Monica kepikiran dengan ucapan wanita yang diduga sebagai peramal olehnya.
"Mama kenapa?" tanya Lidya sembari melirik ke arah Monica yang ada di sampingnya, tepat di dalam mobil.
"Mama cuma kepikiran perkataan wanita tadi, Lidya. Apakah yang dikatakan memang benar? Bisa saja aura wajahmu tertutup, hingga terlihat buruk rupa. Namun, sejauh ini Mama lihat wajahmu biasa saja sih," jelas Monica dengan sedikit mengelak ucapan wanita tukang ramal.
"Jangan terlalu dipikirkan, Ma. Semua orang berhak mengutarakan pendapatnya. Jadi, anggap saja kalau wanita tadi cuma ingin mengutarakan pendapat. Bisa juga dia mengarang cerita saja agar kita percaya dan mau membayarnya untuk melakukan semacam ritual agar aku segera menikah. Menurut Lidya, mungkin memang belum waktunya saja aku bertemu dengan jodoh." Lidya menjelaskan secara detail agar mamanya tidak memikirkan mitos yang didengar.
"Iya juga sih," kata Monica kemudian.
Wanita setengah paruh baya sudah berusaha untuk menghilangkan semua pikiran negatif serta kalimat wanita yang diduga peramal tersebut. Namun, semua tidak mudah. Terlebih ketika mereka sampai di rumah, ada salah satu tetangga yang menghampiri Monica dan berbicara sesuatu.
"Jeng, maaf sebelumnya. Bukannya aku ingin ikut campur ya. Menurutku ada hal berbeda dari Lidya, apa jangan-jangan dia sedang diganggu makhluk halus," kata Marina yang merupakan tetangga sebelah Monica.
"Diganggu gimana?" tanya Monica penasaran.
"Bagaimana ya cara jelasinnya. Aku juga bingung, yang jelas batalnya pernikahan dan juga tunangan Lidya sudah pasti ada hubungannya dengan alam lain. Bisa saja semua terjadi karena Lidya diguna-guna," sahut Marina dengan pelan.
"Kalau bicara hati-hati, Jeng. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Mungkin belum waktunya saja putriku menikah, jadi tidak ada hubungannya dengan guna-guna yang kamu maksud." Monica setengah tidak percaya.
"Ini cuma saranku saja, kenapa Lidya gak dibawa ke dukun saja untuk lebih jelasnya? Bisa saja apa yang aku katakan tadi menimpanya 'kan? Lagian aku berbicara semua ini karena memang ada yang terkena guna-guna itu Jeng. Sampai tua pun gak nikah-nikah karena diganggu oleh jin dan syetan," jelas Marina untuk meyakinkan Monica.
"Kamu tambah ngaco saja, Jeng. Gak mungkin semua itu terjadi, dan aku gak percaya sama begituan. Ya sudah ya, Jeng. Aku mau masuk ke dalam rumah dulu." Monica akhirnya pamit karena tidak ingin terlalu kepikiran lagi setelah bertemu dengan wanita asing di depan salon kecantikan.
Wajahnya terlihat kebingungan serta bimbang, ada rasa percaya. Namun, ada juga tidak percaya dengan semua yang dikatakan tetangga.
"Bu Marina tumben memanggil Mama dan mengajak ngobrol. Memangnya ada hal penting apa, Ma?" tanya Lidya penasaran.
Dalam hatinya ada firasat tidak baik yang terbersit, tapi berusaha untuk menepis dan mencari kebenarannya.
"Gapapa, Lidya. Cuma mengucapkan bela sungkawa dan ikut berduka cita," dusta Monica agar tidak melihat sang Anak bersedih dengan pendapat Marina.
"Oh." Lidya menjawab singkat. "Bukannya Bu Marina sudah mengatakannya waktu itu ya, kenapa sekarang mengatakan itu lagi? Pasti ada yang Mama sembunyikan dariku." Lidya bergumam. Dia tidak berani mengatakannya pada Monica agar tidak memperpanjang obrolan. Dia yakin, paling juga yang dibicarakan tentang perjodohan dan pernikahan.
"Mama pergi ke dapur dulu ya, mau taruh bahan makanan di dalam kulkas." Monica mengambil tas kresek yang berisi sayuran dan lauk pauk serta bahan makanan untuk seminggu kedepannya.
Tanpa disuruh, Lidya langsung membantu Monica. Langkahnya mengikuti hingga sampai ke dapur.
"Ma, Lidya boleh tanya sesuatu?" tanya Lidya sembari memasukkan daging ke dalam kotak.
"Tanya saja, Lidya. Gak usah sungkan sama Mama. Gak biasanya kamu begitu, biasanya 'kan, ceplas-ceplos ngomong sama Mama," ledek Monica dengan senyuman di bibirnya.
"Mama sudah ngebet punya menantu?" tanya Lidya malu-malu.
"Sebenarnya biasa saja sih, Lidya. Memang kenapa?" Monica justru memberikan jawaban ambigu.
"Biasa, tapi kenapa Mama seakan tidak sabar?" tanya Lidya lagi untuk memperjelas jawaban Monica.
"Sebagai orang tua, siapa sih yang gak ingin melihat anaknya menikah dan hidup bahagia. Apalagi jenjang pendidikan sudah selesai, umur juga sudah matang. Jadi mau nunggu apalagi, kalau sudah ada calonnya. Tapi, kembali lagi. Kalau calonnya masih belum ada, kita sebagai orang tua bisa apa. Paling cuma bisa mendo'akan yang terbaik agar segera bertemu dengan jodoh terbaik," jelas Monica menatap netra Lidya lekat.
"Maafkan Lidya ya, Ma." Lidya terharu dengan keinginan orang tua. Terlihat jelas kalau kalimat itu diutarakan dengan tulus.
"Kamu gak salah, Lidya. Gak perlu meminta maaf, mungkin untuk saat ini kita sedang diuji saja. Oya, sebagai orang tua juga aku wajib mencaritahu tentang kamu. Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu selalu gagal dalam tunangan, terakhir pernikahan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres," terang Monica dengan wajah serius.
"Maksud Mama? Jangan bilang kalau Mama teringat ucapan wanita asing yang kita temui," tebak Lidya.
Monica menganggukkan kepala, pertanda mengiyakan tebakan putrinya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke orang pintar agar tahu penyebab kamu gak nikah," usul Monica hati-hati.
"Maksud Mama dukun?" tanya Lidya tegas.
"Orang pintar, Lidya. Bukan berati dukun," sahut Monica memperjelas.
"Gak usah, Ma. Buang-buang waktu dan uang saja. Lidya cuma perlu do'a dan ridho dari Mama. InsyaAllah jodohku datang di waktu yang tepat. Mama gak perlu lagi menanggapi omongan tetangga ya. Biarkan saja mereka mau berbicara apa, yang menjalani hidup juga kita." Lidya langsung paham kalau Monica pasti bisa berpikiran seperti itu karena tetangga yang baru saja memanggilnya. Bukan berburuk sangka, tapi wanita itu sudah tahu betul watak setiap tetangga yang ada di sekitar rumahnya.
Monica hanya terdiam, dalam hati masih saja memikirkan ucapan Marina yang mungkin ada benarnya juga. Mereka berdua melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda karena obrolan. Hingga seseorang datang tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Wah! Wah! Ternyata rumah ini masih ada penghuninya ya, aku kira sudah kosong karena kehabisan uang," ledek Mila melenggang ke arah Lidya.
"Mau ngapain lagi Tante ke rumah ini? Belum puas semua perhiasan Mama Tante ambil?" cecar Lidya kesal dengan Tante yang tidak tahu diri itu.
"Gak usah galak-galak dong ponakanku yang cantik, Tante ke sini karena berniat baik kok." Mila menarik dagu Lidya, tapi tangannya justru dihempaskan begitu saja.
"Kalau Tante berani macam-macam, Lidya tidak segan untuk melaporkan Tante ke polisi. Apalagi Tante sudah mengambil perhiasan Mama," kata Lidya tegas.
Monica diam saja tanpa ada perlawanan dan meminta kembali perhiasan yang sudah diambil.
"Gak usah buang-buang waktu, Tante. Katakan saja apa maumu?" tanya Lidya enggan basa-basi.
"Tante ke sini bawa sesuatu spesial untukmu," sahut Mila, lalu wanita itu pergi begitu saja.