Lidya tidak mengerti dengan ucapan Mila tentang bagian rumah yang dimaksud, mengingat Denis membeli rumah tersebut atas kerja keras yang dilakukan selama ini. Memang, keluarganya tidak tertolong orang kaya. Akan tetapi cukup dan terpandang oleh para tetangga.
"Jangan ngaco deh, Tante! Papa itu bekerja keras dari nol bersama mama. Mana mungkin ada hak Tante atas rumah ini?" hardik Lidya berusaha untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
"Ya sudah, kalau memang kamu tidak mau memberikan hak atas rumah ini. Tante pulang saja," kata Mila dengan wajah sumringah.
Setidaknya dia sudah mendapatkan perhiasan yang banyak dan tidak pulang dalam keadaan tangan kosong.
Lidya lantas curiga, tapi berusaha untuk mengabaikan Mila. Dia harus fokus untuk kesembuhan sang Mama agar tidak semakin terpuruk keadaannya. Dia kembali ke kamar pribadinya melihat lebih lanjut keadaan Monica.
"Beruntung mama sudah lebih baik sekarang, tapi aku harus menelepon dokter agar mama bisa kembali seperti semula." Lidya bermonolog sembari melihat wajah Monica yang masih memejamkan mata.
Lidya mengambil ponsel yang ada di dalam tas, lalu menghubungi dokter spesialis yang dikenalnya untuk memeriksa Monica. Selanjutnya, dia menyiapkan makan malam. Sejak asisten rumah tangganya tidak ada, Lidya memang sudah terbiasa memasak sendiri. Hasil masakannya juga enak dan lezat.
Wanita yang berpakaian santai itu pun memasak dengan bahan-bahan seadanya yang ada di kulkas. Dia tidak sempat berbelanja dikarenakan tidak ingin meninggalkan Monica sendirian. Beruntung ada ayam potong yang tersedia, jadi dia memasak ayam bakar untuk menu nanti malam.
Lidya tidak mau terpuruk dengan semua yang terjadi, dan selalu berpikir positif bahwa semua adalah yang terbaik untuknya.
Nasi yang ada di Magicom sudah matang, pun dengan ayam bakar yang akan menemani makan malam.
"Kenapa sampai jam segini dokter belum datang juga ya?" pikir Lidya sembari melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah enam.
Sembari menunggu, Lidya melaksanakan kewajiban terlebih dulu. Tidak lupa dia berdo'a untuk kesembuhan Monica.
Selesai itu, dia membangunkan sang Mama yang masih terlelap dalam tidurnya. Terlihat dari wajahnya kalau wanita paruh baya itu kelelahan.
"Ma, bangun! Kita makan malam dulu yuk!" Lidya mengelus pelan kepala Monica.
Sudah tiga kali melakukan hal yang sama, tapi wanita paruh baya tersebut tidak bangun juga.
"Mas Denis, jangan tinggalkan aku."
Selang lima menit, Monica kembali meracau.
"Lidya di sini, Ma. Jangan bersedih lagi," kata Lidya berusaha menenangkan sang Mama.
Perlahan mata Monica terbuka dan langsung memeluk erat tubuh putrinya.
"Maafkan Mama, Lidya. Seharusnya Mama tidak menyalahkan kamu atas kepergian papa," ujar Monica sembari menangis sesenggukan.
Entah apa yang terjadi dalam mimpi Monica sehingga dia meminta maaf atas apa yang sudah terjadi.
"Mama gak salah, Lidya juga mengerti perasaan Mama. Wajar juga Mama mengucapkan itu semua, Lidya juga salah karena sudah mengecewakan kalian berdua," kata Lidya panjang lebar. Tidak terasa buliran air mata menetes, hingga membasahi kedua pipinya. Jika teringat akan gagalnya pernikahan, jelas saja membuat hati wanita yang kerap kali dijuluki perawan tua itu miris.
"Kamu gak usah nangis lagi, Lidya." Monica menghapus air mata yang berhasil lolos di pipi kanan dan pipi kiri Lidya.
Wanita cantik tersebut langsung memeluk pelukan sang Mama yang sempat dilepas. Dia berusaha untuk kuat dan tegas semata-mata karena Monica. "Aku berjanji, Ma. Tidak akan mengecewakan Mama lagi," kata Lidya masih dalam pelukan Monica.
"Kamu tidak pernah mengecewakan Mama dan papa, Lidya. Kamu adalah puteri kebanggaan mama dan papa." Monica mengelus kepala Lidya.
"Mama tadi bermimpi bertemu dengan mas Denis, dia meminta Mama untuk menjagamu dengan baik. Dia juga berpesan kalau kamu adalah wanita yang hebat dan kebanggaan bagi papa. Tidak peduli orang mau menilai apa. Bahkan, gagalnya pernikahan semua bukan salahmu. Semua terjadi karena pria yang bernama Aldo itu bukan pria yang baik untukmu. Papa juga pergi bukan karena kesalahanmu, memang sudah waktunya papa kembali. Papa juga terlihat bahagia di sana, Lidya. Mama tidak ingin kebahagiaan papa sirna hanya karena mana menuduh mu anak pembawa sial. Bagaimanapun nanti, kamu tetap harus menjadi anak yang kuat ya!" pinta Monica dengan penuh harap. Dia juga meminta maaf atas segala ucapannya. Wanita paruh baya itu mengaku syok dan tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Kita lupain semuanya ya, Ma. Kita mulai lagi dari awal. Kita harus sama-sama saling menguatkan agar papa juga senang dan tenang di alam sana." Lidya melepaskan pelukan dan menggenggam tangan Monica dengan erat.
Sang Mama hanya menganggukkan kepala dan memberikan senyuman terbaiknya.
"Lidya sudah masak ayam bakar kesukaan mama, kita makan yuk!" ajak Lidya membalas senyuman Monica.
"Mama mau pergi ke kamar dulu, mau mandi dan ganti baju. Kamu tunggu di ruang makan saja ya," kata Monica beranjak pergi.
"Baik, Ma." Lidya ikut berdiri untuk pergi ke ruang makan. Tepat diwaktu itu juga, dokter spesialis mengirimkan pesan bahwa tidak bisa datang karena harus menangani pasien dengan cepat.
Wanita itu pun membalas seperti fakta yang ada, bahwa sang Mama sudah kembali seperti semula.
Lidya mengambil nasi dan meletakkan ke atas piring Monica serta ayam bakar yang sudah tersedia.
"Semoga saja hati Mama lebih baik setelah makan ayam bakar ini," gumam Lidya penuh harap.
Wanita berpakaian santai dengan motif bunga-bunga pun menunggu Monica datang. Tidak butuh waktu lama, akhirnya sang Mama datang dengan wajah yang lebih segar.
"Silakan duduk, Ma." Lidya mempersilakan sang Mama duduk.
"Terima kasih, Lidya." Monica lebih banyak tersenyum sekarang.
Mereka berdua pun menyantap makanan, tidak ada yang berbicara satu sama lain. Suasana menjadi hening, hanya ada suara garpu dan sendok yang tidak terlalu nyaring tapi masih bisa terdengar.
Monica menyantap makanan dengan lahap, hingga tandas dan tidak tersisa. Pun Lidya juga sama, mereka berdua sama-sama lapar.
"Oya, Lidya. Tadi ketika Mama tidur, apakah ada yang datang ke rumah ini?" tanya Monica saat mereka sudah selesai mengunyah makanan.
"Iya, Ma. Tante Mila tadi ke sini," sahut Lidya menatap wajah sang Mama.
"Pantas saja," kata Monica pelan.
"Memang ada apa, Ma?" tanya Lidya penasaran. Pikirannya sudah berburuk sangka pada wanita yang dipanggilnya dengan sebutan Tante.
"Lemari Mama berantakan, perhiasan Mama juga tidak ada," jawab Monica santai.
Bisa-bisanya wanita paruh baya itu terlihat tidak marah sama sekali, terlihat dari raut wajahnya tidak keberatan sama sekali meskipun perhiasan kesayangannya diambil. Justru Lidya yang terlihat murka saat ini, dia tidak terima dengan kelakuan Mila.
"Aku akan ke rumah Tante Mila malam ini, perhiasan Mama pasti akan kembali!" seru Lidya menggebu-gebu.
"Gak usah Lidya," kata Monica pelan.