"Gedungnya udah gue reservasi, Raf. Apa lagi yang harus gue kerjain?" tanya Bayu tak ikhlas.
Jelas saja Bayu melakukan semua perintahku dengan setengah hati, aku mengancamnya jika dia tidak bersedia membantu persiapan pernikahanku. Aku akan memindahkannya ke kantor cabang yang ada di Samarinda.
Sebenarnya aku tau kalau Bayu sedang melancarkan aksi pendekatannya dengan sekretarisku yang menurut Bayu 'cantik' itu. Kalau menurutku sih biasa aja. Masih jauh lebih cantik calon istriku lah.
Yap, calon istri. Sebentar lagi Calista benar-benar akan menjadi milikku. Tapi sayangnya, kami sedang dalam masa pingitan saat ini. Tahu tuh si Mama, ngapain sih pake acara pingit-pingitan nggak jelas kayak begini.
"Mm.., sepertinya belum ada lagi deh, Bro. Lo bisa balik kerja sekarang."
Bukannya menurut, Bayu malah menghempaskan tubuh kekarnya ke sofa.
"Lo yang mau nikah, malah gue yang repot. Nyesel gue ngasi ide itu ke elo," gerutunya.
Nah, inilah yang paling tidak kusukai dari sohib ku yang satu ini. Suka banget ngungkit jasanya yang sudah memberiku ide untuk bisa mendapatkan Calista.
"Nggak ikhlas banget sih lo sama gue, Bay.. Gue mutasi beneran lo ke Samarinda kalau kayak gini," ancamku.
"Nggak pake ngancam juga kali, Raf.." katanya agak memelas.
Sebenarnya tidak mungkin aku mengirim Bayu ke Samarinda. Bayu itu sahabatku satu-satunya sejak SD. Dia selalu ada saat aku butuh bantuan. Bahkan hanya dia yang tahu apa yang aku alami setahun lalu.
"Gue heran sama lo, Raf. Setahu gue ya, seburuk-buruknya laki-laki, dia pasti nyari istri yang baik-baik. Karena istri bukan cuma untuk dijadikan pemuas nafsu lo, tapi juga yang bakal mengandung keturunan lo dan menemani lo sampai akhir hayat nanti."
Aku mendelik tak suka saat Bayu mengatakan 'pemuas nafsu'. Dikiranya aku ini hewan apa?
"Atau jangan-jangan lo cuma jadiin Calista pelarian lo doang? Kali aja lo masih cinta sama Tamara. Entar pas Tamara muncul lagi, lo balik deh sama.. Aaww.. Rafka.."
Aku melemparnya dengan sebuah kamus tebal. "Lo emang nggak becus jadi sahabat gue. Lo yang nyuruh gue move on dari dia, malah lo yang ngingatin gue lagi tentang dia."
"Bener kan lo masih cinta sama Tamara? Percaya deh gue sama istilah 'first love never die'."
First love never die? Itu istilah t***l yang sayangnya memang pernah kualami dulu.
Tamara Arfania Haidar, dia cinta pertamaku. Aku mengenalnya saat SMA. Dia pribadi yang menyenangkan, dia bahkan mudah akrab dengan Mama. Tapi Mama hanya mengenal Tamara sebagai teman sekelasku, karena kami memang baru berpacaran saat semester akhir sekolah.
Aku mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Ku akui aku termasuk tipe pria posesif dan mudah terpancing emosi. Karena dua hal itulah yang membuat hubunganku dan Tamara berakhir di tengah jalan.
Dia memilih kuliah di luar negeri dan aku tidak mengizinkannya waktu itu. Aku tidak bisa menjalani hubungan LDR. Aku tidak percaya dia akan tetap setia saat berada jauh dari pandanganku.
Tapi dia terlalu keras kepala yang akhirnya memicu pertengkaran hebat di antara kami. Dia akhirnya lebih memilih mewujudkan mimpinya dengan meneruskan kuliah di luar negeri.
Putus cinta darinya yang membuatku berubah menjadi seorang playboy. Aku pacaran dengan banyak wanita sejak kepergian Tamara. Tapi seperti yang pernah aku katakan, aku ini playboy setia. Aku hanya bersama satu wanita saat menjalin satu hubungan. Saat sudah merasa bosan, aku memutuskan pacarku saat itu dan langsung mencari pacar baru.
Empat tahun kemudian, tepatnya setelah aku berhasil meraih gelar sarjana, Tamara kembali ke Indonesia. Dia meminta maaf padaku dan kami kembali bersama.
Aku seakan kembali ke masa SMA saat bersama Tamara. Dia selalu memberiku kenyamanan saat bersamanya. Dia kembali mewarnai hari-hariku yang sempat gelap gulita karena kepergiannya.
Dan setahun lalu, aku melihat dia..
Drrt drrt drrt..
Aku menatap layar ponselku dan melihat ada satu pesan yang masuk dari Mama.
Mama : Hari ini fitting terakhir kamu. Jangan sampai kelupaan. Oh iya, nanti sore Mama sama Papa mau jemput Oma di bandara. Kamu nggak mau ikutan jemput? Pasti nanti Oma bakal nanyain kamu deh. Kamu ikut aja ya, Rafka. Kasihan kan Oma, jauh-jauh datang dari Medan tapi nggak lihat cucu satu-satunya ikut jemput ke bandara. Kamu ikut ya, Raf.. Ya..ya..ya..
Itu isi sms dari Mama loh. Beneran sepanjang itu. Mamaku memang super ajaib, nggak tahu deh sebenarnya Mama mau ngingatin aku untuk fitting terakhir atau memintaku untuk ikut menjemput nenek dari pihak Mama yang datang jauh-jauh dari tanah batak itu untuk menghadiri resepsi pernikahanku.
Aku langsung bangkit dari kursiku dan menyambar jas yang tersampir di sisi kursi kebesaranku.
"Mau ke mana lo, Raf?" tanya Bayu.
"Butik, fitting terakhir," jawabku cepat.
"Rafka.."
Aku membalikkan badan dan menatap Bayu. Ada yang ingin disampaikannya tetapi dia terlihat ragu untuk mengatakannya. "Lo mau ngomong apa sih? Cepat nggak, gue rada sibuk hari ini."
"Minggu lalu gue ke Berlin."
Yaelah.., kalau hal itu mah orang-orang di kantor pada tahu semua.
"Iya gue tahu. Udah kan? Lo cuma mau bilang itu doang. Gue buru-buru banget nih, Bro."
Aku sudah bersiap membuka pintu, namun ucapan Bayu sukses membekukan tubuhku. "Gue jumpa Tamara di sana. Dan dia.. bersama seorang bayi."
Tubuhku melemah mendengar kalimat terakhir yang disampaikan Bayu. Berbagai pertanyaan seketika muncul di benakku.
Tamara dengan seorang bayi? Dia sudah menikah? Secepat itukah dia melupakanku? Tapi tunggu. Bayi?
"Lo sempat ngobrol sama dia?" tanyaku pada akhirnya
"Dia langsung kabur waktu gue sapa. Gue kehilangan jejak dia karena ditegur pelayan kafe. Gue disangka mau kabur tanpa bayar bill-nya."
"Tapi.. Bayi, Bay?"
"Iya, dia bawa stroller waktu itu. Cuma berdua sama bayinya. Gue nggak lihat siapa suaminya."
Sepertinya Bayu tidak mengerti dengan pertanyaanku tadi. Dia terus mengoceh tentang usahanya yang mencoba mengejar Tamara. Bayu sama sekali belum menyadari perubahan sikapku.
Bayi? Apa mungkin?
Tidak.. Tidak.. Saat itu jelas-jelas aku melihatnya bersama pria lain. Jadi tidak mungkin kan kalau..
Drrt..drrt..drrt..
Aku seperti ditarik ke alam nyata saat merasakan getar dari ponsel canggihku.
Panggilan dari Mama.
"Ya, Ma," jawabku setengah sadar.
"Kamu di mana hah? Ini Mama dari tadi nungguin kamu di butik. Setahu Mama jarak dari kantor kamu ke butik ini nggak jauh. Sepuluh menit udah nyampe. Lah ini Mama nungguin kamu udah setengah jam lebih. Mama tadi nyuruh kamu fitting apa jemput Oma-mu ke Bandara. Kan udah Mama bilang kalau Oma nyampenya sore, bukan seka-"
"Iya, ini Rafka lagi di jalan, Ma," potongku.
Aku mematikan sambungan telepon secara sepihak. Mama pasti mengumpat kesal di seberang sana. Biarlah, otakku sudah terlalu pusing memikirkan Tamara saat ini, jadi aku tidak mau bertambah pusing mendengar ocehan Mama di telepon.
"Gue cabut sekarang.." kataku pada Bayu.
"Bentar, Raf," tahannya. "Lo nggak akan mengubah keputusan lo karena Tamara kan?"
"Kalau itu yang lo harapkan, sorry aja, gue nggak bakal mundur dan mengubah keputusan gue menikah dengan Calista," tegasku.
"Ck, lo kira gue mau ngerebut Calista dari lo apa? Makasih banyak deh, Bro. Celine jauh lebih baik dari Calista dari sudut manapun. Gue cuma takut suatu hari nanti lo nyesal dan ninggalin Calista gitu aja.
Gue tahu lo masih cinta dan masih ngarep si Tamara balik lagi ke lo. Tapi lo harus sadar, Raf. Tamara udah menemukan kebahagiaannya sendiri. Jadi udah saatnya lo juga mencari kebahagiaan lo. Bersama Calista mungkin."
Aku tak lagi menghiraukan Bayu dan segera keluar dari ruanganku. Bayu memang berniat baik dengan memperingatiku seperti itu. Tapi sejujurnya itu malah membuatku bimbang. Bagaimana kalau memang nantinya Tamara akan kembali muncul saat aku sudah bersama Calista? Apa aku akan kembali bersamanya dan meninggalkan Calista begitu saja. Mengingat bahwa aku dan Calista menikah bukan atas dasar cinta.
***
Kalian tahu gimana gugupnya aku saat ini? Oh God, aku sudah seperti seorang pidana yang menunggu keputusan hakim. Ah tidak, bahkan jauh lebih gugup dibanding itu.
Aku bisa melihat kegembiraan yang terpancar dari mata indah Mama, begitu juga dengan Papa yang tak kalah bahagianya. Mereka tidak tahu aku begitu tegang dan gugup saat ini.
Papa menghampiriku dan menepuk pundakku pelan. "Gugup?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Papa.
"Tenangkan hati kamu dan yakinlah bahwa semua pasti berjalan lancar. Jangan terlalu gugup seperti itu. Kamu kayak yang mau dieksekusi mati aja," canda Papa.
"Rafka takut, Pa."
"Coba kamu istighfar dalam hati. Mudah-mudahan perasaan kamu jadi lebih tenang. Papa juga pernah ada di posisi kamu. Papa juga gugup sebelum menikah dengan Mama. Kamu tahu sendiri lah gimana galaknya Opa kamu itu." Papa kembali menepuk pundakku. "Sepertinya penghulunya sudah tiba."
Aku mengangguk dan bangkit dari kursiku. Kami lalu masuk ke ruangan yang sudah disiapkan sebagai tempat berlangsungnya akad nikah. Aku sengaja tidak ingin akad nikah diadakan di rumah Calista. Supaya tidak perlu repot berangkat menuju gedung resepsi.
Aku melakukan apa yang disarankan Papa. Ber-istighfar dalam hati sebanyak-banyaknya. Ternyata cukup manjur, karena aku sudah merasa lebih tenang saat ini. Pak Tua, eh maksudku Pak Halim sudah duduk di hadapanku saat ini. Tidak ada tatapan penuh intimidasi terhadapku yang dipancarkannya. Dia terlihat begitu santai menghadapiku. Padahal dia akan menyerahkan putri keduanya padaku, tapi sikapnya seolah tidak terjadi apa-apa. Ayah seperti apakah pria di hadapanku ini?
Bodo amat lah, yang penting hari ini Calista resmi jadi milikku. Dan pria tua di hadapanku ini, tidak perlu berulang kali datang ke kantorku hanya untuk mengajakku bekerja sama.
Ya walau setelah ini dia malah menjadi ayah mertuaku.
"Saudara Rafka Kalandra Lazuardy, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Calista Sabria Halim binti Agustian Halim dengan mas kawin seperangkat alat shalat, perhiasan seberat 99 gram dan uang tunai sebesar sembilan puluh sembilan ribu rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Calista Sabria Halim binti Agustian Halim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawabku lantang dan penuh keyakinan.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah.."
Aku pun ikut mengucap syukur setelah selesai melaksanakan ijab kabul. Perasaanku ikut tenang saat ini. Tinggal menunggu istri cantikku menampakkan wajahnya saja.
Sebenarnya aku cukup bingung dengan permintaan mahar dari Calista. Bukan karna perhiasan yang dimintanya, tapi angka yang dimintanya. Kenapa harus 99?
Perhiasan yang dimintanya harus 99 gram. Oke itu bukan masalah besar untukku. Emas 10 kg pun akan kuberi jika itu yang diminta Calista.
Tapi uang tunai Rp. 99.000,- ? Untuk apa coba? Kenapa nggak 99 juta aja? Toh jikapun dia meminta sebanyak itu, aku akan dengan ikhlas memberikannya.
Aku pasti akan menanyakannya nanti pada Calista.
Dan wanita yang kutunggu-tunggu dari tadi tiba. Dia berjalan bersama Mamanya dan diikuti Bi Darmi dari belakang. Wanita yang kini telah resmi menjadi istriku itu berjalan sambil menundukkan kepalanya. Hal yang cukup aneh karena biasanya dia selalu berjalan dengan begitu angkuh dan penuh percaya diri.
Apa Calista malu bertemu denganku? Sangat tidak mungkin.
Aku memperhatikan kebaya putih yang dipakainya. Aku menyukai kebaya pilihannya. Sangat menyukainya. Karena kebaya yang dipakai Calista saat ini, masuk dalam kategori sopan menurutku. Panjang dan tertutup. Sederhana dan tidak terlihat berlebihan. Sangat mencerminkan seperti apa kepribadian Calista yang sebenarnya.
Aku memang tidak mengetahui bagaimana bentuk gaun yang akan dipakai Calista saat pernikahan kami. Karena jadwal kami yang bertabrakan, kami tidak pernah melakukan fitting bersama. Dan Calista sangat melarangku untuk melihat design gaun dan kebaya yang akan dia pakai hari ini. Aku sempat berpikir Calista akan memakai kebaya yang cukup terbuka seperti saat pertunangan kami dulu. Tapi ternyata tidak demikian. Calista sepertinya mulai mengerti bahwa aku tidak menyukai dia berpakaian menantang di depan umum.
Calista sudah duduk di sampingku. Namun dia masih menundukkan kepalanya. Dia cantik, sangat-sangat cantik. Aku bahkan tak bisa berhenti memperhatikannya sejak dia hadir di ruangan ini. Mama lalu menyodorkan kotak cincin padaku.
Aku memasangkan cincin bagian Calista ke jari manisnya. Dia pun melakukan hal yang sama dengan memakaikan cincin pada jari manisku.
Setelah saling bertukar cincin, Calista mengambil tanganku dan menciumnya.
Ah.., manisnya istri cantikku ini.
Aku membalasnya dengan mencium keningnya cukup lama. Tubuhnya membeku, aku tau itu. Mungkin ini pertama kalinya dia melakukan skinship dengan seorang pria.
Betapa beruntungnya aku..
Setelah proses bertukar cincin, aku menyerahkan sekotak perhiasan yang diminta Calista sebagai mahar. Apa isinya? Cukup kami berdua yang tahu.
Aku jadi tidak sabar untuk melakukan 'sesuatu' malam ini. Well, she is my wife. Tidak salah kan aku menuntut 'hakku' malam ini? Toh dia nggak mungkin menolaknya karena aku sudah resmi menjadi suaminya.
"You look so beautiful, My Wife," bisikku di telinganya. Dia lalu mendongak dan menatapku. Aku pun tersenyum menyiratkan keinginanku untuk melakukan 'itu' padanya malam ini. Kalau kata orang namanya 'senyum penuh arti'.
Awalnya dia agak terkejut, tapi berikutnya dia ikut tersenyum membalasku. "I also can't wait, My Husband," katanya sambil tersenyum mengejek.
O..ow.. Aku mencium sesuatu yang tidak enak dari nada bicara Calista. Apakah? Ah.., tidak tidak.. Jangan sampai itu terjadi. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Pokoknya malam ini Calista harus benar-benar menjadi milikku. Titik.
***
APA-APAAN INI?
Ya Tuhan.. Bagaimana bisa Calista memilih gaun tak layak pakai seperti itu. Apa Calista memang sengaja memancing emosiku?
Ya Tuhan.. Apa salahku sehingga bisa memiliki istri seperti Calista? Aku tidak pernah melawan Mama. Aku tidak pernah melakukan tindak pidana apapun selama 25 tahun hidupku. Lalu kenapa aku bisa memiliki istri seperti Calista?
Kau yang memilihnya, Rafka..
Oke, lupakan fakta tersebut.
Lihat, bagaimana dengan santainya Calista berjalan dengan senyum kemenangan ke arahku. Dia pasti tahu kalau aku sangat amat tidak menyukai gaun itu. Percuma aku membayar mahal-mahal gaun itu jika ternyata designer-nya tidak cerdas dengan membiarkan belahan d**a Calista terekspos di depan umum seperti itu.
"What happen, Hubby?" tanya Calista pura-pura polos.
Hubby katanya? Sejak kapan pula Calista bersedia memanggilku dengan panggilan manja seperti itu? Apalagi tujuannya jika bukan karena ingin memancing emosiku.
Dan kau sudah berhasil, istriku..
"Anda nggak suka gaunnya, ya? Bagus kok. Saya suka."
Sebisa mungkin aku menahan emosiku melihat Calista yang kembali berbicara dengan tampang polosnya. Jika bukan karena hari ini adalah hari pernikahanku dan Calista, sudah dipastikan aku akan menyeretnya ke sebuah ruangan dan meluapkan semua emosiku.
"Bahannya tebal, panjang, dan tidak transparan. Saya sangat menyukainya. Makasih ya sudah merekomendasikan butik tersebut pada saya. Sepertinya saya bisa menjadikannya salah satu designer pribadi saya."
Aku memilih bungkam. Tidak ada satupun kalimat Calista yang kujawab. Karena takutnya, aku tidak lagi bisa menahan emosi saat membiarkan mulutku terbuka untuk menanggapi semua ucapan Calista.
Pemilik butik yang dengan bodohnya men-design gaun sialan itu masih berkerabat dengan kami. Tante Revi, pemilik butik sekaligus designer yang dipuji Calista merupakan sepupu jauh Mama. Kata Mama, lebih baik menggunakan jasa keluarga sendiri daripada harus ke butik lain. Selain harga bisa lebih miring, menambah pundi-pundi rupiah ke dalam rekening saudara sendiri lebih baik daripada ke rekening orang lain.
Dan dengan bodohnya aku mengiyakan saja ucapan Mama. Karena kalau tahu hasilnya seperti ini, aku lebih memilih membawa Calista ke butik yang menjual pakaian syar'i di dekat kantorku.
Pantas saja Calista tak pernah membiarkanku mengintip design gaun pengantin yang akan dia pakai saat resepsi. Ternyata ini yang dia sembunyikan.
"Kenapa jadi diam begini sih? Bukannya anda yang sangat ingin menikahi saya? Kenapa sekarang justru anda yang mendiamkan saya? Saya salah ya?" tanyanya pura-pura bodoh.
Bodo amat lah..
Terserah Calista mau mengatakan apa. Tapi lihat saja nanti. Saat acara ini selesai, aku akan membungkam bibir manisnya itu supaya dia berhenti mengatakan hal-hal yang selalu menaikkan emosiku.
Lihat saja nanti, istriku.. Hukuman apa yang akan kau terima dari 'hubby' mu ini.