“Jangan lupa untuk bersiap dengan barang-barangmu. Aku akan menjemputmu besok pagi, di tempat biasa.” Ariana tersenyum sendiri saat melihat pesan yang ia kirim kepada Ethan. Belakangan ini ia memang tidak pernah absen untuk berkirim pesan dengan Ethan. Baik itu karena urusan pekerjaan atau sekedar hanya membahas hal-hal sepele. Ethan juga selalu membalas pesan-pesannya, menanyakan apakah dirinya sudah makan malam atau mengucapkan selamat tidur. Kalau begini Ariana merasa benar-benar memiliki pacar sungguhan.
Usai mengirim pesan kepada Ethan, Ariana tertegun sesaat. Matanya tertuju pada kontak bernama Adrian yang pesannya berada tepat di bawah pesan Ethan. Ia membiarkan pesan dari sahabatnya itu belum terbaca, sengaja ia belum membukanya.
Ariana memang sedang menjauhi Adrian. Ia ingin setidaknya Adrian tidak terus-menerus menghubunginya. Mungkin selama ini ia juga salah karena meladeni Adrian, makanya mulai sekarang ia akan mencoba menjaga jarak.
Sebuah panggilan masuk, dari Adrian. Ariana yakin kalau baru saja Adrian melihat statusnya yang sedang online, makanya lelaki itu segera menghubunginya. Ariana membiarkan layar ponselnya bergetar, ia melihat tampilan jam yang tertera, hampir pukul sebelas malam.
Ponsel Ariana terus bergetar tetapi pemiliknya membiarkannya. Ariana enggan untuk menjawab panggilan tersebut. Ia merasa kalau hari sudah terlalu larut bagi seseorang untuk menghubunginya, apalagi orang itu adalah lelaki yang sudah menikah. Beda ceritanya kalau ia berbalas pesan dengan Ethan. Ethan adalah lelaki bebas, ditambah lagi mereka membahas perlengkapan untuk business trip besok pagi, rasanya sah-sah saja. Sebagai tambahan, Ethan adalah pacar resmi Ariana, meski ia setengah memaksa lelaki itu, yang penting status mereka pacaran.
Setelah dua puluh panggilan yang Ariana abaikan, akhirnya ponselnya bosan dan berhenti berdering. Ariana menghela nafas lega. Ia sedikit beruntung karena esok ia tidak perlu bertemu dengan Adrian di kantor. Ia tidak perlu menghadapi Adrian yang pastinya merajuk sambil memasang wajah kesal.
Ariana baru akan terpejam ketika pesan berantai masuk ke dalam ponselnya. Potongan pesan itu muncul di notifikasi yang membuat Ariana bisa melihatnya tanpa perlu membuka aplikasi pesan tersebut. Pesan dari Adrian.
Ary, aku tahu kamu belum tidur.
Ary, kenapa kau tidak menjawab teleponku?
Jangan menghindar dariku, Ary.
Kupikir kau teman terbaikku, Ary.
Sejak kapan persahabatan kita menjadi seperti ini?
Ariana menyerah. Ia lemah terhadap kata persahabatan dan teman terbaik. Tidak bisa dipungkiri, Adrian memang salah satu orang yang paling dekat dengannya, selain keluarga tentu saja. Mereka menghabiskan tahun-tahun bersama di sekolah dan juga di universitas. Ariana tidak ingin dianggap teman yang melupakan temannya sendiri, bagai kacang yang lupa pada kulitnya.
Tapi… ia juga tidak ingin terus-menerus dituduh. Dicap sebagai perusak rumah tangga orang sangatlah tidak keren. Ariana berpikir lama, sampai akhirnya ia meraih ponsel yang setia ada di sampingnya sejak tadi.
Maaf, sudah malam. Aku mau tidur, Ady. Kalau bukan mengenai pekerjaan yang mendesak, hubungi aku besok.
Ariana meletakkan ponselnya kembali lalu membuat benda pipih itu gelap. Ia mematikannya. Ia sedikit khawatir saat melakukan hal itu, takut kalau-kalau ada panggilan mendesak saat ponselnya tidak aktif. Tapi, sepertinya, mudah-mudahan, tidak ada apapun yang terjadi sampai besok. Langkah ini terpaksa ia ambil, demi dirinya sendiri dan nama baiknya.
***
Ariana beruntung ia bangun tepat waktu. Memang mepet sekali, tapi karena ia sudah menyiapkan segala sesuatu malam tadi, mungkin ia hanya sedikit terlambat.
Sesaat setelah ponsel Ariana menyala, ia menjumpai banyak pesan dan juga panggilan dari Adrian yang tentu saja langsung ia abaikan. Jarinya hanya menyentuh layar untuk membuka pesan yang masuk dari Ethan. Lelaki itu mengatakan kalau dirinya sudah siap menunggu Ariana di tempat janjian mereka.
Maafkan aku agak telat, otw.
Secepat kilat Ariana meraih tasnya juga kunci mobil. Ia sudah mandi secepat yang ia bisa, bahkan ia belum memakai make-up. Ariana bisa sedikit memulas bedak dan memakai lipstick saat menyetir nanti. Di kepalanya hanya terpikirkan bagaimana Ethan mungkin menunggunya terlalu lama.
Sepanjang jalan Ariana terus melirik jam tangannya. Ethan sudah lebih dari setengah jam menunggu. Ariana tidak bisa mengemudi lebih cepat lagi, lalu lintas sedang tidak bersahabat. Semoga saja ia bisa sampai sebelum satu jam berlalu.
Sementara itu, di sisi jalan, Ethan dengan setia menunggu Ariana. Tidak biasanya memang atasannya itu terlambat. Ariana bisa dibilang selalu tepat waktu, bahkan tak jarang tiba lebih awal, makanya Ethan sengaja bersiap lebih cepat, tapi sepertinya hari ini sedikit berbeda.
Satu jam lewat lima menit, dan Ethan bisa melihat mobil Ariana mendekat dari ujung jalan. Ia bersyukur setidaknya Ariana baik-baik saja dan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Ethan sebenarnya ingin menghubungi ponsel Ariana sejak setengah jam yang lalu, tapi ia takut kalau tindakannya itu malah mengganggu Ariana yang sedang menyetir. Ia tidak ingin kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Maaf!” seru Ariana saat Ethan membuka pintu mobil dan melangkah masuk.
“Tidak apa-apa, Ary… Aku tidak menunggu lama…”
“Bohong!” tukas Ariana. “Aku yakin kamu sudah menunggu sejak kamu pertama kali mengirimkan pesan.”
“Maafkan aku…” kali ini Ariana memasang wajah memelas.
“Tidak apa. Sebaiknya sekarang kita segera berangkat. Kalau macet, bisa jadi kita tidak tiba tepat waktu.”
Ariana mengangguk mantap. Ia mengerti maksud Ethan. Segera wanita itu tancap gas untuk menuju ke tempat meeting mereka.
Ethan sempat melirik Ariana. Wanita itu tampak lebih polos dari biasanya. Sepertinya Ariana memang terlambat bangun sampai tidak bisa menyelesaikan riasannya dengan baik. Apa wanita itu bahkan sudah sarapan?
“Ary, aku bisa mendengar bunyi perutmu…”
Ariana terkejut lalu secara refleks mengelus perutnya. “Benarkah?”
Ethan hanya mengarang saja tentang bunyi perut itu, tapi sepertinya ia benar tentang Ariana yang belum menyentuh makanan apapun.
“Makanlah ini.” Ethan menyodorkan sebungkus roti dan juga biskuit. “Aku membeli beberapa makanan dan minuman saat menunggumu tadi.”
“Aku tidak apa,” jawab Ariana singkat. Ia merasa malu sendiri, karena sebagai atasan ia terlihat tidak bisa diandalkan. Ethan bahkan sudah bersiap dengan makanan, sementara Ariana sendiri hanya membawa dirinya saja.
“Jangan sampai kamu sakit perut lalu bermasalah saat pertemuan nanti,” Ethan berusaha memperingatkan.
“Baiklah…” Ariana menyerah lalu mengulurkan tangannya mengambil roti yang diberikan Ethan. Ethan yang melihat hal tersebut, segera menarik kembali bungkus roti itu dari tangan Ariana, membuat Ariana heran.
“Biar aku suapi, fokus saja menyetir.”
Ariana terkekeh sebentar. “Tenang saja, aku bisa melakukan itu. Aku sudah ahli,” sombongnya.
Tetapi Ethan tidak mendengarkan Ariana sama sekali. Ia sudah membuka bungkus roti tersebut lalu mendekatkannya ke wajah Ariana, meminta wanita itu segera membuka mulut.
“Tidak, biar aku saja…”
Mendengar Ariana yang terus saja bersikeras, Ethan membersihkan tangannya dengan tissue dan hand sanitizer yang ada di dashboard mobil. Setelah yakin tangannya bersih, ia kemudian memotong sedikit bagian roti itu dengan jarinya dan mendekatkannya ke mulut Ariana.
“Bukalah mulutmu, Ary. Aaaaa…”
Ariana pun terpaksa membuka mulut karena potongan roti itu hampir menempel di wajahnya. Bisa ia lihat Ethan tersenyum puas.
“Kamu tidak perlu sampai seperti ini…” Ariana merasa tidak enak kepada Ethan.
“Habiskan saja rotinya, dan katakan padaku kalau kau haus.” Ethan menyeka sudut bibir Ariana yang belepotan selai, membuat wanita itu sedikit salah tingkah. Ia mengangguk pelan.
Setelah beberapa suapan, roti pun habis. Ethan mengambil sekotak s**u cokelat lalu menancapkan sedotannya. Ia mendekatkan minuman itu agar Ariana bisa meminumnya. “Aku harap kamu menyukai s**u ini. Aku hanya membeli kopi kemasan botol, agak susah untuk minum itu karena kamu sedang menyetir.”
“Tidak apa, aku suka s**u cokelat. Tidak masalah dengan merk, asalkan masih berwarna cokelat. Hanya yang cokelat, karena selain yang itu aku tidak akan tahan meminumnya.”
Ethan terkekeh. “Aku tahu..”
Ariana langsung menoleh ke arah Ethan saat lelaki itu menyatakan kalau dirinya tahu mengenai pilihan minuman yang disukai Ariana. Ia mengernyit sedikit. Ariana tidak menyangka kalau Ethan tahu. Sejak kapan Ethan mengetahuinya?
Ethan tertusuk oleh tatapan kecurigaan Ariana. Segera ia membuka mulutnya, membuat alasan.
“Aku tahu, karena waktu itu aku melihatmu meminumnya… pagi… saat kau menjemput… waktu itu…” Ethan gelagapan sendiri. Ia tidak tahu apakah Ariana bisa menerima alasan seperti ini. Sekarang, ia tidak bisa memikirkan alasan lain yang memungkinkan, yang lebih masuk akal daripada hal yang ia katakan barusan. Butuh waktu beberapa detik sampai Ariana merespon.
“Oh..” Ariana mengangguk pelan. Sebenarnya ia sedikit lupa kapan hal itu terjadi, jadi ia hanya mengiyakan.
Melihat kecurigaan Ariana yang sedikit mereda, Ethan menjadi lebih tenang. Ia harusnya lebih bisa menjaga mulutnya yang suka sembarangan mengoceh.
“Nanti jika ada rest area, bisakah kau menepi?” Ethan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ada apa? Apakah kau ingin ke toilet?” Ariana melirik papan petunjuk yang terpasang di sepanjang jalan bebas hambatan yang sedang mereka lalui.
“Yah… Aku ingin melakukan sesuatu.”
Jawaban yang membingungkan, tapi Ariana menganggap kalau Ethan memang ingin pergi ke toilet. Baru saja ia mengecek kalau ada pemberhentian yang tidak jauh dari mereka. “Oke. Kurasa sebentar lagi akan ada satu.”
“Baguslah kalau begitu.”
Dan Ariana benar. Tidak sampai lima belas menit, mobilnya sudah terparkir rapi di tempat pemberhentian. Ethan dan Ariana pergi ke toilet. Ariana memakan waktu lebih lama karena ia menambah riasannya. Kali ini ia memastikan kalau wajahnya sempurna seperti biasa, setidaknya layak untuk dilihat orang lain.
Mobil Ariana tampak kosong dari kejauhan. Ia tidak melihat sosok Ethan sama sekali. Apa mungkin lelaki itu belum selesai? Ariana membatin sendiri.
Saat Ariana sudah dekat dengan mobilnya, ia menoleh ke kanan-kiri dan saat itulah tiba-tiba kegelapan menyambutnya. Matanya, wajahnya, ditutup oleh seseorang. Ariana langsung meraba wajahnya dan mendapati kedua tangan besar yang menghalangi pandangannya. Orang tersebut mendekapnya dari belakang sambil menutup matanya dengan kedua tangan.
“Ethan!” seru Ariana. Siapa lagi kalau bukan Ethan? Mereka kan hanya berdua saja sedari tadi.
Ariana menunggu tapi matanya masih belum juga mendapatkan cahaya. “Ethan…” tegur Ariana. “Berhentilah bermain-main. Kita harus segera berangkat. Dan kau merusak riasanku!”
“Ups! Maaf…” Ethan segera melepaskan tangannya. Ariana pun berbalik dan mendapatkan Ethan begitu dekat sampai mereka hampir berpelukan. Menyadari hal itu, Ariana mengambil satu langkah mundur.
Melihat Ariana yang kaku, Ethan maju selangkah menghampirinya. Ia menundukkan sedikit badannya agar tinggi mereka sama. Kini, wajah Ethan tepat berada di depan wajah Ariana. “Berikan aku kunci mobilmu, sayang…”
“Ha?” Ariana memproses pertanyaan Ethan.
“Berikan aku kunci mobilmu. Biarkan aku yang menyetir dari sini.”
Ariana masih terpaku, membuat Ethan memilih untuk mengambil sendiri kunci mobil yang ada dalam genggaman Ariana. “Diam berarti iya.” Dengan langkah santai Ethan membuka pintu mobil lalu duduk di kursi kemudi. Ia menutup kembali pintunya dan menunggu Ariana.
Ethan sampai harus menurunkan kaca jendela karena Ariana terlalu lama merespon. Ia memanggil wanita itu. “Ary! Cepatlah naik!”
Seakan baru tersadar dari mimpi, Ariana menggelengkan kepala lalu segera mematuhi ucapan Ethan. Ia masuk ke dalam mobil, masih terpaku.
“Pakailah sabuk pengaman…” Ethan memakaikan sabuk pengaman Ariana.
“Apa kau bisa menyetir?” Ariana akhirnya bisa membuka mulutnya.
“Tentu saja!” Ethan menjawab riang. “Aku bahkan punya SIM. Jadi duduklah dengan santai dan nikmati perjalanannya!”
Memang itulah yang dikatakan oleh Ethan, tapi itu jelas bukan hal yang dirasakan oleh Ariana. Diam-diam kedua tangan wanita itu terkepal, ia berusaha menenangkan debaran jantungnya. Ethan yang sebelumnya hampir memeluknya dan juga Ethan yang memanggilnya sayang. Ethan yang begitu dekat saat memasangkan pengaman. Sungguh semuanya itu membuat Ariana merasa seperti remaja saja!