Hembusan angin terus membuat sebagian rambutku berterbangan yang tak tertutupi helm. Sekarang aku berada di kursi belakang motor besar milik Afka. Berhubung aku yang memakai rok, terpaksa harus duduk menyamping dan harus berpegangan pada bahu Afka.
"Berenti! Berenti!" Sedikit berteriak aku menepuk-nepuk bahu Afka pelan dan perlahan motornya berhenti. Kulepas helm yang melekat di kepalaku.
"Aku turun di sini aja." Kataku sembari turun dari motornya sambil merapikan rambutku yang sedikit berantakan. Hal yang sama dilakukan Afka, ia melepas helmnya dan menatapku layaknya bertanya 'kenapa?'.
"Kamu dulu sangat terkenal, jadi seangkatanku pasti mengenalmu semua. Aku takut kalo nanti mereka liat kita, terus ketahuan tentang hubungan kita. Ini.." Aku menyerahkan helm yang kukenakan tadi pada Afka sambil tersenyum.
"Yaudah, berarti nanti aku juga jemput kamu di sini ya."
"Iya, nanti aku telfon." Afka langsung melajukan motornya setelah memasang helm di kepalanya. Sekarang aku mulai melangkahkan kakiku berjalan menuju sekolahku yang letaknya hanya 20 meter dari tempat aku diturunkan oleh Afka. Tidak terlalu banyak orang yang lewat jalan ini, jadi aku bisa santai berjalan. Afka mengantarku ke sekolah karena perintah Grepa, dia juga akan menjemputku sepulang sekolah nanti.
Aku berjalan melewati koridor, hingga memasuki ruangan XII IPS-1 yang merupakan ruang kelasku dan duduk di bangku ketiga dekat jendela. Suasana kelas saat ini sudah lumayan ramai.
"Eh, Zen. Kemana lo kemaren? Ga sekolah?"
"Biasalah, gue kan orang sibuk.." Aku menaik turunkan kedua alisku menanggapi pertanyaan Nina teman sekelasku pastinya.
"Sibuk ngapain lo? Cover lagu?"
"Tau aja lo! Pasti belom lo tayangin ya? Coveran baru gue?"
"Udah keleus, gue like lagi! Mentang-mentang yang nayangin udah hampir empat ribu!"
"Hanya keberuntungan.. Eh, kemaren ngapain aja? Ada-"
"ZEN!! ZEN!! ZEN!!" Akhirnya teriakan menggelegar itu terdengar membuat jantungku terasa akan copot. Pemilik suara mengerikan itu masuk ke kelas dengan langkah cepat mendekatiku, membuatku hanya bisa menghela nafas panjang dan memutar bola mata bosan.
Dia adalah Revta, sahabat sekaligus teman sebangku ku selama hamper tiga tahun SMA ini. Kemanapun kami selalu bersama-sama. 'Dimana ada Zayyin pasti di situ ada Revta.' Yah begitulah bisanya orang-orang membicaran tentang kami. Meski kami selalu bersama, kami tidak pernah mengabaikan teman-teman kami yang lain dan tetap berteman akrab. Kami tidak pernah membatasi diri hanya pada kami berdua saja.
Revta meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk di sebelahku, sekarang dia menatapku dengan tatapan menyelidik membuatku menaikkan alis sebelah. Entah apa yang ada di pikirannya kali ini. "Apa?" tanyaku.
"Jelasin ke gue, kemaren lo ngapain?"
"Ngapain? Ga ngapa-ngapain kok. Cuma uru-"
"JANGAN BOHONG!" Revta menekankan setiap kata yang ia ucapkan, hal itu membuatku mengerjapkan mata beberapa kali.
"Apaan sih lo? Lebay woy."
"Kemaren gue lewat depan rumah elo."
MATI
"Jangan lo kira gue ga tau, kemaren gue liat banyak orang di sana."
TAMATLAH SUDAH
Sepertinya aku harus jelasin semuanya sama Revta, yah biarlah hanya dia yang tau. Jangan sampai dia bocor ke orang-orang. Dalam aku menarik nafas lalu menghembuskannya. Aku mempersempit jarak di antara kami agar tak ada orang lain yang mendengarkan pengakuanku ini.
"Oke Ta, gue ngaku kalo-"
"Jadi gimana party anniversary Kak Mersha sama Mas Andre kemaren? Lancar kasih surprisenya? Lo parah tau! Ga ajak-ajak gue buat nyiapin kejutan buat mereka. Malah sampe ga sekolah lagi lo! Pasti seru ya kemaren? Gimana reaksi Kak Mersha? Ayo dong cerita.. Kemaren gue liat mukanya Kak Mersha keliatan bahagia banget. Gue mau nyapa tapi takut ganggu."
ASLI
Aku masih diam dengan mulut yang sedikit terbuka, bingung melihat betapa polosnya sahabatku ini. Padahal aku bener-bener jantungan saat aku pikir kalau Revta tahu tentang pernikahanku dan Afka. Apalagi ekspresinya tadi yang begitu serius memperjelas keadaan. Tapi untunglah kalau memang Revta tidak menyadarinya.
"Zayyin! Cerita dong!"
"A-Ah, Iya! Lancar kok kemaren.."
*********
"Ahahaha!.. Hahaha!!" Di siang menjelang sore ini aku sedang menonton TV sendirian di lantai dua sendiri. Papah sedang bekerja di Kantornya, dan Mamah menemani Grepa terapi di rumah sakit. Jadi di rumah hanya ada aku, Afka, Bi Suti dan Kang Adi. Entah apa yang sedang dilakukan Afka di kamarnya, aku tidak tahu. Sedangkan Kang Adi dan Bi Suti di lantai bawah.
Tawaku tak bisa berhenti karena terus menyaksikan tingkah aneh Kwang Soo dan Seok Jin di Variety Show Running Man. Aku selalu menunggu-nunggu acara ini yang hanya ditayangkan setiap hari Sabtu dan Minggu.
"Ahahaha!" Tawaku semakin menjadi saat Haha dan Jae Suk ikut ambil peran dalam perdebatan Kwang Soo si Jerapah. Bahkan aku melampiaskan tawaku dengan memukul-mukul pahaku karena lucunya. Namun tawaku mereda saat menyadari seorang Pria tinggi berdiri di depan pintu kamar Afka, tentu saja Pria itu Afka.
"Apa kamu ga bisa memelankan suara tawamu?" Ucap pria itu ketus.
"Aku ganggu ya?" Kataku sedikit ragu.
"Sangat mengganggu."
"Maaf.. Memangnya kamu lagi apa?"
"Ngerjain tugas." Setelah itu Afka kembali masuk ke kamarnya. Afka memang anak yang rajin, berbeda denganku yang paling anti kalau sudah mendengar kata belajar. Menurutku belajar adalah hal paling membosankan yang akan membuang-buang waktu berhargaku saja. Hal yang kusuka adalah menonton, bernyanyi, dan menulis cerita. Aku menulis kapanpun aku mau, terlebih di saat mood ku sedang bagus.
Aku sudah mempublikasikan satu ceritaku di w*****d dan sudah tamat, yah pembacanya sih menurutku sudah lumayan banyak. sekarang aku sedang dalam tahap penulisan cerita baru. Rencananya aku akan mempublishnya jika sudah selesai kutulis. Aku juga sering mengikuti lomba cipta cerpen, dan keberuntungan karena beberapa kali aku memenangkannya. Yah, begitulah sedikit tentangku.
Sekarang Afka sedang mengerjakan tugas, sebagai istri seharusnya aku membuatnya nyaman tapi aku malah mengganggunya. Aku berdiri lalu berjalan menuruni tangga menuju dapur di bawah dan mulai membuat minuman. Selesai! Aku kembali menaiki tangga sambil membawa minuman yang aku buat tadi dan berencana membawanya ke kamar Afka. Aku sempat berhenti dan terkekeh pelan saat melihat aksi konyol Haha di TV, tapi aku tersadar lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah mengetuk pintu tiga kali, perlahan aku membuka pintu kamar Afka yang tak terkunci. Sedikit mengintip, benar saja Afka dengan tenang duduk di kursi meja belajarnya. "Afka, aku masuk ya?"
Tidak ada kudengar jawaban darinya dan aku menganggap kalau dia membolehkanku masuk, jadi aku berjalan mendekatinya. Ia menoleh saat aku sudah berdiri di sampingnya. "Ini, Untukmu." Perlahan aku meletakkan gelas yang kubawa di mejanya.
"Coklat?" Ia menatapku membuatku menjadi sedikit tersipu, tapi sebisa mungkin aku tak menunjukkan rasa tersipuku itu.
"Coklat hitam baik untuk meningkatkan konsentrasi, jadi aku buatin buat kamu."
"Ya sudah, terima kasih." Tatapan Pria itu kembali pada laptopnya.
"Apa lagi?" Ia kembali menoleh ke arahku yang masih berdiam berdiri di sampingnya sambil menatapnya. Apa yang kulakukan? Tentu saja menunggu bagaimana reaksi Afka saat meminum coklat buatanku itu.
"Engga kamu minum?"
"Nanti aja."
"Coba dulu coklatnya.." Dengan menatapnya penuh harapan akan pujian, aku tersenyum saat ia meneguk sedikit coklat hangat yang aku buat.
"Udah kan? Sekarang kamu boleh pergi." Begitu saja? Apa dia tidak mau memberitahuku bagaimana rasanya? Enak kah? Atau tidak? Aku hanya menghela nafas kemudian keluar dari kamar Afka dengan perasaan yang sedikit kecewa.
***