"Apa yang Mama lakukan?" tanya Lidya menghampiri Monica tengah berusaha untuk menghabisi nyawa. Monica sudah putus asa dengan hidup yang harus dijalaninya.
"Aku ingin menyusul mas Denis, sudah tidak ada gunanya lagi aku ada di dunia ini!" seru Monica hendak menggantungkan lehernya pada tali yang sudah terikat di langit-langit kamar.
"Mama tidak sendirian, Ma. Ada Lidya di sini yang akan selalu menemani Mama. Aku yakin Mama pasti kuat," kata Lidya berusaha untuk membujuk Monica agar mengurungkan niatnya.
Segala bujuk rayu dilontarkan oleh Lidya, hingga bisa mencegah Monica melakukan aksinya. Wanita yang memiliki julukan perawan tua pun menghampiri dan segera memeluk erat tubuh wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya.
"Maafkan Lidya, Ma. Belum bisa membuat papa dan Mama bahagia dan mewujudkan permintaan kalian untuk menikah." Lidya menangis teringat akan semua yang pernah dilalui.
Monica tidak berbicara apa pun, hanya terdiam serta berusaha untuk memulihkan mental yang sedang rusak.
Lidya meminta Monica untuk duduk, menenangkan diri dan memberikan segelas air putih yang biasa disediakan di atas meja tepat di samping tempat tidur sang Mama.
"Mama minum dulu, setelah itu istirahat di kamar Lidya," ujar Lidya menyodorkan segelas air putih yang ada digenggamannya.
Monica dengan perlahan meneguk air putih dalam gelas hingga tandas, setelah hatinya merasa baikan. Lidya mengajak wanita yang melahirkannya ke dalam kamar pribadinya.
"Untuk sementara waktu, Mama istirahat di kamar Lidya dulu. Hingga semua kembali tenang," kata Lidya membantu Monica untuk merebahkan tubuh di atas ranjang.
Setelah memastikan Monica terlelap dalam tidurnya, Lidya kembali ke kamar orang tuanya untuk membereskan tali.
"Setelah ini, aku tidak boleh meninggalkan mama sendiri. Aku harus menemaninya sampai kembali pulih seperti semula. Mungkin aku akan cuti," gumam Lidya sembari membereskan kamar Monica yang sempat kacau karena kemungkinan sang Mama mengamuk sebelum akhirnya berusaha untuk mengakhiri hidup.
Lidya keluar dari kamar Monica, berjalan ke pintu untuk membukakan pintu karena ada yang memencet bel rumah. Ternyata yang datang teman-teman ngajar wanita berparas cantik itu. Mereka yang awalnya datang ke pernikahan, sengaja pulang kembali untuk mengganti pakaian.
Lidya mempersilakan mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
"Turut berdukacita, Lidya," ujar Farah teman ngajar Lidya.
"Yang sabar ya," kata Lina teman yang lain.
Lidya tersenyum sembari menganggukkan kepala.
"Terima kasih," kata Lidya.
Setelah itu, dia pergi ke dapur hendak membuatkan minuman. Namun, dicegah oleh Lisa. Mereka hanya datang sebentar, melafalkan do'a dan memberikan amplop. Kemudian, mereka semua pulang.
Suasana rumah Lidya kembali sepi, tidak ada yang menemani wanita tersebut. Asisten rumah tangga yang biasa bekerja di rumah tersebut sudah setahun lalu resign, sejak saat itu tidak ada lagi asisten rumah tangga di dalam keluarga Denis.
Lidya merebahkan tubuh di sofa, sembari mengingat kenangan yang pernah dilalui bersama dengan Denis. Teringat akan janji yang pernah ada dalam hati untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
"Andai saja Papa masih hidup, mungkin suasana rumah tidak akan sepi begini." Lidya bermonolog.
Dia melangkahkan kaki untuk melihat sang Mama yang masih tertidur pulas di kamarnya.
"Ma, kini kita hanya tinggal berdua saja. Aku akan berusaha untuk membahagiakan Mama. Akan ku buktikan, kalau aku bukan anak pembawa sial seperti yang Mama katakan." Lidya menggenggam erat tangan kanan Monica yang tergeletak lemah.
Dipandangnya wajah sang Mama yang sudah tak lagi muda dan ada kerutan di beberapa bagian. Perasaan haru kembali ada dalam hati wanita berparas cantik itu.
"Mas Denis, jangan tinggalkan aku." Monica mulai meracau sendiri.
"Tenang, Ma. Ada Lidya di sini," kata Lidya membelai rambut indah sang Mama. Rambut yang masih berwarna hitam karena dioleskan pewarna rambut.
Lidya beberapa kali menguap karena mengantuk. Mempersiapkan acara pernikahan yang gagal membuat wanita itu kurang istirahat. Dia akhirnya tertidur di samping tempat tidur dengan posisi duduk.
"Lidya! Di mana kamu!" teriak Mila yang tiba-tiba datang dan masuk ke dalam rumah Denis tanpa permisi terlebih dulu. Entah apa yang diinginkannya sekarang? Setelah kekacauan yang sudah dilakukan.
"Di mana anak itu, kenapa rumah ini sepi?" pikir Mila mencari di setiap ruangan. Hanya tersisa kamar Lidya yang belum dicek sebab berada di tempat paling ujung.
"Aku harus menggunakan kesempatan emas ini, sebelum Lidya dan Monica mengetahui kedatanganku." Mila bermonolog. Lalu kembali masuk ke kamar Monica. Mengacak-acak lemari untuk mendapatkan sesuatu.
Setiap pakaian sudah dihamburkan ke sembarang tempat, tapi Mila belum menemukan apa pun juga.
"Di mana Monica menyimpan perhiasan dan semua uangnya?" pikir Mila melihat ke setiap sudut ruang kamar.
Pandangannya berhenti di salah satu laci, tepat pada tempat rias. Dia semakin mendekat dan membuka laci. Benar saja, Mila menemukan kotak perhiasan di sana. Dengan cepat wanita itu memasukkan kotak perhiasan ke dalam tasnya sebelum ketahuan.
Melihat suasana masih sepi, dia kembali membuka tas serta mencoba perhiasan yang ada.
"Ternyata perhiasan ini memang cocok untukku," kata Mila mencoba gelang perhiasan dengan batu kristal yang indah.
Satu persatu perhiasan dicoba, melihat dirinya di depan cermin dengan perasaan bangga.
"Seumur-umur, aku tidak pernah dibelikan perhiasan sebagus ini oleh suamiku. Sedangkan Monica, betapa beruntungnya dia yang mendapatkan cinta dan suami mapan seperti Denis." Mila berbicara sendiri dengan ketus.
Setelah semua perhiasan dicoba, dia pergi untuk mencari keberadaan Lidya. Ada hal yang ingin wanita itu bicarakan selain mengambil perhiasan milik keluarga Denis.
Baru saja keluar dari kamar Monica, wanita yang berhasil mengambil perhiasan tersebut terkejut dengan suara Lidya.
"Ngapain Tante ke kamar mama?" tanya Lidya dengan sorot mata penuh curiga.
"Tante gak ngapa-ngapain, hanya mencari keberadaan dik Monica. Aku kira ada di kamarnya," kata Mila percaya diri. Tidak ada rasa gugup serta canggung dari wajah Mila. Layaknya seorang pencuri handal, semua tertutup rapat dan sempurna.
"Mau apa Tante datang ke sini? Apakah belum puas, Tante sudah membuat keluargaku malu?" cecar Lidya. Terlihat amarah yang sedang ditahan olehnya.
"Kamu jangan suudhon dulu dong, Lid. Tante ke sini cuma mau mengecek keadaan dik Monica saja. Tante khawatir dengan kesehatan mamamu," sahut Mila berdusta. Jika diminta untuk bersandiwara, dia memang ahlinya.
"Terima kasih atas perhatian yang sudah Tante berikan, tapi maaf! Aku dan mama tidak butuh perhatian dari Tante. Jadi, aku minta keluar dari rumahku sekarang juga!" usir Lidya muak melihat wajah Mila.
"Tenang, Lidya. Jangan emosi gitu, aku datang dengan niat baik." Mila terus membujuk Lidya.
"Katakan saja apa yang Tante inginkan? Lidya tahu, pasti ada sesuatu 'kan?" cecar Lidya yang tahu persis dengan sifat Mila.
"Kamu memang wanita yang peka," ujar Mila tersenyum tipis.
"Tante ke sini mau mengambil hak Tante atas rumah ini," kata Mila menyeringai. Padahal, Lidya tidak mengerti akan ucapan Mila.