Apa kesalahan yang kulakukan di masa lalu sampai bisa mendapat istri seperti Calista? Demi dewa, dia istri paling menyebalkan di muka bumi ini.
Ingat, Rafka. Kau yang menginginkannya menjadi istrimu.
Ya..ya..ya.. Aku tahu itu. Tapi aku tidak tahu kalau Calista akan berbuat sekeji ini padaku. Aku sudah seperti suami yang dianiaya istri sendiri. Sungguh malang nasibku.
Lihat saja bagaimana dengan santainya dia tertidur setelah membuatku berendam air dingin jam 11 malam. Demi Tuhan, ini sudah tengah malam.
Ck, sepertinya istri cantik ku ini memang ingin sedikit bermain denganku.
Baiklah istriku.. Kamu jual, aku beli. Kita lihat aja apa yang bisa aku lakukan untuk membalas semua kelakuan nakalmu ini.
***
Seperti rencana awalku -walau rencana untuk malam pertama gagal total- aku akan membawa Calista ke rumah yang kubeli dua minggu yang lalu. Yap, aku baru bisa membeli sebuah rumah untuk tempat tinggalku dan Calista dua minggu menjelang pernikahan kami.
Kenapa terlalu lama? Apa Rafka terlalu miskin hingga butuh waktu yang cukup lama untuk membeli sebuah rumah?
Lo belum kenal siapa Rafka kalau bertanya hal semacam itu. Membeli pulau pribadi pun aku sanggup kalau aku mau. Tapi untuk apa beli pulau pribadi. Serem ah..!
Back to the main topic.
Sejujurnya aku masih kesal sama Calista. Apalagi masalahnya, kalau bukan karena insiden gagalnya malam pertama itu. Tapi lihat ekspresi istriku yang satu ini, santai dan tanpa beban seolah tidak terjadi apa-apa diantara kami sebelumnya. Ck, menyebalkan.
"Anda tidak keberatan kan kalau saya minta Bu Darmi ikut tinggal di rumah itu?"
"Hm.." gumamku singkat. Terserah dia mau bawa pembantu kesayangannya itu atau enggak. Lumayan juga sih sebenarnya, aku jadi nggak perlu repot-repot nyari asisten rumah tangga yang baru.
"Anda antar saya ke rumah dulu, saya mau mengambil barang-barang saya dan menjemput Bu Darmi, sekalian saya mau mengambil mobil saya. Nanti anda bisa sms-kan alamat rumah itu. Saya bisa menyusul sendiri kesana."
Lihat sendiri kan betapa menyebalkannya seorang Calista Sabria Halim itu. Aku lebih dianggap seperti supir taksi yang diminta mengantarnya ke rumah orangtuanya.
"Saya bisa nunggu kamu sampai selesai beresin barang-barangmu. Jangan sungkan. Saya ini suami kamu."
"Saya tau anda suami saya," potong Calista. "Ya terserah anda saja, mau menunggu saya atau tidak," ujar Calista. Dia lalu masuk ke dalam mobilku tanpa mengatakan sepatah katapun.
Calista dan kesombongannya.
Tak ada perbincangan yang terjadi diantara kami. Aku fokus menyetir dan Calista fokus pada ponsel canggihnya. Bahkan hanya sekedar melirik ke arahku pun tidak dia lakukan.
"Seperti yang saya katakan, anda bisa pergi duluan ke rumah itu. Nanti saya akan menyusul dengan Bu Darmi."
"Dan seperti yang juga sudah saya katakan, saya akan tetap menunggumu sampai selesai berkemas. Saya suami kamu, jadi kamu sekarang sudah menjadi tanggung jawab saya," protesku tak mau kalah.
"Baiklah, terserah anda saja."
Dia keluar dari mobil dan melenggang begitu saja masuk ke rumah orangtuanya. Dia bahkan tidak mengajakku masuk ke dalam.
Oh God.. Inikah wanita yang kupilih menjadi istriku?
Bahkan baru sehari menikah, aku sudah mengeluh seperti ini. Gimana kalau sebulan, dua bulan, setahun atau selamanya? Sepertinya Calista menginginkanku meninggal di usia muda.
Suasana rumah keluarga Calista sangat sepi saat ini. Mungkin Papanya berada di kantor, dan mamanya pergi entah kemana. Fariz pasti masih berada di sekolah, sementara kakak dan kakak iparnya?? Entahlah. Aku tidak begitu tertarik dengan pasangan suami istri itu.
Tapi aku tertarik pada perasaan Calista. Apa benar pria yang ditangisi Calista malam itu adalah kakak iparnya sendiri?
Remember, she is my wife. Aku berhak mengetahui semua tentang Calista. Aku berhak mengenal Calista lebih jauh. Sayangnya, dia pasti takkan dengan mudah membagi kisah hidupnya denganku.
So? Siapakah yang bisa menceritakan padaku seperti apa Calista yang sebenarnya?
"Eh, Rafka.." sapa Nadhira, kakak iparku. Umurnya setahun di bawahku. Aku memintanya memanggilku Rafka saja, karena bagaimanapun dia kini telah menjadi kakak iparku. Awalnya dia menolak dengan alasan kesopanan. Dia ingin memanggilku "Mas" atau "Kakak" yang tentu saja ku tolak. Adiknya saja yang berbeda usia hampir empat tahun denganku tidak mau memanggilku dengan panggilan itu. Kenapa pula dia yang hanya berbeda setahun denganku malah ngotot ingin memanggilku dengan panggilan yang menyebalkan itu.
Berasa udah tua banget tau nggak kalau dipanggil 'Mas' seperti yang diinginkan Nadhira.
Dan Nadhira pun akhirnya bersedia hanya memanggilku 'Rafka' tanpa embel-embel apapun setelah aku mengatakan bahwa dia akan menjadi kakak iparku. Dan aku seharusnya yang memanggilnya kakak.
"Hai, Dir.." sapaku balik. "Sendirian di rumah ya?"
Nadhira mengangguk pelan. "Mas Rayyan ke rumah sakit. Ada pasien yang harus di operasi pagi ini. Mau ngambil barang-barangnya Calista ya, Raf?"
"Iya, aku ke atas dulu ya. Mau lihat Calista."
Nadhira tersenyum singkat. Entah apa yang terjadi diantara kedua kakak beradik ini. Calista dan Nadhira seperti dua orang asing yang tidak terikat ikatan darah. Aku bukannya tidak tahu bagaimana reaksi Calista saat Nadhira memeluknya di pelaminan tadi malam. Calista seperti berusaha menahan perasaannya. Aku merasa ada tatapan rindu yang terpancar dari mata Calista saat Nadhira memeluknya. Namun Calista berusaha sebisa mungkin untuk tidak memperlihatkannya di depan banyak orang. Bahkan di depan Nadhira sekalipun.
Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar pribadi Calista. Ada banyak foto dengan berbagai pose yang dipajang pada dinding kamarnya. Dan semuanya selalu menampilkan wajah cantik Calista.
"Ada yang bisa saya bantu?" tawarku.
Dia menoleh sekilas ke arahku, lalu kembali memasukkan pakaiannya ke dalam koper. "Tidak ada."
Aku memilih duduk di kasurnya sambil terus memperhatikan kegiatannya. Dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan aku yang terus memandanginya. Padahal biasanya, mantan-mantanku akan bersikap salah tingkah jika aku terus memperhatikan mereka seperti ini.
"Sudah selesai?" tanyaku saat melihatnya sudah menutup dan mengancingkan resleting kopernya.
"Hm.." gumamnya.
"Kamu membawa semua pakaianmu?" tanyaku heran. Kenapa dia tidak meninggalkan beberapa potong pakaiannya? Bagaimana kalau suatu saat nanti dia menginap di rumah ini dan tidak membawa pakaian ganti?
"Kenapa? Salah? Bukannya saya akan tinggal bersama anda?" tanyanya balik tanpa menjawab pertanyaanku tadi.
"Ya iyalah kamu tinggal sama saya, masa' iya tinggal sama pria lain," jawabku pelan di akhir kalimat.
Dia menngangkat sebelah sudut bibirnya. "Tidak salah kan kalau saya membawa semua barang-barang saya dari rumah ini. Toh saya juga tidak tinggal di rumah ini lagi."
"Tapi kan.."
Ah, sudahlah, Rafka. Percuma berdebat dengan wanita ini.
"Sini kopernya, biar saya bawa."
"Dengan senang hati," katanya lalu menyerahkan koper berukuran jumbo itu padaku.
Saat kami turun ke bawah, Calista sempat berhenti sejenak dan menatap ke arah ruang keluarga. Hanya sepersekian detik karena setelah itu, Calista langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Aku mengikuti arah pandang Calista dan mendapati Nadhira yang tengah menonton tv di sofa sambil sesekali mengusap perutnya yang mulai membuncit.
"Kenapa berhenti?" tanyaku.
Calista memutar bola matanya malas melihatku lalu mempercepat langkahnya menuruni anak tangga.
"Kami pulang ya, Dir," pamitku pada Nadhira. Jangan tanya Calista ada dimana. Karena dia langsung masuk ke dalam mobil tanpa berpamitan pada kakaknya.
Nadhira berjalan mendekat ke arahku. Mungkin dia berniat mengantarkan kami sampai pintu. Sayangnya, Calista justru sudah berada di dalam mobil.
"Aku nggak tau apa yang terjadi diantara kalian berdua. Tapi aku yakin, Calista menyayangimu, Nadhira."
Mata Nadhira berkaca-kaca mendengarnya. Entah karena pengaruh hormon ibu hamilnya, atau karena Nadhira yang memang cengeng. "Aku juga selalu berharap seperti itu, Raf. Calista adik perempuanku satu-satunya. Aku menyanyangi Calista dan akan selalu menyayanginya." Ada jeda sejenak sebelum Nadhira kembali berbicara. "Aku titip Calista sama kamu ya, Raf. Bahagiakan dia. Selama ini dia hanya kurang mendapat kasih sayang dari Papa dan Mama. Aku sudah membujuk Papa, tapi Papa selalu mengabaikannya. Calista juga berhak untuk bahagia, Raf. Dan aku sangat berharap kamu bisa memberikan kebahagiaan pada Calista."
Aku tersenyum hangat pada Nadhira. "Calista sekarang menjadi tanggung jawabku, Nadhira. Aku akan berusaha semampuku untuk membahagiakan Calista."
Tin tin tin..
Calista menekan klakson mobilnya kencang untuk memperingatiku. Apalagi tujuannya selain segera meninggalkan rumah keluarganya ini. Aku tahu, keinginannya itulah yang membuatnya setuju untuk menikah denganku. Aku tahu dari mana? Jangan panggil aku 'Rafka' kalau tidak bisa mengetahui hal sekecil itu.
"Ya udah, kami pamit dulu ya, Dir."
Nadhira hanya tersenyum menanggapinya. Aku masuk kedalam mobilku, sementara Calista membawa mobilnya sendiri bersama Bu Darmi.
***
"Not bad.." komentar Calista saat kami tiba di rumah yang akan kami tempati.
"Not bad?" ulangku. Merasa tidak puas dengan komentar yang diberikan Calista.
"Ya, saya kira anda akan menempatkan saya di rumah hantu."
Aku menautkan kedua alisku, bingung dengan alasan anehnya itu. "Maksudnya?"
"Ck, ternyata daya tangkap anda rendah ya. Pernyataan seperti itu saja susah anda cerna."
Aku mengepalkan tanganku mencoba menahan emosi. Calista menghinaku??
"Apa maksudmu, Calista? Kau mengataiku bodoh, hah?" tanyaku dengan nada tinggi.
"Saya tidak mengatakan demikian," jawabnya santai. "Anda saja yang terlalu sensitif."
Menghadapi Calista benar-benar membutuhkan kesabaran ekstra. Dia bukan wanita yang bisa dihadapi dengan mudah. Dia Calista, wanita angkuh yang tidak pernah merasa salah dengan semua kata yang sudah diucapkannya.
"Saya kira anda akan membelikan rumah berukuran besar seperti istana. Bukan.., bukan berarti saya berharap seperti itu. Saya bahkan tidak ingin anda membeli rumah besar yang hanya akan ditempati beberapa orang. Rumah besar seperti itu malah terkesan seperti rumah hantu bagi saya. Besar namun sepi dan mencekam."
Calista seperti menerawang jauh saat mengatakan alasannya itu padaku. Mungkin dia teringat rumahnya yang besar namun selalu sepi. Tidak ada kehangatan yang tercipta di keluarga mereka.
"Sini, Non. Biar Bibi susunin pakaian Non ke lemari."
Bi Darmi mendekat ke arah kami menawarkan dirinya untuk menyusun pakaian Calista.
Tau dimana kamar Calista saja dia tidak.
"Nggak usah, Bu. Aku aja yang nanti nyusun sendiri. Ibu istirahat aja di kamar," jawab Calista lembut. Sangat lembut malah. Jauh berbeda dengan cara dia berbicara denganku.
"Oh ya, berapa jumlah kamar di rumah ini?" tanya Calista padaku.
"Ada lima kamar, tiga di atas dan dua di bawah," jawabku. "Ayo, saya tunjukkan kamar kita."
Calista bersikap cuek saat aku menekankan kata 'kamar kita' padanya. Kalau gadis lain, pasti akan salah tingkah mengetahui akan tidur di ruangan yang sama dengan seorang pria. Meskipun pria itu pria yang dia cintai.
Tapi jauh berbeda dengan Calista. Seperti apapun aku mencoba mancing reaksinya, dia akan tetap cuek dan acuh. Merasa tidak terganggu dengan apapun yang aku lakukan atau katakan.
Aku tidak tahu apakah Calista akan menyukai design kamar yang aku pilih. Agak lucu sih, seharusnya istri yang memilih design kamar mereka. Ini malah aku yang mengambil alih tugas itu.
"Suka?" tanyaku.
"Suka," jawabnya datar.
"Kamu boleh menambah atau mengganti interior nya kalau kamu nggak suka. Sa-"
"Nggak perlu, ini sudah cukup," potong Calista.
Dia lalu berjalan menuju walk in closet yang sudah kusiapkan sebelumnya. Dia menata sendiri letak pakaiannya. Pakaianku sudah lebih dulu berada disana. Jadi, aku hanya memandori Calista yang sibuk menata pakaiannya.
"Boleh saya bicara?" tanyaku.
"Bicara saja," jawab Calista cuek. Dia bahkan tidak mau sekedar menoleh ke arahku.
"Pertama, aku ingin kita menghilangkan panggilan 'saya, dan 'anda' diantara kita. Kita bukan orang asing lagi. Kita sudah menikah kal-"
"Ya..ya.., aku tau," potong Calista lagi. "Ada lagi?"
Aku ragu untuk menanyakan hal ini. Tapi aku sangat penasaran, dan ingin mendengar jawabannya langsung dari bibir Calista.
"Ekhem.., begini," kataku gugup. "Aku memang tidak tau apa yang terjadi antara kamu dan Nadhira. Kalian kakak beradik, namun lebih terlihat seperti dua orang asing yang tidak terikat hubungan darah dan saling mengenal. Kalian-"
Calista menghempaskan kopernya, membuatku kaget dan menghentikan ucapanku. "Dengar baik-baik ya Tuan Rafka yang terhormat. Apapun yang terjadi diantara saya dengan Nadhira, itu semua tidak ada kaitannya dengan anda. Masalah diantara kami terjadi jauh sebelum saya mengenal anda. Jadi saya minta stop mencampuri urusan pribadi saya."
Calista lalu keluar dari kamar dan tidak menghiraukan panggilanku. Sepertinya dia marah. Ah bukan, tetapi dia sangat marah karena aku menyinggung masalah dia dengan Nadhira. Apa aku keterlaluan? Aku rasa tidak.
Ponselnya berdering saat dia menuruni tangga. Calista memperlambat langkahnya dan mengangkat panggilan tersebut. Samar-samar aku bisa mendengar bahwa si penelepon meminta Calista untuk datang menemuinya. Calista meng-iyakan dan berjanji akan datang menemuinya setengah jam lagi.
"Mau kemana kamu?" tanyaku berusaha bersikap normal seperti biasa.
Calista hanya melirikku sekilas tanpa menjawab pertanyaan ku. Saat bertemu Bi Darmi, Calista menghampirinya bahkan berpamitan pada wanita tua itu.
"Bia keluar bentar ya, Bu," pamitnya pelan tapi masih bisa ku dengar.
"Kemana atuh, Non? Ini Bibi bingung mau masakin apa buat Non Sabria sama Tuan Rafka."
"Kan udah Bia bilang jangan manggil Bia 'Non' kayak gitu. Nggak ada Mama sama Papa disini, Ibu kan ibunya Bia, bukan orang lain."
Sejenak aku terpaku pada kata-kata tulus yang diucapkan Calista. Dia seperti bukan Calista yang kukenal selama ini saat berbicara dengan wanita tua yang hanya berprofesi sebagai pembantu itu. Tutur bahasanya begitu halus dan sopan. Dia sangat menghormati wanita tua itu yang biasanya selalu diremehkan profesinya oleh orang lain.
"Ibu nggak usah masak apa-apa hari ini. Bia cuma sebentar kok. Nanti pulangnya Bia bawakan makanan untuk kita. Oke, Bu. Bia pamit dulu ya. Assalamu'alaikum."
Calista tidak tahu kalau aku tengah mencuri dengar pembicaraan mereka. Kalau sampai dia tau, mana mungkin dia mau menunjukkan kelembutan nya itu di depanku.
Setelah memastikan Calista sudah benar-benar pergi, aku menghampiri Bi Darmi. Sepertinya aku bisa mencari tau tentang kehidupan Calista dari wanita tua ini.
"Ekhem.."
Bi Darmi langsung menghentikan kegiatannya yang tengah menyapu dapur saat mendengar dehemanku.
"Eh.. Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya gugup.
"Saya perlu bicara empat mata sama Bibi. Saya tunggu di halaman belakang."
***
"A..ada apa, Tuan?" tanya Bi Darmi gugup.
"Jangan takut, Bi. Saya nggak galak kok. Saya cuma mau tau semua tentang Calista dari Bibi."
"Maksudnya, Tuan?"
"Saya tau Bibi cukup dekat, ah bukan.. Bibi bahkan sangat dekat dengan Calista. Bibi pasti tau semua hal tentang Calista bukan? Ceritakan semuanya sama saya," perintahku.
Bi Darmi sempat terdiam sesaat. "Tuan ingin tahu tentang apa?" tanyanya.
"Semuanya. Mulai dari sejak kapan Bibi bekerja di rumah orang tua Calista."
"Saya bekerja di rumah keluarga Non Sabria sejak Non Nadhira berusia satu tahun. Saat itu, saya baru menikah dan merantau bersama suami saya ke ibukota. Suami saya hanya bekerja sebagai penarik becak saat itu. Sehingga saya harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan ekonomi kami.
Dua tahun saya bekerja, Non Sabria lahir. Orang tuanya sangat bahagia dan menyayangi Non Sabria. Saya lah yang turut mengasuh Non Sabria sejak non Sabria lahir. Saya juga sangat menyayangi Non Sabria karena usianya yang tidak berbeda jauh dari putri saya, Tuan.
Non Sabria tumbuh menjadi gadis kecil yang sehat, cantik dan ceria. Sangat berbeda dengan Non Nadhira yang fisiknya lemah. Non Sabria bisa berlari-lari di taman belakang rumah, namun Non Nadhira tidak. Kadang Non Sabria dimarahi papanya karena selalu mengajak kakaknya berlarian di taman belakang. Saya kasihan melihat Non Sabria waktu itu, Tuan. Dia hanya gadis kecil yang belum mengerti tentang penyakit kakaknya, tapi papanya selalu memarahinya jika kakaknya sampai jatuh sakit."
Aku setuju dengan pernyataan Bi Darmi tentang itu. Calista masih terlalu kecil untuk memahami kondisi kesehatan kakaknya. Mana dia mengerti jika kakaknya tidak boleh kelelahan. Anak seusia dia kan hanya tau bermain dan bersenang-senang.
"Lalu saat berusia sekitar enam tahun, Non Sabria mendapatkan tawaran iklan pertamanya. Setau saya, banyak pihak agency model yang tertarik pada Non Sabria. Nyonya Fenita menerima tawaran tersebut dan mulai mengenalkan Non Sabria pada dunia modeling.
Sejak saat itu, Non Sabria mulai disibukkan dengan kegiatannya. Dia bahkan pulang malam dan jadi sering bolos sekolah. Sebenarnya saya kasihan melihatnya, Tuan. Tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa waktu itu. Saya sadar posisi saya yang hanya sebagai pembantu di rumah keluarga itu."
"Teruskan, Bi," kataku. Aku tidak perlu mendengar curhatan pribadi wanita ini, karena yang aku ingin tau hanya tentang Calista, bukan perasaan wanita ini.
"Lalu waktu itu, saat ulang tahun Non Sabria yang ke sembilan, Non Sabria sempat menghilang dari lokasi pemotretan."
"Apa?? Calista menghilang?"
"Iya, Tuan. Pagi sebelum kejadian itu, Non Sabria sempat merengek pada Tuan Agus agar diajak ikut pergi bersama Tuan Agus dan Non Nadhira. Tapi Nyonya melarangnya karena ada pemotretan di salah satu Taman hiburan. Siang harinya Nyonya pulang ke rumah dalam keadaan panik dan menanyakan keberadaan Non Sabria. Tidak ada yang berhasil menemukan Non Sabria sampai sore hari."
"Lalu bagaimana Calisya bisa ditemukan, Bi?" tanyaku penasaran.
"Non Sabria pulang sendiri ke rumah sambil menangis. Nyonya Fenita memarahinya dan tidak memperdulikan tangisan pilu Non Sabria. Sejak saat itu lah Non Sabria mulai berubah. Dia tidak seceria biasanya. Bahkan Nyonya Fenita dan Tuan Agus melupakan panggilan kecil yang mereka pakai untuk Non Sabria."
"Panggilan kecil? Bia maksudnya?"
"Eh, kok Tuan bisa tau?"
Mana mungkin aku tidak tau. Aku sering mendengar Calista menyebut dirinya 'Bia' saat berbicara dengan Bi Darmi. Awalnya aku bingung, siapa Bia yang dimaksud Calista. Lama-lama aku mengerti sendiri kalau Calista menyebutkan dirinya sendiri.
"Dari kecil, Non Sabria memang dipanggil Sabria oleh orangtuanya. Non Sabria kecil yang belum bisa menyebut huruf 'r' menyingkat namanya menjadi 'Bia'. Saat sudah bisa mengucapkan huruf 'r' pun, dia tetap ingin dipanggil Bia. Lebih mudah disebutkan, itu alasan Non Sabria.
Tapi sejak Non Sabria mulai terkenal, orangtuanya mengganti panggilan namanya menjadi Calista. Non Sabria tidak menyukainya tapi tidak bisa menolak. Non Sabria meminta Bibi untuk tetap memanggilnya 'Bia' atau 'Sabria' agar dia merasa tidak dianggap orang asing. Bagi Non Sabria, hanya orang asing lah yang memanggilnya dengan nama Calista."
Oh.. Jadi Calista lebih suka dipanggil 'Bia'. Baiklah, terdengar lebih lucu juga.
"Terus, apa Bibi tau masalah yang terjadi antara Nadhira dan Calista?"
Bi Darmi menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tau, Tuan. Saya kira hanya masalah kecemburuan saja. Tuan Agus jauh lebih memperhatikan dan menyayangi Non Nadhira dibanding Non Sabria. Saya kira hanya itu saja, Tuan. Tidak ada masalah lain yang terjadi antara mereka berdua. Tapi sepertinya ada masalah lain diantara mereka. Non Sabria menangis di hari pernikahan Non Nadhira, Tuan. Non Sabria juga semakin jarang di rumah sejak Non Nadhira menikah dan tinggal bersama suaminya di rumah itu."
Ah.., ternyata Bi Darmi bukan orang yang tau semua hal tentang Calista. Sepertinya aku memang harus menanyakan langsung pada Calista atau Nadhira.
Calista??
Ah, bukan. Mulai saat ni, aku akan berhenti memanggilnya 'Calista'. Nama 'Calista' mencerminkan kepribadiannya yang angkuh dan sombong. Sangat berbeda dengan saat dia menyebut dirinya 'Bia' di depan Bi Darmi. Dia terlihat sangat lembut dan sopan.
Jadi mulai saat ini. Nama dia bukan lagi 'Calista'. Tapi..
Bia..