Pertemuan itu berlangsung di sebuah rumah makan tua di pinggir kota — tempat netral yang dipilih Saraswati, dengan satu ruang terpisah yang tenang, siang bolong, dan dua mobil pengamanan yang terparkir tanpa mencolok di luar.
Yang hadir: dari satu sisi, Bram Salim dan Saraswati. Dari sisi lain, Gunawan Abisatya, Danu, Mitha, dan Om Aji. Bisma menunggu di ruang sebelah bersama Dara — dekat cukup untuk bertindak, jauh cukup untuk tidak memenuhi meja.
Tiga puluh satu tahun menunggu pertemuan ini. Dan saat akhirnya terjadi, tidak ada yang tahu harus memulai dari mana — sampai Gunawan Abisatya, lelaki tertua di meja itu, melakukan sesuatu yang tidak diperkirakan siapa pun: ia berdiri, menolak dibantu, dan membungkuk dalam ke arah Bram.
'Sebelum apapun dibicarakan di meja ini,' kata Gunawan dengan suara yang tertahan, 'Bapak ingin melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan seseorang tiga puluh satu tahun lalu. Bapak Gunawan Abisatya, atas nama pribadi dan perusahaan, minta maaf kepadamu, Nak Bram. Bukan untuk penerbitan serial itu — kebenaran itu Bapak pertahankan sampai hari ini. Tapi untuk yang terjadi sesudahnya: tidak ada satu pun dari kami yang turun ke lobi itu. Kamu berteriak mencari orang dewasa yang mau menjelaskan, dan kami semua berdiri di lantai atas, sibuk dengan urusan masing-masing. Itu kegagalan kami. Itu kegagalan Bapak. Dan Bapak sudah memikulnya tiga puluh satu tahun.'
Bram tidak bergerak. Lelaki empat puluh delapan tahun itu duduk mematung — dan kemudian, di hadapan semua orang, bahunya mulai bergetar. Tiga puluh satu tahun dendam yang dibangunnya batu demi batu tidak runtuh oleh serangan, tidak runtuh oleh kekalahan, tapi runtuh oleh satu kalimat yang tidak pernah dibayangkannya akan didengarnya: *minta maaf*.
'Bapak... ingat,' kata Bram akhirnya, suaranya pecah. 'Bapak ingat hari itu.'
'Bapak ingat semuanya, Nak. Seragammu yang basah. Satpam yang menghalangimu. Dan suara seorang anak yang meminta — bukan menuntut, meminta — satu penjelasan.' Gunawan duduk kembali, dan matanya basah tanpa malu. 'Bapak dengar seminggu kemudian, dan Bapak bodoh menganggapnya kemarahan remaja. Kemarahan itu bukan kemarahan remaja. Itu tangisan anak yang kehilangan ayahnya dan tidak mendapatkan satu pun jawaban yang masuk akal. Tiga puluh satu tahun Bapak mencari cara meminta maaf untuk itu — dan Bapak berterima kasih kamu memberi Bapak kesempatan hari ini.'
Butuh waktu sebelum meja itu bisa melanjutkan. Saraswati mengusap mata kakaknya dengan tisu — kebiasaan adik yang tidak pernah hilang berapapun umur mereka — dan akhirnya Bram mengeluarkan dua amplop dari tasnya, meletakkannya di tengah meja dengan dua tangan, seperti meletakkan sesuatu yang sakral.
'Ini surat Ayah. Ditulis seminggu sebelum beliau meninggal. Dan ini—' ia mengangguk ke amplop kedua, '—salinan surat Ibu Larasati yang diberikan Mitha lewat adikku. Dua orang mati, dua surat. Kurasa mereka berdua sudah menunggu terlalu lama untuk dibaca berdampingan.'
Surat Hardjono dibaca lebih dulu — oleh Gunawan, dengan suara pelan, dari awal sampai akhir. Dan saat sampai di dua paragraf terakhir, suaranya berubah:
*'...tidak semua yang tertulis di koran itu salah. Ayah melakukan kesalahan — tapi Ayah tidak melakukannya sendirian, dan Ayah tidak akan pernah sempat membuktikannya. Ada nama lain yang seharusnya duduk di sebelah Ayah di kursi terdakwa. Nama itu yang mengirim Ayah ke sini, dan nama itu yang akan memastikan Ayah tidak pernah keluar untuk bercerita.'*
Ruangan itu hening. Lalu Danu berkata pelan: 'Beliau tidak menuliskan namanya.'
'Beliau tidak berani,' jawab Bram. 'Surat itu melewati pemeriksaan sel sebelum sampai ke keluarga. Kalau namanya tertulis, surat itu tidak akan pernah sampai — dan mungkin keluarga kami yang tidak pernah sampai ke mana-mana.' Ia menatap Gunawan. 'Tiga puluh satu tahun saya membencimu, Pak Gunawan. Tiga puluh satu tahun saya menyalahkan tulisan Ibu Larasati. Dan tiga puluh satu tahun juga, nama yang sebenarnya — orang yang menurut Ayah mengirimnya ke kursi terdakwa — bebas, menua, mungkin menertawakan kita semua. Saya datang hari ini bukan hanya untuk berdamai. Saya datang karena hanya kalian yang punya potongan-potongan lainnya: arsip perusahaan, ingatan para saksi, dan surat Ibu Larasati. Saya tidak bisa menemukan nama ini sendirian. Saya sudah mencoba tiga puluh satu tahun — dengan cara yang salah.'
Dan Mitha — yang sejak awal mendengarkan dengan surat mamanya di pangkuan — membuka halaman ketiga surat itu dan membacakan satu paragraf dengan suara yang tenang:
*'Mama mundur dari jurnalistik bukan karena takut. Mama mundur karena setiap kali mama memegang pena, mama melihat wajah anak tujuh belas tahun itu...' Ia mengangkat wajah, menatap Bram langsung. 'Anak tujuh belas tahun itu kamu, Bram. Tiga puluh satu tahun kamu mengira mamaku menghilang dengan tenang. Ternyata dia membawamu — wajahmu — di setiap hari sisa hidupnya. Kalian berdua saling mencari tanpa tahu, di dua sisi cerita yang sama.'*
Bram menunduk dalam. Dan ketika ia mengangkat wajahnya, matanya merah tapi suaranya sudah kembali — suara lelaki yang akhirnya berdiri di tanah yang benar setelah tiga puluh satu tahun: 'Kalau begitu izinkan aku melunasi semuanya dengan cara yang benar kali ini. Bukan lagi dengan paket dan nomor misterius. Dengan kebenaran — kebenaran utuh, untuk ayahku, untuk ayahmu, dan untuk dua keluarga yang sudah terlalu lama membayar.'
Di ruang sebelah, dari celah pintu yang sengaja tidak ditutup rapat, Dara dan Bisma menyaksikan semuanya tanpa bersuara. Dara mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, dan Bisma — untuk pertama kalinya tanpa godaan apa pun — hanya berkata pelan: 'Ayahmu baru saja melunasi utang tiga puluh satu tahun dengan satu bungkukkan. Itu hal paling berani yang pernah kulihat dari orang seusianya.'
'Itu hal paling berani yang pernah kulihat dari siapa pun,' jawab Dara. 'Termasuk dari kamu, tukang perbaiki mesin kopi. Catat itu.'
Om Aji menutup pertemuan itu dengan kalimat yang kemudian dicatat semua orang di meja: 'Mulai hari ini, kita bukan dua keluarga yang berdamai. Kita satu tim yang membuka kembali berkas tiga puluh satu tahun. Gencatan senjata sudah selesai. Sekarang pekerjaan sebenarnya dimulai.'