Seminggu kemudian, badai pekerjaan melanda Gtech Digital. Peluncuran aplikasi terbaru mereka mengalami kendala teknis, dan tim kreatif harus merombak total strategi visual dalam waktu semalam.
Pukul sembilan malam. Kantor sudah sepi, menyisakan Nara yang masih berkutat dengan tablet grafisnya, dan Adrian yang setumpuk dokumennya belum juga habis di ruangan kaca.
Kruuuk~
Suara nyaring dari perut Nara memecah keheningan. Nara meraba perutnya dengan wajah melas. "Aduh, cacing-cacing sudah demo brutal."
Tiba-tiba, bayangan tinggi tegap berdiri di samping kubikelnya. Nara mendongak dan mendapati Adrian sudah melonggarkan dasinya, gulungan kemejanya ditarik hingga siku—penampilan yang membuat kadar ketampanannya naik seratus persen.
"Belum selesai?" tanya Adrian.
"Tinggal finishing maskot aplikasinya, Pak. Tapi otak saya agak macet karena kurang asupan," jawab Nara jujur, matanya berkedip-kedip polos.
Adrian menghela napas, lalu meletakkan sebuah bungkusan kertas cokelat di meja Nara. Bau harum ayam goreng mentega langsung menguar.
"Makan. Saya tidak mau ada karyawan yang pingsan di kantor saya dan menuntut asuransi," kata Adrian, terdengar ketus namun tindakannya berkata sebaliknya.
"Wah! Serius ini buat saya, Pak?" Mata Nara berbinar-binar. Tanpa basa-basi, dia langsung membuka bungkusan itu. "Pak Adrian nggak makan?"
"Saya sudah—"
Kruuuk~
Kali ini, bunyi itu berasal dari perut Adrian. Keheningan sesaat terjadi. Wajah Adrian yang biasanya seputih porselen mendadak berubah agak kemerahan. Dia membuang muka, berpura-pura batuk.
Nara menahan tawa setengah mati. Dia membagi dua porsi nasi dan ayamnya dengan cekatan di atas kertas minyak. "Nah, ini pas porsinya. Ayo makan bareng, Pak. Makan sendiri itu rasanya kayak jomblo mengenaskan."
Adrian ingin menolak, tapi aroma makanan dan rasa lapar yang mendera membuatnya menyerah. Dia menarik kursi kerja kosong di sebelah Nara dan duduk di sana. CEO agung Gtech Digital kini duduk di kubikel karyawan biasa, makan dari kertas minyak yang sama.
"Kamu selalu seberisik ini?" tanya Adrian di sela kunyahannya.
"Saya nggak berisik, Pak. Saya cuma menghidupkan suasana. Kantor Pak Adrian itu mirip rumah hantu, tahu. Dingin dan horor," celos Nara tanpa saringan.
Adrian tersedak. Nara dengan sigap menyodorkan botol minumnya yang bermotif bebek kuning lucu. Adrian meminumnya tanpa berpikir panjang.
"Kamu tahu, kamu bisa saya pecat karena menghina atasan?" ancam Adrian, tapi nadanya tidak lagi sedingin es. Ada sedikit nada jenaka di sana.
"Bapak nggak akan pecat saya. Siapa lagi yang mau membagi ayam gorengnya dan meminjamkan botol bebek ini ke Bapak?" Nara menyengir, menunjukkan deretan giginya yang rapi.
Adrian memandangi botol bebek di tangannya, lalu beralih ke wajah Nara yang belepotan saus di sudut bibirnya. Tanpa sadar, tangan Adrian bergerak. Dengan ibu jarinya, dia mengusap noda saus di pinggir bibir Nara.
Sentuhan itu lembut, kontras dengan sifat kasarnya selama ini. Nara terpaku, matanya membelalak. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
Adrian yang baru sadar dengan tindakannya segera menarik tangannya kembali, berdeham salah tingkah. "Ada saus. Mengotori pemandangan."
"Ah... t-terima kasih, Pak," cicit Nara, wajahnya kini semerah tomat matang.