Suara itu terdengar dari tangga belakang, pukul enam kurang, ketika Iris sedang menuang kopi.
Bunyi tumpul, lalu bunyi kedua yang lebih pendek, lalu diam.
Diam itulah yang membuat Iris menjatuhkan cangkirnya.
"Minah!"
Perempuan itu tergeletak di anak tangga keempat dari bawah, satu tangan masih memegang keranjang cucian yang isinya berhamburan. Wajahnya pucat. Ia mencoba tersenyum sebelum Iris sampai di sisinya.
"Tidak apa-apa, Nona. Cuma kepeleset."
"Jangan bergerak."
"Cuma kepeleset—"
"Minah." Suara Iris pecah. "Diam. Tolong diam sebentar."
Mereka baru tiga hari pulang dari Italia. Koper Minah bahkan belum sepenuhnya dibongkar.
Di rumah sakit, dokter memasang foto rontgen di layar dan menunjuk dengan pena.
"Lututnya sudah lama bermasalah, Bu. Ini bukan karena jatuh tadi pagi. Jatuh tadi pagi cuma yang membuat ketahuan."
Iris menoleh ke Minah. "Sudah lama?"
Minah memandangi selimutnya.
"Berapa lama?" tanya Iris lagi.
"Dua tahun. Mungkin tiga."
"Tiga tahun kamu naik turun tangga itu tiap hari sambil menggendong Aurora?"
"Anak itu tidak berat, Nona."
Dokter menjelaskan sisanya dengan tenang. Lutut itu perlu operasi. Sesudah operasi pun, Minah tidak boleh lagi bekerja seberat dahulu. Tidak ada lagi mengangkat, berlutut, naik turun tangga puluhan kali sehari.
Iris mendengarkan semuanya sambil menyusun rencana di kepalanya. Ia sudah tahu jawabannya sebelum dokter selesai bicara.
Malamnya, di kamar rawat, Iris duduk di kursi plastik dan menggenggam tangan Minah.
"Aku sudah putuskan," katanya. "Minah pensiun. Gajinya tetap jalan, bukan gaji sebenarnya, tapi ya jangan dipikirkan. Kamarnya kita pindah ke lantai bawah, dekat taman, biar tidak ada tangga. Minah tinggal sama kami. Titik."
Ia sudah menyiapkan argumen untuk setiap penolakan yang mungkin. Soal merepotkan. Soal tidak enak hati. Soal kerja.
Yang tidak ia siapkan adalah kalimat yang keluar dari mulut Minah.
"Saya ingin pulang ke kampung dan membuka warung kecil."
Iris mengerjap.
"Apa?"
"Sudah lama, Nona. Tanahnya ada, kecil, warisan bapak saya. Depannya jalan. Ramai kalau pagi."
"Warung."
"Warung nasi. Soto juga bisa." Minah tersenyum, dan senyum itu bukan senyum yang biasa ia pakai untuk menyenangkan majikan. Senyum itu tampak lebih muda dari usianya. "Saya sudah punya resepnya di kepala, Nona. Sudah dua puluh tahun di kepala."
Iris tidak menjawab.
Ia keluar ruangan, berjalan ke ujung koridor, lalu berdiri menghadap jendela sampai matanya berhenti panas.
Di mobil, ia tidak bicara sepanjang jalan. Gavin membiarkannya sampai mereka masuk garasi.
"Kamu mau cerita?"
"Dia mau pergi."
"Aku dengar."
"Aku sudah menyiapkan kamarnya. Aku sudah menghitung semuanya." Iris menekan pangkal hidungnya. "Aku membayangkan dia yang mengantar Aurora sekolah. Aku membayangkan dia di dapur waktu Aurora pulang bawa rapor. Aku membayangkan dia tua di rumah kita, Gavin. Bukan di warung pinggir jalan."
Gavin mematikan mesin. Ia tidak buru-buru menjawab.
"Kamu membayangkan hidupnya," katanya akhirnya, "atau kamu membayangkan hidupmu yang ada dia di dalamnya?"
Iris menoleh tajam.
"Itu tidak adil."
"Mungkin." Gavin memandang lurus ke depan. "Tapi coba pikirkan. Dia menemanimu sejak kamu kecil. Dia berdiri di sampingmu waktu semua orang lain memilih pergi. Dan selama itu, ada satu pertanyaan yang mungkin tidak pernah ada yang tanyakan ke dia."
"Pertanyaan apa?"
"Sebenarnya kamu mau hidup seperti apa, Minah?"
Iris membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Mencintai dia berarti menghormati pilihannya," lanjut Gavin pelan. "Bukan menahannya supaya kamu merasa aman."
Malam itu Iris tidak bisa tidur. Ia turun ke dapur pukul dua, duduk di kursi yang biasa diduduki Minah saat mengupas bawang, dan menangis tanpa suara supaya tidak membangunkan siapa-siapa.
Dua hari kemudian ia kembali ke rumah sakit membawa map.
"Ini dana pensiun," katanya. "Bukan sedekah. Anggap saja modal warung."
Minah membuka map itu, membaca angkanya, lalu menutupnya kembali dan mendorongnya pelan ke arah Iris.
"Saya ambil hak kerja saya, Nona. Pesangon, gaji yang belum dibayar, itu saja."
"Minah—"
"Kalau saya ambil semua ini, warung itu bukan warung saya." Suaranya tenang. "Nanti tiap ada yang tanya, saya jawab ini dari Nona Iris. Saya sudah dua puluh tahun jadi orangnya Nona. Sekali ini saja, saya mau jadi orang saya sendiri."
Iris menatap map itu lama sekali.
Lalu ia mengangguk, dan menarik map itu kembali.
Larissa yang kemudian turun tangan. Ia datang membawa laptop, duduk di samping tempat tidur Minah, dan menjelaskan hal-hal yang tidak pernah dijelaskan siapa pun kepada perempuan itu: cara memisahkan uang warung dari uang dapur, bunga tabungan, asuransi kesehatan yang menanggung lutut kalau sewaktu-waktu perlu operasi lagi.
"Ini bukan pemberian," kata Larissa ketika Minah mulai gelisah. "Ini uang Bu Minah sendiri, cuma disimpan supaya tidak habis di tahun pertama. Delapan dari sepuluh warung tutup di tahun pertama karena ini, bukan karena masakannya tidak enak."
Minah mengangguk serius, lalu mencatat di buku tulis bergaris.
Hari kepulangan datang pada Minggu pagi yang cerah.
Semua orang menangis. Sopir menangis. Tukang kebun menangis. Iris menangis di kamar mandi selama sepuluh menit lalu keluar dengan wajah dicuci, dan tetap ketahuan.
Aurora yang paling parah. Anak itu memeluk kaki Minah dan tidak mau lepas, sampai harus digendong Gavin, dan tetap meronta sambil memanggil-manggil.
Minah berlutut di depan Iris, meski lututnya jelas tidak mengizinkan.
"Nona harus belajar menjaga diri sendiri," katanya. "Makan yang benar. Jangan tidur jam dua. Kalau marah sama Tuan Gavin, bilang, jangan dipendam sampai sakit perut."
Iris tertawa sambil menangis.
"Aku tidak tahu caranya tanpa kamu."
"Nona sudah bisa dari dulu." Minah menepuk pipinya, satu kali, seperti menepuk anak kecil. "Saya tidak pergi dari hati Nona."
Mobil itu keluar dari gerbang pukul sembilan lewat. Iris berdiri di jalan sampai debunya hilang.
Beberapa bulan kemudian Iris menyetir sendiri ke kampung itu.
Ia sempat kebablasan dua kali karena tidak percaya warungnya sebesar itu. Terpalnya biru, ada spanduk tulisan tangan, dan orang-orang duduk sampai ke bangku panjang di luar. Tukang ojek, anak sekolah, ibu-ibu yang pulang dari pasar.
Di dalam, Minah berdiri di depan panci besar, memegang centong dengan satu tangan dan tongkat dengan tangan lain, meneriakkan pesanan ke arah dapur belakang dengan suara yang tidak pernah Iris dengar selama dua puluh tahun.
Suara orang yang sedang memiliki sesuatu.
Iris duduk di bangku paling ujung dan memesan seperti pembeli biasa. Baru di suapan ketiga Minah menoleh, dan centongnya hampir jatuh.
Mereka berpelukan di antara meja-meja, ditonton seisi warung.
"Enak, Nona?"
"Enak sekali." Iris menyeka sudut matanya. "Kenapa dua puluh tahun aku tidak pernah dimasakin ini?"
"Karena Nona tidak pernah tanya saya bisa masak apa," jawab Minah sambil tertawa.
Kalimat itu ringan. Diucapkan sambil lalu, di antara suara wajan dan klakson di jalan.
Tetapi Iris membawanya pulang sepanjang perjalanan.
Selama ini ia menganggap Minah bagian tetap dari hidupnya, seperti tembok atau lantai, sesuatu yang selalu ada dan tidak perlu ditanyai. Ia tidak pernah sekali pun bertanya kehidupan macam apa yang sebenarnya diinginkan perempuan itu.
Melepaskan bukan berarti kehilangan. Kadang-kadang itu bentuk terima kasih yang paling jujur kepada seseorang yang sudah terlalu lama tinggal demi kita.