Sosok yang kulihat itu tersenyum dengan sinar matanya yang cemerlang. "Boleh aku ikut duduk?" tanyanya. Ternyata gadis yang bertabrakan denganku di kampus tadi. Wanginya pun masih sama. Sudah berapa jam berlalu ya ini? Sepertinya ia memakai parfum yang mahal.
Aku mengangguk. "Tidak apa-apa bila aku merokok di sampingmu?" Aku balas bertanya dan kini ia yang balas mengangguk.
"Namaku Anera, panggil saja Ane," kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya.
Aku sebenarnya sedang malas untuk mengangkat tangan, tapi tentu saja aku tetap menyalaminya karena aku harus menghormati orang lain yang tidak kubenci. "Naga, panggil saja Naga!"
Anera tertawa. "Kamu di jurusan apa?"
"Sebelumnya aku di jurusan peternakan," jawabku lalu menyulut rokok yang sudah sejak tadi kucabut dari bungkusnya. Aku hanya mencabutnya sebatang agar hemat. Bagaimana pun aku belum lah mendapat pekerjaan sekarang. Andai pun nanti aku sudah bekerja aku juga tak akan mau menghisap rokok dua batang sekaligus, karena pasti akan ribet, dan aku tidak suka melakukan hal yang ribet.
"Sebelumnya? Lalu sekarang?" Anera tampak tertarik.
"Sekarang aku sudah tidak kuliah lagi," jawabku.
Dahi Anera tampak mengernyit. "Bukankah tadi kita bertabrakan di kampus, Naga?"
Aku mengangguk-angguk lalu kujelaskan kepada Anera bahwa aku tadi datang hanya untuk menemui kedua orang dosenku yang hebat dan sekarang aku sedang menunggu hari sore untuk mencari pekerjaan. Aku tidak bertanya apa jurusan yang diambil Anera, karena aku memang tidak tertarik untuk membahas hal itu.
"Kamu sering ke taman ini?" tanyaku sekenanya.
"Nggak, sesekali saja."
Kulihat jam tangan yang dipakai Anera telah menunjukan jam tiga sore. Aku akan mencari pekerjaan. Kumatikan rokok lalu kubuang puntungnya ke tong sampah yang terdapat di samping bangku panjang. "Aku akan mencari pekerjaan sekarang, Ane. Kamu mau ikut?"
Anera menatapku. Mungkin ia agak kaget karena aku sudah mengajaknya untuk jalan bersama di perjumpaan kami yang baru kedua kali ini. Mungkin juga ia merasa bahwa aku sedikit aneh. Apa peduliku? Bila ia tak mau ya sudah, aku bisa pergi sendiri.
Namun Anera mengangguk. "Ayo!" katanya.
Aku dan Anera berjalan menyusuri kota sambil berbincang. Dia gadis yang cerdas, lucu, dan tentu saja cantik. Tawa Anera yang merdu bisa membuat cuaca sore yang masih terik menjadi terasa agak sejuk. Anera agaknya adalah seorang gadis yang simple karena ia hanya mengenakan kemeja biru muda berlengan panjang dan celana jeans putih, serta tidak memakai gincu. Rambutnya panjang dan selalu ada saja poninya yang jatuh di kening bila angin bertiup, yang hanya akan menambah kemanisan wajah dan pesonanya.
"Ada yang bisa kami bantu, Kak?" tanya seorang karyawan cafe yang menjaga kasir. Penjaga kasir itu wanita. Ia mengenakan topi yang tidak menutupi rambut, aku lupa nama topi itu. Namun aku jadi bertanya-tanya, apa gunanya topi kalau tidak untuk menutupi kepala?
"Saya ingin melamar pekerjaan, Nona," kataku.
Penjaga kasir itu tampak berpikir. Ia lalu berkata, "Sebentar Kak, saya tanyakan dulu kepada pemilik cafe." Ia mengangkat teleponnya dan mengatakan bahwa ada yang melamar pekerjaan. Setelah menutup telepon ia memperhatikanku sebentar lalu bertanya, "Maaf Kak, tinggi Kakak berapa?"
Tinggiku? Aku mengatakan padanya bahwa tinggiku 161 cm dan hasilnya ia mengucapkan kata maaf sekali lagi, karena kata sang pemilik cafe syarat tinggi untuk menjadi karyawan di cafe itu adalah 165 cm. Aku berterima kasih pada penjaga kasir itu lalu mengajak Anera pergi. Ya, tinggiku hanya 161 cm. Bahkan Anera lebih tinggi sedikit dariku.
Aku dan Anera terus berjalan untuk mencari toko, cafe, bar, atau restoran yang berkemungkinan ada shift malamnya. Sejak tadi Anera menggerutu tentang apa hubungan tinggi badan dengan pekerjaan pelayan cafe. Katanya ia tidak habis pikir, tapi aku mengatakan kepadanya bahwa itu tak perlu dipikirkan.
"Kamu terlihat tak sedih atau pun marah kepada bos cafe tadi, Naga. Kamu orang yang optimis," kata Ane.
Aku menggeleng. "Tidak, tidak seperti itu, Ane. Hanya saja, kenapa aku harus marah atau pun kecewa? Biar saja lah. Aku juga tidak optimis, bahkan aku pesimis akan diterima bekerja."
"Loh, kenapa? Kamu kan nyari kerja, kenapa pesimis?" tanya Anera dengan nada heran.
"Nggak ada gunanya optimis, Anera. Optimis artinya berharap, dan harapan hanya akan mendatangkan kekecewaan. Optimis tak akan membuatku mendapat pekerjaan, namun pesimis akan membuatku tidak kecewa ketika ditolak," jawabku sambil terus berjalan.
Kulihat Anera diam sambil memandangku sesekali. Ia tak menjawab dan juga tidak bertanya lagi. Tak ada yang bisa dijadikan jawaban oleh Anera, karena dalam hidup ini memang lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan. Anera pun pasti memahami bahwa orang-orang yang optimis memang akan senantiasa kecewa, dan orang-orang yang pesimis tidak akan bisa kecewa.
Hidup bukan lah pilihan. Yang mengatakan bahwa hidup itu adalah pilihan berarti mereka berusaha untuk membohongi diri mereka sendiri. Dari awal saja manusia sudah tidak bisa untuk memilih dilahirkan atau tidak. Ketika akan dilahirkan, seseorang tidak ditanya apakah ia setuju atau menolak kelahirannya ke dunia yang menyedihkan ini. Mereka hanya lahir begitu saja. Agaknya itu lah sebabnya mengapa bayi yang baru lahir langsung menangis dan tidak tertawa, karena mereka tahu bahwa kehidupan ini hanya lah penderitaan yang tak akan pernah ada ujungnya selain kematian. Lahir menangis, mati ditangisi. Alangkah sedihnya.
"Naga!" Langkahku terhenti karena Anera meraih tanganku dan menahannya.
Aku menoleh kepada Anera yang menunjuk sebuah tulisan pada kaca bar yang hampir terlewat olehku tadi. 'Dibutuhkan seorang karyawan dengan syarat mau bekerja.' Aku tersenyum membaca tulisan itu, begitu juga dengan Anera. Tapi, bukankah tulisan itu lebih bijaksana daripada persyaratan-persyaratan seperti tinggi badan serta ijazah? Menurutku bila butuh seorang karyawan syaratnya ya cuma itu, mau bekerja.
Aku dan Anera masuk. Kemudian kutanyai salah seorang bartender. Bartender itu lalu meminta agar aku menunggu sebentar karena ia akan ke lantai atas untuk mengatakan kepada bosnya. Aku mengajak Anera memesan minuman lalu kami duduk. Anera memesan lemon tea sedangkan aku memesan Wisky. Tentu saja sebelumnya aku memastikan dulu jumlah uang yang kubawa. Dan juga, tentu saja hanya uang yang kubawa itu lah yang aku punya sekarang.
Aku menyulut rokok lalu meneguk whisky. Anera bilang bahwa lemon tea nya enak. Kulihat sekeliling, pengunjung bar ini cukup ramai. Ada yang duduk dengan pasangannya, ada yang duduk bersama temannya, dan ada pula yang duduk sendiri. Salah satu orang yang kulihat duduk sendiri itu adalah seorang pria paruh baya, ia tampak kusut dan sepi. Pria itu menyandarkan kening ke telapak tangannya. Hidup memang memusingkan dan pasti pria itu sedang berputus asa sekarang.
Aku berdiri karena kulihat seorang pria yang agaknya sepantaran denganku tengah menuruni tangga bersama bartender tadi. Berarti pria itu adalah bosnya. Namun tiba-tiba langkah pria yang rambutnya disisir rapi ke belakang itu terhenti ketika bartender tadi menunjuk ke arahku.