“ Aku mohon menikahlah dengan Zora.” Pinta Kiran dengan mata berkaca kaca
“ Kau menjadikanku bahan penebusan rasa hutang budimu?” Tanya Vier dengan tatapan meruncing
Kiran menggeleng pelan
“ Lalu apa? Kau mempermainkanku? Kau pikir kau cukup berarti untuk memintaku mengorbankan hidup bersama wanita itu?” Tekan pemuda itu kemudian memalingkan wajah. Vier melangkah lunglai memasuki kamar ibunya yang masih belum sadarkan diri.
“ Vier! Tunggu!” Kiran mencoba mengejarnya. Tapi...
“ Jangan muncul di hadapanku lagi. Aku tidak mau melihat wajahmu.” Ujar Vier sebelum akhirnya menutup pintu rapat. Kiran menangis sedih terduduk di lantai depan ruangan. Sementara Vier, ia menyeka air mata yang hampir turun dari pelupuk matanya. Ditatapnya wajah Diana yang masih sepucat mayat, pemuda itu memegang