"Udah malem, elo tidur aja sono! Dasar bocah!"
"Iyaiya! Dasar ahjumma cerewet!"
"Diam!!"
"Ckckck.. Kalian ini selalu aja berantem." Sekarang layar laptopku yang tadinya dipenuhi wajah Refa sudah berganti dengan wajah Mama dan Papaku. Malam ini aku sedang video call dengan orang di rumahku.
"Abisnya si Refa tuh Ma.. Papa juga nih.. Kemaren katanya tuh anak pas SMA mau dimasukin pesantren.."
"Ya mana tega Papa, dia juga kemaren nangis-nangis ga mau kan?"
"Yaiya.. Tapi kan.. " Sepertinya aku mendengar suara samar di luar kamarku yang membuatku menggantung kalimat.
"Tapi apa?"
"Tunggu Pa," Aku menajamkan pendengaranku untuk fokus pada suara samar tadi.
"Kenapa sih?" Memang benar ada suara.
"Pa, Ma, Zayyin tutup yaa.. Kayaknya Afka udah pulang."
"Iyaiya, seneng banget tuh suaminya udah pulang?" Sempat kulihat kedua orang tuaku terkekeh.
"Hehehh.. Yaudah besok malem lagi ya Ma, Pa, byeee. Love youuuu.."
Tanpa menutup panggilan aku sudah beranjak turun dari kasur dan berjalan ke pintu untuk keluar. Sempat kudengar kekehan Mama dan Papa lagi, lalu mungkin mereka memutuskan panggilan. Malam ini Afka ada kuliah malam, sejak tadi aku tak bisa tenang karena ia lama sekali pulang. Entah berapa kali aku keluar masuk kamar untuk mengecek apakah Afka sudah pulang atau belum. Sebelumnya aku menunggu Afka di bawah sambil menemani Grepa ngobrol di teras. Tapi sekarang semua orang sudah masuk ke kamarnya.
Di luar kamar aku melirik jam dinding di atas TV yang menunjukkan pukul 10.43. Lalu hanya berjalan dua langkah lurus dari depan pintu kamarku, aku langsung membuka pintu kamar Afka.
"Afka? Kenapa kamu baru pulang?"
"Ga bisa ketuk pintu dulu?" Lagi-lagi Afka memasang wajah dinginnya sambil membuka kancing kemejanya.
"Ini hampir jam sebelas, kenapa kamu lama sekali?"
Aku tak begitu peduli dengan pertanyaannya, jadi tak kugubris. Tapi hal yang sama juga dilakukannya, ia masih diam dan melanjutkan membuka kancing kemejanya kemudian melemparkan kemeja hitam itu ke tempat tidurnya. Diikuti kaos putih yang juga dilemparkan ke tempat tidur hingga sekarang ia sudah bertelanjang d**a. Diamnya membuatku mengernyit, dengan langkah besar aku berjalan semakin mendekatinya.
"Kenapa kamu engga jawab? Kamu bilang bakal pulang jam setengah sembilan, tapi ini? Ditelpon juga ga diangkat?"
"Kamu ga perlu tau." Sekarang Afka melepaskan tali pinggangnya, tapi aku masih tidak memperdulikannya.
"Aku perlu tau.." Setelah melemparkan tali pinggang ke tempat tidur, Afka menatapku. Tatapan yang mampu menghipnotisku.
"Kenapa?" Tanyanya yang membuatku mengernyit heran. "Kenapa kamu perlu tau?" Lanjutnya lagi.
"Karna aku-" Afka tersenyum sinis karena melihatku yang sepertinya tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Ia berjalan ke arahku dan melewatiku. Aku harus melanjutkan kata-kataku! Kubalikkan tubuhku menatap punggung Afka.
"Karna aku istrimu Afka.." Suaraku semakin memelan. Tapi lihat, Afka menghentikan langkahnya tanpa berbalik. Aku menunggu apa yang akan dikatakan Afka. 1 detik.. 2 detik.. Diputar kepalanya sedikit tanpa membalik badannya dan tanpa menatapku. Jadi aku hanya bisa melihat setengah dari wajahnya.
"Ohya?" Ohya? Kata macam apa itu? Aku bilang kalau aku istrinya dan dia hanya menjawab ohya? Sekarang ia kembali berbalik dan mulai melangkahkan kaki menuju pintu.
"Kamu mau kemana Afka?" Dia tak menjawab, terpaksa aku mengikuti dan menahan tangannya. "Kamu mau kemana?"
"Mandi."
"Selarut ini? Kamu bisa sakit?"
"Bukan urusanmu." Singkat, padat, dan jelas. Afka pergi begitu saja keluar dari kamarnya setelah melepaskan tanganku darinya. Aku hanya bisa menghela nafas. Kenapa dia begitu sinis? Aku hanya khawatir padanya.
Kulangkahkan kaki keluar kamar Afka, nanar kutatap pintu kamar mandi yang sekarang tertutup. Samar kudengar pancuran shower menyala di dalam tanda bahwa Afka sudah memulai ritual mandinya. Lagi-lagi aku menghela nafas mengingat sikap dingin Afka padaku, tapi aku tak mau berpikir negatif. Mungkin saja dia hanya lelah karena baru pulang kuliah di jam ini.
Aku berpikir membuat teh hangat untuknya, jadi aku turun ke bawah dan mulai membuatnya di dapur. Saat kurasa tehnya sudah sempurna, aku kembali naik ke lantai atas sambil membawa teh tersebut. Kulihat lampu kamar mandi mati, artinya Afka sudah tidak ada di sana. Ragu aku mengangkat tanganku dan mengetuk kamar Afka pelan.
"Afka? Ini aku Zayyin.." Aku berusaha berkata sepelan mungkin agar tidak membuat Afka marah. Namun tak ada jawaban dari dalam, sekali lagi aku kembali mengetuk pintunya. "Afka? Aku buka ya?" Masih tak ada jawaban, jadi aku memutuskan membuka pintunya dan masuk. Ternyata lampu sudah dimatikan, apa mungkin Afka sudah tidur? Aku berjalan sedikit dan mulai meraba mencari meja belajar Afka yang ada di depan pintu. Ketemu! Setelah memastikan ada tempat kosong, aku meletakkan teh yang kubuat. Kembali aku menatap kegelapan kamar Afka dalam diam.
"Afka? kamu udah tidur? Aku buat teh hangat.." Aku melangkah lagi mencari tempat tidur Afka.
"Af- aa!" Terkejut saat tiba-tiba tanganku ditarik kuat dan dihempaskan ke kasur.
"Afka? Apa itu kamu?"
"..." Tak ada jawaban.
"A.. Apa yang kamu lakukan?!" Sekarang tanganku dikunci ke atas kepalaku oleh tangan kekar seseorang yang menindihku, bisa kurasakan deru nafasnya tepat di depan wajahku. Pikiranku mulai melantur, berpikir kalau mungkin dia adalah orang lain yang menyelinap masuk ke kamar Afka dan menyakiti Afka.
"Si.. Siapa kau? Kemana Afka? Apa yang kau lakukan padanya?! Af-" Sekarang tangan orang itu membekap mulutku dengan tangan sebelahnya sementara tangan yang lain masih mengunci kedua tanganku di atas kepala. Aku memberontak dengan menggoyangkan kepalaku berusaha melepaskan dekapannya sambil berusaha teriak. Tak sadar air mataku mulai turun.
"Apa maumu?" Semua gerakanku diam seketika, saat kudengar suara Afka. Orang yang membuatku menangis ketakutan tak lain ternyata Afka.
"A.. Afka? Aku pikir ada orang la-"
"Kenapa kau terus menggangguku? Hah?"
"Apa?" Sekarang lampu tidur yang ada di atas nakas telah menyala memperlihatkan jelas wajah Afka yang sedang menatapku dengan tatapan dinginnya, tangannya masih mengunci tanganku dan posisi kami masih belum berubah. "Seharian kamu terus menggangguku!"
"Ta.. Tapi.. Aku ga bermaksud meng-"
"Jangan pernah bersikap seakan kamu istriku."
DEG!
***