"Ma ... maaf," kata gadis yang kutabrak barusan sambil membantuku untuk membereskan buku-bukunya yang jatuh.
Kami sudah sama berdiri sekarang. Wajahnya lembut, matanya cemerlang, rambutnya panjang, dan ia tidak memakai lipstick, hal yang sangat jarang terlihat di sebuah kampus. Gadis itu mengangguk kemudian berlalu tanpa aku sempat mengucapkan kata maaf. Apakah kata maaf itu sebenarnya penting ketika begitu banyaknya orang-orang yang meminta maaf lalu mengulangi kembali hal yang membuat mereka meminta maaf? Lagi pula, bukankah berarti gadis tadi juga tidak melihat ke depan ketika berjalan sehingga menabrakku? Aku ataukah dia yang harusnya minta maaf?
Suasana menjelang siang ini terasa begitu terik. Aku tak suka cuaca panas. Mendung lebih syahdu dan lebih asyik dipakai untuk bersedih dan berputus asa. Aku telah memutuskan untuk selalu memandang kehidupan ini dengan cara yang pesimis, tak berharap, dan putus asa. Kupandangi kampus yang telah kupakai untuk mencari harapan semu selama dua tahun terakhir itu. Bangunannya mewah dan bertingkat serta sesak dengan harapan para pencari kekayaan.
Bukankah tujuan orang-orang untuk berkuliah adalah agar mereka kaya? Entah lah kalau ada orang yang kuliah dengan tujuan menuntut ilmu, bagiku itu hanya lah pembenaran bagi mereka yang tidak ingin terlihat gila harta. Lagi pula, apa kesalahan yang telah dilakukan oleh 'ilmu' sehingga begitu banyak orang-orang yang ingin menuntutnya? Biar lah, aku tak akan kembali lagi ke sini. Dan tentu saja, aku tidak menyesalinya sama sekali.
Para mahasiswa-mahasiswi yang berdatangan dengan segala macam gaya berpakaian mereka itu masuk ke dalam gedung kampus tentunya dengan membawa berbagai harapan; ada yang berkuliah karena ingin membanggakan orang tua mereka, ada yang ingin pintar, (katanya), ada yang ingin kuliah untuk mengubah kehidupan mereka yang sebelumnya sulit agar menjadi pahit ... eh agar menjadi mudah. Dan ada ... ada banyak sarjana pengangguran yang dengan berbagai cara mencari dalih bahwa waktu dan biaya yang telah mereka gunakan untuk kuliah tidak lah pernah sia-sia.
Aku telah sampai di taman sekarang, taman yang asri dan banyak pohonnya. Aku suka duduk di taman ini. Setelah membeli rokok pada bapak-bapak pedagang keliling yang mengenakan topi lebar dan sehelai handuk kecil pada lehernya. "Makasih, Nak," kata bapak itu tersenyum penuh syukur ketika kuhadiahkan kembalian uang beli rokok kepadanya.
Pasti bapak penjual rokok itu lelah. Lelah karena berkeliling dan lelah karena hidup yang tak juga berubah. Lelah melihat istrinya yang selalu tabah berapapun banyak nafkah yang diberikan oleh bapak itu. Kenapa ia lelah melihat istrinya tabah? Bukan ... bukan begitu. Maksudku, ia begitu terharu dengan kesabaran dan kesetiaan istrinya yang tak pernah mengeluh dan selalu memasak serta menyemangatinya sehingga ia lelah pada usahanya yang tak kunjung berbuah manis.
"Nak." Bapak itu memanggil namaku untuk memulai pembicaraan. Ia memang sering mengobrol denganku dan aku pun senang mengobrol dengannya. "Menurutmu, apakah nasibku akan berubah?" tanyanya.
Aku menatapnya, menatap wajah lelahnya yang tengah ia seka dengan handuk kecil yang ada di lehernya itu. "Kenapa Bapak bertanya tentang itu?"
Ia menunduk. Aku lalu menawarkan rokok padanya lalu kusulutkan setelah aku menyulut rokokku sendiri. Meskipun bapak itu menjual rokok, namun kesulitan ekonomi membuatnya tak bisa membeli rokok yang ia jual.
"Aku lelah, Nak. Sudah lima tahun aku menjadi pedagang keliling namun nasib belum juga berubah. Aku juga lelah mendengar jawaban dari orang-orang; jawaban tetanggaku, jawaban mertuaku, jawaban teman-temanku, dan aku juga menonton tentang motivasi-motivasi serta nasehat kehidupan. Aku sangat telah begitu lelah mendengar jawaban mereka semua."
Aku mengangguk-angguk. Aku tahu jawaban yang dimaksud oleh bapak itu tapi aku tetap ingin menanyakan padanya karena ia butuh didengarkan sekarang. Ya, ia butuh didengar. Ia tidak butuh dinasehati dengan sok bijak. "Apa jawaban mereka, Pak?" tanyaku.
Bapak itu kembali menyeka wajahnya. Lalu ia menggeleng. "Sabar, kata mereka. Sabar, sabar, sabar, dan sabar. Aku benar-benar muak, Nak." Bapak itu menengadah ke langit lalu menghembuskan asap rokoknya dengan suara hembusan yang terdengar sendu dan pilu.
"Aku tidak tahu, Pak. Aku tidak tahu apakah nasib bapak atau pun nasibku sendiri akan berubah atau tidak. Tapi menurutku, bersabar bukan lah solusi. Sabar hanya lah kata penghibur yang digunakan oleh orang-orang untuk menutupi keterputus asaan dan kesedihan mereka. Padahal setelah mereka menyuruh kita sabar, mereka pasti menangis pilu di dalam kamarnya atau pun di kamar mandi. Atau mereka akan bercerita kepada langit, dan mereka tetap tidak akan mendapatkan apa-apa dari kesabaran mereka itu," terangku.
Bapak itu mengangguk-angguk. "Jadi, apa tujuanmu hidup, Nak? Dan apa yang kau lakukan jika bagimu sabar itu bukanlah solusi?" Bapak itu bertanya dengan raut wajah ingin tahu.
Aku menghisap rokok lalu menengadah ke langit untuk menghembuskan asapnya seperti yang dilakukan oleh bapak pedagang keliling itu tadi. Tentu saja, suara hembusan asap rokokku tak kalah sedih dan pilu darinya. "Aku tak punya tujuan, Pak," kataku. Bapak itu tampak heran. Mungkin karena selama ini ia selalu melihat orang-orang muda yang memiliki tujuan akan jadi bersemangat bila diajak untuk membicarakan tentang tujuan hidup mereka.
Aku melanjutkan, "Yang kulakukan hanya lah berputus asa, Pak dan tidak mengharapkan apa-apa. Bila kita telah berharap, berarti kita telah menciptakan dua kemungkinan; yaitu bahagia bila yang kita harapkan itu didapat dan sedih apabila yang kita harapkan itu tidak kita dapat. Dan sering kali yang kita harapkan itu tak akan pernah tercapai lalu kita kecewa. Padahal, bukankah kita sendiri yang telah membuat kemungkinan untuk kecewa itu menjadi ada? Maka dari itu lah, aku lebih memilih untuk berputus asa dan tidak berharap apa-apa."
Bapak itu tertegun menatapku hingga peluh yang membasahi wajahnya tak sempat ia seka lagi. Ia menggeleng-geleng sambil berdecak, lalu mengangguk-angguk paham. "Luar biasa. Aku merasa hidupku lebih ringan sekarang. Terima kasih, Nak. Mulai sekarang aku akan berputus asa dan tidak akan berharap lagi dalam menjalani hidup ini. Sekali lagi terima kasih," ucap bapak itu lalu kemudian pergi untuk berkeliling menjual rokok lagi, tapi kali ini dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Tak banyak yang kulakukan selain duduk merokok dan mengobrol dengan bapak tadi. Aku menyulut rokok lagi, ini rokok kelima yang kusulut. Aku akan menunggu sore datang di taman ini lalu pergi mencari pekerjaan yang jam masuknya sore atau malam, karena aku kurang suka tidur pada malam hari. Apalagi setelah Ibu pergi, malam terasa makin dingin dan sepi.
Orang-orang berlaluan di taman dengan ceria, terlebih lagi anak-anak. Mereka sangat senang ketika dibelikan balon dan mainan kecil lainnya oleh orang tua mereka. Namun seseorang kini berdiri menghalangi pandanganku yang tengah memperhatikan anak-anak itu. Aku lalu melihat ke arah wajahnya.