Dinamika di kantor berubah sejak malam lembur itu. Adrian tetap menjadi bos yang tegas dan perfeksionis, tetapi pandangan matanya selalu melunak setiap kali berpapasan dengan Nara. Dia bahkan mulai sering memesan kopi lewat Nara hanya agar bisa melihat gadis itu tersenyum di pagi hari.
Hingga suatu hari, sebuah kesalahpahaman terjadi. Proyek besar yang mereka kerjakan dituduh menjiplak karya agensi lain. Suasana rapat pemegang saham memanas, dan beberapa manajer menyalahkan tim kreatif—tempat Nara bernaung.
Nara berdiri di tengah ruang rapat, menunduk, meremas ujung sweternya. Dia tahu dia tidak bersalah, tapi dia tidak punya cukup suara untuk melawan para petinggi.
"Desain ini murni hasil riset kami selama tiga bulan, Pak..." suara Nara bergetar, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Cukup," sebuah suara berat menghentikan perdebatan.
Adrian bangkit dari kursi utamanya. Dia berjalan mendekati Nara, lalu berdiri tepat di depan gadis itu, seolah menjadi perisai yang melindunginya dari tatapan tajam seisi ruangan.
"Saya yang mengawasi proyek ini dari awal. Jika ada yang meragukan integritas tim kreatif, artinya kalian meragukan keputusan saya sebagai CEO," ucap Adrian tegas, suaranya menggelegar penuh otoritas. "Saya pastikan, dalam waktu dua puluh empat jam, tim hukum Gtech akan membuktikan bahwa pihak lawanlah yang mencuri ide kami. Rapat selesai."
Semua orang terdiam dan mulai meninggalkan ruangan dengan terburu-buru. Begitu ruangan sepi, Nara tidak bisa menahan tangisnya lagi. Isakan kecil lolos dari bibirnya.
Adrian berbalik. Melihat kelinci kecilnya menangis, dadanya terasa seperti diremas. Tanpa memedulikan status atau tempat, Adrian melangkah maju dan menarik Nara ke dalam pelukannya.
Nara tersentak, namun kehangatan d**a Adrian membuatnya nyaman. Dia membenamkan wajahnya di kemeja mahal Adrian, menumpahkan seluruh rasa takutnya.
"Jangan menangis," bisik Adrian lembut, tangannya mengusap rambut Nara dengan pelan. "Saya di sini. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu atau menyalahkanmu."
"Pak Adrian..." gumam Nara di sela tangisnya.
"Panggil Adrian saja kalau kita sedang berdua," potongnya. Adrian melonggarkan pelukan, menangkup wajah Nara dengan kedua tangannya, memaksa mata bulan sabit itu menatapnya. "Kamu tahu kenapa saya sangat marah saat mereka menyalahkanmu?"
Nara menggeleng pelan, hidungnya yang memerah terlihat sangat menggemaskan.
"Karena gunung es ini sudah mencair, Nara. Dan kamu penyebabnya. Saya tidak suka melihat milik saya dibuat menangis oleh orang lain."
Epilog: Aturan Baru di Gtech Digital
Satu tahun kemudian.
Suasana lantai eksekutif Gtech Digital masih sama: bersih, rapi, dan profesional. Namun, ada satu pemandangan baru di meja kerja sang CEO. Di sebelah laptop premiumnya, kini selalu bertengger sebuah botol minum plastik bermotif bebek kuning.
Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Nara masuk membawa secangkir kopi hitam dan sekotak donat dengan taburan meses warna-warni.
"Kopi tanpa gula untuk Bos Dingin, dan donat manis untuk saya!" seru Nara riang, langsung duduk di lengan kursi kerja Adrian.
Adrian tidak protes. Dia justru melingkarkan lengannya di pinggang Nara, menarik istrinya itu agar duduk lebih nyaman di pangkuannya. Ya, status mereka sudah berubah sejak enam bulan lalu.
"Hari ini ada rapat penting, kenapa kamu pakai jepit rambut stroberi lagi?" tanya Adrian, jemarinya memainkan jepit rambut kecil di kepala Nara.
"Biar imut! Katanya Bapak suka yang imut-imut?" goda Nara, mencolek hidung Adrian.
Adrian mendengus pelan, lalu mengecup kening Nara dengan penuh kasih sayang. "Saya tidak suka yang imut-imut. Saya cuma suka kamu."
Nara tertawa renyah, suara tawanya memenuhi ruangan yang dulu terasa seperti lemari es itu, kini telah sepenuhnya berubah menjadi tempat paling hangat di seluruh penjuru kantor.