Lima puluh tahun.
Angka itu diucapkan Regina di telepon dengan nada yang aneh, setengah bangga, setengah tidak percaya.
"Lima puluh tahun, Iris. Setengah abad. Ibu menikah waktu umurnya belum dua puluh satu."
"Ibu mau merayakannya?"
"Ibu mau mengulang janjinya."
Ide itu sebenarnya sederhana. Upacara kecil di vila Como, di halaman yang menghadap danau, dengan pendeta tua yang dulu menikahkan mereka dan sekarang jalannya sudah dibantu tongkat.
Sederhana selama kira-kira dua minggu.
Setelah itu daftar tamu mulai bergerak sendiri, seperti air yang mencari celah. Mula-mula sepupu. Lalu sepupu dari sepupu. Lalu rekan bisnis Jeffery yang sudah pensiun. Lalu rekan bisnis yang belum pensiun. Lalu dua nama yang Iris kenali sebagai calon mitra Mikhail Group untuk proyek tahun depan.
Iris melihat daftar itu di meja makan mansion dan menghitung. Dua ratus tiga puluh satu nama.
"Ini bukan janji ulang," gumamnya. "Ini peluncuran produk."
"Bicara apa kau?" tanya Gavin dari belakangnya.
"Lihat nomor empat puluh dua."
Gavin melihat, lalu menghela napas panjang. "Aku akan bicara dengan Ibu."
"Jangan."
"Kenapa?"
"Karena kalau kau yang bicara, dia akan bertahan cuma supaya tidak kalah." Iris melipat daftar itu. "Biarkan dia yang melihatnya sendiri."
Butuh sepuluh hari.
Regina sedang meneliti susunan tempat duduk ketika berhenti di tengah. Iris kebetulan ada di ruangan itu, pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Iris."
"Ya, Bu?"
"Siapa Pak Hartadi ini?"
"Saya juga tidak tahu, Bu."
Regina menatap kertas itu lama sekali. Pulpennya berhenti di udara.
"Ibu bahkan tidak tahu siapa yang akan duduk di baris ketiga," katanya pelan. "Di pernikahan Ibu sendiri."
Malam itu ia mencoret sendiri seratus sembilan puluh nama. Tidak ada yang memintanya. Tidak ada yang berdebat dengannya.
Yang tersisa empat puluh satu orang. Keluarga, dan sahabat yang benar-benar pernah datang waktu keadaan sedang jelek.
Hari itu tiba di akhir September, ketika udara Como sudah mulai dingin di pagi hari tetapi masih hangat pada siang.
Tidak ada karpet. Tidak ada tenda besar. Hanya kursi kayu yang disusun dua baris, bunga dari kebun sendiri, dan meja panjang yang dipasang di bawah pohon.
Regina memakai gaun biru tua, bukan putih. Jeffery memakai jas yang sudah tiga kali diperbaiki penjahitnya, dan menolak membeli yang baru.
Yang mengejutkan bukan acaranya. Yang mengejutkan adalah janjinya.
Jeffery berdiri lebih dulu. Tangannya gemetar memegang kertas kecil, dan ia membacanya tanpa mikrofon, sehingga semua orang harus benar-benar diam untuk mendengar.
"Regina," katanya. "Aku berjanji lima puluh tahun lalu untuk menjagamu. Aku menjagamu. Tapi ada satu hari ketika aku harus memilih antara nama perusahaan dan kebenaran tentang Sofia, dan aku memilih nama perusahaan."
Halaman itu menjadi sangat sunyi. Bahkan angin terasa berhenti.
"Aku tidak akan berpura-pura itu keputusan sulit yang bisa dimengerti," lanjut Jeffery. "Itu keputusan pengecut. Dan yang membayarnya bukan aku. Yang membayar anak-anak kita, dan seorang perempuan yang sudah tidak ada di sini untuk mendengar aku minta maaf."
Iris melirik Tiffany. Perempuan itu menangis tanpa suara, dan Daniel memegang tangannya erat-erat.
"Jadi hari ini aku tidak berjanji menjagamu," kata Jeffery. "Aku berjanji tidak akan berbohong lagi demi apa pun, termasuk demi ketenanganmu."
Regina berdiri setelahnya. Ia tidak membawa kertas.
"Aku tidak akan mengalahkanmu dalam hal jujur," katanya, dan beberapa orang tertawa pelan.
Lalu wajahnya berubah.
"Aku mencintai kalian semua," katanya, dan matanya tidak lagi ke Jeffery, melainkan ke dua anaknya. "Tapi aku terlalu sering memakai cinta itu untuk menahan kalian. Setiap kali aku takut ditinggalkan, aku memanggil kalian pulang. Setiap kali kalian tumbuh, aku menyebutnya durhaka."
Gavin menegang di samping Iris.
"Aku tidak minta kalian melupakannya," lanjut Regina. "Aku cuma ingin kalian tahu bahwa aku tahu."
Tiffany berdiri bersama Daniel, dan mengangguk sekali, tanpa berkata apa-apa.
Gavin menggenggam tangan Iris, kuat sekali, cara laki-laki itu menangis tanpa menangis.
Tidak ada keluarga di halaman itu yang sepenuhnya terbebas dari masa lalu. Bedanya, mereka tidak lagi menyembunyikannya di balik meja makan yang terlalu sopan.
Acara selesai sebelum gelap. Tamu pulang. Piring dicuci beramai-ramai dengan Aurora yang memecahkan satu gelas dan menyalahkan sabunnya.
Regina meminta Gavin dan Tiffany duduk di teras ketika yang lain sudah masuk.
Ia meletakkan sesuatu di meja.
Sebuah amplop cokelat, dan di dalamnya kunci mansion. Kunci yang asli, yang berat, yang sudah puluhan tahun tergantung di lemari kecil dekat pintu belakang.
"Ini apa, Bu?" tanya Tiffany.
"Rumah itu akan jadi milik kalian berdua. Surat-suratnya sedang diurus."
Gavin menggeleng. "Kami tidak—"
"Ibu tahu." Regina mengangkat tangannya. "Kalian tidak harus tinggal di sana. Ibu tidak sedang memanggil kalian pulang."
Ia menarik napas.
"Tentukan bersama apa yang ingin dilakukan ketika kami sudah tidak ada. Jangan tunggu sampai Ibu meninggal lalu kalian bertengkar di depan notaris. Putuskan sekarang, selagi Ibu masih bisa mendengarnya."
Gavin dan Tiffany saling pandang.
Mereka bicara dua jam malam itu, di teras yang sama, dengan dua cangkir kopi yang dingin sejak lama.
"Aku tidak mau tinggal di sana," kata Tiffany lebih dulu. "Maaf, tapi aku tidak bisa. Setiap kali aku masuk ruang makan itu, aku jadi anak umur tujuh belas lagi."
"Aku juga tidak," jawab Gavin. "Dan aku tidak mau menjualnya."
"Kenapa?"
"Karena kalau dijual, orang lain akan mengecatnya dan semuanya hilang begitu saja. Aku benci rumah itu, tapi aku tidak mau rumah itu jadi tidak pernah ada."
Tiffany diam lama. "Jadi kita mau apa?"
Iris, yang lewat membawa dua gelas air dan tidak berniat ikut campur, berhenti sebentar di ambang pintu.
"Kalau bangunannya tetap berdiri tapi isinya diganti," katanya, lalu langsung mundur. "Sudah, lanjutkan. Aku tidak di sini."
Kedua kakak beradik itu saling pandang.
Yang mereka sepakati pada akhirnya bukan menjual, bukan pula membagi. Mansion itu kelak akan menjadi pusat pelatihan seni dan konseling, bekerja sama dengan Rumah Pilihan. Ruang dansa yang dulu dipakai memamerkan kesuksesan akan jadi tempat anak-anak belajar melukis. Ruang kerja Jeffery akan jadi ruang konsultasi.
Mereka menyampaikannya keesokan pagi, dengan hati-hati, siap menghadapi air mata.
Regina hanya tersenyum.
"Bagus," katanya.
"Ibu tidak keberatan?" tanya Tiffany, ragu.
"Ibu pikir Ibu akan keberatan," jawab Regina. "Ternyata tidak."
Selama lima puluh tahun ia menyimpan rumah itu sebagai jangkar. Sesuatu yang membuat anak-anaknya harus kembali, harus mengurus, harus terikat.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, ia melihat warisan bukan sebagai cara mempertahankan anak-anak, melainkan sesuatu yang boleh mereka ubah.