Tes pagi itu memastikannya: dua garis, jelas, tidak terbantahkan.
Dan sebelum tengah hari, satu keluarga besar sudah berkumpul di ruang keluarga rumah Abisatya dengan kehebohan yang tidak pantas untuk jam sepuluh pagi. Dara menangis dan tertawa bersamaan sambil memeluk Mitha. Bisma datang masih dengan kemeja tidur karena ditelepon Danu dengan satu kalimat tanpa konteks: 'Datang sekarang, ini penting' — dan berdiri di tengah ruangan dengan mulut terbuka saat mendengar kabarnya. Bahkan Bram dan Saraswati yang kebetulan sedang bekerja di ruang komando ikut terbawa arus kebahagiaan itu, berdiri di ambang pintu dengan senyum yang tidak tahu harus diletakkan di mana.
Tapi tidak ada yang reaksinya seperti Gunawan Abisatya.
Lelaki tua itu tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Lalu ia berdiri — menolak dibantu, seperti biasa — berjalan ke arah Mitha, dan memegang kedua tangannya dengan dua tangan yang gemetar. 'Kamu tahu,' katanya dengan suara yang tidak stabil, 'Bapak pernah bilang ke Danu di kamar rumah sakit: Bapak ingin memeluk cucu sebelum Bapak tidak ada di dunia ini. Waktu itu Bapak bilang begitu supaya anak itu berhenti bujangan. Tapi sekarang, setelah kanker, setelah semua badai ini...' ia berhenti, menelan sesuatu, '...kalian memberi Bapak alasan yang sebenarnya untuk melawan. Bukan kewajiban. Bukan warisan. Satu nyawa kecil yang akan memanggil Bapak "Kakek".' Ia menatap Danu dan Mitha bergantian. 'Bapak akan berdiri di hari kelahirannya. Itu janji Bapak — dan Bapak tidak pernah ingkar janji.'
'Yah, ini masih minggu-minggu awal—' Danu mulai.
'Bapak tidak peduli. Bapak sudah memutuskan. Dokter Bapak boleh bilang apa saja, tapi ada obat yang tidak bisa mereka resepkan, dan obat itu baru saja datang.' Gunawan menyeka sudut matanya tanpa malu-malu. 'Nak Mitha, mulai hari ini kesehatanmu adalah urusan keluarga ini. Bukan beban — kehormatan. Dan itu tidak bisa ditawar.'
Maka aturan-aturan baru lahir dalam satu jam: Mitha tetap bekerja, tapi dengan penyesuaian yang disepakati bersama (dan dinegosiasikan keras oleh Mitha sendiri, yang menolak diperlakukan seperti barang pecah belah). Tim lantai 19 diberi tahu versi yang sederhana — bahwa Mitha akan membagi sebagian tugasnya, tanpa alasan yang dijelaskan dulu. Dan yang paling penting: kabar kehamilan itu diputuskan untuk tidak diumumkan ke mana pun di luar lingkaran inti.
'Bukan karena kita takut hidup bahagia,' kata Danu. 'Tapi Darmadi punya telinga di mana-mana. Selama dia tidak tahu, ada satu hal dalam hidup kita yang bukan bagian dari papan caturnya. Biarkan satu hal ini tetap jadi milik kita.'
Semua setuju — dan untuk beberapa minggu, rahasia kecil itu menjadi sumber kebahagiaan yang tersembunyi di tengah perang yang sedang berjalan: Dara yang mulai membaca buku-buku kehamilan secara sembunyi-sembunyi, Anya yang menangis di telepon dan langsung menawarkan diri jadi 'bibi resmi', Gunawan yang mulai membaca ulang buku-buku tua tentang nama-nama bayi dari raknya, dan Danu — yang setiap malam, tanpa pernah mengakuinya, menyempatkan diri bicara ke perut Mitha yang bahkan belum berubah bentuknya.
Telepon ke Anya itu sendiri menjadi momen tersendiri. Mitha meneleponnya sore, dari beranda, dengan kalimat pembuka yang sudah disiapkannya: 'Any, kamu duduk dulu.' Dan Anya, yang mengenal sahabatnya lebih baik dari siapa pun, menjawab dalam satu detik: 'Kamu hamil.' Bukan pertanyaan. 'Bagaimana kamu—' 'MITA PARAMITHA ARJANTI!' Teriakan Anya sampai membuat Mitha menjauhkan ponsel dari telinganya. 'Aku tahu! Aku selalu tahu sebelum kamu bilang! Ingat waktu kamu mau putus sama Indra? Aku tahu sebelum kamu buka mulut! Oh Tuhan, aku jadi bibi. Aku resmi jadi bibi. Dengar, aku akan jadi bibi terbaik yang pernah ada — aku sudah punya daftar nama bayi sejak kita kuliah, jangan tanya kenapa, dan anakmu akan memanggilku Bibi Anya dengan penuh hormat—' 'Any. Napas.' 'Tidak bisa napas! Ini keponakan pertamaku!' Dan Mitha tertawa sampai perutnya sakit — tawa yang sudah lama tidak lepas seperti itu, di tengah badai yang sedang bergerak, dan ia bersyukur untuk setiap detiknya.
'Halo, Abisatya junior,' bisiknya di malam pertama. 'Ayah di sini. Dunia di luar sedang agak berantakan, tapi tenang saja — Ayah sedang membereskannya. Dan saat kamu keluar nanti, Ayah janji satu hal: kamu tidak akan pernah bertanya siapa namamu dan dari mana kamu berasal. Itu janji yang Ayah pelajari dari kakek dan nenekmu — dari dua-duanya.'
Dan di malam-malam seperti itu, Mitha berbaring menyaksikan suaminya bicara dengan perutnya, menyentuh gelang mamanya di pergelangan tangan, dan berpikir bahwa lingkaran besar ini akhirnya hampir utuh: ada anak yang lahir dari cinta yang disembunyikan (dirinya), dan akan ada anak yang lahir dari cinta yang diumumkan (anaknya) — dan di antara keduanya, dua generasi yang berjuang supaya yang kedua tidak perlu mengalami yang pertama.
***
Tapi di sisi kota yang lain, di kantornya yang menghadap kota dari lantai tertinggi, Darmadi Sutanto sedang membaca laporan mingguan dari orang-orangnya — dan tiga hal membuatnya menghentikan bacaannya lebih lama dari biasanya.
Pertama: keluarga Abisatya menambah pengamanan di rumah utama dan di sekitar Paramitha Arjanti. Kedua: ada pergerakan kecil di tim medis keluarga itu — satu dokter kandungan ternama dihubungi lewat jalur yang sangat hati-hati. Ketiga: orang-orangnya di Sumatera belum menemukan jejak Rustam Effendi.
Lelaki tua itu mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja — kebiasaan lamanya saat menghitung. 'Kandungan,' katanya pelan, pada ruangan kosongnya, dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya. 'Menarik. Keluarga itu menambah anggota baru di tengah perang. Berani sekali... atau bodoh sekali.'
Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap kota yang selama empat puluh tahun dianggapnya sebagai papan permainan miliknya.
'Temukan Rustam sebelum mereka,' katanya pada teleponnya beberapa menit kemudian. 'Dan untuk keluarga Abisatya — jangan disentuh dulu. Biarkan mereka bahagia sebentar. Kebahagiaan membuat orang lengah, dan orang yang lengah tidak pernah melihat dari arah mana pukulan datang.'