Siang ini Ken tidak dapat berpikir dengan jernih. Pikirannya semraut memikirkan keberadaan Julie yang tidak dapat dia ketahui atau jangkau. Wanita itu menjadi sangat jauh darinya, padahal dulu mereka sedekat urat nadi.
Tetapi Ken tetap profesional, menjalani tugasnya sebagai jaksa yang berdedikasi tinggi pada pekerjaan. Dia berusaha mengesampingkan masalah Julie ketika sidang terlaksana. Barulah setelah selesai, pikirannya kembali mengingat Julie.
Lana bagai serpihan kaca yang mungkin tidak bisa dia ingat sekarang. Terlupakan karena sosok Julie yang terlalu kuat dalam pikirannya. Dia jadi mengingat bagaimana pertemuannya pertama kali dengan Julie. Sosok wanita impiannya.
- - - - - -
“Rey, ayo kita pulang. Aku mulai bosan,” ajak Ken seraya bangkit dari duduknya lalu menaruh beberapa lembar uang ratusan dollar di atas meja bar.
Rey Leonard Ackles—sepupunya, putra semata wayang Lady Sofia, keponakan sang Ratu Inggris yang menikah dengan Johnny Ackles.
Rey memelototi tidak senang. “Baru sebentar, Ken!”
Ken tidak menanggapi kalimat Rey karena dia sudah berjalan pergi meninggalkan sepupunya yang masih betah duduk di sana menikmati b****g indah para w*************a.
“Damn! Kau s****n, Ken!”
Rey mengejar langkah Ken dan bagusnya sekarang sudah dapat menyamakan. Mereka berdua berjalan ke luar bar bersama-sama. Beberapa wanita yang baru saja akan masuk bar, terpesona melihat keduanya secara langsung. Pesona dua pria ini memang tidak main-main.
“Ken, lain kali kita pergi ke klub saja supaya kau tidak bosan. Ajak Adrien, dia penguasa semua klub di sini. Lagi pula–”
Kalimat Rey terpaksa menggantung ketika suara yang lebih kencang terdengar. Sontak, Ken dan Rey melihat ke arah kanan mereka, tepat suara tersebut berasal.
“Sudah ku katakan, aku tidak mengenalmu!” teriak seorang wanita yang berusaha melepaskan tangan pria di hadapannya.
Ken merasa perlu menghentikan aksi pria itu, karena nampaknya wanita yang sedang berusaha melepaskan cengkramannya terlihat tidak senang.
“Ken, jangan ikut campur. Itu urusan mereka. Wajar sepasang kekasih bertengkar,” cegah Rey. Namun sayang, Ken mengabaikan dan menghampiri kedua orang yang tengah berseteru.
Rey menghela napas. Sudah biasa melihat Ken 'selalu' membantu orang lain. Padahal tidak perlu mengurusi hal semacam itu kan bisa.
Ken bukan sok pahlawan, tetapi dia tidak suka ada yang bertindak kasar apalagi memaksa seperti itu pada seorang wanita.
“Hey! Lepaskan tanganmu darinya,” tegur Ken pada pria yang masih bersusah payah membujuk wanita di hadapannya.
“Siapa kau? Aku kekasihnya, jadi untuk apa melepaskan tangan,” tolak pria itu.
“Bukan, dia bukan kekasihku,” bantah wanita yang ada.
“Sekarang, lepaskan atau aku akan menuntutmu atas tindakan pemaksaan.” Ken menegaskan.
Pria itu berdecak sombong. “Aku tidak takut denganmu. Dasar b*****h s****n! Mengganggu saja!”
Akibat tersulut emosi, pria itu melepas tangannya dari lengan wanita yang sempat dia paksa. Sekarang pria itu berjalan maju dan berupaya untuk melancarkan pukulan pada Ken. Sayang, Ken mahir dalam urusan beladiri. Hanya sepersekiandetik, usaha pria itu gagal karena Ken sudah menangkis pukulannya dengan mudah.
“Kau salah berbuat seperti itu.”
Baru akan Ken akan bergantian melancarkan pukulan, Rey menahannya. Dia menarik tubuh Ken dan mewakili sepupunya untuk memukul pria itu. Bukan mau sok pahlawan, tetapi karena Rey tidak ingin Ken terkena masalah. Pasalnya Ken seorang jaksa, dan kalau ada yang memberitahu atas kejadian pemukulan pasti akan timbul masalah. Jadinya Rey yang mewakili. Sebenarnya Rey juga akan terkena masalah jika ada yang mengetahui akan insiden pemukulan ini, namun dia dapat mengatasinya. Berbeda dengan Ken yang mungkin akan kesulitan memberi alasan.
Pukulan Rey yang keras mengenai rahang pria itu dan membuatnya tersungkur jatuh ke tanah. Darah mengalir begitu pukulan itu mendarat sempurna. Sementara Rey sibuk mengomeli pria itu, Ken mendekati wanita yang terlihat sedang memerhatikan bekas merah akibat cengkraman pria tadi.
“Kau baik-baik saja?” tanya Ken.
Wanita itu tersenyum. “Aku baik-baik saja. Terima kasih atas bantuanmu dan temanmu.”
“Kita bukan teman, Miss. Oh ya, dia sepupuku, namanya Ken. Dia jaksa hebat dan terkenal. Kau sudah mendengar namanya dari berita kan?” sela Rey setelah selesai membereskan urusannya.
“Iya, aku tahu. Kennedy Ackles, jaksa muda yang terkenal itu. Ah, kalau begitu, aku permisi. Terima kasih atas bantuan kalian berdua.” Wanita itu tersenyum manis. Dagunya yang terbelah dapat terlihat jelas bersama sorot mata hijau menawan miliknya.
Wanita itu sudah pergi berlalu. Ken terpesona. Rey yang menyadari hal itu langsung menggerakkan tangannya ke depan wajah Ken yang masih memandangi tubuh wanita itu yang sudah menjauh.
“Well, well, sepertinya ada yang jatuh cinta,” usik Rey dengan kekehan meledek.
Ken berlari mengejar wanita itu dan mengabaikan ledekan sepupunya. Dari jauh Rey tersenyum penuh arti.
“Hey, wait!”
Wanita itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Rambut panjangnya mengibas sempurna sesaat tubuhnya memutar supaya menghadap Ken.
“Ya?”
“Umm...” Ken kebingungan sendiri. “Bolehkah aku tahu siapa namamu?”
Wanita itu tersenyum lalu menjawab, “Juliana. Namaku Juliana Hemsworth.”
“Aku Kennedy Ackles. Umm... kau bekerja di mana? Mengapa pulang selarut ini?”
Padahal bukan urusannya untuk tahu, tetapi mulutnya ingin menanyakan hal itu.
“Aku bekerja di bar itu, Mr. Ackles. Aku baru saja pulang kerja. Ah, ya, aku duluan Mr. Ackles, sampai jumpa lagi.”
Julie menjadi sosok yang berhasil membuat Ken penasaran.
- - - - -
Berawal dari kejadian itu, Ken jadi sering mendatangi bar yang menjadi tempat bekerja Julie. Seiring berjalannya waktu, kedekatan mereka semakin intens dan berubah menjadi sepasang kekasih.
Sungguh, dia ingin masa-masa bersama Julie terulang. Hatinya terlalu sakit setiap mengingat Julie akhirnya menikah dengan sepupunya sendiri.
Sesungguhnya Ken pernah melihat Violet dan sosok wanita itu memang begitu mirip dengan Julie. Namun ada hal yang berbeda dari keduanya. Selain warna bola matanya yang berbeda, Julie memiliki tato pada tangan yang tidak Violet miliki. Setiap mengingat Julie dan Ezra, rasanya dia ingin membunuh sepupunya. Dia tahu Ezra depresi karena kehilangan Violet, tetapi bukan berarti merebut milik orang lain membenarkan tindakannya. Sudut mata Ken menjatuhkan air mata. Ada sakit dan luka yang masih terpendam dalam dirinya. Julie belum memberitahu alasan wanita itu akhirnya memilih bersedia menikah dengan Ezra.
Dalam tangisnya, Ken kembali mengingat masa terindahnya bersama Julie sesaat dia mengajak wanita itu makan malam bersama keluarganya.
- - - - - -
“Kapan kalian akan menikah? Jangan terlalu lama, Ken. Nanti Julie akan berpaling,” tanya Aaron—ayahnya Ken dengan nada setengah bercanda.
Semua yang ada di sana terkekeh. Termasuk Ken tentunya.
“Aku akan menikahi Julie secepatnya, Dad. Tidak perlu khawatir. Dia kan sudah menjadi tunanganku, tidak boleh lari kemana-mana,” jawab Ken sambil melihat Julie yang berada di sampingnya dan menggenggam tangannya.
Julie tersenyum lebar lalu mengucapkan kalimat dengan isyarat bibir tanpa suara. “I love you, My Love.”
Aaron dan istrinya—Elle tersenyum lebar melihat kedua insan yang saling mencintai. Memancarkan binar kebahagiaan dan rasa cinta yang amat dalam.
Ken tidak pernah merasa bahagia seperti sekarang. Julie telah melengkapi hidupnya. Pencariannya tidak sia-sia karena akhirnya dia menemukan sosok wanita yang tepat.
- - - - - -
Setiap mengingat hal itu Ken selalu meruntuki kebodohannya. Mengapa dia tidak buru-buru mengajak Julie menikah, mengapa harus menunggu dua bulan untuk melaksanakan pernikahannya? Sialnya Ezra justru menikahi Julie sebelum pernikahannya sempat terjadi.
Menjalin hubungan dengan Julie selama enam tahun, membuat Ken kesulitan melupakan sosok itu. Canda, tawa, senyum, sentuhan, kebahagiaan, semua hal tentang Julie masih melekat dalam bayang-bayangnya meski sudah enam tahun berlalu Julie menjadi istri orang lain.
Semua hanya ada kepedihan. Ken tidak bisa membawa dirinya kembali pada masa-masa itu. Julie sudah menjadi milik orang lain dan sekuat apa dia berusaha merebutnya, Ezra selalu memiliki cara untuk menjauhkan Julie darinya.
Mengapa akhirnya aku justru kehilanganmu, Jules?
Julie menatap langit-langit kamarnya. Rasa sedih yang terus mendera membuatnya merindukan Ken.
Dia ingin mengadu dan bercerita pada pria pujaannya, tetapi tidak mungkin. Dia hanya datang dan pergi bagai hembusan angin yang menerpa. Terakhir kali saja, dia pergi tanpa pamit pada Ken.
Julie jadi berharap dirinya akan benar-benar kembali pada Ken. Sosok pria itu masih melekat dalam benak dan hatinya. Meski sekarang pikirannya juga mulai tersita oleh sosok Ezra yang-katanya-telah-tiada.
Dia kembali mengingat saat Ezra memaksanya untuk menikah dengannya. Pemaksaan yang tidak seharusnya dia setujui, namun demi Ken, dia terpaksa setuju.
- - - - - -
Julie membuka pintu rumahnya. Dia terkejut melihat Ezra menjadi tamu yang menekan bel tersebut.
“Hai, Violet,” sapa Ezra dengan senyum miring seperti orang gila.
“Aku bukan Violet. Sudah aku katakan padamu, aku Julie. Tunangan sepupumu! Kau gila!” seru Julie dengan nada yang meninggi. Tangannya buru-buru menutup pintu rumahnya.
Sayangnya ketika Julie akan menutup pintu, Ezra sudah lebih dulu menahannya. Tenaga pria itu lebih besar sehingga Julie kalah. Pintu tetap terbuka lebar.
“Menikahlah denganku.”
Julie terbelalak. “Menikah denganmu? Aku sudah bertunangan. Kau gila! Hentikan semua ini, Ezra!”
Ezra tidak menjawab karena tangannya sudah menarik pergelangan tangan Julie. Karena Julie berusaha berontak, Ezra terpaksa menggendong tubuhnya dan berjalan menuju mobil. Pengawal pribadi Ezra sudah membukakan pintu untuk mempermudah tuannya. Setelah berada di dalam mobil, Ezra mengikat kedua tangan dan kaki Julie dengan tali supaya tidak macam-macam.
“Apa yang kau lakukan?!” Julie berteriak. Dia berusaha membuka ikatan pada tangannya namun gagal.
“Kita akan menikah, Julie. Aku sudah membawakanmu cincin.” Senyum Ezra terukir sambil mengeluarkan cincin yang baru saja dia keluarkan dari tempatnya.
“Aku akan mengadukanmu pada Ken setelah dia pulang dari luar negeri! Aku tidak mungkin menikahimu, Ezra. Aku tunangan sepupumu! Kau harus ingat itu!”
Ezra memerhatikan cincinnya sejenak kemudian beralih melihat Julie. Senyum miring penuh arti tercetak pada wajahnya.
“Adukan saja kalau kau ingin dia musnah dari muka bumi.”
Sontak kalimat Ezra membuat Julie membelalakan matanya. “Apa? Apa maksudmu?”
“Menikah denganku dan Ken akan baik-baik saja. Kalau kau menolak, aku akan membunuhnya.”
Air mata Julie langsung jatuh. Dia tidak tahu Ezra segila ini.
“Kau benar-benar gila!”
“Yes, i am. Apa saja akan aku lakukan untuk menjadikanmu milikku, Violet.”
- - - - - -
Sejak saat itu, Julie sudah menjadi bayang-bayang calon istri Ezra yang telah tiada. Dia tidak bisa menolak karena takut Ezra akan bersungguh-sungguh melakukan yang pria itu katakan.
Dirinya hanya bisa pasrah dan menangis. Ken tidak pernah tahu alasannya. Mungkin pria itu akan marah seandainya mengetahui alasan dia menyetujui pernikahannya.
Kebahagiaan yang seharusnya sudah di depan mata, tinggal dua bulan lagi menikah dengan Ken, harus gagal begitu saja. Dia masih ingat bagaimana ekspresi Ken setelah melihat cincin pernikahan yang melingkar pada jari manisnya setelah pria itu pulang.
Mengapa semua harus terjadi padaku? Ezra merebut apa yang telah aku bangun. Mengapa? Sekarang dia justru meninggalkan aku dalam ketidakjelasaan begini... aku membencimu, Ezra!