Adrian datar.
"Ah... maaf, Pak. Tadi liftnya penuh sekali, lalu saya sempat—"
"Saya tidak butuh alasan, Nara. Saya butuh ketepatan waktu," potong Adrian sembari mengambil map dari tangan Nara. Kulit mereka sempat bersentuhan sedetik, dan Nara bersumpah dia bisa merasakan hawa sedingin es menjalar ke lengannya.
Nara mengerucutkan bibirnya tanpa sadar, kebiasaan refleksnya saat merasa kesal tapi tidak bisa protes. Adrian yang sedang membuka map, mendadak berhenti. Matanya melirik bibir Nara yang maju beberapa milimeter itu.
"Ada masalah dengan mulutmu?" tanya Adrian, menaikkan sebelah alisnya.
"Eh? Enggak, Pak! Mulut saya sehat walafiat!" seru Nara panik, langsung memamerkan senyum lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.
Adrian tertegun sesaat. Sinar matahari pagi yang menembus jendela besar di belakangnya mendadak membuat wajah ceria gadis di depannya tampak terlalu... terang untuk ruangannya yang gelap. Adrian berdeham pendek, mengusir rasa canggung yang tiba-tiba muncul.
"Kembali ke mejamu. Dan pastikan besok tidak ada drama lift penuh lagi."
"Siap, Bos Ding—eh, Pak Adrian! Permisi!" Nara membungkuk cepat, lalu berbalik dan hampir saja menabrak pintu kaca saking terburu-burunya.
Adrian memperhatikan punggung kecil itu menghilang di balik pintu. Sudut bibirnya yang biasanya terkunci rapat, entah bagaimana, berkedut membentuk senyuman tipis yang sangat samar.