Pencarian jaksa itu berjalan dua minggu dan berakhir di tempat yang tidak disangka: panti jompo di kota kecil di Jawa Tengah.
Namanya Sigit Prawirosentono, tujuh puluh delapan tahun, mantan jaksa penuntut umum yang menangani kasus Kencana Grafika di masa tuanya — kasus terakhir sebelum ia pensiun dini dengan alasan yang tidak pernah jelas. Bisma yang menemukannya, lewat tiga lapis koneksi dan satu akhir pekan penuh di arsip kepegawaian kejaksaan. 'Pensiun dini di usia lima puluh dua,' lapornya. 'Karier cemerlang, tidak ada masalah disiplin — dan tiba-tiba mengundurkan diri dua bulan setelah Hardjono meninggal di sel. Dua bulan. Orang tidak pensiun dini dari karier cemerlang dua bulan setelah terdakwa besarnya mati, kecuali ada yang membuatnya tidak bisa tidur.'
Maka dua orang berangkat ke Jawa Tengah: Bram — karena ini tentang ayahnya — dan Om Aji, karena Gunawan bersikeras ada orang yang 'tahu cara bicara dengan orang tua yang menyimpan rasa bersalah'.
Mereka menemukan Sigit Prawirosentono di beranda panti jompo, mengurus tanaman dengan tangan yang sudah gemetar, dengan mata yang masih mengenali ancaman dan tamu dalam satu pandangan. Dan saat Bram memperkenalkan diri — 'Saya Bramantyo. Anak Hardjono Wirawan.' — lelaki tua itu tidak terkejut. Ia hanya menatap lama, lalu berkata:
'Tiga puluh satu tahun saya menunggu. Saya tahu salah satu dari kalian akan datang — kamu, atau adikmu. Duduk. Ada yang harus saya serahkan sebelum tangan saya tidak bisa lagi menulis keterangan.'
Yang diserahkannya adalah satu koper kecil — koper tua berisi dokumen yang sudah menguning, yang disimpannya tiga puluh satu tahun di balik lemari, pindah-pindah tempat setiap kali ia pindah rumah. 'Saya tidak menyimpannya karena berani,' katanya. 'Saya menyimpannya karena pengecut. Ini jaminan saya — selama ini ada di tangan saya, Darmadi tidak akan menyentuh saya. Kesepakatan tidak tertulis antara dua orang yang sama-sama tahu terlalu banyak.'
Dan di koper itulah, untuk pertama kalinya setelah tiga puluh satu tahun, kebenaran utuh mulai terlihat bentuknya.
Ada korespondensi Darmadi dengan Sigit — surat-surat pendek yang hati-hati tapi cukup: arahan agar penuntutan difokuskan pada Hardjono 'sebagai pengambil keputusan tertinggi', janji-janji yang tidak pernah tertulis eksplisit tapi terbaca jelas di sela-selanya. Ada catatan tangan Sigit sendiri — halaman-halaman yang ditulisnya di malam-malam penuh rasa bersalah: keraguannya pada bukti yang 'terlalu rapi', saksi-saksi yang 'terlalu seragam', dan satu kalimat yang dilingkari tiga kali: *'Semua jalan dibuat berhenti di Hardjono. Siapa yang membuat jalan ini?'*
Dan ada satu amplop terpisah — yang diserahkan Sigit pada Bram dengan tangan gemetar dan mata yang tidak sanggup menatap: 'Ini yang paling berat saya simpan. Dua minggu sebelum ayahmu meninggal di selnya, dia menulis surat pada saya. Bukan surat terdakwa — surat orang yang tahu waktunya habis. Dia menawarkan pengakuan penuh: dia akan membuka semuanya, semua nama, semua aliran — dengan syarat keluarganya dilindungi. Surat itu tidak pernah saya teruskan ke atasannya. Saya menyimpannya. Seminggu kemudian ayahmu ditemukan... seperti yang kalian tahu.' Sigit menunduk dalam. 'Kalau saya teruskan surat itu, mungkin ayahmu masih hidup. Tiga puluh satu tahun saya memikul ini, Nak Bram. Maafkan saya.'
Bram membaca surat ayahnya di beranda panti jompo itu — surat kedua dari ayahnya, dari dua minggu sebelum kematiannya — dan tangannya tidak gemetar. Air matanya jatuh tanpa suara, tapi tangannya tidak gemetar. Ada satu kalimat di akhir surat itu yang mengubah segalanya:
*'Katakan pada anak-anakku: Ayah tidak bunuh diri. Ayah tidak akan pernah meninggalkan mereka dengan cara itu. Apapun yang tertulis nanti, Ayah memilih bertahan sampai akhir — untuk mereka.'*
Om Aji menutup koper itu dengan pelan. Dua lelaki itu duduk di beranda panti jompo dalam keheningan panjang, ditemani lelaki tua yang akhirnya meletakkan beban tiga puluh satu tahunnya.
'Berkas-berkas ini cukup untuk membuka kembali kasusnya,' kata Om Aji akhirnya. 'Tapi tidak cukup untuk menjatuhkan Darmadi Sutanto hari ini. Dia terlalu besar, terlalu banyak lapis. Kita butuh satu orang lagi — orang yang ada di dalam mesin uangnya dan masih hidup untuk bersaksi.'
'Ada satu,' kata Sigit, sebelum mereka berdiri. 'Orang yang mengurus pembukuan gelapnya sebelum Raka Wijaya — dan yang menggantikan Raka setelah Raka... pergi. Bendahara lama Kencana. Namanya Rustam Effendi. Terakhir saya dengar — dan ini informasi tua, kalian harus memeriksanya — dia hidup dengan nama lain di satu kota kecil di Sumatera. Kalau ada orang yang tahu ke mana uang itu mengalir lembar demi lembar, itu dia. Dan kalau Darmadi tahu kalian mencarinya...' Sigit menatap mereka berdua dengan mata tuanya yang jernih, '...kalian harus sampai ke dia lebih dulu. Orang-orang yang menyimpan rahasia Darmadi Sutanto punya kebiasaan tidak berumur panjang.'
Perjalanan pulang ke Jakarta ditempuh dalam diam yang panjang. Di kursi belakang mobil itu, Bram memeluk koper kecil berusia tiga puluh satu tahun seperti memeluk sesuatu yang hidup — dan untuk pertama kalinya sejak berusia tujuh belas tahun, ia tidak lagi merasa sendirian di dalam perangnya.
Tapi ia juga tahu, dengan kepastian yang dingin: pertanyaan 'siapa yang membunuh Raka Wijaya' dan pertanyaan 'bagaimana ayahku benar-benar mati' kini punya satu jawaban yang sama, yang berdiri tegak di ujung jalan ini — dan jawaban itu sudah mendengar bahwa mereka sedang bergerak.
Di Jakarta, di malam yang sama, satu pesan masuk ke ponsel Danu dari nomor yang tidak dikenal — nomor yang kali ini tidak perlu menyembunyikan apa-apa lagi, karena isinya memang ditulis untuk dibaca:
*'Kamu menggali kuburan yang sudah tiga puluh satu tahun tenang, Anak Muda. Nasihat orang tua: berhenti, atau kuburan berikutnya akan digali untuk orang-orang yang kamu cintai. Ini bukan ancaman. Ini ramalan.'*