Acara pernikahan terlihat begitu kacau, tapi bukan hal itu yang menjadi fokus utama untuk sekarang. Melainkan tentang keadaan Denis. Monica dan Lidya langsung membawa ke rumah sakit. Sedangkan Guntur justru memarahi sang Istri juga meminta maaf kepada para tamu undangan yang sudah berbicara seenak jidat.
Pernikahan terpaksa dibubarkan, pak penghulu yang sedari tadi menunggu mau tidak mau harus pulang karena mempelai pria tidak jadi datang.
Setelah semua urusan di gedung pernikahan selesai, Guntur hendak pergi menyusul ke rumah sakit.
"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Mila sinis.
"Aku mau ke rumah sakit menyusul dik Monica," sahut Guntur singkat.
"Lebih baik kita pulang, Mas. Ngapain juga masih mengurus keluarga mere ....," ujar Mila, tapi tidak diteruskan sebab Guntur melenggang pergi begitu saja.
Mila terlihat begitu kesal, tapi tidak bisa mencegah Guntur untuk pergi ke rumah sakit.
"Terserah kamu deh, Mas. Yang jelas ... aku bahagia hari ini. Dengan batalnya pernikahan ini, itu berarti Lidya semakin tersiksa dan juga malu." Monica tertawa dengan lantang.
Guntur dengan cepat mengendarai sepeda motor agar sampai di rumah sakit. Sesampainya, dia menghampiri Monica dan Lidya yang masih duduk di ruang tunggu.
"Bagaimana keadaan Denis, Dik?" tanya Guntur cemas. Seharusnya hal ini juga tidak terjadi kalau saja dia mencegah sang Istri membuat Monica sekeluarga malu di depan para tamu undangan.
"Belum ada kabar, dokter belum keluar dari ruangan." Monica menyahut dengan linangan air mata yang sudah tidak dapat dibendung. Sontak hal itu membuat Guntur semakin bersalah atas apa yang sudah dilakukan oleh Mila.
"Maafkan aku, Dik. Coba saja aku menahan istriku untuk tidak berbicara yang tidak-tidak. Mungkin semua tidak akan sampai seperti ini," kata Guntur. Terlihat jelas dari sorot matanya begitu menyesal atas kejadian yang sudah menimpa di gedung pernikahan.
"Gapapa, Mas. Mungkin sudah jalannya seperti ini," kata Monica tidak ingin memperkeruh suasana.
Setelah lumayan lama menunggu, dokter keluar dari ruangan memberitahu kabar tentang Denis.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Monica saat melihat dokter keluar dari ruangan.
"Maaf, Bu. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi pak Denis tetap tidak bisa diselamatkan," jawab Dokter yang bernama Ginanjar tersebut.
Seketika tubuh Monica ambruk begitu saja karena syok dengan kabar yang baru saja diterima. Mana mungkin dia bisa menerima kabar buruk yang seharusnya menjadi kabar baik untuk pernikahan Lidya yang selama ini menyandang sebutan perawan tua oleh para tetangga. Guntur yang menemani terlihat panik melihat Monica sudah pingsan, berulang kali berusaha membangunkan tapi tidak membuahkan hasil juga. Atas saran dari dokter, wanita tersebut dirawat sampai tersadar kembali. Tidak hanya sang Paman, Lidya juga syok dengan semua. Kali ini, hanya ungkapan permintaan maaf yang bisa dikatakan kepada jasad almarhum Denis.
"Kamu harus belajar ikhlas, Lidya. Agar papamu tenang di sana," kata Guntur menghampiri Lidya yang saat ini menangis sesenggukan melihat tubuh Denis yang sudah tidak berdaya.
Tidak ada respon dari wanita itu, hanya bisa menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi.
"Kamu gak usah merasa bersalah, semua terjadi merupakan jalan takdir yang harus kamu lalui," imbuh Guntur seolah mengerti apa yang terlintas dalam benak Lidya.
"Semua ini salahku, coba saja aku mengikuti semua perkataan Papa sewaktu masih hidup. Menikah di usia muda, tanpa harus menunggu hingga lulus sarjana. Sudah pasti aku tidak akan mengalami kegagalan dalam menikah, batal bertunangan dan sudah pasti Papa bisa melihatku di atas pelaminan," kata Lidya terlihat prustasi.
"Kamu jangan pernah berbicara seperti itu, ini adalah ujian dan cobaan yang harus kamu lalui. Lagian Om yakin, kamu pasti bisa melalui semua ini dengan baik. Sudah pasti ponakan Om yang satu ini adalah orang yang kuat." Guntur berusaha untuk membuat tenang hati Lidya yang sudah pasti kacau.
"Terima kasih, Om." Hanya itu yang bisa Lidya katakan tanpa bisa menjelaskan apa yang ada dalam hatinya.
"Sama-sama. Sekarang, sudahi sedihmu. Jangan membuat papamu bersedih juga. Buktikan pada dunia, kalau kamu bukan perawan tua. Jalani saja hidup ini sebagaimana mestinya, semua orang punya jodohnya masing-masing. Hanya saja, kita tidak tahu ... kapan akan bersatu." Guntur terus menerus memberikan semangat kepada keponakan yang sudah dianggap sebagai anak sendiri.
"Om ke sini juga mau minta maaf atas perkataan Mila tadi, istriku memang selalu bikin masalah," imbuh Guntur saat teringat lagi pada sang Istri.
"Gapapa, Om. Apa yang dikatakan Tante memang benar, jadi tidak perlu meminta maaf." Lidya menyadari kalau Mila memang membencinya dari dulu. Jadi, memberikan maaf atau tidak, itu sama saja. Tidak akan merubah hati sang Tante untuk menyayanginya seperti anak sendiri.
"Om janji, akan aku urus Mila agar tidak membuat onar lagi," kata Guntur tidak enak hati, sebab selama ini dia tahu kalau sang Istri selalu berbuat jahat pada Lidya. Dia terus menegur bahkan memarahi sang Istri, meskipun pada akhirnya sama saja. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya dianggap sebagai angin lalu saja.
"Mama sama siapa, Om?" tanya Lidya melihat Guntur seorang diri.
"Mamamu sendirian, dia tidak apa-apa. Om sudah bilang sama dokter untuk membawa jenazah mas Denis nanti saja, menunggu dik Monica siuman." Guntur menyahut sembari memberikan seulas senyuman, sebab Lidya tengah melihat padanya.
"Alhamdulillah kalau Mama gapapa," kata Lidya melihat ke baju pengantin yang masih dikenakannya.
"Aku mau ke ruangan Mama dulu, Om di sini ya. Jagain Papa," pinta Lidya berdiri dari kursi.
"Iya, kamu jangan bersedih lagi dan tetap semangat!" Guntur mengangkat tangan kanan dengan menunjukkan semangat.
Lidya memberikan senyuman tipis, lalu keluar dari ruangan Denis. Baru saja membuka pintu, Mila tiba-tiba masuk sembari menabrak tubuh wanita cantik yang masih mengenakan gaun pengantin itu.
"Kalau jalan tuh pakai mata, biar gak nabrak sembarangan!" cetus Mila menatap wajah Lidya sinis.
Padahal sudah jelas yang salah Mila, tapi tetap saja menyalahkan Lidya yang hanya menggelengkan kepala. Kedatangan sang Tante justru membuat semuanya kacau, Guntur justru ditarik agar pulang bersamanya. Beruntung pria itu dengan tegas menolak, hingga Mila terdiam tak berkutik. Melihat sang Paman tetap menjaga jenazah Denis dengan baik, Lidya kembali melangkahkan kaki ke ruangan Monica.
"Semoga saja Mama sudah siuman, jadi jenazah papa bisa diurus dengan secepatnya." Lidya bermonolog sembari melangkahkan kaki ke ruangan Monica.
Wanita cantik berpakaian gaun pengantin sudah tidak peduli dengan sorot mata yang sedari tadi memandang. Bahkan ada juga yang membicarakannya.
Sesampainya di ruangan, Monica ternyata sudah terbangun. Dia berada di atas Hospital Bed dengan posisi duduk. Lidya berjalan lebih cepat sembari menyapa sang Mama.
"Pergi kamu dari sini! Pergi kamu dari sini anak pembawa sial!" hardik Monica membuat Lidya syok.
Bersambung ....