Proposal itu masuk lewat surel resmi, ke alamat kemitraan yang dibaca staf magang, dengan lampiran berformat standar dan nomor surat di pojok kanan atas.
Maya yang membawanya ke ruangan Iris sambil mengangkat alis.
"Dari pusat pendampingan Bu Tiffany," katanya. "Lewat jalur umum. Dia tidak menelepon Ibu duluan?"
"Tidak."
"Sama sekali?"
"Sama sekali."
Iris membaca halaman pertama. Pusat itu butuh mitra untuk program keterampilan kerja. Perempuan-perempuan yang mereka dampingi sudah selesai dengan tahap paling gawat, sudah punya tempat tinggal aman, tetapi tidak punya pekerjaan, dan tanpa pekerjaan mereka biasanya kembali ke tempat yang membuat mereka terluka.
"Kita perlakukan seperti proposal lain," kata Iris.
"Ibu yakin? Kalau ditolak nanti canggung."
"Kalau diloloskan karena aku kenal orangnya, itu jauh lebih canggung. Untuk semua orang, termasuk untuk dia."
Tim menilai proposal itu selama tiga minggu.
Ada yang dikembalikan. Bagian anggaran pelatihan dianggap terlalu optimistis. Indikator keberhasilan hanya menghitung jumlah peserta, bukan berapa yang masih bekerja enam bulan kemudian. Tidak ada rencana kalau peserta gagal di tengah jalan.
Tiffany merevisi tanpa protes. Dua kali. Pada revisi ketiga, ia sendiri yang menambahkan satu bagian yang tidak diminta siapa pun: jalur pengaduan kalau peserta merasa tidak nyaman dengan pendampingnya, termasuk kalau pendamping itu dirinya sendiri.
Program disetujui pada revisi keempat.
Hari pembukaan digelar di ruang serbaguna yang catnya masih baru. Kursinya plastik, kipas anginnya berisik, dan di meja belakang ada nasi kotak yang dihitung terlalu pas.
Iris berbicara sepuluh menit tentang program, lalu membuka sesi tanya jawab.
Pertanyaan-pertanyaan awal biasa saja. Soal jadwal, soal sertifikat, soal apakah ada uang transpor.
Lalu seorang perempuan di baris ketiga mengangkat tangan. Usianya mungkin akhir dua puluhan, memakai kerudung abu-abu, dan suaranya kecil tetapi jelas.
"Maaf, Bu. Ini bukan soal program."
"Silakan."
"Saya baca berita lama. Tentang Ibu dan Bu Tiffany." Perempuan itu menelan ludah. "Saya cuma mau tanya. Ibu berdua ini benar-benar bersahabat, atau ini cuma buat acara?"
Ruangan itu menjadi sangat sunyi.
Panitia di samping panggung tampak hendak mengambil alih mikrofon. Iris menggeleng kecil ke arahnya.
Ia tahu kenapa pertanyaan itu ditanyakan. Perempuan-perempuan di ruangan ini sudah terlalu sering dibohongi oleh orang yang tampak baik di depan.
"Kami pernah bersahabat, lalu saling melukai," jawab Iris. "Bukan salah paham kecil. Luka yang sebenarnya, yang butuh bertahun-tahun."
Ia diam sebentar.
"Sekarang kami belajar mengenal lagi dengan jujur. Bukan kembali seperti dulu, karena yang dulu itu memang tidak sehat. Jadi jawabannya, kami bukan sahabat yang seperti di foto. Kami dua orang yang sedang mencoba, dan kami sengaja menaruh aturan tertulis di antara kami supaya kalau kami gagal, yang rugi bukan Ibu-Ibu di ruangan ini."
Tiffany mengambil mikrofon dari sisi panggung. Tangannya sedikit gemetar.
"Saya tambahkan satu hal," katanya. "Saya yang dulu melukai. Bukan dia."
Beberapa orang saling melirik.
"Saya sudah minta maaf. Berkali-kali, bertahun-tahun." Tiffany menatap lurus ke depan. "Tapi yang mau saya sampaikan ke Ibu-Ibu semua, karena ini mungkin lebih berguna daripada cerita saya, adalah ini. Permintaan maaf tidak memberi hak untuk diterima kembali. Kalau ada orang yang menyakiti Ibu lalu minta maaf lalu marah karena Ibu belum mau menerima, itu bukan minta maaf. Itu tagihan."
Perempuan berkerudung abu-abu itu mengangguk pelan, dan duduk kembali.
Sesudah acara, panitia membagikan nasi kotak. Kipas anginnya masih berisik.
Malamnya ada makan malam yang sudah direncanakan tiga bulan sebelumnya dan ditunda dua kali.
Maya, Jane, Ayumi, dan Veronica. Meja panjang di restoran kecil yang sepi pada hari kerja. Iris sengaja memesan tempat di pojok.
Tiffany datang paling awal, dan berdiri sampai semua orang duduk.
Lalu ia minta maaf. Satu per satu, dengan menyebut hal yang ia lakukan, bukan dengan kalimat umum.
Kepada Ayumi, tentang rumor yang ia biarkan menyebar dahulu.
Kepada Veronica, tentang undangan yang sengaja tidak sampai.
Kepada Jane, tentang pesan-pesan yang ia kirim atas nama orang lain.
Kepada Maya, tentang hari ketika Maya hampir kehilangan pekerjaannya karena satu kalimat yang Tiffany bisikkan kepada orang yang tepat.
Ia tidak menangis. Ia tidak menjelaskan alasannya. Dan yang paling penting, sesudah tiap permintaan maaf, ia diam dan menunggu tanpa menuntut apa pun.
Ayumi menerima dengan canggung. Veronica mengangguk dan langsung mengganti topik.
Jane menaruh sendoknya. "Aku terima," katanya. "Tapi aku tidak mau ketemu kamu berdua saja. Ramai-ramai begini boleh. Itu batasku."
"Itu adil," jawab Tiffany.
Maya yang paling lama diam.
"Aku belum bisa," katanya akhirnya. "Aku tidak mau bohong dan bilang sudah selesai, terus setiap kali lihat kamu aku merasa mual sendiri. Aku belum memaafkan kamu, Tiffany."
Semua orang menahan napas.
"Terima kasih sudah mengatakannya," kata Tiffany. "Itu lebih baik daripada pura-pura."
Maya mengangkat bahu, dan makan lagi. Makan malam itu berlanjut. Anehnya, justru sesudah itu percakapannya menjadi lebih longgar.
Iris mengantar Tiffany pulang. Jalanan basah sisa hujan sore, lampu-lampu memantul di aspal.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Iris.
"Maya benar," kata Tiffany. "Itu yang aneh. Aku pulang dengan perasaan lega, padahal satu orang bilang belum memaafkan aku."
"Kenapa lega?"
Tiffany memandang keluar jendela cukup lama.
"Dulu aku ingin semua orang menyukaiku," katanya. "Itu pekerjaan seumur hidup, Iris. Tidak ada liburnya. Aku menghitung siapa yang senyumnya kurang lebar, siapa yang membalas pesanku telat. Aku bisa menghancurkan orang cuma karena takut dia lebih disukai."
Mobil berhenti di lampu merah.
"Sekarang aku ingin menjadi seseorang yang aman meski tidak semua orang menerimaku."
Iris tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, dan lampunya berganti hijau.
Di depan gedung apartemen, Tiffany membuka pintu, lalu berhenti setengah jalan.
"Terima kasih sudah datang malam ini."
"Minggu depan aku ada waktu Kamis sore," kata Iris. "Kopi?"
Tiffany menoleh cepat, seperti memastikan ia tidak salah dengar.
"Kamu tidak perlu—"
"Aku tahu aku tidak perlu." Iris menatapnya. "Aku menawarkan bukan karena kasihan. Aku menawarkan karena aku memang ingin datang. Kalau nanti aku tidak ingin lagi, aku akan bilang."
Tiffany tersenyum, kecil dan sedikit bingung, lalu menutup pintu mobil.
Persahabatan baru itu tidak menyerupai hubungan lama mereka sama sekali.
Tidak ada rahasia yang dititipkan. Tidak ada persaingan diam-diam soal siapa yang lebih dibutuhkan. Tidak ada kewajiban untuk selalu ada, selalu membalas, selalu memaafkan.
Justru karena itulah, untuk pertama kalinya, hubungan itu punya kesempatan untuk bertahan.