Rustam Effendi bicara setelah dua jam — dua jam yang dihabiskan Om Aji dengan kesabaran seorang veteran: tidak mendesak, tidak menjanjikan, hanya menyeduhkan teh dan mendengarkan lelaki tua itu melepaskan tiga puluh satu tahun ketakutan sedikit demi sedikit.
'Saya bukan orang baik-baik, Nak Bram,' katanya memulai, menatap dinding losmen yang lembap. 'Saya bendahara. Saya yang memindahkan uang itu, lembar demi lembar, tahun demi tahun. Saya tahu itu salah dan saya tetap melakukannya — karena gajinya besar, karena saya punya keluarga, dan karena di Kencana waktu itu, tidak ada yang namanya pilihan. Ada perintah, dan ada akibatnya.'
'Perintah siapa?' tanya Bram pelan. 'Ayah saya, atau Darmadi?'
'Dua-duanya. Tapi dengan cara yang berbeda — dan bedanya penting.' Rustam menatapnya. 'Ayahmu tahu ada uang yang tidak bersih. Dia ikut menikmatinya. Itu tidak bisa saya hapus dan tidak akan saya hapus — dia bersalah, dan dia tahu dia bersalah. Tapi mesinnya, Nak Bram — mesin yang menggerakkan semuanya — itu Darmadi. Ayahmu pemilik nama dan wajah. Darmadi pemilik sistem. Ayahmu memerintah dengan suara keras di ruang rapat; Darmadi memerintah dengan catatan kecil di pembukuan yang hanya saya dan dia yang bisa membaca. Dan ada satu bagian yang tidak pernah diketahui siapa pun kecuali kami berdua: dari setiap seratus rupiah yang dikorup, ayahmu mengambil tiga puluh. Sisanya mengalir ke kantong-kantong Darmadi — lewat jalur yang bahkan ayahmu tidak tahu.'
Bram duduk diam, mencerna. Selama tiga puluh satu tahun ia membayangkan ayahnya sebagai korban fitnah sepenuhnya; selama tiga puluh satu tahun Saraswati membayangkannya bersalah sepenuhnya. Kebenaran, seperti biasa, tinggal di tengah — di tempat yang tidak nyaman untuk semua orang.
'Raka Wijaya,' kata Om Aji. 'Bapak mengenalnya.'
Rustam memejamkan matanya. 'Auditor muda itu. Ya. Dia yang menggantikan saya untuk pembukuan bersih — saya pegang yang gelap, dia pegang yang resmi, dan kami tidak pernah boleh saling tahu. Tapi Raka cerdas — terlalu cerdas untuk pekerjaan itu. Dia mulai menemukan jahitan-jahitan di antara dua pembukuan itu, dan dia datang ke saya. Bukan menuduh — bertanya. Anak itu bertanya dengan mata yang bersih: "Pak Rustam, tolong jelaskan angka ini, karena kalau tidak dijelaskan, saya harus melaporkannya."' Rustam menggeleng pelan. 'Saya mengusirnya. Menyuruhnya tutup mulut kalau masih sayang nyawa. Dan dua minggu kemudian... kalian sudah tahu.'
'Kecelakaannya,' kata Bram, dan suaranya berubah — lebih dingin, lebih tajam. 'Bapak tahu sesuatu.'
Bukan pertanyaan. Dan Rustam tidak menjawabnya sebagai pertanyaan.
'Dua hari sebelum Raka mati, ada tamu di kantor Darmadi. Bukan orang kantor — orang yang datang lewat pintu belakang, yang hanya ditemui Darmadi sendiri. Saya melihatnya sekali, dari kejauhan: lelaki pendiam, bekas tentara menurut gosip kantor, dipanggil "Pak Tejo". Setelah Raka mati, lelaki itu tidak pernah terlihat lagi — dan Darmadi memberi saya satu amplop tebal dengan satu instruksi: "Mulai hari ini, tidak ada yang namanya Raka Wijaya. Tidak pernah ada."' Suara Rustam bergetar. 'Saya tidak pernah bisa membuktikan apa-apa, Nak. Tapi saya bendahara tiga puluh tahun — saya tahu bau uang yang dipakai untuk membungkam. Dan amplop itu baunya darah.'
Ruangan losmen itu hening. Bram menatap lantai, dua tangannya saling menggenggam sampai buku-buku jarinya putih. Om Aji dan Bisma saling berpandangan: satu nama baru lagi di papan. *Pak Tejo. Bekas tentara. Orang bayaran.*
'Dan ayahku?' Bram akhirnya bertanya, hampir berbisik. 'Kematian ayahku di sel — Bapak tahu apa?'
'Sama. Tidak ada bukti — tapi ada polanya.' Rustam menatapnya langsung untuk pertama kalinya. 'Seminggu sebelum ayahmu "bunuh diri", dia mengirim pesan ke saya lewat orang dalam lapas — satu pesan terakhir yang membuat saya kabur malam itu juga dan tidak pernah kembali. Isinya: "Rustam, mereka tahu aku akan bicara. Suratku pada jaksa bocor. Kalau aku tidak sempat keluar, jaga dirimu — kau saksi terakhir." Seminggu kemudian ayahmu mati, dan jaksa Sigit pensiun dini dua bulan setelahnya. Bapak hitung sendiri, Nak. Kebetulan tidak datang sebanyak itu berurutan.'
Bram berdiri dan berjalan ke jendela losmen yang menghadap pegunungan gelap. Punggungnya bergetar — bukan karena sedih kali ini, tapi karena sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam: kebenaran yang akhirnya berdiri utuh di depan matanya setelah tiga puluh satu tahun menjadi kabut.
'Ayahku bersalah,' katanya pelan, pada pegunungan itu, pada ayahnya, pada dirinya sendiri. 'Tapi dia tidak mati sebagai penjahat yang menyerah. Dia mati sebagai saksi yang dibungkam — sama seperti Raka Wijaya. Dan orang yang membungkam keduanya masih duduk di lantai tertinggi gedungnya, dihormati, diundang ke acara-acara filantropi.'
Ia berbalik. Matanya merah, tapi suaranya sudah menjadi baja.
'Pak Rustam. Saya tidak akan meminta Bapak jadi pahlawan — Bapak sudah menjawab dosa-dosa Bapak dengan tiga puluh satu tahun hidup sebagai orang lain, dan itu bukan urusan saya untuk menilai. Saya hanya meminta satu: bersaksi. Ceritakan semua ini di tempat yang resmi, dengan perlindungan penuh yang akan kami siapkan. Bukan untuk keluarga saya. Untuk Raka Wijaya yang mati karena bertanya dengan mata bersih. Untuk ayah saya yang mati karena akhirnya memilih bicara. Dan untuk Bapak sendiri — supaya tiga puluh satu tahun bersembunyi ini tidak berakhir sebagai sia-sia.'
Rustam menatapnya lama sekali. Lalu lelaki tua itu bangkit, berjalan ke tasnya, dan mengeluarkan sesuatu dari lapisan dalamnya — satu paket terbungkus kain, yang dibawanya ke mana-mana selama tiga puluh satu tahun seperti jimat.
'Saya bendahara, Nak Bram,' katanya, meletakkan paket itu di atas ranjang. 'Dan bendahara yang baik tidak pernah membuang bukti. Ini salinan pembukuan gelap Kencana — lembar demi lembar, tahun demi tahun, dengan paraf Darmadi Sutanto di tempat-tempat yang tidak pernah dibayangkannya akan dibaca siapa pun. Saya simpan sebagai jimat ketakutan.' Ia mendorongnya ke arah Bram. 'Ambil. Ubah jimat ini jadi jimat keadilan. Dan antarkan saya ke tempat yang aman — saya akan bersaksi. Saya sudah tiga puluh satu tahun jadi orang yang bersembunyi. Izinkan sisa umur saya jadi orang yang berguna.'