Entah kenapa Monica melarang Lidya mengambil kembali hak yang seharusnya di pertahankan. Yang jelas, wanita tersebut hanya bisa menuruti kemauan mamanya.
"Aku tadi menghubungi dokter, Ma. Tapi sampai detik ini tidak datang juga," kata Lidya mengingat dokter belum datang.
"Gak usah ditunggu, Lidya. Mungkin saja dokter lagi sibuk di rumah sakit." Monica memberikan pendapatnya.
Lidya memapah Monica ke dalam kamar untuk beristirahat karena hari sudah malam.
"Baik, Ma. Mama istirahat dulu ya, Ma. Biar gak capek," kata Lidya mengulum senyum.
"Kamu juga istirahat, Lidya. Jangan kecapean, kalau bisa malam ini tidurnya di kamar ini sama Mama," ujar Monica tidak ingin tidur sendirian di dalam kamar. Hati dan pikirannya masih teringat akan Denis, rasa rindu mulai menyapa.
Tanpa pikir panjang, Lidya menyetujui permintaan Monica. Mereka akhirnya tidur bersama di kamar wanita yang baru saja ditinggal pergi oleh suaminya.
***
Hari berganti, Lidya mulai menjalani hari tanpa sosok Denis. Pun Monica yang sampai detik ini masih berusaha untuk menjadi kuat setelah kepergian suaminya. Suasana di dalam rumah jelas ada yang berubah, karena kehilangan sosok pria yang mereka cintai. Akan tetapi, hal itu tidak membuat semangat hidup mereka meredup. Mencoba untuk bangkit dari keterpurukan yang dialami agar kuat menjalani hari.
"Mama akan bekerja, Lidya. Lagian di rumah saja tidak enak," kata Monica sebelum mereka menyantap sarapan.
"Mama mau kerja apa?" tanya Lidya bingung. Selama ini yang menjadi tulang punggung keluarga adalah Denis. Biasanya Monica hanya mengurus keperluan rumah dan bersantai saja.
"Mama bisa cari kerjaan yang bisa mama kerjakan, Lidya." Monica menyahut pelan.
"Lebih baik Mama di rumah saja seperti biasa, biarkan Lidya yang mencari uang. Mungkin sudah waktunya Lidya membahagiakan Mama dengan hasil kerja kerasku." Lidya memohon dengan sangat, dia tidak ingin sang Mama terlalu capek karena tidak terbiasa bekerja.
Monica menyetujui, meskipun dalam hati masih ingin bekerja. Dia tidak ingin menjadi beban bagi Lidya. Namun, mau bekerja juga tidak memiliki keahlian.
Mereka sarapan nasi goreng bersama seperti biasa tanpa Denis. Kursi yang biasanya ditempati pria itu kini kosong. Selesai sarapan, mereka kembali mengobrol.
"Kamu tidak pergi ke sekolah hari ini?" tanya Monica melihat Lidya tidak mengenakan seragam.
"Hari ini Lidya masih cuti, Ma." Lidya menyahut singkat. Dia mulai membereskan piring kotor di meja makan.
"Biarkan Mama saja yang melakukannya, Lidya." Monica segera mengambil alih, tapi dilarang oleh Lidya.
"Lebih baik Mama duduk ya. Biarkan Lidya yang membereskan semuanya." Lidya tidak akan membiarkan Monica membereskan semua selama dia masih ada di rumah.
Sedangkan Monica juga tidak bisa duduk diam saja melihat putrinya beres-beres. Jadi, dia berinisiatif untuk mengambil sapu dan mulai menyapu rumah, tidak lupa juga mengepel lantai agar terlihat lebih kinclong.
Saat dia mulai membersihkan teras rumah, terdengar nyinyiran dari tetangga yang membuat hatinya kesal.
"Lihat tuh! Sekarang bukan hanya anaknya yang jadi perawan tua. Ibunya juga menjadi janda, malang sekali nasibnya ya! Amit-amit deh, semoga tidak menimpa keluargaku," ucap salah satu tetangga yang tidak memiliki hati nurani dan bisanya cuma mengkritik saja.
"Iya, Jeng. Kasihan sekali ya nasibnya, tapi kita juga harus waspada loh Jeng. Dia 'kan, sudah menjadi janda. Kita sebagai istri harus menjaga suami kita, takutnya tergoda." Salah satu tetangga yang sedang bersama menimpali.
Monica berusaha untuk pura-pura tuli, tapi tetap tidak bisa karena omongan mereka begitu nyaring. Bahkan seolah disengaja agar terdengar ke telinga wanita yang baru saja ditinggalkan suaminya.
"Makanya Jeng, kalau punya anak itu jangan dimanja. Apalagi dituruti sekolah tinggi-tinggi, yah ... jadi perawan tua deh! Pria mana yang mau sama wanita yang sudah berumur. Syukur cantik, kalau biasa saja wajahnya siapa juga yang mau. Gak usah sok kuliah dan sarjana deh. SMA saja sudah cukup, toh ujung-ujungnya ke dapur juga." Salah satu tetangga yang memakai daster motif bunga warna kuning menimpali.
Mereka terus berbicara tanpa berpikir terlebih dulu, Monica yang sudah terbiasa hanya bisa mengelus d**a dan segera masuk setelah selesai menyapu teras rumah.
"Wajah Mama kenapa?" tanya Lidya melihat raut wajah kesal Monica.
"Mama gapapa, Lidya. Cuma heran saja dengan tetangga kita, apa salah kita sebenarnya? Sehingga mereka suka sekali nyinyir. Bahkan tentang kamu juga. Mama sudah lelah, apa kita pergi pindah saja dari rumah ini?" cecar Monica sudah tidak tahan dengan semuanya.
"Biarkan saja mereka mau berbicara apa tentang keluarga kita, Ma. Yang terpenting kita gak pernah mengusik hidup mereka. Mama masih ingat pesan almarhum papa 'kan?" tanya Lidya yang masih ingat betul dengan nasihat Denis.
"Mama masih ingat, Lidya. Makanya Mama memilih diam meskipun mereka berbicara yang membuat hati sakit. Tapi kalau mereka masih tetap berbicara yang tidak baik lagi, lihat saja apa yang akan Mama lakukan. Mama tidak segan-segan merobek mulut mereka," kata Monica tersulut emosi.
"Sudah, Ma. Tenangkan hati, jangan tersulut emosi. Dari pada Mama jenuh karena omongan mereka, mending ikut Lidya yuk ke supermarket. Bahan makanan di rumah kita sudah hampir habis, jadi kita belanja bersama," ajak Lidya dengan wajah gembira.
Sudah lama mereka tidak jalan bersama, biasanya yang belanja Monica dengan Denis. Namun, untuk kali ini Lidya dan mamanya yang akan pergi. Bayangan dan kenangan tentang pria kepala rumah tangga selalu menari-nari di atas angan wanita setengah paruh baya itu.
Mereka menaiki mobil peninggalan Denis, hingga tidak terasa air mata Monica terjatuh begitu saja.
"Mama kenapa nangis? Gak suka ya diajak belanja?" tanya Lidya melihat ke arah Monica yang sedang menghapus air mata.
"Mama suka kok, hanya saja Mama teringat papa. Semua perhatian papa selalu berhasil menyentuh hati Mama. Bahkan setelah dia tiada," kata Monica mengingat kembali momen indah bersama Denis.
"Mama yang sabar ya, Ma. Semoga saja Papa tenang di alam sana. Mama jangan terlalu banyak mikir dan sedih, agar papa juga tidak sedih di sana," kata Lidya berusaha menenangkan hati Monica.
"Terima kasih, Lidya. Beruntung Mama melahirkan kamu, mungkin saja kalau kamu tidak ada di dunia ini, hidup Mama akan semakin hampa. Mama do'akan semoga kebahagiaan selalu menyertaimu." Monica menggenggam tangan Lidya.
"Sama-sama, Ma." Lidya membalas genggaman tangan.
Mobil melaju dengan perlahan, selain karena untuk keselamatan. Lidya juga tidak terlalu mahir dalam menyetir, cuma sekedar tahu saja. Dia mempelajari dari Denis sebelum tiada. Di jalanan yang padat dengan kendaraan, wanita itu semakin hati-hati karena tidak ingin hal buruk terjadi. Hingga lampu merah, ketika mobil sedang berhenti. Lidya justru melihat pria yang tidak asing sedang berhenti tepat di samping mobilnya.