Julie sudah berada di dalam pesawat, duduk bersampingan dengan Lily. Mereka tidak menggunakan pesawat pribadi milik Lily, tetapi naik pesawat kelas ekonomi guna berbaur dengan penumpang lainnya.
Ternyata diam-diam Ezra sudah membelikan tiket pesawat untuk penerbangan beberapa jam, tepatnya setelah mereka berbelanja. Niat untuk belanja batal dan tergantikan oleh insiden yang tidak terduga maka mereka harus menunggu pesawatnya satu jam. Sekarang, pesawat mereka sudah lepas landas.
Julie tidak berhenti menatap Lily dengan pandangan penuh tanya. Rasa ingin tahunya benar-benar membutuhkan kepastian, siapa Lily sebenarnya, apa pekerjaannya, dan mengapa ada orang asing yang mengejar mereka. Menembaki pula!
Semua penuh teka-teki yang tidak dapat Julie pecahkan. Dia sudah mengenal Lily selama lima tahun belakang, namun setelah apa yang terjadi, dia meragukan dirinya sudah mengenal Lily dengan baik. Sepertinya wanita itu penuh dengan rahasia.
“Lily, bolehkah aku...”
“Setibanya di North Island, aku akan memberitahumu. Lebih baik kau tidur, jangan terlalu memikirkan apa yang telah terjadi,” potong Lily lebih dulu sebelum Julie menanyakan apa yang ada dalam benaknya.
Dengan terpaksa Julie mengiyakan dengan anggukan yang dapat terlihat jelas. Lily yang melihatnya turut tersenyum.
Rasanya, Julie tidak dapat membedakan apakah senyum Lily tulus atau sekadar kamuflase menutupi apa yang wanita itu sembunyikan. Ya Tuhan ... dia benar-benar ingin mendapat jawaban. Jantungnya hampir saja lepas dari tempatnya tadi, namun berkat Lily yang ternyata tidak kalah hebat dari para peneror mereka, Julie merasa bersyukur dan berhutang nyawa pada wanita itu. Kalau saja Lily tidak menolongnya untuk merunduk, mungkin dia sudah tewas.
“Oh, aku sampai lupa. Ezra memberikan ini untukmu. Katanya sebagai hadiah pernikahan kalian hari ini. Selamat enam tahun pernikahan Julie,” ucap Lily seraya menyodorkan sebuah kotak berwarna biru dengan pita yang terikat untuk mempercantik kotaknya.
Julie mengambil kotak yang Lily berikan kemudian membukanya. Dia melihat sebuah kalung dengan tiga buah bintang yang saling menempel sebagai bandulannya.
“Ezra memintamu untuk mengenakannya. Dia bilang tidak boleh menolak. Tolong baca surat yang tertulis di dalamnya.” Lily menunjuk sebuah kertas yang terlipat kecil dalam selipan kotaknya yang tidak mudah terlihat oleh mata.
Lily ingat saat kemarin Ezra memberikan kotak tersebut padanya setelah perbincangan mereka. Ezra memintanya memberikan kotak tersebut untuk dia berikan pada Julie. Katanya sebagai hadiah pernikahan mereka dan takutnya Ezra tidak akan kembali lagi. Walau Ezra berkata demikian, Lily yakin sepupunya akan kembali. Dia tahu Ezra tidak selemah itu.
Perlahan, Julie membuka lembarnya lalu mulai membaca.
Dear, Juliana Walton
Aku tidak pintar dalam menulis kata-kata romantis karena bukan kebiasaanku menulis surat. Untuk pertama kali aku menuliskannya untukmu.
Kalau kau sudah melihat kalung pemberianku, aku harap kau menyukainya. Bandulan tiga buah bintang itu memiliki arti tersendiri. Bintang itu seperti permintaan yang kau inginkan dan kau punya tiga permintaan yang akan aku kabulkan setelah kita bertemu nanti. Maaf aku selalu bersikap buruk dan memenjarakanmu dalam dunia yang kau benci.
Terima kasih selama enam tahun kau sudah bersedia bertahan bersamaku dalam ketidaksukaan yang selalu kau keluhkan. Jika seandainya aku tidak kembali, kau boleh kembali pada Ken, karena pada dasarnya Ken pemilikmu yang sebenarnya.
Aku beruntung memilikimu. Selamat enam tahun pernikahan, istriku.
Sincerely,
Your Husband
Julie merasa dadanya sesak. Tanpa dia sadari, air matanya jatuh membasahi pipi. Kalimat demi kalimat yang tertulis di sana seakan menandakan ada sesuatu yang akan terjadi pada Ezra. Mengapa Ezra mengatakan hal seperti ini? Dia akan pulang kan?
Lily mungkin bukan Julie, tetapi dia dapat merasakan betapa sedihnya jika ada seseorang yang menuliskan surat untuk pertama kalinya dan isinya sangat rancu. Semoga kau baik-baik saja, Ezra.
North Island, Seychelles.
Setelah berjam-jam lamanya dalam perjalanan, akhirnya Julie dan Lily tiba di salah satu pulau pribadi. Pulau tersebut sangat tepat untuk mengasingkan diri ataupun menghilang dari peredaran.
“Lily, mengapa rasanya pulau ini sepi sekali?” tanya Julie merasa aneh. Tidak ada satu orang pun yang terlihat di sana.
Kecuali... seorang pria bertubuh tegap yang menyapanya.
“Welcome, Mrs. Walton.”
Tim Patterson–salah seorang pengawal pribadi utusan Ezra. Pria itu sering mengawal Julie kemana-mana jika tidak ada Keanu.
Mengapa Tim ada di sini? Kapan perginya? Julie bertanya-tanya lalu dia ingat. Sehari sebelum dia pergi bersama Lily, pengawalnya itu sudah menghilang. Apa mungkin sudah menetap di sini sejak dirinya menghilang?
“Terima kasih,” ucap Julie sambil menarik senyum. Kemudian dia melihat Lily dan mulai bertanya, “Omong-omong, mengapa pulaunya sepi sekali, Lily? Bukannya ada banyak penginapan disini?”
Lily menyunggingkan senyum lalu menjawabnya, “Ezra sudah memesan semua penginapan di sini untuk kita tempati sementara. Tidak perlu khawatir, Julie. Kau aman disini.”
“Aman? Apa maksudmu, Lily?”
Sadar akan jawabannya tadi, Lily segera melangkahkan kakinya lalu mengalihkan pembicaraan. “Ayo kita masuk, Julie. Jangan sampai kau masuk angin karena angin laut sangat kencang.”
Julie menatap terheran-heran. Mengapa Lily tidak mau menjawab pertanyaannya? Sebenarnya ada apa? Apa maksud aman yang Lily sebutkan?
“Nyonya Julie, silahkan masuk. Anda tidak boleh di luar terlalu lama. Tuan Ezra akan marah kalau anda sampai sakit.” Tim mengingatkan.
“Iya, aku akan masuk sekarang,” kata Julie akhirnya. Dia akan menanyakan pada Lily nanti.
Sebelum masuk ke dalam penginapan, Julie menoleh sebentar memandangi pemandangan laut yang terbentang. Rasanya aneh dia harus menetap di tempat yang terasa asing baginya. Sampai akhirnya dia melangkah pergi yang di ikuti oleh Tim setelahnya.
Sesudah duduk di ruang tamu, Julie masih tetap memandangi indahnya pemandangan laut di luar sana. Jendela sengaja terbuka untuk membiarkan angin semilir masuk dan dapat dengan mudahnya menikmati indahnya pemandangan yang terhampar. Udaranya sejuk. Setelah semua perjalanan yang tidak terduga, dia menetap di pulau penuh dengan panorama yang indah.
Tangan Julie memegang kalung pemberian Ezra yang sudah dia kenakan. Rasanya aneh... tiba-tiba dia merindukan pria itu. Dia ingin melihat Ezra. Bukannya setelah enam tahun bersama, dia tidak pernah peduli pada Ezra? Mengapa sekarang dia mulai mempertanyakan ke mana Ezra dan mengapa dia menangis saat membaca isi surat dari suaminya? Semua terasa membingungkan.
Di tengah kegiatannya, indera pendengarannya menangkap percakapan yang terjadi. Samar-samar sehingga dia berinisiatif untuk mencari darimana percakapan tersebut berasal. Julie bangkit dari duduknya lalu mulai melangkah, mencari suara tersebut.
Ternyata percakapan itu berasal dari salah satu kamar yang ada, antara Lily dan Tim. Julie bersembunyi pada balik tembok, mencoba mendengarkan dengan jelas percakapan antar keduanya.
“Apa? Kau bohong kan?” tanya Lily dengan nada tidak percaya. Wajahnya ikut menunjukkan ketidakpercayaannya.
“I swear to God, Lily. Untuk apa aku membohongimu setelah kita sudah mengenal sejak lama? Terakhir kali Keanu mengatakan Ezra tertembak,” jawab Tim dengan wajah penuh keseriusan.
Julie yang mendengarnya dari luar tercengang. Tertembak? Apa maksudnya? Lily dan Tim sudah saling kenal? Apa hanya aku saja yang tidak tahu apa-apa mengenai apa yang terjadi?
Belum sempat Lily menyangkal akan berita itu, Tim kembali mengatakan hal lainnya, “Aku mendapat kabar itu dari pengawal yang lain, Lily. Ezra...”
“Tidak, jangan tunjukkan wajah sedih seperti itu padaku, Tim. Ezra baik-baik saja, aku tahu itu,” potong Lily sambil menggeleng tidak percaya.
“Aku serius, Lily. Bukan hanya Ezra, tetapi juga Keanu…” Tim menggantung kalimatnya. Dia melihat sorot mata Lily yang masih mengelak semua informasi darinya. “... pengawal lain yang menemukan mereka,” lanjutnya.
“No! Kau bohong padaku! Aku tidak mau percaya! Ezra baik-baik saja!” Lily setengah berteriak seraya memukul d**a bidang Tim dengan kesedihan yang muncul dalam dirinya.
Tim terdiam. Dia menunduk sedikit, tidak berani menatap Lily yang bersedih mendengar berita darinya. “Mulai sekarang aku harus menjaga kalian berdua. Ezra memintaku sebelum dia...”
“Tell me it's a lie...” Suara yang bergetar itu terdengar bersama langkah yang semakin mendekat.
Lily dan Tim menoleh, keduanya terkejut melihat Julie. Air mata pada sudut mata wanita itu sudah mengembang dan akan turun jika matanya berkedip sekali saja.
“Yang kau maksud Ezra telah tiada? Katakan padaku, kau bohong kan Tim...?” Air mata Julie tumpah setelah matanya berkedip. Tangannya gemetar.
Tim tidak bisa menjawab. Dia diam tanpa membalas. Lily yang masih tidak percaya menatap Julie dengan rasa kasihan.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang menembaknya?” Julie kembali bertanya dengan tatapan nanar miliknya.
Untuk kesekian kalinya Tim bungkam.
Pelan-pelan tangis Julie semakin terdengar. Tangis itu berubah menjadi isakan menyakitkan.
“Ezra mengatakan padaku dia akan pulang. Kau bohong...” Kalimat Julie tersendat akibat isakan yang terdengar. “Kau bohong, Tim... kau bohong... Ezra tidak mungkin...”
Lutut Julie mendadak lemas. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai. Lambat laun isakannya terdengar histeris sambil memegangi kalung pemberian Ezra yang melekat pada dirinya.
“Semua ini tidak benar...”
Lily ikut meneteskan air matanya melihat Julie. Sementara Tim, hanya diam. Tidak ada yang bisa dia katakan untuk menghibur majikannya.
Dada Julie sangat sesak mendengar kabar yang masih tidak dia percaya. Bukan hanya sekali ini dia menangis karena Ezra, tetapi sudah dua kali.
Entah apa yang telah menguasai dirinya, yang pasti...
...dia tidak mau Ezra pergi ...
“Ezra pasti akan pulang... aku tahu, dia tidak mungkin ingkar janji...”