Ariana dan Ethan sampai di pertemuan tepat waktu. Mereka tiba di lobby hotel sebelum acara dimulai. Pertemuan kali ini memang sedikit istimewa. Salah satu klien mereka yang merupakan sebuah perusahaan besar dan ternama mengundang semua rekanannya untuk memperharui perjanjian kerjasama. Dan, rekanan perusahaan tersebut sangat banyak sampai-sampai mereka menyediakan fasilitas semewah ini. Aula utama sebuah hotel besar lengkap dengan biaya transportasi dan akomodasi yang semuanya sudah ditanggung. Ariana dan Ethan terpilih untuk mewakili perusahaan mereka.
Acara akan berlangsung dari pagi hari hingga sore menjelang. Pertemuan bisnis yang disertai acara ramah-tamah ini mengagendakan jadwal presentasi yang padat. Semua perusahaan rekanan diharapkan dapat menampilkan perbaharuan kerja sama antara perusahaan mereka dengan perusahaan besar tersebut. Perjanjian baru akan dibuat ketika mereka mencapai kata sepakat. Fasilitas penginapan selama satu malam pun sudah disediakan jika para tamu berkenan, dan semuanya gratis.
“Dengan demikian, perusahaan kami akan menyediakan…” Ariana memperhatikan presentasi perusahaan lain dengan serius. Ia bisa mengambil banyak ilmu, pengalaman dan referensi dari sana. Sungguh beruntung ia menyaksikan semua ini.
Tampilan-tampilan tersebut sayangnya harus dipotong dengan acara makan siang. Perusahaan Ariana mendapatkan giliran presentasi terakhir karena mereka menjadi peserta yang terakhir tiba. Ariana tidak bisa berbuat banyak selain sabar menunggu.
Acara makan siang di restoran hotel berlangsung luar biasa mewah. Selain makanan yang tentu saja enak, hotel bintang lima itu memberikan pelayanan yang luar biasa. Ariana tidak bisa memberikan keluhan apapun. Kalau ia harus memberikan penilaian, ia akan memberikan nilai 10 dari skala penilaian 1-10.
“Makanlah yang banyak—“
Ariana menutup mulut Ethan dan berdesis sebelum Ethan melanjutkan kalimatnya. Ia menduga kalau Ethan akan memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. Tidak, tidak sekarang, tidak di depan semua orang berkedudukan di sekitar mereka. Ia harus menjaga citranya.
“Sebaiknya kita tidak bercanda selama di sini, Ethan…”
Ethan memberikan tatapan bingung kemudian mengangguk. Ariana pun melepaskan tangannya dari Ethan. Ethan segera berbisik saat Ariana sudah melepaskannya.
“Padahal aku hanya mau mengatakan kalau kau harus makan yang banyak karena giliran kita masih lama…” Ethan memicingkan matanya curiga. “Apa kau mengira aku akan mengatakan sesuatu?”
Ethan mendapati air muka Ariana yang berubah. Ariana dengan cepat mengalihkan pandangannya, menjadi malu sendiri.
“Apa kau mengira aku akan memanggilmu ‘sayang’..?”
Wajah Ariana berubah menjadi semerah tomat. Bagaimana Ethan bisa menebaknya semudah ini? Apa dia memang sepolos itu?
“Aku tidak pernah mengatakan hal itu…” Ariana berusaha menutupi rasa malunya, membuat Ethan terkekeh.
“Yah… Aku tahu. Aku paham betul masalah pribadi dan pekerjaan. Keduanya harus terpisah. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, Ary.” Ethan mengedipkan sebelah matanya, memberikan wink yang Ariana nilai sangat genit.
“Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk makan lebih banyak, karena pagi tadi kau tidak sarapan. Dan kita mendapat sesi terakhir.”
Ariana berdeham sebentar. Ia keki tapi juga sedikit senang karena diperhatikan.
“Aku harap kita bisa tampil dengan baik nanti.”
Ariana menatap Ethan lekat. “Tentu saja. Kita akan tampil dengan baik. Kedatangan kita untuk membawa kesuksesan… dan tanda tangan…”
“Ya, tentu saja!” Ethan menjawab antusiasme Ariana dengan semangat. Mereka memang telah mempersiapkan penampilan mereka dengan maksimal. Baik Ariana maupun Ethan, sangat yakin kalau mereka akan membawa pulang kontrak kerja sama yang lebih menguntungkan. Ethan sendiri berjanji pada dirinya, kalau ia tidak akan menyusahkan Ariana. Ini adalah kali pertamanya terpilih dalam tugas sepenting ini. Ia akan pastikan kalau semuanya berjalan seperti yang seharusnya.
“Semangat yang bagus! Pertahankan itu, asistenku…” Ariana memberikan senyum pada Ethan.
Ethan membalasnya dengan lengkungan yang tak kalah lebar. “Tentu saja, bos!”
Keadaan hening sejenak sebelum akhirnya Ethan menanyakan satu hal yang membuat Ariana tersedak dengan batuk-batuk panjang tanpa henti. Pertanyaan itu adalah: “Bos, apa malam nanti kita akan menginap bersama?”
***
Presentasi berjalan lancar untuk Ariana dan Ethan. Sebagai penampilan penutup, mereka mendapatkan antusiasme yang baik. Ariana mendapatkan firasat kalau mereka akan mendapatkan kontrak dengan keuntungan yang lebih besar dari sebelumnya.
Untung saja Ariana bisa tetap fokus setelah pertanyaan Ethan saat makan siang tadi. Pertanyaan yang sungguh mengejutkan. Mungkin saja hal itu hanya karena pikirannya yang kotor. Ia malu sendiri tadi, sehingga sisa makan siang itu mereka lanjutkan dalam diam. Setelah acara ini selesai, sepertinya ia harus membahasnya dengan Ethan.
Penutupan sudah dilakukan, dan masing-masing perusahaan akan diberitahu secara terpisah mengenai keputusan akhirnya. Saat itu, tidak ada jadwal tersisa dari agenda mereka, beberapa memilih pulang, dan beberapa yang lain memutuskan untuk menginap, sekedar memanfaatkan fasilitas yang sudah diberikan.
“Ethan..” panggil Ariana pelan saat mereka baru turun dari lift. Ethan menoleh mendengar namanya dipanggil. Ariana pun melanjutkan kalimatnya setelah mendapatkan perhatian itu.
“Kurasa kita harus berbicara sebentar.” Ethan mengangguk melihat Ariana yang menunjuk ruang tunggu di lobby hotel. Mereka berjalan berbarengan ke sana kemudian mengambil tempat duduk.
“Ada apa? Apa ada masalah?”
Ariana berdeham sejenak. “Ini mengenai pertanyaanmu. Masalah apakah kita harus menginap atau tidak.”
Ethan membulatkan bibirnya. “Oh, itu…” Ia mengangguk-angguk menunggu jawaban Ariana. “Jadi? Kita akan pulang atau menginap?”
“Menginap…”
Tolong, ini bukan karena keinginan pribadi Ariana. Demi Tuhan, ini juga bukan karena ia ingin berduaan dengan Ethan. Ini murni karena profesionalisme, urusan pekerjaan.
“Aku hanya menganggap akan lebih baik kalau kita kembali setelah mendapatkan jawaban yang pasti. Lagipula kegiatan ini memang sudah dijadwalkan selama dua hari.” Ariana mati-matian menjelaskan di depan Ethan, membuat lelaki itu memicingkan mata sambil tersenyum miring.
“Baiklah~” Ethan membalas penjelasan Ariana dengan nada menggoda. Ia seolah ingin meledek atasannya itu. Lihat saja tatapan dan nada bicaranya.
Benar-benar membuat Ariana terpojok.
“Ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Ariana berjalan cepat ke arah meja resepsionis. Ia ingin segera check-in sambil menghindari tatapan Ethan padanya.
“Memang kau tahu apa yang aku pikirkan?”
Ariana memilih tidak menjawab. Ia menyibukkan diri menjawab pertanyaan sang resepsionis sambil menandatangani beberapa tempat di atas kertas.
“Jawab aku...”
Karena resepsionis sibuk dengan komputernya selama beberapa saat, Ariana terpaksa harus menjawab Ethan. Ia berusaha membuat wajahnya sedatar mungkin. “Pokoknya yang ada dalam pikiranmu itu semuanya tidak benar.”
Ariana segera kembali ke arah resepsionis, tidak ingin melanjutkan apa yang tengah mereka bahas. Lagipula kunci kamar sudah ada di tangannya.
“Mbak… Hanya satu?” Ariana menatap bingung sang resepsionis.
“Benar, bu. Ketentuannya kamar twin.”
Ariana menatap Ethan nanar. Satu kamar, yang berarti ia harus bermalam bersama dengan Ethan. Meskipun kamar mereka tipe twin, yang artinya dua tempat tidur single yang terpisah, Ariana belum siap kalau harus seintim ini. Haruskah ia menjilat ludahnya sendiri dengan mengajak Ethan untuk langsung kembali? Atau ia harus pura-pura tidak perduli atau tidak sadar dengan keadaan?
Tidak, tidak. Mundur bukan gayaku. Ariana membatin menguatkan hatinya.
“Bisa diupgrade ke kamar single? Saya akan bayar selisihnya.” Setidaknya Ariana harus mempertahankan apa yang wajib dipertahankan.
“Maaf, Bu. Kebetulan kamar single sudah penuh. Kami memiliki lebih banyak tamu malam ini.”
“SIAL!” Ariana mengumpat tanpa suara. Sekarang ia terjebak dua pilihan yang sama-sama buruk, menjilat ludahnya sendiri lalu pulang atau memaksakan diri satu kamar dengan Ethan. Ariana bukannya mengharapkan akan terjadi sesuatu diantara mereka. Hanya saja, ini terasa begitu cepat dan begitu canggung. Ayolahhhh, bergandengan tangan saja jarang, berpelukan pun baru hampir, sekarang tiba-tiba harus menginap bersama?!
“Apa kita mau pulang sekarang?”
Pertanyaan Ethan bagai minyak yang menyulut api dilema yang sedari tadi berkobar dalam hati Ariana. Meskipun Ethan mungkin hanya bertanya dengan nada datar, tapi Ariana mendengarnya seperti ia sedang dipanas-panasi.
“Tidak. Kita akan menginap.” Ariana sudah memutuskan.
“Tidak perlu memaksakan diri, Ary..” Ethan berbisik di telinga Ariana. “Aku kan hanya pacar suruhanmu. Kau tidak perlu sampai seperti ini.”
Sialnya Ethan benar, membuat Ariana menggeram kesal. Ia menjadi bimbang lagi, apakah harus pulang atau lanjut menginap. Logika memintanya menginap, tapi hatinya menyuruhnya pulang. Mana yang harus ia pilih?
Saat itulah tiba-tiba badai petir datang tanpa peringatan. Seolah mendukung keputusan Ariana ataupun menyelamatkannya dari rasa malu, fenomena cuaca itu membuat Ariana menghela nafas lega.
“Yah, kurasa memang sebaiknya kita menginap.”
Ariana mengangguk mantap. Setelah mengucapkan terima kasih kepada resepsionis hotel, Ethan dan Ariana pun berjalan bersisian menuju kamar mereka. Ariana tegang karena sudah sekian lama ia tidak sekamar bersama seorang pria. Pria terakhir yang sekamar dengannya hanya berdua bisa jadi adalah ayahnya. Jangan hitung sekamar dengan pria jika itu beramai-ramai, sebagai contoh acara malam api unggun mahasiswa baru. Itu jelas tidak dihitung.
Terdengar suara pintu terbuka. Ariana menarik nafas sebelum ia menginjakkan kaki ke dalam. Setidaknya hari sudah mulai gelap, jadi tentunya waktu mereka bersama tidaklah selama itu. Setelah meletakkan barang-barang mereka, Ariana berencana untuk segera mengajak Ethan keluar lalu berkeliling. Ia tidak ingin menghabiskan banyak waktu di dalam kamar terkurung tembok empat sisi bersama Ethan.
“Bagaimana kalau kita berkeliling sebelum makan malam?” Pertanyaan Ariana menyambut Ethan di detik pertama badannya menyentuh ranjang bagiannya.
“Apa kau sudah lupa kalau di luar sedang ada badai?” Ethan bisa melihat Ariana tergagap. “Kalau maksudmu hanya berkeliling di dalam hotel, sepertinya aku lebih menyarankan untuk beristirahat di sini saja.”
Ethan melihat Ariana yang gelisah. Ia terdiam sejenak lalu memberikan senyum miring. Ariana menjadi waspada melihat Ethan yang berjalan mendekat ke arahnya. Ia duduk di kursi sebelah Ariana, menatap dalam wanita itu.
“Apa kau memikirkan sesuatu?’ bisikan Ethan terdengar begitu menggoda. “Atau kau mengharapkan sesuatu, Ary?”
Sesuatu berdesir di dalam tubuh Ariana. Ya, ia merasakannya. Entah itu aliran darahnya atau apa. Ariana bisa merasakan sensasi yang membuainya.
Ethan menarik tubuhnya mundur, ia ingin melihat ekspresi Ariana. Dan yang ia dapatkan jauh lebih baik daripada yang bisa ia harapkan. Ariana dengan pipi yang bersemu, menahan kegugupannya. Rona merah muda yang membuat Ariana terlihat sangat imut membuat Ethan ingin mengerjainya lebih lagi.
“Aku tidak akan melakukan apapun,” bisik Ethan. “Tapi aku bersedia melakukannya kalau kau mau. Katakan saja…”
Ariana masih terdiam seribu bahasa, membuat Ethan semakin bersemangat menggodanya. “Tidak usah ragu, Ary. Aku kan pacarmu, aku akan melakukan apapun sesuai keinginanmu…”
“Katakan saja apa keinginanmu… Jujurlah… Hanya ada kita di sini…”
Ariana menelan salivanya payah. Wajah mereka yang hampir menempel membuat Ariana semakin tegang. Bibir Ethan hampir menyentuh wajahnya. Harusnya sudah akan menempel kalau saja Ariana tidak secara tiba-tiba mendorong tubuh Ethan menjauh dalam satu sentakan.
“Keinginanku kau mandi! Baumu seperti kambing!”
Ethan terbahak keras sementara Ariana sibuk menutupi rasa malunya karena telah mengungkapkan hal paling absurd sedunia.