Aku memarkirkan mobil di lokasi parkir kafe tempat di mana janji pertemuanku dengan Varen. Ada klien yang mengajak kami bertemu di sana. Namun Varen belum menjelaskan padaku kontrak baru apa yang akan kukerjakan.
Varen berlari ke arah mobilku begitu aku keluar dari mobil. Ternyata dia memang sengaja menungguku. Kami lalu masuk ke dalam kafe yang pengunjungnya cukup ramai di jam makan siang seperti ini.
Seorang pria yang mungkin seumuran Papa langsung berdiri menyambut kedatanganku. Di sebelahnya berdiri seorang wanita cantik yang tersenyum ramah kepadaku.
"Mari, silakan duduk, Nona Calista," katanya.
Varen dengan tanggap menarik sebuah kursi untuk kududuki. Dia lalu duduk di sebelah kiriku.
"Sebelumnya perkenalkan nama saya Roy, saya dari My Music Entertainment."
Aku mengernyit mendengarnya. Dia mengatakan bahwa dia berasal dari salah satu perusahaan rekaman yang cukup terkenal di Indonesia. Ada apa pria ini menemuiku? Apa dia ingin menjadikanku model video klip dari salah satu lagu yang akan digarapnya? Tapi sepertinya itu bukan wewenangnya.
"Tujuan Anda?" tanyaku langsung.
"Kebetulan waktu itu saya hadir di pernikahan kakak Anda. Nadhira. Saya mendengar Anda beryanyi dan saya akui suara Anda cukup bagus. Saya menyukai warna suara Anda dan bagaimana cara Anda berimprovisasi dengan lagu tersebut."
"Lalu?" potongku tak sabar. Pria ini terlalu bertele-tele menjelaskan tujuannya memintaku untuk bertemu.
"Di sebelah saya adalah Mbak Maria, beliau adalah salah satu manager artis yang cukup lama bekerja sama dengan saya. Mbak Maria ini sedang mencari pasangan duet untuk salah satu penyanyi dalam managementnya. Beliau berkonsultasi dengan saya, mencoba memilih-milih siapa yang tepat untuk menjadi pasangan duet untuk artisnya. Saya teringat dengan Anda, dan saya mengusulkan nama Anda sebagai pasangan duet dari salah satu artisnya Mbak Maria."
Aku cukup kaget mendengar penuturan pria di depanku ini. Dia menawarkanku pekerjaan baru, bukan sebagai model seperti yang selama ini aku jalani. Tapi sebagai penyanyi, berduet dengan seorang penyanyi yang aku yakini pasti merupakan penyanyi terkenal.
Sejujurnya aku senang mendengarnya. Karena menjadi penyanyi adalah cita-cita yang selama ini kupendam. Jika saja Mama tidak menggemblengku sejak awal untuk menjadi seorang model, aku pasti akan mengejar cita-citaku menjadi seorang penyanyi.
Tapi masalahnya aku tidak yakin dengan kemampuan yang kumiliki. Aku tidak pernah mengikuti les vokal, aku tidak pernah belajar di sekolah musik, aku pun tidak begitu paham dengan not-not dan kawan-kawannya. Waktu itu, aku hanya refleks menyanyi saat melihat piano yang sama sekali tidak digunakan di acara pernikahannya Nadhira. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencari perhatian orang dengan menyanyikan lagu sedih di tengah suasana pesta kakakku sendiri.
Aku benci mengakui Nadhira sebagai kakakku. Tapi itu kenyataan yang sebenarnya.
"Boleh saya tahu siapa artis yang Anda maksud?" tanya Varen.
"Sebentar Pak Varen. Tadi saya sudah menghubunginya untuk segera datang ke kafe ini," terang Mbak Maria. "Ah, itu dia sudah datang."
Aku menoleh ke arah pintu masuk. Seorang pria bersetelan santai melambaikan tangannya ke arah kami. Mungkin dia membalas lambaian tangan Mbak Maria barusan.
"Maaf, saya sedikit terlambat," sesal pria itu. Dia lalu menarik salah satu kursi yang berada di samping kananku. Meja yang kami pakai memang berbentuk bulat dengan lima buah kursi yang melingkarinya. Jadi pria itu menarik kursi kosong yang sialnya berada di samping kananku.
"Ini dia penyanyi yang saya maksud dari tadi. Gavin Mahendra," ujar Mbak Maria.
Pria bernama Gavin itu mengulurkan tangan padaku dan Varen.
"Suatu kehormatan bagi saya jika bisa berduet dengan seorang model terkenal seperti Anda, Nona Calista."
Aku tersenyum miring mendengar pengakuannya yang terkesan berlebihan di telingaku. Dia tidak mengetahui seperti apa kemampuanku bernyanyi. Bernyanyi jelas bukan dunia yang ku geluti selama ini. Walau sebenarnya menjadi seorang penyanyi adalah salah satu cita-cita masa kecilku. Tapi kemampuanku bernyanyi hanya sebatas tahu menyanyikan lirik lagunya saja. Aku sangat amatir dan pastinya banting banget kalau disandingkan dengan penyanyi sekelas Gavin Mahendra.
"Tapi saya tidak pernah ikut sekolah musik sebelumnya. Saya hanya tahu sebatas beryanyi saja," protesku.
"Kami punya tim yang bisa membimbing dan mengarahkan Anda nantinya Nona Calista. Anda juga hanya perlu melakukan rekaman suara saja. Setelahnya, kita bisa melakukan lip sing jika Anda takut suara Anda akan terdengar buruk di telinga masyarakat saat bernyanyi secara live."
Aku menghela napas gusar lalu menoleh ke sebelah kiri, menatap Varen yang juga sama bingungnya dengan hal ini. Varen tahu aku suka bernyanyi. Varen tahu kalau dulu aku bercita-cita menjadi seorang penyanyi. Dan Varen juga pasti tahu, kami tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Ada Mama yang harus kami lewati. Karena sampai sekarang, Mama masih turut andil mengatur jadwal-jadwalku. Adanya Varen sebagai manager pribadiku selama ini, tidak membuat Mama lepas tangan terhadap karierku.
Dan pastinya Mama tidak akan menyetujui rencana ini begitu saja. Lihat saja bagaimana penolakan Mama terhadap pernikahanku. Aku tahu, sampai selesai ijab kabul kemarin pun, Mama masih terlihat tidak suka dengan pernikahanku. Alasannya cuma satu, Mama tidak ingin pernikahanku menjadi penghambat karierku.
Bicara soal karier, bukankah menjadi penyanyi malah akan semakin memajukan karierku? Ya, memang. Tapi yang kutahu, Mama hanya ingin aku menjadi seorang model. Bukan yang lain. Karena dulu, ada sutradara yang ingin mengajakku bermain di salah satu sinetron yang akan digarapnya. Tak tanggung-tanggung karena aku ditawari sebagai pemeran utamanya. Mama menolaknya mentah-mentah, entah dengan alasan apa.
"Kami tidak bisa memutuskan sekarang. Kami harus berdiskusi terlebih dahulu dengan Bu Fenita. Anda juga tahu kan kalau Calista baru saja menikah," ungkap Varen.
"Ah iya, saya sampai lupa mengucapkan selamat pada Nona Calista saking antusiasnya saya dengan proyek ini. Selamat atas pernikahan Anda, Nona Calista," ujar Pak Roy seraya mengulurkan tangannya.
Aku menyambut uluran tangan Pak Roy. Setelahnya, Mbak Maria dan Gavin juga melakukan yang sama.
"Baiklah kalau begitu, saya tunggu jawaban Anda, Nona. Saya harap, saya bisa mendengar kabar gembira dari Anda nantinya," kata Pak Roy. Dia lalu mengambil ponselnya yang berdering lalu berbicara sebentar dengan penelepon di seberang sana. "Maaf sekali, saya harus pamit sekarang."
Pria itu lalu berdiri dan berjabatan tangan denganku dan yang lainnya. Setelah Pak Roy undur diri, Varen kembali berbincang dengan Mbak Maria. Aku sibuk membalas chat yang dikirim Rafka. Entah apa yang terjadi pada pria yang berstatus sebagai suamiku itu. Dia menanyakan banyak hal kepadaku. Jika chat-nya hanya k****a, dia akan kembali mengirim chat lain dengan pertanyaan yang sama. 'Kenapa cuma di-read?'
"Kamu nggak ingat sama aku?"
Kepalaku menoleh mendengar pertanyaan itu. Perbincangan antara Varen dengan Mbak Maria pun terhenti saat mendengar pertanyaan itu. Sementara Gavin terus menatapku, menuntut jawaban atas pertanyaannya.
"Saya?" tanyaku. Gavin mengangguk, matanya masih mengarah padaku. "Anda Gavin Mahendra. Siapa yang tidak mengenal sosok Anda. Penyanyi tampan yang digilai para wanita," jawabku mengarang. Sejujurnya aku tidak begitu mengenalnya. Aku hanya tahu namanya karena beberapa kali mendengar lagunya yang diputar saat dalam perjalanan menuju lokasi pemotretan. Selebihnya, aku sama sekali tidak mengetahui siapa pria ini.
"Ternyata kamu benar-benar melupakanku."
Tatapan kecewa jelas terpancar dari sorot mata Gavin. Aku merasa bingung karena tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba berubah seperti ini. Sejak pertama dia datang hingga Pak Roy pamit pulang, dia bersikap sopan dan santai. Sesekali ikut nimbrung dalam pembicaraan mengenai lagu yang akan dinyanyikannya.
"Kamu kenapa, Vin?" tanya Mbak Maria yang juga sama bingungnya denganku. "Pernah kenal sama Mbak Calista sebelumnya?" tanyanya.
Aku mengerutkan keningku. Kapan aku mengenal Gavin? Bukankah ini pertemuan pertama kami?
"Jadi kamu benar-benar lupa sama aku, Lista?"
Lihatlah, Gavin bahkan memanggilku 'Lista' tanpa merasa canggung. Siapa dia?
"Kamu pernah ketemu sama Gavin sebelum ini, Lis?" bisik Varen.
Lama-lama kesabaranku habis menghadapi pria bernama Gavin Mahendra ini. Apa susahnya sih mengatakan kapan dan dimana kami bertemu sebelumnya. Kenapa harus bermain tebak-tebakan seperti ini?
"Apa wajahku berubah makin cakep ya, makanya kamu pangling sampe nggak ngenalin aku kayak gini."
Aku memutar bola mataku, jengah mendengar kenarsisan pria di sebelahku ini.
"Kita pernah sekelas selama tiga tahun di SMP, Lista. Aku bahkan pernah menjabat sebagai ketua kelas waktu kita kelas sembilan."
Aku ber'oh' ria di dalam hati. Bukan hal penting juga mengetahui ternyata pria ini pernah sekelas denganku di sekolah. Jangankan dia, satupun teman sekelasku dulu tidak ada yang kuingat wajah dan namanya.
"Dan ternyata benar kata mereka. Calista yang dulu, bukan seperti Calista sekarang. Calista yang dulu ramah dan mudah tersenyum sud-"
"Kalau tidak ada lagi yang ingin dibahas, saya pamit pulang," potongku.
Aku lalu bangkit dari kursi dan berjalan cepat meninggalkan kafe ini. Aku bahkan tidak menghiraukan Varen yang terus meneriaki namaku.
Ini kulakukan untuk menghindari pembahasan mengenai masa laluku. Aku benci jika harus membahasnya. Aku benci jika harus mengingat betapa bodohnya aku dulu. Bagiku, kepribadianku yang dulu sudah mati. Dan sesuatu yang sudah mati tidak akan pernah bisa hidup kembali.
"Calista.."
Aku menoleh ke arah belakang mendengar panggilan itu. Varen tampak berjalan terengah-engah mendekatiku.
"Aku nebeng ya, Lis. Tadi aku kesini naik taksi. Mobil aku mogok di jalan tadi," terangnya.
Tanpa menjawabnya, aku memberikan kunci mobil pada Varen lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi sebelah pengemudi.
"Gimana perasaan kamu waktu dengar penawaran itu, Lis?"
Aku melirik sekilas ke arah Varen yang tetap fokus ke jalan. "Honestly, aku senang. Ini mimpiku dari dulu. Tapi Mama belum tentu kasi izin ke aku, Ren."
"Nanti aku coba bujuk Bu Fenita kalau kamu beneran mau coba nerima tawaran itu."
"Serius??" tanyaku tak percaya.
"Of course, I'm serious.."
Aku tidak lagi bisa menyembunyikan rasa bahagiaku. Mimpiku dari kecil akan menjadi nyata.
"Oh ya, Ren. Nanti singgah di restoran ya," pintaku. Aku teringat janjiku pada Ibu untuk membawakan makan siang untuknya. Rafka? Terserah pria itu sudah makan atau belum.
"Kenapa, Lis? Kamu mau makan lagi?"
"Aku mau belikan makan siang untuk Bu Darmi di rumah. Restoran yang dekat apartemen kamu aja, Ren."
Varen mengangguk, setelahnya kami terus berbicara sepanjang perjalanan. Varen memang selalu bisa membuatku nyaman berbicara dengannya. Dia yang selama ini menjadi pundak bagiku jika aku butuh senderan. Andai dia bukan seorang gay, aku pasti sudah jatuh cinta padanya sejak lama.
***
Aku memberikan makanan yang kubeli pada Ibu. Walau sudah lama mengenalku, Ibu tetap saja merasa sungkan jika aku memberinya sesuatu. Dia merasa tidak pantas menerima pemberianku, dan aku akan pura-pura ngambek agar Ibu mau menerimanya.
Bu Darmi..
Aku masih ingat kapan pertama kali aku memanggilnya Ibu. Saat itu, Ibu baru kehilangan putri satu-satunya yang meninggal akibat kecelakaan bersama suami Bu Darmi. Kata Ibu, putrinya seusiaku, hanya beberapa bulan lebih tua dariku. Bu Darmi sangat terpukul akibat kehilangan putri dan suaminya sekaligus. Aku yang merasa selalu mendapat kasih sayang yang tulus dari Bu Darmi, lalu meminta dia menganggapku sebagai anaknya sendiri. Dan meminta izin darinya untuk memanggilnya 'Ibu'. Aku kehilangan sosok ibu, sementara dia kehilangan anaknya.
"Bia.."
Langkahku terhenti menaiki anak tangga. Tubuhku menegang mendengar panggilan yang sangat ku rindukan itu. Tapi.. Darimana dia tau panggilan itu?
"Bia.."
Dia kembali memanggilku. Aku menoleh ke atas dan melihatnya yang tengah berdiri di depan pintu kamar sambil menatapku.
"Dari mana saja kamu, Bia?"
"Berhenti memanggilku dengan nama itu," ketusku lalu melanjutkan langkahku menaiki anak tangga.
"Kenapa? Kamu tidak menyukainya?"
Aku merindukannya.
"Kenapa masih bertanya jika sudah tau jawabannya," kilahku.
"Tapi aku menyukainya. Lebih singkat dan terdengar manja."
Sial. Dari mana dia tau kalau aku menyukai nama 'Bia' karena alasan itu. Apa Bu Darmi yang menceritakan padanya?
"Kita butuh bicara serius, Bia.." katanya. Tatapan matanya kali ini menunjukkan keseriusan. "Aku tunggu kamu di kamar."
Bukan karena mengikuti perintahnya aku masuk ke kamar. Aku memang berniat ke kamar untuk istirahat. Kebetulan dia mengajakku berbicara empat mata.
"Aku mandi dulu," kataku lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi dan berpakaian, aku berbaring di kasur. Rafka sudah menghilang saat aku keluar dari kamar mandi. Aku tidak peduli dengan keberadaannya.
Lalu aku mendengar sayup-sayup suara seseorang sedang menelepon di balkon. Itu suara Rafka. Baguslah jika dia menelepon. Berarti dia tidak akan mengganggu jam istirahatku.
"Udah selesai mandinya, Bia?"
Bia lagi.
Siapa yang mengizinkannya untuk memanggilku dengan nama itu?
"Hei, Bia. Aku tau kamu belum tidur."
Aku tidak memperdulikannya yang terus berbicara.
"Bangun atau kamu mau aku cium paksa?"
Paling juga cuma gertakan. Mana mungkin dia menciumku paksa, karena setelah itu dia pasti akan berendam untuk menidurkan adik kecilnya.
"Aku nggak main-main, Bia. Aku hitung sampe tiga, jika kamu nggak bangun juga. Aku benar-benar akan menciummu paksa."
As your wish, sir.
"Satu.."
Suaranya semakin jelas ku dengar.
"Dua.."
Dia membisikkannya tepat di telingaku. Sial.., dia benar-benar akan menciumku paksa.
"Ti.."
Aku membuka matanya dan langsung merubah posisiku menjadi duduk. Rafka terkekeh karena berhasil mengerjaiku.
Lihat pembalasan ku nanti.
"Menggemaskan sekali wajahmu itu, Bia," ledeknya yang kubalas dengan menatapnya sinis.
"Oke, sekarang aku mau bicara serius. Ekhem.. Pertama, aku nggak mau dengar protes kamu tentang panggilan aku ke kamu."
Tidak masalah.
"Lalu, aku kira kita harus membahas tentang kehidupan rumah tangga kita ke depannya. Okey, kita memang menikah bukan atas dasar cinta. Aku nggak cinta sama kamu dan begitu pula sebaliknya."
"Lebih tepatnya kamu yang memaksaku untuk menikah," potongku.
"Tapi kamu tidak mencoba untuk menolaknya, berarti bukan paksaan kan?"
Baiklah Calista, lebih baik kau diam mendengarkan apa kemauan pria ini. Karena sepertinya Rafka telah kembali menjadi sosok yang menyebalkan.
"Kita bisa memulainya dengan berteman kan? Mm.., mungkin terdengar klise, tapi bagiku pernikahan hanya boleh terjadi sekali. Jadi, kita bisa sama-sama belajar untuk saling mengenal masing-masing. Aku mau kita saling terbuka, dan kalau bisa.. kamu jangan ketus gitu sama aku ya."
Aku ingin tertawa mendengar permintaannya. Ternyata dia merasa terganggu dengan sikap cuek yang kutunjukkan padanya selama ini.
"Kalau kamu mau sih.., kalau nggak juga.. ya udah lah. Mungkin memang udah nasib aku. Aku yang memilih kamu menjadi istriku, berarti aku harus menerima semua kekurangan kamu kan?"
Hatiku menghangat mendengar pernyataan terakhirnya. Pernyataannya itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Dan aku bisa melihat kalau dia tidak main-main ketika mengatakannya. Rafka serius..
"Aku akan coba," jawabku. "Walau nggak bisa dipungkiri, kamu tetap suami aku. Tapi aku mengajukan satu syarat untuk permintaan kamu itu?"
"Kamu nggak minta aku untuk tidak berhubungan badan dengan kamu kan?"
Oh Tuhan.. Ternyata benar, kaum pria memang tidak bisa lepas dari s*x nya.
"Kenapa kamu mikir gitu?"
"Yaah.., mana tau kan. Hal kayak gitu sering aku baca di nov-"
"Kamu baca novel?" tanyaku tak percaya.
Rafka menyengir cukup lebar, membuatku memutar bola mataku malas.
"Nggak ada larangan yang mengatakan pria tidak boleh membaca novel. Lagian ceri-"
"Aku mau kamu nggak mengatur kehidupan aku, itu syarat yang aku kasih kalau kamu mau aku mengikuti permintaanmu itu," potong ku cepat.
"Tergantung sih.." jawab Rafka santai.
"Maksud kamu?" protesku.
"Ya kalau aku lihat kamu selingkuh, masa' iya aku diamin aja."
Astaga...
"Kamu kira aku seperti kamu yang hobbynya gonta-ganti perempuan?" sindirku.
Rafka tampak menahan geram akibat sindiranku tadi. Namun, secepat kilat dia sudah merubah ekspresi wajahnya kembali.
"Ini kita mau adu mulut atau mau berteman sih?"
Sepertinya memang tidak ada gunanya beradu argumen dengan Rafka. Aku terlalu letih hari ini. Lelahku akibat resepsi kemarin saja rasanya belum hilang sepenuhnya, apalagi kalau harus ditambah adu argumen dengan Rafka yang cukup keras kepala menurutku.
Berteman?? Bukan hal yang buruk.
"Baiklah," jawabku sekenanya.
Rafka tersenyum riang lalu mengulurkan tangan kanannya. "Teman?"
Ekspresi wajah Rafka sangat menggelikan saat menawarkan pertemanan denganku. Dia seperti bocah kelas tiga SD yang mengajak kenalan barunya untuk berteman.
"Teman," jawabku sembari menerima uluran tangannya.