Aurora masuk sekolah di usia empat tahun, memakai seragam yang kebesaran dua nomor karena Iris tidak tega membeli ukuran pas.
Hari pertama, anak itu melambai dari pintu kelas tanpa menoleh lagi. Iris yang justru berdiri di parkiran selama dua puluh menit dengan kacamata hitam.
"Dia baik-baik saja," kata Gavin.
"Aku tahu."
"Yang tidak baik-baik saja itu kamu."
"Aku tahu."
Tiga minggu pertama berjalan seperti mimpi. Aurora pulang membawa cerita tentang ikan di akuarium kelas, tentang temannya yang bisa menggambar kucing, tentang guru yang menyanyi sumbang.
Minggu keempat, ia pulang tanpa cerita apa pun.
Iris menyadarinya saat makan malam. Anak itu mengaduk sup tanpa memakannya, dan itu bukan kebiasaannya.
"Aurora, kenapa?"
Aurora meletakkan sendoknya.
"Kata Bilqis, mamanya lihat foto lama."
Iris merasa perutnya jatuh, tapi wajahnya tetap tenang. "Foto apa?"
"Foto Tante Tiffany sama Papa. Dulu banget." Aurora menatap Iris dengan mata yang terlalu serius untuk anak seusianya. "Terus mamanya bilang keluarga kita aneh."
Ruang makan itu mendadak sunyi sekali. Iris bisa mendengar jam dinding.
Gavin meletakkan garpunya sangat pelan, seolah takut suaranya membuat Aurora berhenti bicara.
"Terus Aurora jawab apa?" tanya Iris.
"Aurora enggak jawab." Anak itu menunduk. "Aurora enggak tahu jawabannya."
Kemudian pertanyaan itu datang, polos dan lurus seperti semua pertanyaan anak empat tahun.
"Tante Tiffany dulu mau menikah dengan Papa?"
Iris dan Gavin bertukar pandang. Satu detik. Mungkin dua.
Dalam satu detik itu, mereka berdua memutuskan hal yang sama.
Mereka tidak akan berbohong. Tetapi mereka juga tidak akan meletakkan beban orang dewasa di pundak sekecil itu.
Iris menggeser kursinya, berlutut supaya matanya sejajar dengan mata anaknya.
"Tante Tiffany dulu memiliki perasaan yang membingungkan," katanya. "Kamu tahu kan, kadang kita merasa sesuatu, tapi kita sendiri tidak paham itu apa?"
Aurora mengangguk. "Kayak Aurora waktu mau nangis tapi enggak tahu kenapa."
"Nah, seperti itu. Cuma milik Tante Tiffany lebih besar dan lebih lama." Iris menahan diri untuk tidak meringkas cerita itu jadi baik dan jahat. "Dia membuat kesalahan waktu itu. Kesalahan yang membuat beberapa orang sedih, termasuk Mama. Lalu dia belajar memperbaikinya. Sampai sekarang masih belajar."
"Kesalahannya besar?"
"Besar."
"Tapi Mama sekarang enggak marah?"
"Mama sudah tidak marah. Butuh waktu lama sekali sampai tidak marah."
Aurora memikirkan itu sambil menggoyangkan kakinya di bawah kursi. Lalu ia menoleh ke ayahnya.
"Papa suka Tante?"
Iris menahan napas. Ia tidak menoleh. Ini bukan pertanyaan untuknya.
Gavin menjawab tanpa ragu, dan tanpa buru-buru.
"Papa menyayanginya sebagai adik," katanya. "Dulu waktu Papa kecil, orang tua Tante Tiffany meninggal. Papa janji akan menjaga dia. Papa menjaganya terlalu erat sampai Papa sendiri capek, dan Tante juga jadi bingung. Itu bagian Papa yang salah."
"Sekarang Papa masih jaga?"
"Sekarang Papa sayang dia dari jauh. Itu lebih sehat buat kita semua."
Aurora mengangguk, mengambil sendoknya lagi, dan makan tiga suap berturut-turut.
"Oh. Ya sudah," katanya.
Begitu saja. Anak itu menerima jawabannya dan pindah topik ke ikan di akuarium kelas.
Yang tidak selesai adalah bagian orang dewasanya.
Foto itu beredar di grup pesan orang tua murid. Muncul lagi seminggu kemudian, kali ini dengan tangkapan layar artikel lama. Ada yang menambahkan keterangan. Ada yang menambahkan tanda tanya, yang lebih kejam daripada tuduhan langsung karena tidak bisa dibantah.
Iris membuat janji dengan kepala sekolah pada Senin pagi.
Ia tidak datang sebagai orang tua yang marah. Ia datang membawa map.
"Saya tidak minta Ibu menghukum siapa-siapa," katanya. "Saya tidak minta permintaan maaf pribadi. Saya minta sekolah punya kebijakan tertulis."
"Kebijakan?"
"Kebijakan perundungan yang jelas. Apa yang terjadi kalau anak diejek karena urusan keluarganya. Siapa yang menangani. Berapa lama. Apa akibatnya kalau orang tua yang memulai." Iris mendorong mapnya ke depan. "Ini contoh dari tiga sekolah lain. Kalau tidak tertulis, tahun depan yang kena bukan anak saya, tapi anak orang lain, dan Ibu harus mengulang rapat ini dari nol."
Kepala sekolah membaca map itu selama dua menit penuh, lalu mengangkat teleponnya.
Tiffany menelepon malam harinya. Suaranya datar, dan Iris hafal betul arti suara datar itu.
"Aku sudah lihat grupnya," katanya. "Ada temanku yang anaknya di sana."
"Tiff—"
"Aku mau pindah kota." Kalimat itu keluar cepat, seperti sudah dilatih. "Ada tawaran di Bandung. Pusatnya bisa dipindah, atau aku serahkan ke timku. Kalau aku tidak ada di kota ini, mereka tidak punya bahan. Aurora tidak akan jadi sasaran."
Iris menutup matanya sebentar.
Dahulu, bertahun-tahun lalu, ia pernah mendoakan persis kalimat itu. Tiffany menghilang. Tiffany pergi jauh. Tiffany tidak ada.
Sekarang kalimat itu terdengar salah di telinganya.
"Tidak," kata Iris.
"Iris, ini anakmu—"
"Justru karena ini anakku." Iris berdiri, berjalan ke jendela. "Dengar. Kalau kau pindah, aku mengajari Aurora satu hal: kalau ada orang jahat, yang harus minggir adalah orang yang punya masa lalu. Aku tidak mau dia tumbuh dengan pelajaran itu."
Hening di ujung sana.
"Kau tidak perlu menghilang," lanjut Iris. "Yang harus dihentikan adalah orang dewasa yang memakai masa lalu untuk menyakiti anak."
Tiffany menarik napas panjang, dan suaranya pecah sedikit. "Kenapa kamu membelaku?"
"Aku tidak membelamu," jawab Iris jujur. "Aku membela anakku. Kebetulan saja arahnya sama."
Dua minggu kemudian sekolah mengadakan program pendidikan empati untuk kelas-kelas kecil. Tidak ada satu pun nama keluarga mereka disebut. Materinya umum: tentang cerita orang lain yang tidak kita ketahui seluruhnya, tentang kata-kata yang menempel lebih lama daripada yang kita kira.
Orang tua yang menyebarkan foto itu dipanggil menghadap. Ia datang ke rumah tiga hari kemudian, membawa kue, dan meminta maaf sambil menangis di teras.
Iris menerima permintaan maafnya. Ia tidak menerima kuenya, dan ia juga tidak menyuruhnya merasa lega.
Yang paling mengejutkan justru Aurora.
Anak itu tetap berteman dengan Bilqis. Ia bahkan meminta Bilqis datang ke rumah pada Sabtu.
"Kamu yakin?" tanya Iris hati-hati. "Kamu boleh bilang tidak mau. Mama tidak akan marah."
"Bilqis enggak jahat, Ma." Aurora mengangkat bahu. "Yang ngomong itu mamanya. Bilqis cuma ngulangin. Dia bahkan enggak tahu artinya."
Iris menatap anaknya lama sekali.
Ia memastikan dulu lewat guru bahwa Aurora benar-benar aman di kelas itu, bahwa tidak ada yang berlanjut diam-diam. Sesudah itu, ia membiarkan anaknya memilih.
Malam itu, Iris masuk ke kamar Aurora dan menemukan anak itu tengkurap di lantai dengan krayon berserakan.
"Gambar apa?"
"Keluarga."
Iris berlutut untuk melihat.
Ada dirinya dengan rambut yang digambar terlalu panjang. Ada Gavin dengan kepala yang terlalu besar. Ada Aurora sendiri di tengah, memegang balon. Ada Opa Richard, Oma Regina, Opa Jeffery.
Dan di sisi kanan, ada dua orang lagi.
Satu perempuan dengan rambut panjang dan tulisan TANTE TIFANI.
Satu perempuan bertongkat dengan tulisan MBAH MINAH.
"Kenapa Tante Tiffany ada di situ?"
Aurora mengangkat wajahnya, bingung dengan pertanyaannya sendiri.
"Ya kan dia keluarga."
Iris tidak membetulkan apa pun. Tidak ejaannya, tidak susunannya, tidak juga urutan orangnya.
Masa lalu mereka rumit, berlapis, dan penuh hal yang tidak akan pernah bisa dijelaskan kepada anak empat tahun tanpa merusak sesuatu.
Tetapi bagi Aurora, cinta tidak harus sederhana agar terasa nyata.