Lidya masih tidak mengerti dengan keadaan Monica, kenapa juga sang Mama semarah itu padanya.
Wanita yang masih mengenakan gaun pengantin berusaha untuk mendekat serta menenangkan hati Monica.
"Tenang, Ma!" seru Lidya lirih.
Monica terus memarahi Lidya hingga melempar barang seadanya seperti vas bunga di atas nakas, tepat di samping hospital bed. Beruntung vas itu tidak mengenai tubuh wanita yang masih mengenakan gaun pengantin itu.
"Pergi kamu dari sini! Anak pembawa sial! Pembunuh!" Perkataan itu menyakitkan hati Lidya. Hingga dokter dan perawat datang untuk menenangkan hati Monica.
Lidya dengan berat hati keluar dari ruangan dan menemui Guntur.
***
Hanya pusara yang bisa dielus oleh Monica saat ini, perasaannya hancur melihat suami yang dicintai pergi. Tidak ada hal serius yang terjadi pada wanita yang mengenakan pakaian serba putih itu, melainkan rasa benci pada sang Anak karena kematian sang Suami.
"Sudah, Ma. Ikhlaskan saja Papa agar tenang di alam sana," ujar Lidya sembari memegang pundak Monica.
"Diam kamu! Jangan sentuh aku! Ini semua terjadi karena mu!" Monica masih menyalahkan Lidya atas meninggalnya Denis.
Wanita yang saat ini juga mengenakan pakaian serba putih tidak berani berbicara apa pun. Hanya terdiam dan tidak menyangka Monica akan membencinya.
"Kamu yang sabar Lidya, butuh waktu untuk mamamu untuk mengikhlaskan kepergian papamu. Ini hanya sementara waktu saja, setelah itu sudah pasti dik Monica akan kembali seperti semula." Hanya Guntur yang memberikan energi positif pada Lidya. Berbeda dengan Mila yang terus mengompori Monica.
"Kamu benar, Dik. Semua ini terjadi karena kesalahan Lidya yang gak nikah-nikah! Aku yakin, gagalnya pernikahan juga pasti sudah direncanakan oleh keponakanku itu." Mila terus menghasut Monica.
Guntur sudah tidak tahan dengan sang Istri yang berbicara semakin ngelantur. Dia menarik tangan sang Isti dan pergi meninggalkan pemakaman.
"Lepaskan aku, Mas!" cetus Mila sembari menghempaskan tangan Guntur.
"Kamu semakin ke sini omongannya tidak dijaga. Aku benar-benar tidak habis pikir kamu bisa berbicara seperti itu, padahal suasana lagi ber belasungkawa seperti ini. Harusnya kamu paham! Jangan memperkeruh suasana dengan memfitnah Lidya!" Guntur menasihati Mila tidak jauh dari tempat peristirahatan terakhir Denis.
"Aku hanya berbicara kenyataan, Mas. Kalau bukan ulah Lidya, siapa lagi? Paling juga calon suaminya yang bernama Aldo itu kabur karena Lidya sudah berbicara yang buruk padanya. Kamu tahu sendiri 'kan, kalau ponakan mu yang satu itu suka pilih-pilih." Mila terus menjelekkan Lidya agar sang Suami ikutan menyalahkan ponakannya.
"Terserah kamu mau bilang apa! Kamu sudah terlewat batas. Lebih baik kita pulang sekarang, dari pada kamu tetap di sini dan membuat Monica semakin membenci Lidya." Guntur kembali menarik tangan Mila.
Kali ini tidak ada perlawanan dari sang Istri, terlihat dari wajah wanita itu begitu puas dengan apa yang dilakukannya. Semua berjalan sesuai rencana. Bahkan Lidya sudah pasti lebih menderita dari apa yang terlintas dalam benaknya.
Guntur tidak berhenti memarahi Mila, sebab anak mereka tidak datang saat pemakaman Denis.
"Namanya anak muda, Mas. Ya wajar dong, kalau Gisel sibuk dan gak bisa hadir. Lagian, kamu ke anak sendiri kayak gak sayang gitu. Lebih sayang Lidya tak tahu diri itu!" cetus Mila sembari mengikuti langkah kaki sang Suami.
Guntur tidak berani menjawab, sebab apa yang dikatakan Mila memang benar. Kasih sayangnya kepada Lidya lebih besar dibandingkan pada Gisel.
"Kenapa Mas diam saja? Apa karena Gisel tidak pintar seperti Lidya? Atau karena kamu merasa punya hutang budi pada saudara yang selama ini membantu kita? Jawab, Mas!" hardik Mila, tapi tetap diabaikan.
Guntur membiarkan sang Istri ngomel-ngomel tanpa ada bantahan sedikitpun atas apa yang keluar dari mulutnya.
Sedangkan di pemakaman, dua wanita masih menangis sesenggukan. Masih tidak percaya dengan kepercayaan pria yang sangat dicintai.
"Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga, aku muak melihat wajahmu," usir Monica saat melihat Lidya masih berada di sampingnya.
"Aku masih ingin di sini, Ma." Lidya mengusap air mata yang sedari tadi membasahi pipi.
"Pergi sebelum aku murka!" cetus Monica dengan tatapan nanar penuh amarah.
"Kenapa Mama menyalahkan aku? Semua ini bukan murni kesalahanku, Ma. Aku juga sama seperti Mama, sedih dan kecewa. Bahkan aku gagal menikah. Mama kira aku senang dengan itu semua? Tidak, Ma!" kata Lidya berusaha untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.
Monica terdiam, berusaha untuk mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh Lidya.
"Aku juga tidak ingin papa pergi, bahkan Lidya ingin papa di sini bersama kita," imbuh Lidya.
Perlahan wanita itu menjelaskan rasa yang tersimpan dalam hati, berharap Monica akan mengerti apa yang dikatakan.
"Aku sudah kehilangan papa, Ma. Jadi tolong, jangan hukum aku dengan sikap Mama yang seperti ini! Jangan benci dan salahkan aku, Ma. Kalau saja aku bisa mengembalikan papa ke dunia ini, pasti sudah aku lakukan." Lidya terus menangis sesenggukan.
Monica tetap terdiam, hingga lima menit kemudian. Wanita itu memilih untuk pergi meninggalkan Lidya seorang diri. Sang Mama pergi tanpa berbicara sepatah kata apa pun, membuat hati Lidya semakin hancur.
"Aku berharap keadaan ini tidak berlangsung lama, Ma. Aku ingin mama kembali seperti dulu lagi, menyayangiku bagaimanapun aku," monolog Lidya sepeninggal Monica.
Wanita berwajah cantik itu kembali mengutarakan isi hati yang masih kacau, berharap sang papa mau mendengarkannya. Walaupun dia menyadari kalau Denis sudah pergi ke alam lain. Dengan cara seperti itu, hati Lidya mungkin akan lebih tenang.
Setelah hatinya merasa lega, Lidya pulang untuk menemui Monica yang mungkin masih membencinya.
"Memang benar kali ya Jeng, Lidya itu sudah ditakdirkan untuk menjadi perawan tua. Lihat saja sekarang nasibnya, kasihan banget deh! Mana papanya meninggal, pernikahannya juga gagal." Salah satu tetangga bergosip dengan tetangga yang lain saat Lidya melangkahkan kaki masuk ke halaman rumahnya.
"Iya, aku juga berpikirnya seperti itu," kata tetangga yang lainnya.
Hal itu sudah biasa didengar oleh Lidya, jadi dia tidak terlalu mengambil pusing. Cukup berlalu pergi, tanpa harus menggubris omongan para tetangga. Dia melangkahkan kaki masuk ke rumah, mencari sang Mama yang sudah pulang terlebih dulu.
"Ma! Mama!" teriak Lidya mencari Monica.
Wanita cantik itu melihat ke sekeliling ruangan yang ada di ruang tamu, tapi tidak didapati sang Mama di sana. Dia pun melangkahkan kaki untuk mencari Monica di dalam kamarnya.
"Mungkin saja mama capek dan ada di kamar, aku akan cek sekarang. Setelah itu, aku akan ajak mama makan bersama." Lidya bermonolog.
Dengan langkah kaki yang di percepat, Lidya membuka pintu kamar kedua orang tuanya.
"Mama!" teriak Lidya terkejut melihat apa yang terjadi.
Bersambung ....