"APA? TUNANGAN?"
Aku hampir saja menyumpal mulut Varen dengan vas bunga di depanku. Dia sampai menarik perhatian pengunjung kafe gara-gara teriakannya itu. "Bisa kamu kecilkan volume suaramu itu, Varen?" tanyaku menahan geram.
"Kamu bercanda kan, Calista? Bertunangan? Yang benar saja. Kamu kan nggak pernah dekat dengan lelaki lain selain aku selama ini. "
"Oh ya? Apa kamu termasuk kategori lelaki?" tanyaku sambil menyunggingkan senyum sinis.
"Aku serius, CALISTA.." ujar Varen dengan nada tinggi.
"Well, ini keinginan Papa."
"Pak Agustian Halim?" tanya Varen.
"Ck, emangnya aku punya ayah lain selain dia?" tanyaku sambil menyesap cappucinno yang tadi kupesan.
"Tapi Calista, bukannya kamu membenci papamu itu? Kenapa kamu malah menyetujui permintaannya?"
Ternyata selama ini Varen sudah salah menanggapi sikapku terhadap Papa. Aku memang selalu berkata kasar di depan Varen saat membahas keluargaku. Tapi aku sama sekali tidak membencinya. Aku sangat mengharapkan kasih sayang Papa dan Mama, jadi apa mungkin aku membenci mereka? Tidak, tidak akan mungkin. Karena bagiku, semarah apa pun anak kepada orang tuanya, anak tidak akan bisa membenci orang yang telah berjasa melahirkannya ke dunia serta merawat dan mengasuhnya sejak kecil.
Kalau boleh jujur, selama ini aku selalu bersikap angkuh, dingin, dan sombong hanya untuk menarik perhatian orangtuaku. Saat anak lain akan berusaha menghindar dari ceramah orangtuanya, justru aku sangat menginginkannya. Aku ingin mendengar Papa menasehatiku karena kenakalan yang ku lakukan. Aku ingin Papa menasehatiku karena nilai ulanganku merosot. Aku hanya ingin dapat perhatian dari Papa. Salahkah?
"Tapi kamu kan tidak mencintai pria itu Calista?"
"Cinta? Untuk apa cinta? Papa dan Mama yang dulunya saling mencintai saja bisa saling mengacuhkan seperti sekarang. Aku nggak butuh cinta. Aku sudah biasa hidup seperti ini, tanpa cinta," bohongku.
Mana ada wanita yang tidak ingin dicintai? Mana ada wanita yang tidak membutuhkan cinta dalam membangun sebuah rumah tangga? Jika ada, bawa wanita itu ke hadapanku sekarang juga. Aku akan menyadarkannya bahwa betapa perlunya cinta di dalam hidup ini. Agar dia tidak merasakan beratnya kehidupan tanpa ada cinta seperti yang aku alami selama ini.
"Dan bagaimana dengan permintaanmu di club malam itu, Calista?"
Ya Tuhan.. Topik ini lagi yang kembali dibahas Varen. Sebenarnya apa yang kukatakan malam itu? Karena sepertinya, permintaanku itu sangat mempengaruhi perubahan sikap Varen.
"Jujur sama aku, Ren. Sebenarnya apa permintaanku malam itu?"
Varen terlihat ragu menjawab pertanyaanku. Aku semakin menatapnya curiga.
"Ka..kamu..me..mintaku u..untuk sembuh, Calista," jawab Varen dengan nada lemah.
Aku tersenyum senang mendengarnya. Ternyata itu yang aku minta dari Varen saat itu.
"Aku kira bukan cuma aku yang ingin kamu sembuh, Ren. Orangtua kamu pasti menginginkan hal yang sama. Kamu memang harus sembuh Varen. Sadari kodratmu sebagai seorang pria. Jangan terus bergelung dengan kesalahan seperti yang kamu lakukan selama ini."
"Da..dan kamu.."
"Dan aku?" tanyaku penasaran.
Pasti ada permintaan lain yang aku sampaikan saat itu. Dan ku kira, permintaanku yang kedua pasti lebih berat dari permintaan pertamaku.
"Dan kamu.. Huft.., kamu memintaku untuk menikahimu setelah aku sembuh."
Aku terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru ku dengar dari Varen. Aku meminta Varen menikahiku? Hal konyol apalagi ini?
"Kamu tau kan saat itu aku berada di bawah pengaruh alkohol? Aku tidak sadar saat mengatakannya, Ren. Tapi soal permintaan pertamaku tadi, dalam keadaan sadar ataupun tidak, aku tetap ingin kamu sembuh, Varen. Aku yakin kamu pasti bisa sembuh dan mencintai seorang gadis. Dan aku sangat-sangat yakin, gadis yang nantinya kamu cintai tidak akan bisa menolak pesona seorang Varen Theodor Asadel."
Varen tersenyum senang mendengar semangat yang ku berikan. Ada sebuah harapan yang terpancar di mata Varen. Ya, semoga saja dia benar-benar bisa sembuh dan menemukan gadis yang tepat.
"Jadi.., kapan pertunanganmu dilaksanakan, Calista?" tanyanya.
Varen sudah kembali ke dirinya yang biasa. Dia bahkan menampilkan senyum mematikannya. Untung senyumnya tidak berpengaruh apapun terhadapku.
"Malam ini," jawabku tenang.
"Dan kamu baru memberi tahuku sekarang. Kau.. benar-benar Calista.." geramnya.
"Salah siapa tidak bisa ditemui seminggu ini. Kadang aku heran sama kamu, Ren. Aku yang jadi model, tapi malah kamu yang sibuk kesana kemari. Dikasih bonus berapa kamu sama Mama?"
"Tidak banyak, Bu Fenita hanya memberiku bonus bisa berkenalan dengan putri cantiknya."
"Najis.." gerutuku pelan. "Udahan ah, aku harus siap-siap ke hotel."
"Perlu ku antar?" tawar Varen.
"Jika tidak keberatan," jawabku seadanya.
***
Persiapan pernikahanku dengan Rafka sudah mencapai 70%. Rafka benar-benar berniat ingin mewujudkan pernikahan impianku. Tapi sayangnya, aku bahkan sudah melupakannya. Dulu, aku memang sempat memiliki pernikahan impian saat masih dekat dengan Mas Rayyan. Pernikahan sederhana yang diadakan di dekat pantai. Aku ingin melihat sunset bersama pria yang kucintai di hari pernikahanku. Hanya itu yang ku inginkan dulu.
Tapi saat Mas Rayyan mulai dekat dengan Nadhira, aku mulai mengubur impian itu. Dan saat mereka mulai berpacaran, aku bahkan menghapus keinginanku untuk menikah. Setidaknya sampai usiaku 30 tahun.
Jadi ketika Rafka menanyakan seperti apa pernikahan impianku, aku menggedikkan bahuku acuh dan meninggalkannya.
"Kabarnya gadis sombong itu mau menikah? Apa ada yang bersedia menikah dengan gadis sombong seperti dia?"
Aku mendengar para model abal-abal itu mulai menggosipkanku. Ck, selalu begini. Mereka memang selalu merasa iri dengan apa yang aku dapatkan.
"Jangan asal ngomong lo, Sya. Pake bilang si sombong itu gadis. Tau dari mana lo? Gue nggak yakin dia masih gadis."
"Dia masih gadis kali, gadis bukan perawan maksudnya.."
Aku semakin menggeram mendengar tuduhan keji mereka. Rasanya aku ingin mendobrak pintu kamar mandi ini dan menarik bibir mereka hingga terlepas dari tempatnya.
"Ngomong-ngomong katanya calon suami si sombong itu ganteng loh.."
"Gue kenal calonnya. Rafka Kalandra Lazuardy. Dia itu playboy kelas kakap tau nggak. Si Felicia jadi salah satu korban rayuan si Rafka."
"Beneran lo? Felicia yang cantik, lembut dan ramah itu jadi korban calon si sombong?"
"Rafka memang terkenal playboy dari dulu. Mana ada yang bertahan lama sama dia. Felicia aja cuma sebulanan pacaran sama si Rafka. Prinsip Rafka itu cuma satu, 'Habis Manis, Sampah dibuang'."
"Nah.., cocok banget tuh sama si sombong. Gue yakin 100%, setelah si Rafka puas menikmati tubuh di sombong, dia bakal dicampakkan gitu aja. Felicia yang ramah dan punya sopan santun aja dicampakkan. Apalagi wanita sombong dan angkuh seperti dia."
Aku sudah tidak bisa menahan emosi mendengar kata-kata mereka yang semakin menusuk. Aku menggebrak pintu toilet dengan kasar. Tiga model abal-abal yang dari tadi terus menggosipkanku tampak terkejut melihat aksiku.
"Kalau mau menggunjingkan saya jangan beraninya main belakang. Ayo, silahkan ulangi apa yang tadi kalian bicarakan tentang saya. Tidak akan saya potong, bakal saya dengarkan sampai selesai."
"Emang lo pikir lo siapa? Mentang-mentang model senior, jangan lo kira gue takut sama lo."
"Nyadar juga ternyata kalau anda itu masih baru," dengusku. "Cuma sekedar mengingatkan kepada kalian, saya.. Calista Sabria Halim bukan orang yang mudah dijatuhkan, apalagi sampai dicampakkan seperti yang kalian khawatirkan. Saya merasa sangat tersanjung mendengar kekhawatiran kalian. Terima kasih, kalian sudah menyadarkan saya untuk lebih berhati-hati dalam menilai orang lain."
Mereka seperti menahan geram mendengar ucapanku. Aku tidak memperdulikan mereka lalu meninggalkan mereka dengan senyum puas.
Tapi sejujurnya aku takut jika apa yang mereka katakan adalah fakta. Mengingat betapa mudahnya Rafka mendapatkanku, tidak menutup kemungkinan dia juga akan mencampakkanku dengan mudah.
Tidak.. Tidak.., Rafka tidak akan pernah mencampakkan aku. Karena sebelum dia mencampakkanku, aku yang akan melakukan itu lebih dulu padanya.
***
Hari ini terakhir kali aku melakukan fitting. Hanya tinggal mengepaskan Ukuran gaun ke tubuhku. Karena minggu depan aku akan mengenakannya.
Tiga bulan memang bukan waktu yang lama untuk melakukan persiapan pernikahan kami. Aku malah merasa waktu bergulir dengan begitu cepat. Karena tanpa terasa, minggu depan statusku berubah. Aku akan menjadi seorang istri. Dan yang paling penting, aku bisa keluar dari kediaman keluarga Halim.
"Selamat ya, Sayang.."
Langkahku terhenti saat mendengar Mama mengucapkan kalimat itu. Pada siapa? Tentu saja bukan padaku. Mama mengucapkan selamat pada.. Nadhira. Tapi selamat untuk apa?
"Udah berapa bulan, Sayang?" tanya Mama dengan senyum mengembang.
"Kata dokter usia kandungan Nadhira sudah delapan minggu, Ma," jawab Mas Rayyan.
Dadaku seperti dihantam beban seberat puluhan ton. Nadhira hamil? Dia sudah mendapatkan Mas Rayyan, sekarang dia mengandung anak dari lelaki yang ku cintai itu.
Kenapa? Kenapa selalu dia yang beruntung? Kenapa aku tidak pernah diberi kesempatan untuk mencicipi apa itu yang dinamakan bahagia?
Nadhira tidak cantik, dia sangat terlihat biasa untuk ukuran seorang wanita. Bahkan dia penyakitan, dia lemah, fisiknya tidak sesehat aku. Tapi dia mendapatkan segalanya. Dia mendapatkan semua yang aku inginkan.
Pertama dia mendapat kasih sayang dari Papa. Kasih sayang Papa padanya seperti tanpa batas. Bahkan sampai sekarang, saat dia sudah menikah, aku masih sering melihat Papa memeluk Nadhira dengan penuh kehangatan.
Kedua, dia terbebas dari tekanan Mama. Apalagi kalau bukan karena alasan fisiknya yang lemah dan wajahnya yang sangat biasa itu. Dia tidak perlu merasakan betapa tersiksanya aku ketika dipaksa Mama untuk menjadi model yang lebih terkenal dari Mama. Mama bahkan tidak mengizinkanku bermain dengan teman seusiaku dulu. Mama akan memarahiku jika tidak mau mengikuti aturannya. Mama sangat terobsesi padaku dan menjadikannya terlihat kejam di mataku. Betapa beruntungnya Nadhira tidak pernah merasakan semua itu.
Lalu saat dewasa, dia mendapatkan cinta dari Mas Rayyan. Padahal aku yang lebih dulu mengenal Mas Rayyan. Aku yang jatuh hati padanya. Tapi dia.., lagi-lagi Nadhira berhasil merebut Mas Rayyan dariku. Dia mendapatkan Mas Rayyan dengan begitu mudah. Semudah dia mendapat kasih sayang Papa dan terbebas dari tekanan Mama.
Dan kini, dia mengandung anak Mas Rayyan. Hal apalagi yang lebih bahagia selain bisa mengandung anak dari pria yang kamu cintai. Anak itu tentunya akan menjadi pengikat antara dia dengan Mas Rayyan.
"Mama nggak sabar pengen cepat gendong cucu," ujar Mama. Mama lalu menundukkan badannya dan mengelus perut rata Nadhira. "Sehat terus ya cucu Oma. Oma sayang kamu.."
Mata Nadhira berkaca-kaca mendapat perlakuan dari Mama seperti itu. Mereka lalu berpelukan dengan begitu erat. Mataku memanas melihat mereka. Cukup sudah.., aku tidak sanggup melihat kehangatan diantara mereka.
"Calista.."
Itu suara Mas Rayyan. Dia menyadari keberadaanku saat aku sudah hampir sampai di depan pintu.
"Calista.., kakak kamu hamil. Nggak mau ngucapin selamat ke kakakmu?" tanya Mama.
"Aku tau, selamat deh kalau gitu," ucapku acuh. Aku bahkan tidak berbalik badan melihat ke arah mereka. Karena jika seperti itu, mereka akan melihat kehancuran di mataku. Dan aku selalu benci ketika terlihat lemah di depan orang lain.
Aku mencoba gaun pengantinku dengan malas. Aku sudah kehilangan semangat sejak keluar dari rumah. Ditambah lagi aku harus pergi sendirian ke butik. Kami sedang dalam masa pingitan jadi tidak bisa saling bertemu sampai selesai akad nikah nanti. Hal yang sama sekali tidak berpengaruh bagiku, tapi Tante Rina ngotot agar kami tetap harus dipingit.
"Gimana, Mbak. Masih kebesaran nggak?" tanya salah satu pegawai butik.
Aku menggelengkan kepala pelan.
"Ih, si Mbak nya udah mau nikah kok malah kayak nggak semangat gitu."
Aku menatap tajam ke arah pegawai wanita itu.
"Jangan sok kenal gitu sama saya. Saya tidak suka." Aku diam sejenak tapi tetap menatapnya tajam, "Ukurannya sudah pas, jadi bisakan saya mencoba gaun resepsinya?" tanyaku datar.
Pegawai wanita itu menciut karena tatapan tajamku. Siapa suruh dia SKSD ke aku. Anggap saja sebagai ganjaran atas sikap sok kenalnya itu.
"I..iya, Mbak. Sudah bisa diganti kembali kok."
Baguslah, aku tidak perlu berlama-lama di tempat ini. Moodku benar-benar hancur hari ini, jadi jangan sampai aku membuat kekacauan karena terpancing emosi.
Pegawai wanita itu masih menunduk takut padaku. Tapi ia tetap bersikap profesional dengan terus menemaniku selama berada di butik ini. Karena aku bukan hanya fitting kebaya untuk akad, aku juga harus fitting gaun untuk resepsi. Dan sudah menjadi tugas pegawai wanita ini untuk menemaniku fitting. Dia yang bertanggung jawab terhadap gaun-gaunku. Jadi sudah pasti dialah yang jadi sasaran emosiku saat ini.
"Ini apaan? Saya tidak minta gaun saya diberi ornamen tambahan seperti ini. Saya tidak suka."
"Ya Tuhan.., kenapa ini terlalu pendek. Lihat, lengan saya jadi terlihat besar jika potongannya seperti ini."
"Ini juga. Astaga.., siapa sih yang merekomendasikan butik ini pada saya?"
Aku terus memarahi pegawai wanita ini. Aku tau dia tidak tau apa-apa tentang kesalahan-kesalahan pada gaunku. Dia hanya ditugaskan atasannya untuk melayaniku.
Aku masih terus mengomel hingga tanpa sadar tubuhku menabrak seorang office girl yang tengah membawa secangkir teh. Teh itu tumpah dan mengenai baju salah satu pelanggan di butik ini. Pelanggan yang bajunya terkena tumpahan teh itu marah dan menyalahkanku. Aku yang memang sudah emosi dari tadi jadi semakin emosi mendengar teriakan marah dan bentakan wanita itu.
"Saya tidak melihat office girl ini melewati saya dari belakang. Jadi ini bukan kesalahan saya dan saya tidak perlu meminta maaf. Kalau anda masih tidak terima, sebutkan saja berapa nomor rekening anda. Saya akan-"
"Saya tidak memerlukan uang anda wanita sombong," potongnya setengah membentak. "Saya hanya butuh permintaan maaf dari anda," tegasnya.
"Maaf? Sudah saya katakan bahwa ini bukan kesalahan saya. Saya tidak akan meminta maaf untuk kesalahan yang tidak saya perbuat."
"Jelas-jelas ini kesalahan anda," bentaknya. "Mereka saksinya," tunjuk si wanita itu kepada beberapa pegawai wanita yang menunduk takut melihat pertengkaran kami.
Aku mengambil clutchku dan berniat meninggalkan butik ini. Semakin lama aku berada di sini, maka emosiku juga semakin terpancing.
"Hei wanita sombong, minta maaf dulu sebelum kamu pergi," teriaknya.
Aku menatapnya sinis. "Hanya kaum lemah yang mau meminta maaf atas kesalahan yang tidak dia lakukan," ujarku. Aku kembali melangkahkan kakiku menjauhi butik ini. Tidak lagi ku perdulikan wanita tadi yang terus meneriaki ku 'wanita sombong'. Terserah dia saja. Aku tidak mengenalnya, dan dia pun tidak mengenalku. Kami tidak mungkin kembali bertemu.
***
Hari ini pun tiba, hari dimana aku merubah statusku menjadi seorang istri. Hari yang sangat ku tunggu-tunggu selama seminggu ini.
Bukan karena aku merindukan Rafka. Bukan karena aku tidak sabar menunggu pria yang 'kucintai' itu segera meresmikanku menjadi istrinya. Tapi karena aku tidak sabar segera terbebas dari kekangan Mama. Dan tidak perlu berlama-lama melihat betapa besar kasih sayang Papa pada putri kesayangannya.
Semenjak mengetahui kehamilan Nadhira, Papa melarang mereka pindah ke rumah mereka yang sudah selesai direnovasi. Alasannya jelas saja karena mengkhawatirkan kehamilan Nadhira. Papa takut terjadi sesuatu pada calon cucu pertamanya. Ck, coba kalau aku yang ada di posisi Nadhira, mana mau Papa peduli sampai seperti itu.
Kembali ke hari pernikahanku.
Akad nikah dan resepsi diadakan di hari dan tempat yang sama. Semua Rafka yang mengatur. Mulai dari pemilihan gedung, catering, undangan, souvenir, dan lain sebagainya. Aku hanya berperan saat melakukan fitting baju pengantin. Selebihnya adalah tanggung jawab Rafka. Dia yang menginginkan pernikahan ini, jadi dialah yang harus mengurusnya. Itu yang aku katakan padanya saat dia menanyakan seperti apa konsep pernikahan yang ku inginkan.
Aku keterlaluan? Biarkan saja. Sudah aku katakan bahwa aku telah menghapus keinginanku untuk menikah hingga usiaku 30 tahun. Sementara saat ini, aku baru berusia 21 tahun. So, jangan salahkan aku jika aku bersikap seperti ini.
Aku kembali memperhatikan wajahku di depan cermin. Sama sekali tidak ada binar bahagia yang terpancar dari kedua mataku. Aku malah seperti wanita yang dipaksa menikah oleh orangtuanya.
"Kamu cantik sekali, Nak," puji Bu Darmi.
Aku hanya tersenyum ke arah Bu Darmi. Dia lalu memelukku dari belakang. Pelukan hangat seorang ibu yang tidak kudapat dari Mama.
"Den Rafka pasti pangling lihat istrinya secantik ini."
"Ibu terlalu berlebihan," kataku pelan.
Aku hanya berdua di dalam ruangan ini bersama Bu Darmi. Tadinya aku ingin Tante Rina ikut menemaniku, tapi itu tidak mungkin terjadi. Sehingga aku hanya berdua bersama Bu Darmi di ruangan ini, menunggu sampai ijab kabul selesai dilaksanakan.
"Bu.., Ibu ikut Bia pindah ya.." pintaku. "Bia nggak bisa sendirian tanpa Ibu."
"Gimana sama Tuan dan Nyonya, Nak?"
"Sebenarnya Bia udah minta ke Mama dan Papa. Mereka ngasi izin Ibu untuk ikut Bia kok. Ibu mau kan?" pintaku memelas.
"Asalkan anak Ibu yang cantik ini tetap tersenyum, Ibu mau ikut kemana pun kamu pergi."
"Yeey.." seruku seperti anak kecil.
Bu Darmi tertawa melihat tingkahku. Hanya ke padanya lah aku bisa bermanja seperti ini. Karena Mama selalu sibuk dengan kegiatannya. Dan Papa yang selalu melimpahkan kasih sayangnya pada Nadhira. Jadilah aku selalu memelas kasih sayang pada Bu Darmi.
"Kamu harus bahagia, Nak. Ibu nggak mau melihat kamu menangis lagi seperti dulu," ujar Bu Darmi.
"Bia bahagia kok, Bu. Bia selalu bahagia selama ada Ibu disisi Bia," kataku setengah berbohong.
Aku jujur mengatakan bahwa aku bahagia bersama Bu Darmi. Tapi pasti akan lebih bahagia jika yang memelukku saat ini adalah Mama. Pasti akan lebih bahagia jika Papa juga bisa menyayangiku seperti menyayangi Nadhira.
Pandanganku beralih ke televisi layar datar yang terhubung ke ruang tempat berlangsungnya akad nikah. Aku bisa melihat dengan jelas Rafka yang duduk berhadapan dengan Papa. Tante Rina duduk dibelakang Rafka didampingi Om Ibra di sebelahnya. Sementara Papa duduk bersebelahan dengan... Mas Rayyan. Andai Mas Rayyan yang duduk di hadapan Papa saat ini, pasti perasaanku sangat bahagia saat ini.
"Saya terima nikah dan kawinnya Calista Sabria Halim binti Agustian Halim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." ucap Rafka dengan lantang dan dengan satu tarikan nafas.
Saat para saksi mengucapkan kata 'sah', Bu Darmi langsung memelukku dengan begitu eratnya. "Selamat ya, Bia.."
Ada rasa haru yang tiba-tiba muncul saat aku mendengar Rafka mengucapkan kalimat sakral tersebut dengan begitu lantangnya. Aku merasa.. entahlah. Aku juga bingung mendeskripsikan perasaanku saat ini. Antara senang dan haru yang bercampur menjadi satu. Tapi senang karena apa?
Pintu ruanganku terbuka, menampilkan Mama yang tersenyum ke arahku. "Ayo, Calista. Kita temui suamimu."
Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban pada Mama. Bu Darmi berjalan di belakangku membiarkan Mama mengambil posisi di sampingku. Aku sempat tertegun saat Mama merangkulku, bahkan aku sampai menundukkan kepala. Hal yang sama sekali tidak pernah ku lakukan, karena selama ini aku selalu berjalan dengan begitu angkuhnya.
Aku masih menundukkam kepala saat tiba di tempat diadakannya prosesi akad nikah tadi. Mama menuntunku untuk duduk di sebelah Rafka. Setelah itu, Rafka mengambil sebuah cincin dan menyematkannya di jariku. Aku lalu mencium punggung tangannya sesuai instruksi yang disampaikan Tante Rina. Lalu Rafka mencium keningku cukup lama yang membuatku sempat membeku karena ciumannya.
Setelah itu, kami diharuskan menandatangani beberapa berkas yang tidak ku ketahui apa isinya.
"You look so beautiful, My Wife," bisik Rafka di telingaku. Aku lalu mendongak melihat dia yang tersenyum penuh arti. Aku jelas sangat-sangat tahu apa maksud tersembunyi dibalik senyuman mautnya.
Baiklah suamiku, tunggu kejutan apa yang akan kuberikan malam ini..