Setahun kemudian, tubuh Minah mulai menyerah pelan-pelan.
Bukan satu peristiwa besar. Tidak ada telepon tengah malam seperti dulu. Yang terjadi hanya serangkaian hal kecil yang, kalau dijejer, artinya jelas.
Ia berhenti turun ke warung pada bulan Maret. Berhenti berjalan ke masjid pada bulan Mei. Berat badannya berkurang tanpa ada yang tahu persis kapan mulainya. Suaranya menipis, dan ia lebih sering tidur pada siang hari daripada terjaga.
Pada bulan Juli, Iris mengemas dua koper dan pindah ke kampung.
Ia tidak menyebutnya cuti. Ia hanya memberi tahu laboratorium pelatihan bahwa kelasnya diambil alih orang lain sampai waktu yang tidak ditentukan, lalu berangkat.
Aurora datang dua hari kemudian. Kali ini tanpa kamera.
"Kamu ada proyek," kata Iris.
"Proyek bisa menunggu."
"Aurora—"
"Ma." Anak itu menaruh ranselnya di lantai. "Aku tidak akan menyesal kehilangan proyek. Aku akan menyesal kehilangan yang ini."
Rumah kecil itu berubah menjadi sesuatu yang lain selama minggu-minggu berikutnya. Kasur dipindah ke ruang depan supaya Minah bisa melihat halaman. Ada kursi plastik yang selalu ada orangnya. Tetangga datang membawa makanan tanpa diminta, menaruhnya di dapur, lalu pulang tanpa banyak bicara.
Pada awal Agustus, napas Minah memburuk selama tiga hari. Dokter datang ke rumah, memeriksa, lalu bicara di teras.
"Kalau dibawa ke rumah sakit, ada beberapa hal yang bisa kami coba," katanya. "Tapi saya harus jujur, Bu. Itu tidak akan mengubah arahnya. Yang berubah cuma tempatnya."
Iris sudah setengah berdiri untuk memanggil mobil ketika terdengar suara dari dalam.
"Saya tidak mau ke rumah sakit lagi."
Suaranya pelan, tetapi seluruh rumah mendengarnya.
Iris masuk. "Mbok—"
"Di sana lampunya tidak pernah dimatikan," kata Minah. "Dan tidak ada yang memanggil saya dengan nama."
"Di sana ada alat yang bisa membantu Mbok bernapas."
"Saya tahu."
"Kalau Mbok ikut saya sekarang, mungkin ada—"
"Nona."
Satu kata itu saja.
Iris berdiri di tengah ruangan dengan tangan mengepal. Seluruh tubuhnya ingin memaksa. Ia punya uang, punya mobil, punya kenalan dokter di tiga rumah sakit. Ia bisa mengangkat perempuan ini dan membawanya pergi, dan tidak akan ada yang benar-benar menghentikannya.
Lalu ia teringat dapur, uap dari panci, dan janji yang ia ucapkan setahun lebih yang lalu.
Bahwa ia akan menghormati kehidupan yang dipilih perempuan itu.
Iris duduk di tepi kasur. Ia bertanya sekali lagi, pelan, tanpa membujuk.
"Mbok yakin?"
"Yakin."
"Baik," kata Iris, dan suaranya nyaris tidak keluar. "Baik."
Dokter mengatur agar perawatan yang membuat nyaman bisa dilakukan di rumah. Obat pereda nyeri, tabung oksigen kecil, perawat yang datang dua kali sehari.
Minggu-minggu itu, anehnya, bukan minggu-minggu yang buruk.
Ada sore-sore ketika Minah cukup kuat untuk duduk dan mengomentari cara Aurora menyapu. Ada pagi ketika ia meminta teh yang terlalu manis dan tidak ada yang berani melarang. Ada satu hari ketika keponakannya membawa cucu yang baru bisa berjalan, dan perempuan tua itu tertawa sampai batuk.
Gavin datang dan pergi setiap akhir pekan, lalu pada pertengahan September ia berhenti pulang ke Jakarta sama sekali.
Ia tidak banyak bicara di rumah itu. Yang ia lakukan adalah hal-hal kecil: memperbaiki engsel pintu belakang yang sudah lama miring, membeli tabung gas, mengantar perawat pulang ketika hujan. Suatu sore Iris memergokinya sedang duduk di kursi plastik di dekat kasur, membacakan berita olahraga dari koran dengan suara keras karena pendengaran Minah sudah berkurang.
"Siapa yang menang?" tanya Minah.
"Yang Mbok dukung kalah."
"Sudah saya duga."
Iris berdiri di ambang pintu dapur dan tidak masuk. Ada pemandangan yang tidak boleh diganggu.
Malam terakhir itu datang tanpa tanda khusus.
Minah terjaga lebih lama dari biasanya. Ia meminta lampu dikecilkan, bukan dimatikan.
"Nona," katanya. "Di lemari, laci bawah. Ada kotak biskuit."
Iris menemukannya. Di dalam kotak itu ada uang receh, foto-foto, kartu pos, dan sebuah amplop yang kertasnya sudah menguning.
"Bacakan."
Surat itu ditulis Minah beberapa bulan setelah pernikahan Iris, dengan tulisan tangan yang miring dan ejaan yang beberapa kali salah. Tidak pernah dikirim.
Iris membacanya keras-keras, berhenti dua kali karena tenggorokannya menutup.
Isinya bukan nasihat. Bukan peringatan. Hanya doa panjang, kalimat demi kalimat, agar Iris menemukan kebahagiaan setelah badai. Agar ia punya rumah yang tidak membuatnya waspada. Agar ada orang yang menunggunya pulang bukan karena berkewajiban.
Iris menurunkan surat itu ke pangkuannya.
"Saya sudah melihatnya," bisik Minah.
"Apa, Mbok?"
"Doanya." Perempuan itu tersenyum, sangat kecil. "Nona tidak lagi takut pulang ke kamar sendiri."
Iris menangis. Bukan tangis yang sopan. Ia menunduk di atas tangan perempuan itu dan menangis seperti anak umur tujuh tahun.
Minah mengusap rambutnya dengan tangan kanan, lambat sekali.
Gavin duduk di sisi lain kasur sepanjang malam. Ia tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tidak menyuruh Iris berhenti menangis. Tidak mengalihkan pembicaraan.
Ia hanya ada di sana, dan membiarkan kesedihan itu utuh.
Minah meninggal menjelang subuh, ketika azan pertama terdengar dari arah masjid dan langit di atas sawah mulai berubah abu-abu.
Dengan tenang. Tanpa suara. Tangannya masih hangat beberapa saat sesudahnya.
Aurora yang pertama bergerak. Anak itu menarik selimut sampai ke dada, merapikan rambut perempuan tua itu, lalu keluar ke halaman dan berdiri membelakangi rumah untuk waktu yang lama.
Pemakaman diadakan siang itu juga, sesuai adat setempat. Halaman rumah penuh orang yang Iris tidak semuanya kenal, dan itu justru menghiburnya. Perempuan itu punya hidup yang luas, hidup yang tidak berputar di sekelilingnya.
Warung itu diwariskan kepada keponakan yang selama bertahun-tahun membantunya berjualan. Surat wasiatnya sederhana, ditulis tangan, disaksikan dua orang tetangga.
Iris tidak mengubah apa-apa.
Ia sempat memikirkannya. Merenovasi tempat itu. Memasang papan nama. Menjadikannya semacam monumen, sesuatu yang membuat nama Minah tidak hilang.
Lalu ia sadar itu keinginannya sendiri, bukan keinginan perempuan yang sudah pergi.
Yang ia lakukan hanya menanyakan kepada keluarga Minah apakah boleh memasang satu foto kecil di sudut dinding, dekat meja kasir. Mereka setuju, dan memilih sendiri fotonya.
Kehilangan itu meninggalkan ruang yang tidak akan pernah ada yang mengisinya.
Tetapi kasih Minah tetap hidup di tempat yang tidak kelihatan: dalam cara Iris merawat tanpa memiliki, dan membantu tanpa mengambil suara orang yang dibantunya.