*TIITT.. TIITT.. WAKE UP.. WAKE-"
Aku mematikan jam weker di sampingku dengan mata masih tertutup. Kemudian menggeliat untuk meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku, mataku mulai mengerjap beberapa kali mengumpulkan kesadaran, hingga kini mataku melihat sekeliling menelusuri ruangan bernuansa orange yang masih terasa asing bagiku.
Nuansa kamar di rumah baru. Kemarin aku tiba di rumah ini selesai Magrib, dan Mamah mertuaku lah yang membantuku membereskan semua barang-barangku. Kulihat jam weker tadi yang masih menunjukkan pukul 05.25 a.m. Jam yang sengaja dibeli dan disetel oleh Mamaku karena khawatir kalau aku akan bangun terlambat di rumah suamiku ini.
Aku langsung beranjak bangun dan memulai ritual pagiku di bathroom setelah sholat Subuh. Seperti hari-hari biasa aku harus pergi ke sekolah hari ini, jadi sekarang aku sudah berpakaian seragam sekolahku. Jam menunjukkan pukul 06.00 a.m.Aku mulai menyisir rambutku, namun berhenti saat kudengar seseorang mengetuk pintu dan sedikit berbisik di balik pintu.
"Zayyin.. Apa kamu udah bangun?" Sesegera mungkin aku membuka pintu kamarku, kudapati Mamah mertuaku berdiri di sana.
"Loh? Kamu udah siap-siap? Cepat banget?"
"Iyaa Mah, Zayyin udah pasang alarm soalnya. Kenapa Mah? Ada yang perlu Zayyin bantu?" Aku tersenyum ke arah Mamah yang juga tersenyum.
"Engga sih, Mamah kira kamu belom bangun, takutnya entar jadi kesiangan ke sekolah. Jadi Mamah mau bangunin kamu. Yaudah, kamu udah siap kan? Yuk turun ke bawah, Grepa lagi nonton TV tuh."
Aku pun keluar kamar bersama Mamah, kutatap sebuah pintu yang berada di depan kamarku dan merupakan kamar Afka. Tentu saja kami beda kamar. Aku harus menyelesaikan sekolahku dulu dan aku juga masih ingin berkuliah nantinya.
"Ohiya Zayyin, kamu bangunin Afka aja deh."
"Eh?" Sepertinya aku ketahuan sedang melihat pintu kamar Afka oleh Mamah.
"Tapi Mah.."
"Udah.. Kamu bangunin aja dia, pasti belom bangun tuh anak. Bilang aja Mamah yang suruh kamu bangunin dia.." Mamah sedikit terkekeh sambil mendorongku ke dekat pintu kamar Afka. "Afka ga akan bangun sebelum dibangunin. Ayo buka pintunya, Mamah mau masak sarapan dulu."
"Ehm.. Zayyin bantuin Mamah masak a-"
"Mamah aja yang masak.. Bangunin Afka ya, harus sampe bangun loh." Pada akhirnya Mamah pergi setelah memasukkan ku ke dalam kamar Afka dan menutup pintunya.
Penglihatanku mulai menelusuri ke sekeliling kamar Afka yang masih gelap ini. Tapi aku masih bisa melihat semua yang ada di ruangan ini tanpa tahu warnanya karena cahaya matahari yang mulai muncul berusaha masuk melalui gorden Afka yang masih tertutup. Sepertinya ukuran kamar ini tidak jauh berbeda dengan kamar yang aku tempati, mungkin sama.
Mataku menangkap seseorang yang masih terlelap dengan tenangnya di atas tempat tidur yang pasti ia adalah Afka. Pelan aku mulai berjalan mendekatinya agar tak membuat keributan. Tak sadar aku tersenyum saat melihat Afka yang tertidur sambil menutup wajah dengan tangannya. Dalam keadaan apapun Ia terlihat penuh dengan Kharisma.
"Afka, bangun.." Bisikku dengan sangat pelan, mungkin hanya aku yang hanya mendengarnya. "Afka? Ehmm.. Hei, Afka.. Mamah suruh aku bangunin kamu." Ada apa dengannya? Dia benar-benar tidak bergerak padahal aku sudah sedikit menguatkan suaraku. Ragu, aku mengarahkan jari telunjukku untuk menyentuh bahunya dan mulai membangunkannya lagi.
"Afka.. Afka.. Kamu harus bangun.. Ini udah pagi.. Afka.." Dia masih belum bergerak dari posisinya dan masih terpejam. Aku menghela nafas, sepertinya aku harus lebih berani membangunkannya dengan mengguncang tubuhnya. "Hei, Af-"
"Berisik, aku udah bangun daritadi." Baru saja aku ingin mengguncang tubuhnya, tapi Afka sudah membuka matanya dan mengubah posisi tidurnya ke samping membelakangiku. Sepertinya ia tertidur lagi.
"Kamu tidur lagi? Afka? Kamu tidur lagi ya? Af- hei!" Betapa terkejutnya aku, bagaimana tidak? Tiba-tiba Afka menarik tanganku hingga kini posisiku tertidur berhadapan dengannya, wajah kami begitu dekat sampai bisa kurasakan deru nafasnya. Rasanya jantungku berdetak tidak teratur.
"Udah aku bilang kalo aku udah bangun, jadi ga perlu berisik." Afka membuka matanya tepat saat ia menyelesaikan kalimatnya, lalu beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar. Sementara aku masih mematung di tempatku karena syok dengan apa yang baru saja terjadi. Begitu tersadar aku langsung pergi ke luar kamar Afka, kudengar suara air yang berasal dari kamar mandi di tengah antara kamarku dan Afka. Artinya Afka berada di sana, mungkin ia sedang mandi. Di lantai dua hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi, sisanya ada ruang TV dan balkon.
Aku menuruni tangga menuju lantai satu, yang pertama kulihat Grepa yang duduk di kursi roda dan Papah duduk di sofa ruang TV sambil mengobrol. "Selamat pagi Grepa, Papah.."
"Oh, pagi Zayyin.. Sini, duduk sama kita." Ucap Papah mertuaku yang sudah tampak rapih dengan setelan kemeja untuk pergi ke kantor. Kulirik Mamah mertuaku yang sedang kelihatan sedang sibuk di dapur.
"Ehm.. Zayyin mau bantuin Mamah masak aja deh Pah."
"Tidur kamu nyenyak kan nak?"
"Iyaa Grepa, nyenyak kok. Zayyin ke dapur dulu ya." Setelah melihat anggukan Papah dan Grepa, akhirnya aku berjalan ke dapur, kudapati Mamah yang sedikit terkejut melihat diriku yang tiba-tiba dating.
"Kok kamu di sini? udah berhasil bangunin Afka belom?" Kata Mamah yang sedang menggongseng sesuati di kuali dengan sudip di tangannya.
"Udah Mah, itu Afka lagi di kamar mandi."
"Ohya? Kalo gitu mulai sekarang tugas kamu bangunin Afka tiap pagi aja deh."
"Eh?"
"Iya, itu tugas kamu."
AKU?
MEMBANGUNKAN AFKA TIAP PAGI?
Sekali lagi aku mengerjapkan mata menatap Mamah yang tersenyum lebar dengan mata sedikit mengecil karena pipinya yang mengembang.
"Bi, tolong ambilin serbet ya bi."
Satu lagi, di rumah Afka juga tinggal sepasang suami istri yang tinggal di kamar belakang. Kang Adi menjadi tukang kebun dan Bi Suti menjadi pembantu rumah tangga. Kecuali soal memasak, Mamah yang selalu melakukannya karena memasak adalah hobinya. Mamah juga bilang aku harus menganggap rumah ini seperti rumah sendiri. Lima belas menit aku membantu Mamah melakukan beberapa hal kecil di dapur, akhirnya makanan sudah siap. Dan sekarang aku akan menata meja.
"Zayyin, biar Mamah aja. Kamu panggil Afka ya, suruh turun buat makan."
Aku langsung menuruti apa kata Mamah hingga kini aku berada di depan pintu kamar Suamiku. Mengetuk dua kali. Baru saja aku ingin berbicara, tapi ternyata pintu sudah terbuka memperlihatkan Afka yang sudah rapih sambil menggendong tasnya dengan satu tangan.
"Hai." Aku tersenyum canggung ke arahnya yang memasang wajah datar.
"Apa?"
"Makanannya udah siap, jadi Mamah bilang kamu harus sarapan sekarang." Ada apa ini? Kenapa Afka terus menatapku tanpa menjawab pertanyaanku? Dia membuatku salah tingkah begini.
"Jadi, kamu mau terus berdiri di situ dan menghalangi jalanku?"
"Eh?" Aku berjalan mundur karena memang benar aku berada di depan pintunya dan menghalangi jalannya. Aku malu, sangat malu. Kutatap punggung Afka yang pergi begitu saja dan menuruni tangga.
Ada apa dengannya? Kenapa Afka menjadi dingin begitu? Ia bersikap sama seperti ketika dulu ia mengabaikan orang-orang yang menjadi penggemarnya saat SMA. Tapi aku ini istrinya, kenapa dia mengabaikanku? Apa aku melakukan kesalahan? Atau dia marah padaku karena aku membangunkannya tadi?
***