Mobil yang semula ditutup, kini kaca jendelanya dibuka. Lidya kembali memperhatikan pria yang mengendarai sepeda motor tersebut, sebelum lampu hijau menyala.
"Aldo!" seru Lidya selesai mengamati pria pengendara sepeda motor itu.
Sontak pria itu menoleh, raut wajahnya tampak malu melihat wajah Lidya. Aldo justru menancap gas ketika lampu sudah berubah warna hijau. Padahal, wanita itu berniat turun dan meminta penjelasan kenapa waktu pernikahan pria itu tidak datang.
"Sudah, Lidya. Lupakan saja, percuma juga meminta penjelasan pria kayak dia. Buang-buang waktu saja, itu artinya dia bukan yang terbaik untukmu." Monica berbicara seolah tahu isi pikiran Lidya.
"Iya, Ma. Lidya hanya penasaran saja, alasan dia tdiak datang," jelas Lidya sembari melajukan mobilnya.
"Kalau sudah tahu alasannya, kamu mau apa?" tanya Monica penasaran.
"Gak ada, Ma." Lidya menyahut setelah beberapa saat berpikir.
Semua sudah terjadi, penjelasan Aldo juga tidak akan merubah apa pun. Keluarga Lidya sudah terlanjur malu akan semua yang terjadi. Jadi, buat apa juga meminta penjelasan pada pria yang sebenarnya tidak memiliki hati.
"Dari pada kita memikirkan hal yang sudah berlalu, lebih baik kita fokus ke masa depan saja. Jangan pikirkan lagi hal-hal yang akan membuat hati kita terluka," kata Monica mengingatkan Lidya.
"Baik, Ma." Lidya menjawab singkat.
Laju mobil lepas landas karena jalanan semakin lenggang, hingga mereka dengan cepat sampai di pusat perbelanjaan. Lidya membukakan pintu untuk Monica agar turun dari mobil.
"Terima kasih, Lidya." Monica memberikan senyuman.
"Sama-sama, Ma. Kita mau belanja apa dulu ya, Ma?" tanya Lidya bingung ketika sampai.
"Kita belanja bahan makanan dulu, setelah itu belanja kebutuhan kita," ujar Monica sembari membenarkan pakaiannya yang tampak miring.
Lidya menyetujui, mereka melangkahkan kaki masuk untuk membeli bahan makanan yang sudah di list. Kertas kecil telah dipegang Monica dan segera mencari yang mereka berdua butuhkan.
Suasana hati kedua wanita itu sudah lebih membaik dengan berjalan-jalan seperti itu. Semua kebutuhan yang ada dalam daftar list sudah masuk ke dalam troli. Mereka akhirnya mengantri di kasir.
"Setelah ini kita ke salon kecantikan, Lidya. Mama ingin kamu merawat wajahmu agar lebih fresh. Siapa tahu saja dengan begitu, kamu akan bertemu dengan jodohmu," ujar Monica penuh semangat.
Lidya tidak menyangka kalau mamanya masih berharap dia segera menikah dan bertemu jodoh. Padahal wanita cantik itu sempat mengira kalau Monica tidak akan memikirkan hal itu lagi.
"Aku sudah terbiasa perawatan wajah, Ma. Sudah punya langganan salon kecantikan sendiri." Lidya mulai berkilah.
"Iya, Mama tahu. Tapi menurut Mama wajahmu masih terlihat kusam, jadi apa salahnya kamu mencoba perawatan di tempat lain. Siapa tahu saja hasilnya lebih baik dari salon kecantikan yang dulu," ujar Monica sembari melihat wajah Lidya dengan seksama.
Wanita yang baru saja kehilangan papanya tersebut mengiyakan permintaan Monica, sebab tidak ingin membuat sang Mama bersedih.
"Baik, Ma. Setelah kita membayar ini semua, kita akan pergi ke salon kecantikan itu." Lidya tidak memiliki pilihan lain. Dia tidak ingin melihat Monica bersedih jika menolak ajakannya. Lagian apa yang dikatakan wanita yang melahirkannya benar juga. Siapa tahu saja setelah perawatan di tempat lain hasilnya lebih memuaskan dan membuat wajahnya tampak bersinar dan bercahaya.
Sudah giliran Lidya untuk membayar semua barang belanjaannya di kasir. Setelah itu, mereka pergi ke salon kecantikan yang dimaksud oleh Monica. Namun, sebelum itu mereka harus menaruh dulu barang belanjaannya ke dalam mobil.
"Oya, Ma. Kenapa Mama tiba-tiba ingin masuk ke salon itu?" tanya Lidya heran. Setahunya, keluarga mereka sudah memiliki salon kecantikan langganan sendiri.
"Mama ingin coba saja, soalnya Mama dengar salon ini berbeda. Banyak wanita yang terlihat jelek, setelah keluar dari salon ini terlihat cantik." Monica menjelaskan apa yang didengarnya.
"Oh, mungkin mereka cocok. Jadi, hasilnya juga bagus." Lidya mengutarakan pendapatnya.
"Bisa jadi, makanya gak ada salahnya juga 'kan, kita perawatan di sini juga. Siapa tahu saja cocok," kata Monica memberikan senyuman.
Mereka segera masuk ke tempat yang memiliki nama "dear scincare" dengan penuh semangat. Berharap wajah Lidya tidak lagi kusam dan lebih baik dari sekarang.
"Antriannya panjang juga ya, Ma." Lidya menghela napas panjang ketika melihat antrian yang begitu panjang.
"Iya, Mama juga kaget karena pertama kali masuk ke sini. Ternyata benar apa yang sudah Mama dengar, kalau salon ini laris dan banyak pelanggannya. Berarti kita tidak salah masuk ke sini, semoga saja kamu cocok ya," kata Monica menyentuh pundak Lidya.
"Iya, Ma." Lidya terlihat enggan menunggu, tapi semua dilakukan demi Monica. Kebahagiaan sang Mama yang terpenting untuk wanita itu kali ini. Apa pun yang membuat mamanya bahagia, dia pasti akan melakukannya. Selama apa yang diminta tidak aneh dan paling dibenci dalam hidupnya.
"Kita antrian nomor berapa?" tanya Monica ketika melihat wajah Lidya terlihat murung.
"Tiga puluh lima, Ma," sahut Lidya singka.
"Oh, tidak lama lagi." Monica berbicara ketika memperhatikan kinerja di salon kecantikan tersebut.
Salon kecantikan yang ramai, tapi juga cepat melakukan pelayanannya. Jadi, sebanyak apa pun orang yang datang. Sudah pasti bisa diatasi dengan cepat, karena karyawan juga banyak dan sudah diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi lamanya menunggu.
Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya sekarang sudah giliran mereka untuk melakukan perawatan. Monica yang tertarik juga melakukan perawatan untuk menyamarkan kerutan di wajahnya.
Monica memang tidak salah pilih tempat, apa yang didengarnya ternyata benar. Setelah melakukan perawatan, wajahnya terasa lebih segar dan fresh. Pun Lidya yang juga merasakan hal yang sama.
"Kita akan ke tempat ini sebulan sekali ya, Lidya," pinta Monica.
"Iya, Ma. Apa pun yang Mama inginkan katakan saja," kata Lidya menggenggam erat tangan Monica.
"Wajahmu terlihat lebih baik sekarang, Mama suka dengan tempat ini." Monica memegang wajah Lidya yang terlihat lebih cerah.
"Iya, Ma. Terima kasih, ya." Lidya memeluk sang Mama.
Di saat mereka asik mengobrol, tiba-tiba seseorang datang menghampiri kedua wanita yang baru saja keluar dari salon kecantikan.
"Kamu akan sulit bertemu jodoh, sekali pun kamu sudah melakukan perawatan. Kamu masih terlihat buruk rupa!" seru wanita tidak dikenal. Penampilannya terlihat menakutkan dengan pewarna bibir berwarna gelap. Netranya juga berwarna hitam dengan tatapan melotot.
"Kamu siapa? Jangan asal kalau bicara!" hardik Monica tidak terima putrinya dihina.
"Kalian berdua tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas ... kalian harus percaya dengan apa yang aku katakan. Kalau tidak, siap-siap saja kamu akan menjadi perawan tua," kata wanita yang mengenakan pakaian warna hitam itu sembari menunjuk ke wajah Lidya.
"Sudah, Ma. Lebih baik kita pulang, jangan dengarkan omongan wanita aneh ini!" Lidya menarik tangan Monica secara perlahan.