Darmadi Sutanto mengetahuinya dari cara yang paling tidak mereka inginkan: dari kantor arsip.
Selama tiga minggu, tim di ruang komando Danu bekerja dalam senyap — menyusun ulang aliran saham cangkang Darmadi, melacak dua perusahaan penerima pengalihan, memetakan jaringan Grup Sutanto Nusantara hari ini. Satu jalur terakhir yang tersisa adalah arsip fisik Kencana Grafika: dokumen-dokumen pembukuan asli yang disita kejaksaan tiga puluh satu tahun lalu dan — menurut penelusuran Om Aji — akhirnya disimpan di satu gudang arsip negara di pinggir kota, tidak pernah dimusnahkan, tidak pernah diminta siapa pun.
'Dokumen pembukuan asli itu kunci terakhir,' kata Bram. 'Laporan yang dipakai di pengadilan adalah versi ringkasan — versi yang sudah disusun untuk memastikan semua berhenti di Ayah. Tapi pembukuan aslinya, lembar demi lembar, akan menunjukkan ke mana uang itu benar-benar mengalir. Dan aku berani bertaruh sisa umurku: uang itu tidak berhenti di rekening Hardjono Wirawan.'
Maka permohonan akses resmi disusun — lewat jalur hukum yang bersih, dengan bantuan koneksi Gunawan. Tapi birokrasi berjalan seperti biasa: lambat, berlapis, dan — yang tidak mereka sadari — tidak pernah benar-benar tertutup.
Empat hari setelah permohonan itu masuk, telepon Om Aji berbunyi pukul dua pagi.
Gudang arsip itu terbakar.
Bukan seluruh kompleks — hanya satu blok. Blok F, tempat arsip-arsip kasus lama disimpan. Berita resminya keluar pagi harinya dengan efisien: korsleting listrik, tidak ada korban jiwa, kerugian material masih diinventarisasi. Tapi di foto-foto yang beredar di grup internal, satu detail membuat Om Aji berdiri lama di depan layar ponselnya: dari dua belas blok gudang itu, yang hangus tanpa sisa hanya satu — blok tempat berkas Kencana Grafika disimpan tiga puluh satu tahun.
'Dia tahu,' kata Bram, saat mereka berkumpul pagi itu juga. Suaranya tenang — ketenangan orang yang akhirnya mendapat konfirmasi dari arah yang paling tidak diinginkannya. 'Tiga puluh satu tahun gudang itu berdiri tanpa pernah terbakar, dan empat hari setelah kita mengajukan akses, satu blok — satu blok yang isinya berkas kita — habis. Itu bukan korsleting. Itu jawaban. Darmadi Sutanto masih punya telinga di dalam birokrasi, masih punya tangan yang bisa bergerak dalam empat hari, dan masih menganggap berkas itu cukup berbahaya untuk dibakar.'
'Itu artinya dua hal,' kata Danu, berdiri dari kursinya. 'Pertama: dugaan kita benar. Orang tidak membakar gudang untuk menyembunyikan kesalahan orang lain — dia membakarnya karena namanya ada di dalamnya. Kedua...' ia berhenti, menatap papan tulis yang penuh catatan mereka, '...dia baru saja menunjukkan kepada kita bagaimana dia bekerja. Cepat, bersih, dan selalu punya orang di dalam. Persis seperti tiga puluh satu tahun lalu.'
'Tapi dia juga membuat satu kesalahan,' kata Bisma dari sudut ruangan, dan semua menoleh. Bisma berdiri dengan ponselnya di tangan dan senyum tipis di wajahnya — senyum yang hanya keluar saat ia menemukan sesuatu. 'Kemarin malam, sebelum gudang itu terbakar, permohonan akses kita sudah diproses satu tahap. Dan satu tahap itu artinya satu orang pegawai arsip sudah membuka katalog blok F — dan pegawai itu, karena kebiasaan birokrasi yang indah, sudah memindai beberapa lembar indeks untuk laporannya. Tidak banyak. Tapi cukup.' Ia memutar ponselnya. 'Aku menghubunginya pagi ini — sebelum ada yang sempat menghubunginya dari sisi seberang. Dia menyimpan salinannya di rumah. Delapan lembar indeks berkas, termasuk daftar inventaris dokumen pembukuan yang disita. Dan di daftar itu ada satu pos yang seharusnya tidak ada di berkas kasus: satu bundel korespondensi internal Kencana — surat-surat, bukan pembukuan — yang disita dari laci Direktur Keuangan.'
Bisma mengangkat wajahnya.
'Dari laci Darmadi Sutanto. Surat-surat pribadinya, Nak Bram — termasuk, kalau daftar ini benar, korespondensinya dengan satu nama yang menarik: oknum jaksa yang memimpin penuntutan ayahmu. Berkas fisiknya sudah jadi abu. Tapi sekarang kita tahu surat-surat itu *pernah ada* — dan kalau pernah ada, ada kemungkinan salinannya ada di tempat lain. Orang menyimpan salinan untuk hal-hal yang penting.'
'Dua kemungkinan tempat,' kata Om Aji, mengangguk pelan. 'Arsip kejaksaan — yang akan dijaga lebih ketat dari gudang itu mulai malam ini. Atau...'
'Atau di tangan orang ketiga yang juga ingin memegang kendali atas Darmadi,' potong Danu. 'Orang seperti dia tidak bersekutu tanpa pegangan. Kalau jaksa itu masih hidup, dan kalau dia menyimpan surat-surat itu sebagai jaminan...' Ia menatap Bram. 'Kita baru saja menemukan peta berikutnya. Bukan ke arsip yang sudah jadi abu. Ke manusia-manusia yang menyimpan potongannya.'
Dan pagi itu, di papan tulis ruang komando, satu nama lagi dituliskan di bawah nama Darmadi Sutanto — dengan tanda tanya besar di sampingnya:
*Jaksa penuntut kasus Kencana — masih hidup? Di mana? Dan apa yang disimpannya?*
***
Malam itu, di beranda belakang, Danu menemukan Mitha menatap taman dengan secangkir teh yang sudah dingin di tangannya. Ia duduk di sebelahnya tanpa bicara, menunggu — karena sudah belajar bahwa Mitha selalu bicara setelah keheningannya selesai.
'Gudang itu dibakar empat hari setelah kita mengajukan akses,' kata Mitha akhirnya. 'Artinya ada orang di dalam birokrasi yang melapor padanya. Artinya dia mendengar semua yang kita lakukan dengan selisih hanya beberapa hari. Dan artinya...' ia menatap Danu, '...dia bisa saja sudah mendengar hal-hal lain. Tentang kita. Tentang rumah ini. Tentang ayahmu yang sedang berobat.'
'Aku sudah menambah pengamanan di rumah ini dan di sekitarmu sejak sore tadi,' kata Danu. 'Dan aku sudah menyiapkan satu penawaran yang akan kamu tolak, tapi tetap harus kusampaikan: kamu bisa mundur dari semua ini. Bekerja seperti biasa, biar kami yang bergerak. Tidak ada yang akan menilaimu—'
'Kamu benar, aku menolak.' Mitha memotong pelan tapi tegas. 'Danu, ayahku dibunuh karena berdiri terlalu dekat dengan kebenaran. Kalau aku mundur sekarang karena takut, aku mengkhianati dua hal sekaligus: namanya, dan alasan mama mengajariku untuk tidak pernah lari.' Ia menggenggam tangan Danu. 'Tapi aku berjanji satu hal — aku tidak akan sembrono. Tidak ada pergi sendirian, tidak ada menerima tamu tanpa kabar, tidak ada heroik-heroikan. Aku mau jadi bagian dari tim ini, bukan jadi beban yang harus diselamatkan.'
Danu menatapnya lama, lalu mengangguk dan menariknya ke dalam pelukan. 'Deal. Untuk ketiga kalinya. Dan kali ini kucatat: istriku adalah anggota tim, bukan objek perlindungan.'
'Istrimu juga lapar,' kata Mitha, tersenyum ke bahunya. 'Dan bayinya juga.'
Danu membeku. 'Apa?'
'Aku belum yakin. Tes besok pagi.' Mitha menatap wajahnya dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. 'Tapi dua garisnya sudah muncul, Danu. Dua-duanya.'
Dan di beranda itu, di tengah malam yang membawa kabar tentang gudang yang terbakar dan musuh yang mengawasi, satu kabar kecil lain mengalahkan semuanya: Abisatya junior, yang dijanjikan Danu di kamar rumah sakit dulu, mungkin sudah dalam perjalanan.