Iris tahu sebelum alat itu menunjukkan apa pun.
Ada rasa logam tipis di lidahnya sejak tiga hari lalu, dan kopi paginya mendadak berbau salah. Ia sudah pernah melewati ini sekali.
Ia duduk di lantai kamar mandi, menunggu, dengan punggung menempel ke pintu.
Dua garis.
Yang pertama datang bukan tangis. Yang pertama datang adalah suara dokter bertahun-tahun lalu, kalimat yang pernah diucapkan di ruangan terlalu terang, tentang tekanan darah dan protein dan kata preeklamsia yang saat itu tidak ia mengerti sampai semuanya hampir terlambat.
Tangannya gemetar ketika mengetuk pintu kamar.
"Gavin."
Lelaki itu langsung bangun. Ia selalu bangun cepat, kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak Aurora bayi.
Iris menyerahkan alat itu tanpa berkata apa-apa.
Gavin memandanginya lama sekali. Lalu bahunya mulai bergetar, dan ia menarik Iris ke pelukan sebelum sempat berkata satu kata pun.
"Aku takut," bisik Iris ke lehernya.
"Aku tahu."
"Bukan takut yang biasa."
"Aku tahu." Gavin mengusap punggungnya. "Aku ada di ruangan itu waktu itu. Aku juga ingat."
Dokter menerima mereka dua hari kemudian, dan menjelaskan semuanya dengan tenang, tanpa menjanjikan apa-apa.
Riwayat preeklamsia memang menaikkan risiko. Tetapi risiko itu dapat dikelola. Kontrol lebih sering, tekanan darah dicatat sendiri di rumah dua kali sehari, obat tertentu mulai minggu kedua belas, tidur cukup, beban kerja diturunkan bertahap.
"Bisa dijalani, Bu," kata dokter itu. "Yang tidak bisa saya janjikan adalah hasilnya. Tidak ada yang bisa."
Di mobil, Iris menatap papan namanya sendiri di kartu parkir.
"Aku belum mau bilang siapa-siapa," katanya.
"Sama sekali?"
"Sama sekali. Tidak Papa, tidak Mama Regina, tidak Aurora." Ia meremas tali tasnya. "Begitu Mama Regina tahu, ini bukan lagi punya kita. Ada tukang pijat khusus, ada ramuan, ada rapat keluarga soal nama. Aku ingin beberapa minggu ini hanya menjadi milik kita."
Gavin mengangguk. "Baik."
"Kamu tidak keberatan?"
"Ini badanmu. Kamu yang menentukan siapa yang boleh ikut."
Yang membuat Iris hampir menangis justru minggu-minggu berikutnya.
Gavin tidak mengubah satu pun jadwalnya tanpa izin. Tidak ada rapat yang tiba-tiba dibatalkan atas namanya, tidak ada perjalanan yang diam-diam dipindahkan, tidak ada kursi baru yang tiba-tiba muncul di ruangannya.
Yang ada hanya pertanyaan, setiap kali. Mau kuantar? Mau kutunda? Mau aku diam saja?
Dan tekanan darah yang dicatat di buku kecil, dengan tulisan tangan Gavin yang jelek, dua kali sehari, tidak pernah terlewat.
Mereka mulai berani bercanda soal nama pada minggu kedelapan.
Pada minggu kesembilan, tidak ada suara.
Ruangan itu gelap, ada gel dingin di perut Iris, dan layar yang biasanya berisik itu diam. Dokter menggeser alatnya sekali, dua kali, tiga kali, dengan wajah yang tidak berubah tetapi tangannya melambat.
Iris sudah tahu sebelum dokter itu berbalik.
"Maaf, Bu."
Kalimat-kalimat setelahnya terdengar seperti dari balik kaca. Berhenti berkembang. Sekitar minggu kedelapan. Pilihan tindakan. Bisa ditunggu, bisa dibantu.
"Kenapa?" tanya Iris. Suaranya asing di telinganya sendiri.
"Sebagian besar kasus seperti ini terjadi karena hal yang sudah ada sejak awal, Bu. Bukan karena sesuatu yang Ibu lakukan atau tidak lakukan." Dokter itu menatapnya lurus. "Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya. Saya tidak sedang menghibur Ibu. Itu memang kenyataannya."
Di rumah, Iris menghitung mundur.
Rapat sampai pukul sebelas pada minggu keenam. Penerbangan pagi ke Surabaya. Hari ketika ia lupa makan siang sampai pukul empat.
"Aku bekerja terlalu keras," katanya malam itu, duduk di tepi tempat tidur. "Aku tahu aku tidak boleh. Dokter sudah bilang. Aku tetap ambil rapat itu."
Gavin duduk di lantai, menghadapnya.
Ia tidak berkata bukan salahmu dengan nada yang memaksa Iris berhenti bicara. Ia tidak berkata semua akan baik-baik saja.
"Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa soal penyebabnya," katanya pelan. "Yang bisa kukatakan cuma apa kata dokter, dan kamu sudah dengar itu. Kalau nanti kamu mau dengar lagi, aku ulangi lagi. Seratus kali kalau perlu."
Iris menutup wajahnya.
"Aku juga kehilangan," kata Gavin, dan suaranya akhirnya pecah. "Aku sudah memikirkan wajahnya. Aku tahu itu bodoh, baru sembilan minggu, tapi aku sudah memikirkan wajahnya."
Mereka menangis bersama di lantai kamar, jam sebelas malam, dengan pintu dikunci supaya Aurora tidak masuk.
Regina mengetahuinya dari staf rumah sakit. Tentu saja. Perempuan itu punya kenalan di setiap tempat yang penting di kota ini.
Dahulu, ia akan datang dengan rombongan dan masuk sampai ke kamar.
Hari itu mobilnya berhenti di depan rumah, dan ia tidak turun. Iris melihatnya dari jendela lantai dua: mobil hitam itu diam di halaman selama hampir sepuluh menit.
Lalu ponsel Iris berbunyi.
"Iris." Suara Regina tidak sekuat biasanya. "Saya di depan. Saya tidak masuk kalau kamu tidak mau. Saya bisa pulang sekarang juga, dan tidak akan saya bahas lagi."
Iris memejamkan mata.
"Masuk saja, Ma."
Regina masuk tanpa membawa apa pun. Tanpa hadiah, tanpa dokter pribadi, tanpa daftar rumah sakit yang lebih bagus di Singapura.
Ia duduk di kursi seberang, menatap tangannya sendiri, dan tidak sekali pun menyebut kata cucu. Tidak ada kalimat tentang mencoba lagi, tentang masih muda, tentang nanti pasti diberi lagi.
"Boleh saya peluk kamu?" tanyanya akhirnya.
Iris mengangguk.
Pelukan itu kaku, canggung, dan terlalu lama. Regina berbau parfum mahal dan sedikit asap rokok Jeffery.
"Kamu tidak melakukan kesalahan," bisiknya di bahu Iris.
Iris menangis lagi, untuk kesekian kalinya minggu itu, di bahu perempuan yang dahulu paling ingin ia jauhi di dunia.
Yang lain datang dengan cara masing-masing.
Tiffany mengirim makanan tiga hari berturut-turut, ditaruh di pos satpam, dengan catatan singkat, dan tidak sekali pun meminta bertemu.
Richard mengambil alih dua urusan perusahaan yang mendesak, mengerjakannya diam-diam, lalu mengirim ringkasan satu halaman tanpa menyinggung alasannya.
Maya menjaga kantor dengan cara yang paling sulit dilakukan siapa pun: ia tetap mengirimi Iris keputusan-keputusan penting untuk disetujui, meski tahu jawabannya mungkin baru datang dua hari kemudian.
"Kenapa kamu masih kirim?" tanya Iris lewat telepon.
"Karena Ibu masih bosnya," jawab Maya. "Saya cuma menjaga kursinya tetap hangat, bukan mendudukinya."
Iris kembali bekerja beberapa minggu kemudian, bertahap. Setengah hari dulu. Lalu tiga hari seminggu. Lalu penuh, dengan rapat yang berakhir pukul lima.
Kehilangan itu tetap nyata, meskipun kehamilannya singkat, meskipun tidak ada nama, tidak ada foto, tidak ada yang bisa ditunjukkan kepada orang lain sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang benar-benar hilang.
Mereka tidak segera mencoba lagi.
Bukan karena menyerah, dan bukan karena takut, meski keduanya ada sedikit. Melainkan karena suatu sore Iris duduk di teras memperhatikan Gavin mengajari Aurora naik sepeda roda tiga, dan menyadari bahwa yang ia lihat sudah lengkap.
Pilihan kedua tidak selalu berarti mencoba mengulang hasil yang sama.
Kadang-kadang ia berarti memberi diri sendiri waktu untuk sembuh, tanpa terburu-buru mengejar pengganti.