"Kurasa, aku mulai menyukaimu...."
"Kurasa, aku mulai menyukaimu...."
PLAK!
"Aw!"
Pukul 3 pagi, seperti kemarin. Ia bangun pada pukul 3 pagi. Hanya tidur 2 jam. Di hari minggu, ia akan bermalas-malasan. Tidur, makan, dan menonton film sepuasnya.
PLAK!
Tangannya menepuk pipinya lagi, kali ini bukan pipi kanan tapi pipi kiri. Meski itu tidak keras, tangannya terlalu kuat. "Aku tidak salah dengar, kan?" ucap Lucid dengan melihat ke langit-langit kamarnya. "Orang itu hanya ingin main-main," pandangan Lucid kosong. Sembari memakan beberapa permen di tangannya. Alarmnya akan berbunyi pada pukul 4 pagi, ia akan berlari. Tapi tidak tahu untuk hari ini. Sepertinya hari ini, tubuhnya seolah tidak menginginkan untuk beraktivitas beras. Seperti ada sesuatu yang menghalang-halangi untuk menikmati sejuknya udara di pagi hari yang masih dini.
Kale benar-benar tidak menghubunginya lagi bahkan, tidak membalas teleponnya. Sering kali, membuatku beranggapan. Itu tidak adil. Mengapa itu selalu ada pada sifat manusia? Manusia yang selalu dikelilingi seseorang yang selalu datang di saat dia membutuhkannya. Tapi di saat manusia lain membutuhkannya untuk datang, justru tidak ada kehadirannya. Tapi tak heran juga, banyak orang justru menyesal. Tidak ada di saat-saat penting dan seseorang itu telah pergi dari hadapannya dan berkemungkinan tidak akan kembali. Aku ingin membencinya tapi, dia Adikku. Sama halnya, ingin membenci Orang tuaku. Tapi, mereka orang tuaku. Meski tidak membenarkan apa yang mereka lakukan. Tapi apakah ada yang bisa mematahkan, buruknya keluarga yang kau punya, mereka juga keluargamu?
"Kurasa, aku mulai menyukaimu...."
"Kurasa, aku mulai menyukaimu...."
"Kurasa...., aku...."
"Itu bukan apa-apa," Lucid mulai memejamkan mata. Menghadap jendela kamarnya yang telah di buka lebar-lebar. Angin yang berembus juga sudah menembus ruangannya. Silir angin yang berembus itu, tidak membuatnya kembali tertidur. Ia justru membuka mata. "Lucid....," suara di seberang sana menyapaku. Keenan dengan suara yang mudah di kenali itu, meneleponku. "Hmm...."
"Hei, kau bangun lebih awal atau kau justru belum tidur? Lampu di kamarmu juga terlihat masih menyala," ucapnya. Wah, ucapannya terlihat seperti penguntit. Lucid melihat pada layar ponselnya yang di arahkan tepat di atas jarak pandangnya. Pukul 5 pagi, sebentar lagi matahari akan turun menyambutnya. "Apa kau sedang mengaku, kalau kau sebenarnya seorang penguntit?" bukannya menutup telepon karena ucapanku, laki-laki ini justru tertawa dan berbicara tentang entahlah. Apa laki-laki ini, sebenarnya sedang membicarakan dirinya sendiri?
30 menit berlalu. Entah, mengapa aku masih bertahan dan tidak menutup telepon? Keenan masih bersuara, aku mulai tidak bisa mencerna ucapannya. Apa dia baik-baik saja? Aku tidak akan tahu, jika aku tidak bertanya padanya dan bertatap muka. Tapi dari suaranya, sebenarnya cukup memberi gambaran. Hmm, sepertinya dia....
Tidak baik-baik saja.
Lucid membuka gorden jendelanya, seketika matahari sedikit demi sedikit turun menyinari permukaan. Jarak matanya tertutupi dengan sinar matahari yang begitu terang. "Senang melihatmu," ucapnya. Ucapannya juga yang akhirnya membuatku sadar. Keenan berada di luar yang menghadap ke arahku. "Sejak kapan kau berdiri di situ? Kau benar-benar seorang penguntit?" apa laki-laki ini bebal? Benar-benar tidak peduli dengan ucapanku. "Lucid, kenapa orang sepertimu bisa terlihat kesepian? Kenapa juga penilaian orang lain terhadapmu jauh berbeda dengan penilaianku terhadapmu?" setelah berbicara yang tidak bisa kucerna. Keenan terus-menerus memberi pertanyaan yang aku pun tidak mengerti apa maksudnya.
Hati yang sedang membeku itu, tiba-tiba tergerak tanpa tahu penyebabnya. Setelah seharian ragu dan ketakutan. Lucid keluar tanpa peduli apa yang sebelumnya terjadi. Bahkan, ia melewati tangga darurat itu dengan santainya tanpa ada rasa takut atau terbayang-bayang akan kejadian yang baru saja terjadi. Keringat yang bercucuran terlihat menetes dengan teriknya matahari yang seolah-olah memperjelas suasana yang terjadi. Keenan berada tak jauh darinya. "Aneh....," ucap Lucid dengan suara yang lirih. Aneh, ada apa dengan laki-laki itu? Untuk apa aku melakukannya? Ponsel yang masih menempel di telingaku, menjadikannya pusat pandanganku, dan matahari seolah-olah berada tepat di atas kepala Keenan. Aku seperti terbang bersama angin sembari tetap melihat ke arahnya tanpa mengedipkan mata.
Lucid, apa kau gila? Sadarlah! Apa yang sebenarnya terjadi? Aku seperti dibius tapi di antara sadar dan tidak sadar. Mengapa matahari yang terbit menyambut pagi di hari minggu ini terasa berbeda?
Keduanya semakin mendekat. Seperti tidak ada keraguan. Bukan Keenan yang mendekat atau Lucid yang mendekat lebih dulu. Mereka berjalan ke arah yang sama. Saling berhadapan. Tanpa berbicara beberapa saat. Ponsel sudah berada pada genggaman masing-masing. Mereka hanya saling menatap tanpa ada yang memulai untuk berbicara. Lucid yang biasanya cuek dan tak peduli dengan seseorang yang masih dianggapnya sebagai orang asing ini, juga tampak heran dengan apa yang ia lakukan tapi semua yang terjadi di hadapannya tak membuatnya ragu. Itu membuatnya bingung dan tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan reaksinya yang di luar kendalinya.
Ada apa denganku? Mengapa aku tidak bisa berpaling? Hanya karena, orang asing sepertinya. Bahkan, sama sekali tidak menganggapnya ada. Teriknya matahari yang semakin terlihat jelas, membuatku takjub. Apalagi, saat sinar matahari itu menyentuh wajahnya yang tengah berada di hadapanku. Benar-benar dibuat bungkam. Mulutku seketika membisu. Hanya bisa berbicara dengan diri sendiri di dalam hati.
Lucid, mengapa kau membuatku tidak bisa berpaling? Mengapa juga aku tidak bisa berkata-kata? Sedangkan, begitu banyak kata-kata yang ingin kuucapkan padamu. Kau, kau tidak pantas menjadi seseorang yang ditinggalkan. Mengapa hanya aku yang bisa melihatnya? Apa karena, kau dan aku sama-sama menjadi seseorang yang ditinggalkan?
Keenan melangkah lebih deket, begitu juga dengan Lucid. Bukan hanya Lucid yang terkejut akan itu, Keenan pun demikian. Mata mereka bertemu, jauh lebih dekat. Sampai terlihat kilauan dikedua mata mereka. Ada senyuman tipis yang menghiasi wajah Keenan. Lucid tidak tahu bagaiamana membalasnya, ia sudah terlalu kacau untuk menentukan sikap. Lucid telah menyadari, baru saja. Baru saja, ia sudah melewati batas pada orang asing yang diam-diam mengganggu pikirannya.
Matahari yang masih terlihat bertengger di langit pun tidak bisa di tebak. Rintik hujan pun turun. Langit menjadi kelabu. Dunia masih berputar dengan waktu yang menemaninya. Tapi rasanya hanya di tempatku berpijak, dunia terasa berhenti berputar dengan waktu yang seperti memiliki waktu yang berbeda.
"Lucid..."
Laki-laki itu hanya memanggil namaku. Hanya memanggil namaku saja. Tapi suaranya, terdengar melekat di telingaku. Itulah mengapa aku mengenali suaranya? Apa benar seperti itu? Mengapa? Selalu, dibalik sebuah tanda tanya belum tentu menemukan jawabannya.
Meski langit berwarna kelabu yang kuingat hanyalah matahari yang baru saja terbit meyambut pagi bersama perasaan yang tidak bisa dijelaskan....