Seminggu setelah pindah, pada Sabtu pagi pukul setengah sembilan, sebuah mobil berhenti di depan pagar.
Iris sedang di dapur, menyuapkan bubur ke mulut Aurora yang lebih tertarik menepuk-nepuk mangkuk. Ia mendengar bunyi kunci beradu dengan lubangnya. Sekali. Dua kali. Lalu ketukan yang makin keras.
Regina berdiri di teras dengan kunci di tangan dan wajah yang tidak bisa memutuskan antara heran dan tersinggung.
"Kuncinya rusak," katanya begitu pintu dibuka.
"Kuncinya diganti, Ma," kata Gavin dari belakang Iris.
Hening tiga detik.
Regina mengangkat kunci itu ke depan wajah putranya, kunci yang ia ambil dari meja ruang tengah pada hari pindahan, ketika kotak-kotak masih berserakan dan tidak ada yang sempat memperhatikan.
"Jadi ini apa?"
"Itu kunci lama. Aku ganti semua silinder hari Rabu." Gavin bicara datar, tanpa minta maaf, dan Iris tahu betapa mahal harga ketenangan itu untuk suaminya. "Cadangannya cuma satu. Di Minah, karena dia yang paling pagi datang."
Regina masuk tanpa dipersilakan, meletakkan tasnya di kursi, dan menoleh ke Iris dengan tatapan yang sudah dikenal Iris sejak hari pertama menikah.
"Ini idemu."
"Kami membicarakannya berdua," kata Iris.
"Kamu sengaja. Kamu tidak mau aku dekat dengan cucuku."
"Bukan begitu, Ma."
"Lalu apa? Aku ibunya Gavin. Aku neneknya Aurora. Sejak kapan aku harus izin masuk rumah keluargaku sendiri?"
Gavin melangkah maju dan berdiri di samping Iris, bukan di antara mereka berdua.
"Rumah ini milik kami berdua," katanya. "Keputusan ini juga milik kami berdua. Jangan dibebankan ke Iris saja, Ma, karena kalau Mama marah, marahnya ke aku juga."
Aurora memilih saat itu untuk menjatuhkan sendoknya, dan bunyi logam di lantai memecah ketegangan selama beberapa detik.
Iris mengambil sendok itu, mencucinya, lalu kembali sambil menarik napas.
"Ma, saya punya usul."
Ia menawarkan sesuatu yang sudah ia siapkan jauh sebelum pagi ini: jadwal kunjungan yang jelas. Selasa dan Sabtu, pagi atau sore, mana pun yang Regina mau. Bisa ditambah kapan saja asal mengabari sehari sebelumnya. Kalau ingin membawa Aurora keluar rumah, harus dibicarakan dulu.
"Bukan supaya Mama jauh," kata Iris. "Supaya kami tahu dan bisa menyiapkan Aurora. Kalau dia baru bangun tidur, dia rewel dan Mama yang repot."
Regina justru berdiri.
"Kamu mengatur aku seperti mengatur karyawan."
"Saya mengatur rumah saya."
"Tiffany tidak pernah begini." Suara Regina naik. "Tiffany dulu tidak pernah membuat aku merasa seperti tamu."
Kebetulan yang paling tidak diduga menyelamatkan pagi itu. Pintu depan terbuka lagi, dan Tiffany masuk membawa map berisi dokumen kerja sama yayasan yang harus ditandatangani Iris, setelah mengirim pesan tiga puluh menit sebelumnya.
Ia mendengar kalimat terakhir ibunya dan berhenti di ambang pintu.
"Ma," katanya pelan.
Regina menoleh, dan wajahnya sempat melunak, seolah akhirnya ada yang akan membelanya.
"Itulah masalah kita, Ma. Kita menganggap batas sebagai penolakan."
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada apa pun yang bisa dikatakan Iris atau Gavin.
"Kamu juga?"
"Aku paling parah." Tiffany meletakkan mapnya di meja. "Aku dulu masuk ke hidup orang tanpa mengetuk, dan aku pikir itu bukti sayang. Aku hampir menghancurkan semuanya dengan pikiran itu."
Regina mengambil tasnya dan pergi tanpa pamit. Mobilnya keluar dari pagar dengan bunyi ban yang terlalu keras untuk kompleks perumahan pada Sabtu pagi.
Gavin hendak mengejar. Iris menahan lengannya.
"Biarkan dulu."
"Dia ibuku."
"Dan dia perlu waktu untuk marah. Kalau kamu kejar sekarang, dia belajar bahwa cukup pergi dengan keras dan kita akan menyerah."
Dua hari berlalu tanpa kabar. Gavin memeriksa ponselnya lebih sering daripada biasanya, walaupun tidak mengatakan apa-apa.
Malamnya Iris sendiri sempat goyah. Ia berbaring memandangi langit-langit dan menghitung ulang seluruh percakapan Sabtu pagi itu, mencari bagian yang mungkin ia ucapkan terlalu keras.
"Aku kejam, ya?" tanyanya.
"Tidak," jawab Gavin di kegelapan. "Kamu cuma yang pertama berani bilang tidak ke ibuku. Aku tiga puluh empat tahun tidak berani."
"Kalau dia tidak menghubungi kita lagi?"
"Berarti itu pilihan dia, bukan pilihanmu."
Lalu pada Senin malam, sebuah pesan masuk ke ponsel Iris.
Apakah Mama boleh datang hari Selasa jam sepuluh?
Iris membaca pesan itu tiga kali. Sepuluh kata, tanpa tanda seru, tanpa keluhan. Dari Regina, itu setara perjanjian damai yang ditandatangani di atas kertas bermaterai.
Ia membalas dalam sepuluh detik. Silakan, Ma. Aurora bangun jam delapan, jadi jam sepuluh dia sedang paling ceria.
Regina datang Selasa pukul sepuluh lewat dua menit, dengan sopir yang harus mengangkut empat kantong besar berisi mainan. Boneka setinggi Aurora. Sepeda dorong yang ukurannya masih jauh terlalu besar. Satu set balok kayu yang jumlahnya cukup untuk membangun kompleks perumahan kecil.
"Ma, ini terlalu banyak."
"Aku sudah dua hari tidak melihatnya."
Iris memutuskan tidak berdebat soal mainan. Ada pertempuran yang tidak perlu dimenangkan.
Sepanjang pagi itu Regina menggendong cucunya, menyanyi dengan suara sumbang, dan menertawakan cara Aurora memasukkan balok ke dalam mulut.
Lalu ia melihat Iris mengangkat Aurora dari lantai.
"Jangan begitu," katanya cepat. "Lehernya. Kamu harus menopang lehernya, nanti dia—"
Regina berhenti.
Iris menunggu, siap dengan jawaban yang sudah tersusun di kepalanya.
Jawaban itu tidak jadi dipakai.
"Maaf," kata Regina. "Lehernya sudah kuat dari dulu. Aku masih berpikir dia bayi merah."
Iris hanya mengangguk, dan mereka melanjutkan pagi itu seolah tidak ada apa-apa, walaupun keduanya tahu sesuatu baru saja bergeser sedikit.
Menjelang pulang, Regina berdiri di dekat pintu, membenarkan tali tasnya berkali-kali.
"Iris."
"Ya, Ma?"
"Mama minta maaf soal hari Sabtu." Kalimatnya keluar kaku, seperti bahasa asing yang dihafal semalam. "Mama hanya takut tidak dibutuhkan lagi."
Iris berdiri diam sebentar. Ia memahami rasa takut itu, sungguh memahaminya. Ia tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang dulu mengatur seluruh isi rumah, lalu tiba-tiba tidak punya tempat di rumah yang sama.
Tetapi memahami bukan berarti menyerahkan kembali kuncinya.
"Aurora butuh neneknya, Ma," katanya. "Dia cuma tidak butuh neneknya punya kunci."
Regina tertawa pendek, bunyi yang lebih mirip embusan napas.
"Kamu keras kepala."
"Saya belajar dari keluarga ini."
Menjadi nenek tidak berarti kehilangan tempat hanya karena harus mengetuk pintu. Itu yang ingin Iris katakan, tetapi ia menyimpannya, karena beberapa hal lebih baik dibuktikan daripada diucapkan.
Regina tidak memperoleh kunci cadangan. Ia mendapat kesempatan membangun hubungan berdasarkan izin, bukan hak yang diasumsikan.