Ken baru saja keluar dari mansion. Dia tersenyum memandangi seorang wanita yang sedang melepas helm dan mengibaskan rambut setelahnya. Wanita itu tiba dengan mengendarai motor besarnya.
Wanita cantik itu mengenakan jaket kulit, jeans biru serta sepatu boots. Senyumnya turut mengisi setelah menatap Ken. Dia adalah Lana Davies. Kekasih Ken sejak tiga tahun belakang.
“Good night, Mr. Prosecutor,” sapa Lana masih tetap menunjukkan senyum yang menampilkan tiap baris giginya yang putih dan rapi.
“Good night, Miss. Kenapa datang ke rumahku malam-malam? Seharusnya kau beristirahat.” Tangan Ken mampir pada puncak kepala kekasihnya, membelai lembut rambut kecoklatan itu.
“Aku merindukanmu, Kennedy.” Lana menggenggam tangan Ken pada kepalanya, lalu dia menarik tangan itu dan mengecupnya.
Ken tersenyum dan membalas, “Aku juga merindukanmu, Lana. Aneh, padahal aku baru menemuimu tadi siang tapi rinduku sudah sebesar gunung sekarang.”
Terkadang sosok Lana berhasil membantunya melupakan sosok Julie ketika wanita itu menghilang begitu saja.
Seperti terakhir kali Julie datang secara tiba-tiba kemudian menghilang bagai tertelan bumi dalam sekejab. Dia yakin pasti ulah Ezra membawa Julie pergi tanpa permisi, dia juga menyesali keputusan sepupunya yang sesuka hati mengambil tindakan itu. Dia tidak bisa menghubungi Julie, bahkan nomor ponsel Ezra saja sudah tidak aktif sama sekali sejak kepergian Julie tempo hari. Beruntung ada Lana, sehingga rindunya pada sosok Julie sedikit terlupakan.
Lana turun dari motor besarnya. Kini dia berhadapan dengan Ken yang bertubuh tegap dan berotot. Secara perlahan, Lana memeluk sang kekasih, melingkarkan tangan pada pinggang sosok yang selama ini telah menemaninya.
“Bagaimana pekerjaanmu tadi? Apa sudah menangkap penjahat hari ini?” tanya Ken seraya turut melingkarkan tangan pada pinggang sang kekasih.
Lana terkekeh. “Aku menangkap satu penjahat. Tubuhnya besar dan dagunya terbelah.” Tangan Lana membelai pipi Ken dengan lembut. Sorot mata hangat nan meneduhkan menatap manik mata biru milik kekasihnya.
Walaupun sedikit, tetapi Lana berhasil menimbulkan getaran tersendiri pada hati Ken. Sedikit demi sedikit mungkin sosok Lana dapat membantunya melupakan Julie, meski tidak tahu kapan hal itu akan terjadi.
“Apakah pria itu memiliki senyum seindah milikku, Sayang?”
Lana mengangguk, tangannya berpindah menelusup pada tiap helai rambut Ken lalu membelainya dengan penuh kasih sayang.
“Iya, namanya Kennedy Ackles. Penjahat terbaik yang mampu meruntuhkan pertahanan hatiku.” Sorot mata hangat nan lembut dari Lana sekali lagi berhasil menggetarkan hati Ken.
Lana yang dewasa memiliki cara tersendiri untuk membuat Ken bertahan dengannya. Kebetulan Lana wanita kedua setelah Julie yang dia kencani. Sifat dewasa dan keibuan yang Lana miliki menjadi ciri khas tersendiri dari wanita itu.
“Seharusnya kau menangkapku, Miss.”
Lana mencubit hidung mancung milik Ken kemudian tersenyum lebar. “Sudah. Aku menangkap dan memenjarakannya dalam hatiku.”
Wajah Ken bersemu merah mendengar gombalan wanitanya. Ternyata Lana mulai mahir mempelajari hal semacam itu. Biasanya Lana tidak pernah melontarkan gombalan. Mungkin sudah belajar dari para sepupunya?
“Kau yang paling bisa, Sayangku.”
Berakhirnya kalimat itu, Ken mendekatkan bibirnya. Setelahnya dia mencium bibir merah ranumnya. Lana memejamkan mata ketika Ken mencium bibirnya dengan cara yang lembut. Tangan pria itu mengerat sehingga menarik tubuhnya lebih dekat padanya. Permainan bibir yang Ken tawarkan tidak pernah mengecewakan. Selain jaksa yang handal ternyata Ken seorang good kisser.
“Maaf Tuan dan Nyonya mengganggu kegiatan anda, tetapi ada hal penting.” Dehaman di awal berikut kalimat setelahnya terdengar menginterupsi kegiatan yang sedang berlangsung.
Kontan, Ken dan Lana menghentikan kegiatan mereka. Keduanya menoleh dan menyadari kehadiran Nick Gonzalez–kepercayaan Ken hadir di antara mereka.
Ken sempat mendesah kasar, namun dia tetap bertanya, “Ada apa?”
Nick menunduk. Mengganggu kegiatan Ken adalah hal yang paling dia hindari. Karena tuannya tidak suka jika kegiatannya terganggu. Tetapi barang yang dia bawa mungkin akan membuat Ken tidak mengomel padanya, selain penting, Ken pasti penasaran.
“Maaf Tuan, tetapi saat pelayan membersihkan ruangan seperti yang anda minta, dia melihat mesin fax anda menyala dan menemukan ini. Anda harus melihatnya, Tuan.” Nick memberikan beberapa lembar kertas yang dia pegang pada Ken.
Ken segera mengambilnya dan melihat apa yang Nick berikan padanya.
Selembar demi selembar, Ken melihat dan membaca dengan teliti. Raut wajahnya tampak terkejut dan berubah hanya dalam hitungan sepersekian detik setelahnya. Tangan Ken mengepal sempurna. Matanya melihat semua informasi mengenai sepupunya–Ezra. Profesi, semua tentang Ezra dan apa yang telah Ezra lakukan berikut semua fotonya, membuat Ken marah setengah mati. s****n, kau Ezra!!! Kau menipu semua orang! Aku akan membunuhmu kalau sampai Julie kenapa-kenapa!
Lana yang menyadari perubahan ekspresi kekasihnya sangat penasaran dengan isi dari kertas yang pengawalnya berikan, namun dia tidak berani mengintip atau bertanya. Dia dapat melihat sorot mata tajam penuh kemarahan dari Ken. Apa yang terjadi? Mengapa ekspresinya begitu?
Ken langsung melihat Nick. Suara lantangnya terdengar. “Cari tahu keberadaan Julie! Terserah dengan cara apa saja! Cari Julie sampai ketemu! Dan hubungi Zayden sekarang, bilang aku membutuhkan bantuannya.”
“Baik, Tuan,” balas Nick patuh. Tangannya mengambil walkie talkie untuk mengatakan pada pengawal lainnya, memerintahkan mereka mencari tahu keberadaan Julie.
“Lana, maaf aku harus mengurus sesuatu. Besok aku akan menemuimu. Pulanglah. Hati-hati saat kembali.” Kecupan singkat pada kening Lana mendarat.
Tidak lama, Ken berlari memasuki mansion. Nick sendiri masih berada di luar, dia memastikan Lana pulang lebih dulu sebelum masuk ke dalam.
Dada Lana terasa sesak, seperti tertusuk belati. Tadi dia mendengar ada nama Julie di sebutkan, nama wanita yang mungkin tidak akan pernah pergi dari hati kekasihnya.
Sebenarnya ada apa? Mengapa kau khawatir sekali, Ken? Hatimu masih terpaku untuknya meski ada aku di sisimu?
Julie tidak berniat keluar dan menyantap makanan walau sedikit saja. Sudah seminggu dia memilih berdiam diri tanpa mau bicara dengan Tim atau Lily. Dia masih tidak percaya jika Ezra telah tiada. Apalagi pria itu pergi bersama Keanu, pengawalnya yang menguasai segala macam ilmu beladiri.
Diam dan menangis. Hanya itu yang Julie lakukan.
Setetes air mata yang jatuh semakin lama menjadi banyak, membasahi seprai tempat tidur.
“Julie? Kau tidak mau keluar melihat pantai? Aku temani,” bujuk Lily merasa prihatin. Beruntung kamar Julie tidak terkunci, sehingga dia tidak perlu bersusah payah mengetuknya.
Julie diam tidak memberi jawaban. Isakan tangis kecilnya dapat Lily dengar. Sekecil apapun suara tangisnya, Lily dapat mendengarnya karena suasana ruangan sangat sunyi. Hanya suara deburan ombak yang dapat terdengar meski pintu balkon tertutup rapat.
“Julie…” Lily kembali menyapa. Langkahnya semakin maju menghampiri Julie yang terbaring di atas tempat tidur.
Setelah berada di hadapan Julie yang memunggunginya, Lily menyentuh bagian lengan atas pundak Julie. Dia tidak tahu harus berbuat apa, tetapi dia tidak mau Julie sakit kalau begini terus.
“Julie, kita keluar sebentar ya? Kau juga harus makan, sedikit saja. Nanti kau sakit, Julie.” Lily kembali membujuk, namun tetap saja Julie tidak bergeming.
Tidak ada suara lain selain isakannya yang terdengar menyakitkan. Lily tidak hanya merasa sedih dan kasihan, dirinya ikut merasakan sesak yang Julie rasakan. Namun mungkin sesak yang ada pada wanita itu lebih besar ketimbang dirinya.
“Julie, aku mohon jangan begini, nanti Ezra sedih...”
Ucapan Lily kali ini berhasil mengusiknya. Julie bangkit dari tidurannya dan berbalik badan hingga menghadap Lily dengan posisi terduduk. Air mata yang jatuh sampai mengering di pipinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Ezra tertembak? Mengapa kita harus menetap disini? Mengapa Lily, mengapa?”
Sehari penuh Julie sudah menangis tidak tahu seberapa banyak. Hatinya berkabung, dan pikirannya masih tidak terima atas informasi yang dia dapatkan. Dia masih menginginkan informasi lainnya, termasuk mengapa suaminya dapat tertembak.
Lily diam membisu. Sorot mata penuh kesedihan dari Julie dapat dia saksikan dengan mata t*******g. Bagaimana dia menjelaskan? Tidak mungkin dia mengingkari janjinya pada Ezra.
“Jawab aku, Lily! Jawab! Kau berjanji padaku setiba kita di sini kau akan memberitahu. Nyatanya? Kau tidak memberitahu apapun padaku!” Suara Julie naik satu oktaf. Teriakan penuh kekesalan bercampur sedih yang mendera begitu terasa, terlebih air mata yang turun begitu saja.
“Julie, maaf aku tidak bisa memberitahumu. Aku sengaja mengatakan itu supaya kau setuju ikut denganku. Aku sudah berjanji pada Ezra untuk tidak mengatakan apapun,” kata Lily akhirnya memberi jawaban.
Julie menangis terisak-isak, sementara Lily mengamit tangan wanita itu. Dia meletakan sesuatu pada telapak tangan istri sepupunya.
“Tim memberikan itu padaku. Dia tidak berani mengembalikan padamu, Julie...”
Mata Julie beralih menatap benda yang Lily berikan. Dia dapat menebak tanpa perlu melihatnya. Tetapi dia ingin melihat, memastikan tebakannya tidaklah benar.
Benda yang sedang dia lihat adalah tebakan yang berusaha dia usir dari pikirannya. Cincin pernikahan mereka. Cincin yang biasa Ezra kenakan. Ada tulisan yang terukir di sana.
Mine forever, Juliana.
Julie tidak kuasa menahan diri untuk tidak menangis histeris mendapat benda yang tidak pernah Ezra lepaskan dari jari manisnya. Benda tersebut membuat Julie semakin terpukul. Air mata yang tidak berhenti mengalir serta sesaknya d**a menjadi dua hal yang sudah berlangsung selama seminggu belakang.
“Aku ingin melihat jasadnya kalau memang dia telah tiada, Lily... please...”
Dengan berat hati, Lily menyahuti, “Aku belum melihatnya, tetapi besok kita akan melihat bersama-sama kalau memang itu maumu.”