Undangan itu datang lewat pesan singkat, bukan lewat sekretaris, bukan pula lewat kalender bersama yang biasa mereka pakai untuk mengatur hidup.
Vila. Dua minggu. Kita, Aurora, dan siapa pun yang kamu mau bawa.
Iris membaca pesan itu tiga kali. Nama tempatnya tidak ditulis, tetapi ia tahu persis vila mana yang dimaksud. Ada tempat-tempat yang tidak perlu disebut namanya untuk membuat dada seseorang mengetat.
Ia mengetik tidak, lalu menghapusnya. Mengetik nanti kita bicara, lalu menghapusnya juga.
Akhirnya ia hanya menulis, Aku ikut.
Gavin tidak menelepon untuk memastikan. Itu salah satu hal yang berubah di antara mereka. Dahulu lelaki itu akan mengulang pertanyaan sampai Iris menyerah. Sekarang ia membiarkan jawaban Iris berdiri sendiri.
"Kamu yakin?" tanya Gavin malamnya, ketika mereka melipat baju Aurora di ruang tengah.
"Tidak," jawab Iris jujur. "Tapi aku tidak mau seumur hidup menghindari satu titik di peta."
Gavin melipat kaus kecil bergambar beruang dengan kaku, cara melipat seorang lelaki yang baru belajar tiga tahun terakhir.
"Kalau di sana kamu berubah pikiran, kita pulang. Tidak usah pakai alasan."
"Aku pegang kata-katamu."
Minah ikut. Perempuan itu menolak dibelikan koper baru dan tetap memakai tas kainnya yang sudah menghitam di sudut-sudutnya.
Yang mengejutkan Gavin adalah permintaan Iris soal kamar.
"Minah jangan ditaruh di sebelah kamar kita," kata Iris. "Taruh di sayap satunya."
"Kenapa? Kalau Aurora bangun malam—"
"Justru itu." Iris menarik napas. "Dulu setiap aku takut di rumah itu, aku lari ke kamar Minah dan tidur di lantai sampai pagi. Aku tidak mau punya pintu pelarian lagi. Kalau aku takut, aku mau takutnya di kamar kita, sama kamu."
Gavin menatapnya lama, lalu mengangguk.
"Baik. Sayap timur."
Danau Como tampak sama.
Air yang sama hijaunya, gunung yang sama birunya, dermaga kayu yang sama berdecitnya ketika diinjak. Bahkan bau vila itu tidak berubah: kayu tua, lavender kering, dan sedikit lembap dari tembok yang terlalu dekat dengan air.
Yang berbeda hanya perasaan Iris.
Dahulu ia berdiri di teras ini dengan gaun mahal dan hati yang remuk, menghitung berapa lama lagi ia sanggup berpura-pura. Sekarang ia berdiri dengan celana longgar, rambut diikat asal, dan seorang anak perempuan yang menarik-narik ujung bajunya sambil menunjuk ke air.
"Mama! Itu!"
"Iya, Sayang. Itu bebek."
"Banyak!"
"Banyak sekali."
Elena keluar dari pintu dapur sambil mengelap tangan ke celemek. Perempuan tua itu berhenti di tengah jalan setapak ketika melihat Aurora, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Air matanya jatuh sebelum ia sempat berkata apa pun.
"Aurora, ini Nonna Elena," kata Gavin. Suaranya serak. "Dia yang dulu masak untuk Papa waktu Papa kecil."
Aurora bersembunyi di balik kaki Iris, mengintip dengan satu mata.
Elena berlutut dengan susah payah, lututnya berbunyi. Ia tidak memaksa memeluk. Ia hanya membuka telapak tangannya dan menunggu.
Butuh tiga menit sebelum Aurora meletakkan tangan mungilnya di sana.
Sore itu Elena menunjukkan sesuatu di belakang vila. Sepetak tanah yang dahulu kosong kini penuh lavender dan mawar kecil berwarna putih, dipagari batu-batu sungai yang disusun rapi.
"Untuk Nyonya Sofia," katanya. "Dan Tuan Carlo."
Ada dua batu pipih di tengahnya, tanpa ukiran apa pun. Hanya batu.
"Saya tidak tahu boleh atau tidak," lanjut Elena. "Tapi rumah ini terlalu sepi kalau tidak ada yang diingat."
Iris menggenggam siku Gavin. Ia bisa merasakan otot lelaki itu mengeras, lalu perlahan mengendur.
"Terima kasih," kata Gavin. Cuma dua kata. Tapi Elena mengangguk seperti baru mendengar pidato panjang.
Tiffany menyusul dua hari kemudian, datang sendirian dengan kereta lalu taksi air, membawa satu ransel.
Ia datang untuk menghadiri peringatan kematian orang tuanya.
Malam itu mereka makan bersama di meja panjang yang sama dengan meja bertahun-tahun lalu. Iris sempat menahan napas ketika Tiffany duduk. Ia menunggu kecanggungan yang biasa, sindiran halus, pandangan yang terlalu lama tertuju pada Gavin.
Tidak ada.
Tiffany bertanya tentang program After Storm. Gavin bercerita tentang Aurora yang menolak tidur tanpa lampu. Elena mengomel karena tidak ada yang menghabiskan makanannya.
Untuk pertama kalinya mereka berada di vila itu tanpa satu pun kebohongan di antara mereka.
Iris baru menyadarinya ketika mencuci gelas di dapur. Tangannya berhenti di bawah air yang mengalir.
Tidak ada yang disembunyikan malam ini. Tidak satu pun.
Keesokan paginya mereka naik ke pemakaman kecil di bukit. Aurora dititipkan pada Elena.
Gavin meletakkan bunga di makam Sofia, lalu berdiri terlalu lama. Bahunya naik turun dengan cara yang Iris kenal betul: cara seseorang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.
Tiffany berdiri di sampingnya.
"Kak."
Gavin tidak menoleh.
"Kakak sudah menjagaku," kata Tiffany. "Sejak aku kecil. Kakak menjagaku waktu tidak ada satu pun orang dewasa yang meminta Kakak melakukannya."
"Itu memang tugasku."
"Bukan." Suara Tiffany bergetar, tetapi tidak pecah. "Itu beban yang Kakak ambil sendiri karena Kakak pikir kalau Kakak lengah sedikit saja, aku akan hancur. Dan aku memang sempat hancur. Tapi itu bukan karena Kakak lengah."
Gavin menutup matanya.
"Kakak sudah menjagaku. Sekarang biarkan aku menjaga diriku."
Angin naik dari danau, menggoyang rumput di antara batu-batu nisan.
Gavin mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak berkata apa-apa. Tetapi tangannya, yang selama bertahun-tahun selalu terkepal di tempat seperti ini, akhirnya terbuka.
Malamnya Iris berjalan sendirian ke gazebo di tepi air. Lampu taman menyala setengah, membuat kayunya tampak keemasan.
Ia duduk di bangku, lalu jarinya menemukan sesuatu di tepi meja.
Ukiran. Dua huruf. G dan T.
Dahulu, menemukan ini akan membuatnya mual sampai pagi.
Iris menunggu rasa itu datang. Panas di tengkuk, dingin di perut, suara kecil yang berbisik bahwa ia selalu menjadi yang kedua.
Rasa itu tidak datang.
Yang ia lihat hanya goresan pisau lipat yang tidak rapi, dibuat oleh dua anak yang tumbuh bersama di rumah besar tanpa cukup orang dewasa. Dua anak yang menandai kayu supaya merasa punya tempat.
Itu saja. Peninggalan, bukan ancaman.
Ada langkah kaki di belakangnya. Gavin datang membawa dua gelas minuman.
"Kupikir kamu sudah tidur."
"Kupikir juga begitu."
Ia menyerahkan satu gelas, lalu duduk. Matanya jatuh ke ukiran itu, dan Iris melihat lelaki itu menegang.
"Iris—"
"Aku tahu."
"Aku bisa minta tukang datang besok—"
"Jangan." Iris menyesap minumannya. "Biarkan saja."
Gavin diam beberapa saat.
"Apakah tempat ini masih menakutkan?"
"Sedikit." Iris menyandarkan punggungnya. "Tapi aku ingin membuat kenangan baru."
Gavin meletakkan gelasnya, berdiri, lalu mengulurkan tangan.
"Tidak ada musik," kata Iris.
"Tidak ada musik."
Iris menerima tangan itu.
Mereka menari pelan di gazebo, tanpa lagu, tanpa penonton, hanya dengan suara air menampar tiang kayu dan jangkrik di semak-semak. Kaki mereka beberapa kali bertabrakan. Gavin menghitung pelan di dekat telinga Iris, satu-dua-tiga, lalu salah hitung sendiri.
Kemudian terdengar tangis dari arah vila.
Keduanya melepas pegangan di detik yang sama dan berlari menaiki jalan setapak, Iris menjinjing sandalnya, Gavin hampir terpeleset di batu basah. Di tengah tangga mereka saling pandang dan tertawa sampai Iris harus berhenti sambil memegangi perutnya.
Bulan madu yang dahulu gagal akhirnya menemukan bentuknya. Bukan perjalanan sempurna, melainkan sebuah keluarga yang mampu berada di tempat penuh luka tanpa kembali hidup di dalamnya.