Pukul 8 malam, Keenan masih terlihat gelisah. Entah, sudah berapa lama. Ia berjalan berkeliling tanpa tahu berada di mana. Begitu sampai di depan pintu kamarnya, benturan cukup keras membuatnya sadar. "Sudah sampai?" ucap Keenan tanpa memedulikan dahinya yang terbentur pintu. "Kau sekarang resmi menjadi seorang penguntit, Keenan," ucap Keenan sembari mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Untuk pertama kalinya, ia sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitar. Hanya seseorang yang sudah menyedot perhatiannya sampai mengikuti ke mana pun, Lucid tertangkap dengan jarak matanya. Sesampainya di zona ternyamannya di kamarnya yang selalu tampak rapi. Ia akan mendarat dan langsung tertidur dengan pulas di ranjangnya, seketika tanpa harus dihitung dengan waktu.
Pertemuannya dengan Lucid, merubah kesehariannya. Bukan hanya dirinya saja yang menyedari itu tapi juga orang sekitarnya. Hampir semua menyadari itu, Keenan mulai jarang terlihat tertidur dan terlihat lebih produktif. Perubahan yang terjadi pada diri Keenan menjadi tanda tanya bagi semuanya tapi itu tidak penting, hal yang terpenting adalah kerugian yang dilakukan Keenan dengan sikapnya yang acuh tak acuh itu. Hmm, cukup berkurang. Meski Keenan dikenal peduli pada siapa pun tapi, dia juga acuh tak acuh. Est! Itu salah basar. Saat melihat seseorang, terkadang hanya diri kita sendiri yang bisa mengerti untuk menentukan sikap pada seseorang itu. Itu prinsip hidup bagi Keenan.
"Lucid, apa kau mau menonton film denganku?"
"Hei, apa kau sibuk?"
"Hei, apa kau ada...."
"Hah?"
"Kebetulan aku...."
"Aku kebetulan, aaakkkghh!"
Keenan tampak berlatih dan mengulang ucapanya berkali-kali. Ia kelihatannya tenang dan cenderung tidak tahu malu saat berhadapan langsung dengan Lucid tapi kenyataannya tidak seperti itu. Semua yang terlihat di luarnya saja, pasti tidak akan sama dengan kenyataannya. Sama halnya seperti kebanyakan orang yang menilai tentang Lucid. Setelah mengikutinya, bagiku dia benar-benar kesepian. Tapi pintar bersandiwara. Seperti sudah tercipta seperti itu, manusia bisa melakukannya. Meski ada juga yang bisa membongkar topeng palsu itu, tapi tak banyak juga yang peduli.
Keenan tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Ia juga tidak ingin ada yang tahu, kalau dirinya dan Lucid tinggal bersebelahan. Itu akan merepotkan dan akan banyak yang memanfaatkannya karena, ingin mendapatkan Lucid. Rahasianya ada di tangan Joe dan ya. Ya, Joe akan semakin membuatnya repot. "Baiklah, akan kucoba," Keenan berada di depan pintu dan akan memulai untuk mengetuknya.
Tok...tok....tok....
Apa dia tidak ada di rumah?" suara Keenan lirih. "Apa dia baik-baik saja? Jangan-jangan dia ketakutan?" masih bertahan dengan suara lirihnya, sembari melihat ke arah belakang. Lebih tepatnya ke arah tangga darurat. Suasana yang sunyi ini, sebenarnya membuatnya takut. Tidak seperti biasanya. Malam ini, semua orang terkesan sedang mengurung diri akibat peristiwa di hari ini. Bulu kudukku berdiri. Hanya bisa mendengar suara angin yang bersentuhan dengan benda asing seperti suara lonceng.
Keenan lebih mendekat lagi, "Apa aku membuatnya takut?" Keenan mengetuk pintunya tapi tetap tidak ada tanda-tanda kehadiran Lucid. Ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam bahkan, pintunya masih dibiarkan membuka agar dia tidak perlu masuk dengan membuka kunci terlebih dahulu. Keenan berjalan sambil melihat ke arah tangga darurat itu dan dengan cepat langsung masuk ke dalam, setelah mengunci pintu. Ia menyalakan semua lampu yang ada di seluruh ruangan. Berlindung dibalik selimut dan memandangi layar ponselnya dengan kepala yang mendongak ke atas.
Keenan jatuh dalam lamunannya. Membayangkan bagaimana ia melihat ke arah Lucid saat diam-diam mengikutinya. Ia memutar posisi tidurnya, menghadap jendela kamarnya yang juga menghadap ke arah luar. Jendelanya sengaja dibiarkan terbuka agar rasa kantuk datang padanya.
Ponselnya berdering. "Siapa?" ucap Keenan dengan suara yang sumbang. "Ah, kau rupanya. Hei, kenapa meneleponku?" seseorang yang sudah lama tidak berbicara dengannya. "Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Keenan yang tampak kaget itu, langsung terbangun. "Wah, kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau sudah mengenalnya begitu lama? Wah, kau keterlaluan," Keenan berjalan sembari mematikan lampu di ruangannya yang tidak perlu dinyalakan. "Kau tidak perlu meminta. Aku sudah menjaganya."
Tengah malam itu, Keenan memutuskan untuk keluar. Melewati tangga darurat itu tanpa memikirkan apa yang sudah terjadi. Ia melihat ke arah luar menghadap pada unit di mana ia dan Lucid tinggal bersebelahan. "Apa dia tidak tidur? Lampunya masih menyala," kegelisahan itu tengah melandaku. Mengingat wajahnya, membuatku khawatir. Itu membuatku gila, aku benar-benar menunggunya hingga langit kembali terang.
"Lucid...."
"Eh, Keenan...."
"Kau dulu saja yang berbicara," ucap Keenan.
"Hah? Hei, kau tidak ingin berteduh?" tanpa ragu Lucid menarik tangan laki-laki itu. Tidak apa. Aku hanya menyentuh pergelangan tangannya. Tidak apa, Lucid. Kau hanya menyentuhnya sebentar. Tidak ada maksud apa-apa.
"Ya, Tuhan. Dia menggenggam tanganku? Ah, tidak! Kau berlebihan, Keenan. Dia hanya menarikmu. Tapi, dia menyentuhmu. Wah, aku tidak bisa berseru senang di hadapannya," Keenan yang berbicara dengan dirinya sendiri di dalam benaknya.
Momen itu tidak berlangsung lama. "Sorry," Lucid melepas tangan itu. "Apa itu sebuah kesalahan?" ucapan Keenan yang seketika membuat tatapan kedua saling bertemu. "Bagiku, itu bukan kesalahan," Keenan menatapku dengan mukanya yang serius.
Apa yang harus kukatakan padanya? Apa maksudnya? Bukan kesalahan?
"Hei, bukankah tidak perlu berteduh? Kau pikir ini di mana? Bye!" Lucid justru mengganti topik pembicaraan dan membalikkan bandan.
"Tunggu! Apa kau ingin menonton film? Kudengar kau selalu meluangkan waktu untuk menonton film," ucap Keenan.
"Ah, kau mencari tahu dari seseorang? Sebenarnya, apa maumu? Kau datang padaku hanya untuk keperluan clubmu semata, kan?"
"Wah, kau masih menganggapku seperti itu? Kau tidak lihat, bagaimana aku serius mengatakannya? Atau kau tidak bisa merasakannya?" terang Keenan.
"Aku tidak mengerti apa kau katakan. Apa kau sedang dalam keadaan sadar? Kau sepertinya melantur."
"Ah, dia benar-benar sulit didapatkan."
"Apa kau bilang?" teriak Lucid.
"Apa kau mendengarnya?"
"Ah, kau membuang waktuku," Lucid melangkah pergi.
"Hari ini ulang tahunku," teriak Keenan sekencang-kencangnya.
"Lucid, hari ini ulang tahunku," teriak Keenan lagi.
Semua orang yang berada di sekitar sedang memandangiku dan ada beberapa orang melirikku dengan tatapan yang menyelidik. "Sial! Siapa juga, dia? Mengapa dia seperti menyeretku?"
Sebelum laki-laki itu semakin beteriak. Lucid menutup mulutnya dan menyeretnya ke dalam lift. "Hahaha, apa itu membuatmu malu?" muka Keenan menyebalkan. Lucid tidak peduli dengan ucapan Keenan. "Hei, kau sungguh tidak peduli? Hari ini ulang tahunku. Apa kau tidak bisa mengabulkan permintaanku? Aku benar-benar serius mengatakannya. Kau sungguh, tidak bisa melihat? Hmm?"
"Dia serius..."
"Hanya diriku saja yang mengelak."
"Keenan, apa yang ada dipikiranmu?"