Pekerjaan itu dimulai tiga hari kemudian di ruang kerja Danu — yang kini resmi menjadi ruang komando dua keluarga, dengan satu papan tulis besar di dinding dan tiga orang yang paling tidak cocok sedunia bekerja di dalamnya: Bisma, Om Aji, dan Bram.
'Mari kita mulai dari yang kita tahu,' kata Bisma, mengetuk papan. 'Kencana Grafika: didirikan tahun tujuh puluhan oleh Hardjono Wirawan, berkembang jadi raksasa percetakan dan distribusi, runtuh tahun sembilan puluhan karena serial Larasati. Tersangka tunggal: Hardjono. Hukuman: mati sebelum vonis. Tamat. Itu versi resminya.' Ia menggambar satu lingkaran. 'Sekarang versi suratnya: Hardjono bersalah, tapi tidak sendirian. Ada "nama lain" yang mengirimnya ke kursi terdakwa. Artinya ada orang yang satu: tahu kejahatannya, dua: memastikan bukti berhenti di Hardjono, tiga: berdiri cukup dekat untuk melakukan keduanya. Itu bukan lingkaran besar. Itu lingkaran kecil sekali.'
'Bahkan lebih kecil dari yang kaukira,' kata Bram, membuka map yang dibawanya dari Singapura — dokumen-dokumen tua yang disimpannya tiga puluh satu tahun tanpa pernah tahu cara membacanya. 'Aku menghabiskan dua minggu membaca ulang akta-akta pendirian dan dokumen saham Kencana yang tersisa. Dengan mata yang baru — mata yang mencari, bukan mata yang mendendam. Dan ada satu pola yang selama ini tidak pernah kulihat: di semua dokumen publik, Hardjono tercatat pemilik tunggal. Tapi di dokumen-dokumen internal awal — akte pendirian, perjanjian modal — selalu ada nama kedua. Rekan pendiri. Direktur keuangan. Pemegang tiga puluh persen saham yang tidak pernah muncul di publik karena sahamnya dipegang lewat dua perusahaan cangkang.'
Ia meletakkan satu lembar dokumen pudar di meja. Dan nama itu akhirnya terbaca oleh semua orang di ruangan untuk pertama kalinya:
**Darmadi Sutanto.**
'Kenapa serial Larasati tidak menyentuhnya?' tanya Danu.
'Karena dia membersihkan jejaknya dengan sempurna,' jawab Bram. 'Dengarkan urutan waktunya — ini yang membuat darahku berhenti waktu menyusunnya. Delapan bulan sebelum serial terbit: Darmadi mulai mengalihkan sahamnya, lapis demi lapis, ke nama-nama lain. Tiga bulan sebelum terbit: dia mengundurkan diri resmi dari semua posisi — "karena alasan kesehatan", kata beritanya, dua paragraf kecil, halaman belakang. Seminggu sebelum terbit: Raka Wijaya — satu-satunya orang yang memegang bukti utuh aliran uangnya — mati dalam kecelakaan. Dan tiga minggu setelah Hardjono ditangkap: Darmadi Sutanto, yang "pensiun karena sakit", mendirikan perusahaan baru dengan modal yang tidak pernah bisa dijelaskan asalnya.' Bram menatap mereka satu per satu. 'Dia tidak lolos dari serial itu, Danu. Dia *keluar* sebelum serial itu terbit — karena dia tahu serial itu akan datang. Dan hanya ada dua cara mengetahuinya: dari dalam redaksi... atau dari Raka sendiri, sebelum Raka sempat menyerahkan semuanya.'
Om Aji — yang sedari tadi diam dengan wajah yang semakin mengeras — akhirnya bersuara, pelan: 'Atau dari dalam rumah kami sendiri.' Semua menoleh. 'Minggu-minggu sebelum terbit, serial itu rahasia paling ketat di Suara Metropolitan. Yang tahu isinya: Larasati, Hendra, dan Pak Gunawan. Tapi yang tahu *rencana terbitnya* lebih banyak — bagian produksi, bagian hukum perusahaan. Kalau ada satu telinga di salah satu bagian itu yang mendengar dan melapor...' Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.
'Jadi kita punya tiga pertanyaan,' kata Bisma, menuliskannya di papan. 'Satu: di mana Darmadi Sutanto sekarang? Dua: siapa yang membunuh Raka Wijaya — dan apakah Darmadi yang memerintahkannya? Tiga: siapa telinga yang membocorkan rencana terbit? Dan dengarkan baik-baik ketiganya, karena ada satu kemungkinan yang membuat semuanya jadi jauh lebih buruk: kalau orang yang sama menjawab ketiga-tiganya...' ia mengetuk papan itu, '...maka orang itu masih hidup, masih kaya, masih berkuasa — dan baru saja mendengar bahwa kita mulai menggali.'
'Dia sudah kaya dan berkuasa,' kata Bram. 'Darmadi Sutanto hari ini adalah pemilik Grup Sutanto Nusantara — logistik, properti, dan media kecil di dua kota. Orangnya dihormati, dermawan, rajin muncul di berita filantropi. Enam puluh sembilan tahun. Dan selama tiga puluh satu tahun, dia tidak pernah sekalipun — tidak satu kalipun — menyebut nama Kencana Grafika di mana pun. Seolah tujuh belas tahun pertamanya sebagai pengusaha tidak pernah ada.'
'Orang yang benar-benar pensiun tidak menghapus masa lalunya,' kata Danu pelan. 'Orang yang menghapus masa lalunya sedang menyembunyikan sesuatu.'
Danu mengambil ponselnya dan menelepon satu-satunya orang yang mungkin pernah berhadapan langsung dengan lelaki itu: ayahnya. Video call itu tersambung ke beranda rumah, dan setelah mendengar nama itu, Gunawan diam cukup lama — menggali ingatan empat puluh tahun berkarier.
'Darmadi Sutanto,' katanya akhirnya. 'Ya. Bapak mengenalnya — tidak dekat, tapi beberapa kali satu ruangan. Kalau kalian mencari gambaran orangnya, begini: di setiap acara bisnis, ada dua jenis manusia. Yang ingin dilihat, dan yang mengamati. Hardjono selalu jadi pusat ruangan — keras, flamboyan, semua orang tahu dia ada di mana. Darmadi sebaliknya: dia selalu ada di pinggir, ramah, murah senyum, dan entah bagaimana selalu tahu kabar semua orang sebelum orang itu sendiri membicarakannya.' Gunawan berhenti sebentar. 'Ada satu kejadian yang Bapak baru sadar artinya sekarang. Sekitar setahun sebelum kasus itu meledak, Bapak bertemu dia di satu acara amal. Iseng Bapak bertanya soal Kencana — bisnisnya sedang bagus-bagusnya. Jawabannya Bapak ingat persis karena aneh: "Bisnis yang baik itu seperti rumah, Pak Gunawan. Yang penting bukan besar bangunannya, tapi tahu di mana pintu keluarnya." Waktu itu Bapak kira itu filosofi. Sekarang Bapak mengerti: dia sedang menyiapkan pintu keluarnya, jauh sebelum ada yang tahu rumahnya akan terbakar.'
'Berarti ayah bahkan mengatakannya terang-terangan,' kata Bram getir. 'Dan tidak ada satu pun dari kami yang memahaminya.'
'Orang sepertinya memang berbicara dalam teka-teki, Nak Bram,' jawab Gunawan. 'Itu caranya menikmati permainan. Tapi ingat baik-baik: orang yang menikmati permainan punya satu kelemahan — dia tidak tahan tidak menonton hasilnya. Dia akan tetap dekat. Dia akan tetap mengamati. Dan orang yang mengamati selalu meninggalkan bayangan.'
Telepon itu ditutup, dan ruangan itu hening sebentar — masing-masing mencerna gambaran lelaki yang tiga puluh satu tahun berdiri di pinggir ruangan, ramah, murah senyum, dan tahu segalanya sebelum waktunya.
Dan di papan tulis itu, di bawah tiga pertanyaan besar, Danu menuliskan satu kalimat yang menjadi kompas mereka untuk minggu-minggu berikutnya — kalimat yang dikutipnya dari surat seorang lelaki yang mati di dalam sel:
*'Kemarahan membuatmu buta. Orang ini hanya bisa dilihat dengan mata yang jernih.'*