Ethan benar-benar mandi saat Ariana menyuruhnya. Ariana menjadi tidak enak hati sendiri, karena ia asal bicara mengenai hal itu. Sekarang, setelah lelaki itu selesai mandi, ia buru-buru masuk ke kamar mandi, ikut membersihkan badannya. Tentu saja untuk menutupi rasa malu serta perasaan canggung yang kian memenuhi hatinya.
Ariana keluar dengan pakaian lengkap, pakaian santai yang menjadi fasilitas di hotel mewah tersebut. Ariana bersenandung senang menikmati kesegaran luar biasa. Hotel kelas atas memang beda. Ia tidak menyesal memutuskan untuk bermalam di sini.
Fasilitas kamar mandi dengan bath tub luas juga berbagai macam produk kebersihan serta kecantikan; ada sabun mandi yang luar biasa wangi, shampoo, conditioner, lulur, body lotion dan bahkan facial wash juga tersedia. Jangan sebutkan pasta gigi dan sikat yang sudah pasti tidak akan absen. Bahkan Ariana sudah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer canggih yang tersedia di depan wastafel.
Berbicara tentang wastafel, wastafel hotel ini juga luar biasa. Wastafel mewah dengan marmer putih yang tentu saja mahal, lalu cermin super besar yang dikelilingi lampu terang. Ariana berlama-lama mematut dirinya di depan cermin karena ia terlihat berbeda, lebih cantik, bersinar dan glowing. Wanita itu sangat puas dengan semuanya.
“Ary, ponselmu berbunyi terus sedari tadi…”
Baru sadar kalau Ethan masih ada di dalam kamar yang sama dengannya, Ariana mengangguk. Diliriknya sekilas lelaki itu, Ethan sibuk dengan laptopnya, seperti sedang mempelajari sesuatu. Ariana harus akui, kalau Ethan sangat rajin, kompetensinya berbanding lurus dengan keinginannya untuk terus belajar dan menjadi lebih baik. Ariana bersyukur Ethan ada dalam timnya, karena Ethan bisa menjadi saingan yang mungkin tidak bisa ia kalahkan.
“Apakah kau belum mengabari keluargamu, Ary? Mungkin saja mereka cemas.”
Mendengar kekhawatiran Ethan, Ariana menghela nafas panjang. “Tidak, itu bukan orang tuaku. Aku bahkan tidak tinggal bersama mereka lagi.”
Ethan seketika menoleh mendengar jawaban Ariana. “Kau tinggal sendirian?” wajahnya menunjukkan raut cemas.
Ethan selama ini melewatkan fakta mengenai tempat tinggal Ariana. Ia menganggap karena Ariana adalah anak satu-satunya maka wanita itu akan tinggal di rumah bersama keluarga, yang ternyata dugaan itu semuanya salah.
“Ya… Tidak perlu sekaget itu. Tempat tinggalku sangat aman.” Ariana menjawab pertanyaan Ethan santai, seolah tidak mengkhawatirkan apapun.
“Apartemen?” Ariana mengangguk.
“Apartemen dengan fasilitas keamanan terbaik? Kunci otomatis? 24 jam dipantau CCTV?”
“Iya, iya, dan iya…” Ariana sudah menatap Ethan sekarang. Ia heran kenapa lelaki ini menanyakan hal tersebut dengan begitu mendetil. “Memangnya kenapa kamu menanyakan itu? Tenang saja, kemungkinan masuknya orang asing itu sangat kecil. Bahkan tamu saja harus memberikan identitas sebelum masuk.”
Ethan setidaknya sedikit lebih tenang. Ariana memang terkadang terlalu sembrono dan cuek layaknya lelaki. Sedari dulu Ethan sudah menyadari hal itu, dan ia tidak ingin kalau Ariana sampai harus mendapat suatu kejadian buruk karenanya. Tidak selama ia menjadi pacar Ariana.
“Jadi, kalau bukan orang tuamu… Siapa…? Siapa yang menghubungi sampai sebanyak itu?” Ethan menutup mulutnya tak percaya. “Bukan bos kan? Atau panggilan kerja sama?”
“Bukan dari bos besar.” Ariana menggeleng pelan. “Dan sayangnya, bukan panggilan konfirmasi kerja sama juga.” Ethan yang sebelumnya antusias menjadi sedikit kecewa. “Ini hanya… yah… dari seseorang…”
Melihat Ariana yang melempar ponselnya enggan setelah mengecek sekilas, Ethan menjadi penasaran. “Siapakah seseorang itu…?” Ethan memicingkan matanya. “Jangan bilang kalau itu selingkuhanmu….”
“Tentu saja bukan! Jangan berbicara hal yang aneh! Pikiranmu terlalu gila!” Ariana tanpa sadar melempar bantal yang tak jauh dari tangannya ke arah Ethan. Memang saat ini mereka berdua sedang duduk di atas ranjang masing-masing.
“Lalu siapa?” Ethan berhasil menangkap lemparan bantal dari Ariana dengan mudah. Ia sekarang memicingkan mata, bertindak seperti sedang menginterogasi Ariana.
“Sebagai pacarmu, kupikir aku harus tahu.” Ethan menutup mulutnya rapat. Ia kelepasan lagi. Kali ini ia takut kalau Ariana akan menganggap hubungan mereka menjadi memberatkan untuknya.
Harusnya Ethan tadi diam saja. Harusnya ia menunggu sampai Ariana memberitahu. Lagi-lagi ia merasa telah mengambil langkah yang salah.
Ariana terdiam sejenak. Ia tampak berpikir. Ethan sendiri tidak mengeluarkan suara. Lelaki itu menjadi ketar-ketir menunggu respon dari Ariana.
“Itu… dari Adrian…” Ariana akhirnya membuka mulutnya. Benar seperti kata Ethan, mungkin lebih baik ia jujur saja kepada lelaki itu. Bagaimanapun, Ethan adalah pacarnya. Lelaki itu berhak tahu.
“Adrian?!” Ethan menatap dengan mata membulat, antara kaget, tidak percaya, dan kesal. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu, membuat ia berani melangkahkan kakinya mendekat kepada Ariana. “Apa dia memang selalu menghubungimu seperti itu?”
Ariana memberikan keluhan tanpa suara lewat wajahnya. Sempat meragu sesaat, akhirnya Ariana menyodorkan ponselnya. Ini bukan rahasia, dan Ethan juga bukan orang lain untuk Ariana.
“Hampir.” Ariana mengangkat bahu. “Bahkan aku ingin bertanya padamu. Apa seorang lelaki memang selalu menghubungi teman wanitanya seperti itu?”
Ethan mendiamkan pertanyaan Ariana sesaat. Ia mengambil alih ponsel yang disodorkan Ariana padanya, melihat isi pesan-pesan dari Adrian. Kebanyakan memojokkan Ariana karena mengabaikan panggilan dan juga pesan-pesannya. Ethan mengatupkan mulutnya rapat, ia ingin sekali memaki.
“Tidak! Aku tidak pernah menghubungi teman wanitaku jika tidak ada keperluan tertentu. Apalagi mengirim berpuluh-puluh pesan atau melakukan panggilan berkali-kali. Tidak akan pernah aku melakukan hal semacam itu. Tidak, kecuali wanita itu adalah pacarku.”
Ariana merasa tidak nyaman dengan jawaban Ethan. Otaknya berpikir keras. “Kalau begitu…” Tenggorokan Ariana serasa tercekat sampai-sampai ia kehilangan suaranya sesaat. “Apa aku benar-benar seperti pacarnya?”
Ethan meraih tangan Ariana lalu menggenggamnya erat. Ia bisa merasakan kekhawatiran Ariana. Mungkin selama ini Ariana tidak menyadari hal tersebut, tapi Adrian telah memperlakukannya seolah lebih dari ‘teman’.
“Aku tidak berpikir seperti itu…” Ethan berusaha menenangkan Ariana.
“Tindakan Adrian saja yang berlebihan. Dan kurasa keputusanmu untuk menjauhinya saat ini sudah tepat. Aku akan membantumu sebisaku.”
Melihat Ariana yang masih saja gelisah, Ethan mengelus punggungnya pelan.
“Aku tahu pasti sulit untuk membatasi hubunganmu dengan Adrian. Kalian memang sangat dekat. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Ariana…”
Ariana menoleh ke arah Ethan, memberikan tatapan seolah bertanya, “Apa itu?”
“Seorang teman lawan jenis sebaiknya dijauhi saat mereka telah menikah. Kita tidak bisa sedekat itu lagi dengan mereka saat status sudah berubah. Kehidupan mereka sudah berbeda. Mereka memiliki keluarga, yang harus diutamakan lebih dari teman.”
Ethan menarik nafas sebentar, memberikan jeda agar Ariana bisa mendalami ucapannya. “Dan… harusnya… Adrian tahu betul mengenai hal itu.”
Ariana belum membuka mulutnya. Ia bingung bagaimana harus menanggapi Ethan. Ia ingin membela temannya, Adrian, hanya saja ucapan Ethan begitu benar sampai-sampai tidak mampu untuk ia bantah.
“Kau tidak boleh ragu, Ary…” Ethan merangkul bahu Ariana, menepuknya beberapa kali. “Ini semua bukan hanya demi dirimu, tapi juga demi keluarga Adrian. Aku rasa kejadian di kantor sudah menjadi bukti nyata.”
Sepertinya Ethan benar. Ariana tidak bisa terus-terusan sedekat itu dengan Adrian. Ia memang sempat menyalahkan Clarissa, istri Adrian, yang dinilainya terlalu posesif. Karena memang Adrian kerap mengatakan hal itu padanya. Walau begitu, ucapan Ethan juga benar. Meskipun posesif, Clarissa adalah istri sah Adrian, dan ia berhak sepenuhnya atas Adrian, jauh lebih berhak daripada Ariana.
“Aku rasa kau memang benar…” Ariana memasang senyum di wajahnya. Ia berikan senyum itu sebagai ucapan terima kasih atas saran-saran dan penjelasan dari Ethan.
“Hanya saja… Kau lihat sendiri kan? Meskipun aku sudah menjauhinya, dia terus saja begitu. Aku jadi merasa… sulit?”
Ethan memutar otaknya sejenak. “Aku tahu apa yang harus kau lakukan.” Sebuah senyum lebar tercetak di wajah Ethan. “Mendekatlah…”
Ariana tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Ethan, tapi yang pasti lelaki itu sekarang tengah merapatkan dirinya dengan Ariana lalu merangkulnya mesra.
“Tersenyumlah…” Ethan membuat Ariana semakin bingung saat memintanya tersenyum dan mengarahkan kamera kepadanya. Ariana hanya bisa menganga saat Ethan mengambil foto mereka lalu mempublikasikannya di aplikasi chat. Ia juga mengganti foto profil Ariana untuk aplikasi chat tersebut.
“Aku tidak menyangka hasilnya sebagus ini.” Ethan menilik lagi foto yang baru saja ia ambil. Kebetulan sekali mereka memakai setelan baju hotel yang sama, yang membuat mereka seolah memakai baju couple.
“Apa yang kau lakukan?” Ariana bertanya bingung.
“Aku hanya menunjukkan pada dunia kalau kita berpacaran. Aku harap seseorang di sana sadar akan posisinya.” Ethan tersenyum miring. Hubungan mereka tidak bisa terbantahkan lagi sekarang.
***
Adrian sudah berkeliling ruang tamu dengan wajah gelisah. Ariana seharian ini tidak membalas pesannya. Ia tahu kalau Ariana sedang ada perjalanan bisnis dan mungkin saja wanita itu sedang sibuk. Tapi kan, hari sudah malam sekarang, jadi pasti seluruh kegiatan sudah selesai. Harusnya.
“Papa!” Panggilan Claire terabaikan begitu saja oleh Adrian. Ia begitu khusyu menatap ponselnya, menunggu balasan dari Ariana.
Clarissa yang tengah menyiapkan makan malam, menyadari apa yang terjadi. Di hadapannya, ia melihat Adrian yang tidak menganggap Claire sama sekali. Clarissa mengutuk dalam hati, semua ini pasti karena Ariana.
“PAPAA!!” Claire berteriak lebih kencang dan hampir menangis. Adrian terpaksa menghampiri Claire dan membelainya lembut, menghiburnya dan duduk kembali di sampingnya.
“Papa sedang bekerja.” Adrian menunjuk ke arah ponselnya. “Bukankah Claire anak yang baik? Bermainlah dengan bonekamu. Papa akan duduk di sini, jadi jangan menangis.”
Clarissa sungguh ingin protes. Ada kalanya ia ingin membuang ponsel Adrian agar suaminya itu lebih memperhatikan putri mereka. Padahal ia sengaja memberikan waktu agar Adrian bisa lebih dekat dengan Clarissa. Sudah banyak jam Adrian habiskan di luar rumah untuk bekerja, jadi untuk malam hari, setidaknya… tidak bisakah lelaki itu meluangkan sedikit waktunya untuk keluarga?
Claire sepertinya merasakan hal yang sama dengan Clarissa. Ia ingin mendapatkan perhatian dari waktu yang ada bersama ayahnya. Balita itu dengan sengaja menabrakkan bonekanya ke kaki Adrian, meminta perhatian. Ia tidak ingin dimarahi, tapi ia juga ingin bermain bersama. Ayahnya ada di sampingnya, tapi Claire tidak bisa merasakan kehadirannya sama sekali. Clarissa yang hanya bisa menyaksikan kejadian itu menghela nafas panjang. Ia harus lebih bersabar, karena setidaknya malam ini Adrian menuruti keinginannya untuk menemani Claire dan makan bersama. Ia tidak ingin membuat malam istimewa ini rusak. Sudah lama sekali sejak mereka makan malam semeja.
“Makanan sudah siap!” Clarissa membuat wajah seceria mungkin. Ia ingin membuat suasana menjadi menyenangkan. Dengan riang, Clarissa mengambil Claire ke dalam gendongannya, lalu mendudukkan Claire di kursi khusus milik putrinya itu di meja makan.
Setelah duduk rapi, Adrian masih belum beranjak dari tempatnya duduk. Clarissa harus bersabar lagi. Ia menekan emosinya, lalu memasang senyum lebar.
“Pa! Ayo makan! Makanannya sudah siap!”
Masih tidak ada jawaban. Clarissa akhirnya berbisik pada Claire, meminta putrinya itu untuk memanggil Adrian.
“PAPAAA!!! Makan… Makan…”
Karena panggilan cempreng Claire yang tidak juga berhenti, akhirnya Adrian berdiri dan berjalan enggan ke meja makan. Ia mengambil tempat di depan Clarissa. Melihat Adrian yang sudah duduk, Clarissa dengan sigap menyiapkan makanan untuk suaminya. Ia sengaja memasak makanan yang disukai Adrian, berharap Adrian akan memuji masakannya atau setidaknya menyadari usahanya.
Sayangnya, usaha Clarissa seakan sia-sia. Adrian hanya mengunyah dan makan dalam diam. Ia tidak menanggapi keadaan sekitarnya. Claire sibuk mengoceh sendiri dengan Clarissa yang telaten menyuapinya. Keadaan saat ini seolah ada tembok besar tak kasat mata yang menghalangi Adrian dengan Claire dan Clarissa. Dekat, tapi tidak terlihat ataupun terdengar.
Selesai makan, Adrian berjalan sambil lalu. Ia meninggalkan Clarissa yang masih sibuk dengan Claire. Lelaki itu pergi begitu saja tanpa kata. Clarissa tidak bisa mengeluh, ia tetap duduk diam melanjutkan kegiatannya. Ia harus mengurus Claire terlebih dahulu, walaupun ia sangat ingin mengejar Adrian sekarang.
Adrian berjalan menuju balkon. Ia duduk di kursi yang ada di sana sambil menatap kosong langit malam yang gelap. Tangannya tidak lepas dari ponsel, mengaktifkannya sesekali, khawatir kalau ada pesan masuk dan ia tidak menyadarinya. Karena tidak sabar menunggu, akhirnya Adrian menekan sebuah tombol hingga layar ponselnya berpendar terang. Ia tahu jika dirinya tidak bisa berharap banyak. Sepertinya Ariana sangat sibuk, dan mungkin sekarang wanita itu berdalih kalau ia ingin istirahat. Alasan yang selalu saja diberikan Ariana saat Adrian menghubunginya.
Memang, Adrian pikir akan seperti itu, tapi kenyataan memberikan sesuatu yang sedikit berbeda. Mata Adrian membulat tak percaya melihat tampilan layar pipih yang ada dalam genggamannya. Ia baru saja membuka aplikasi chat dan mendapatkan satu hal. Ariana sedang dalam status online, dan wanita itu malah mengganti foto profilnya. Meski begitu, tidak ada satu pun pesan Adrian yang dibalas. Parahnya lagi, foto profil itu! Ariana mengganti fotonya, foto yang sebelumnya menampilkan wajah wanita itu saat sedang sendiri, sekarang menampilkan dua orang.
“APA-APAAN!” Adrian menggeretakkan giginya marah. Ia menatap tak suka foto Ariana dengan Ethan yang tampak begitu mesra.
“Aku pikir kau sedang sibuk bekerja!” teriaknya keras. Adrian tidak terima. Tidak sama sekali. Di saat Ariana tidak membalas pesannya apalagi balas meneleponnya, wanita itu malah sibuk bersama lelaki lain.
“Kamu tidak bisa begini padaku!” Dengan penuh emosi, Adrian menekan tombol di ponselnya, menghubungi Ariana, ingin meminta penjelasan tentang apa yang tengah terjadi.