Mereka kembali ke Jakarta dengan tiga hal: satu bendahara tua yang berlindung di rumah aman yang disiapkan Om Aji, satu paket pembukuan gelap yang nilainya melebihi seluruh arsip yang terbakar, dan satu kepastian bahwa Darmadi Sutanto kini tahu bahwa mereka telah menemukannya.
'Begitu Rustam hilang dari losmen itu, Darmadi membaca situasinya dalam hitungan jam,' kata Bisma. 'Orang-orangnya tiba di kecamatan itu enam jam setelah kita pergi. Kita menang dengan selisih enam jam — dan sekarang dia tahu persis apa yang kita pegang.'
'Maka tidak ada lagi waktu untuk bergerak senyap,' kata Danu. Dan malam itu juga, di ruang komando, keputusan besar diambil: semuanya akan diserahkan lewat jalan resmi. Tidak ada pengadilan media, tidak ada kebocoran strategis, tidak ada permainan ala Bram yang lama. 'Kita punya dua surat Hardjono, koper Sigit, pembukuan Rustam, dan dua saksi hidup. Ini bukan lagi bahan untuk perang narasi — ini bahan untuk membuka kembali kasus secara hukum. Dan kita serahkan ke tempat yang seharusnya: penyidik. Bersih, tercatat, dan tidak bisa dibakar seperti gudang arsip.'
Penyerahan itu sendiri berjalan tiga hari kemudian, di satu gedung penyidik di selatan kota — dan tidak berjalan seperti yang dibayangkan Bram. Ia membayangkan meja interogasi, kecurigaan, dinding-dinding birokrasi. Yang ditemuinya justru satu tim penyidik muda yang membaca dua surat Hardjono dengan wajah yang berubah di setiap halaman. Penyidik seniornya — perempuan tegas berkaca mata yang memperkenalkan diri sebagai Ratih — menutup map terakhir dan berkata: 'Saya sudah dua puluh tahun membuka berkas-berkas dingin. Kebanyakan orang datang membawa dendam dan sedikit bukti. Kalian datang membawa bukti dan — yang lebih langka — kerendahan hati untuk menyerahkannya ke proses. Kasus ini akan saya kawal sendiri. Tapi saya peringatkan satu hal: setelah ini berjalan, tidak ada yang bisa mengontrol kecepatannya selain bukti. Kalian harus sabar — dan kalian harus kuat, karena orang yang kita kejar akan menekan dari segala arah.'
'Kami sudah cukup lama ditekan, Bu Ratih,' jawab Danu. 'Sekarang giliran kami yang belajar sabar.'
Gunawan menyetujui semua keputusan itu dengan satu syarat yang khas: 'Dan siapkan pengacara terbaik untuk Rustam dan Sigit. Dua orang itu bersaksi bukan karena kewajiban — karena keberanian di ujung umur. Keluarga ini tidak membiarkan orang yang berdiri untuk kebenaran berdiri sendirian. Itu pelajaran tiga puluh satu tahun yang tidak akan kami ulangi.'
Proses itu berjalan dua minggu — dua minggu penuh pengacara, penyidik, pemeriksaan berlapis, dan penjagaan ketat atas dua saksi yang namanya tidak pernah disebut di mana pun. Dan selama dua minggu itu, Darmadi Sutanto tidak tinggal diam — tapi serangannya datang dari arah yang berbeda: bukan ke orang-orang, ke bisnis.
'Tiga kontrak distribusi kita di kawasan timur dibatalkan mendadak,' lapor Om Aji di rapat mingguan kantor. 'Alasannya berbeda-beda, tapi polanya sama: ada yang menawarkan harga yang mustahil ke mitra-mitra kita — harga rugi, harga bakar uang. Grup Sutanto Nusantara mulai menggerogoti dari sisi dagang.'
'Dia tidak bisa menyentuh saksi-saksi kita lagi, jadi dia menekan dari sisi yang dia kuasai,' kata Danu, mempelajari laporannya. 'Biarkan. Lepaskan tiga kontrak itu — jangan kita kejar dengan harga bakar uang. Perusahaan ini tidak akan ikut bermain di kubangan.'
'Kita kehilangan delapan persen pendapatan kawasan itu, Danu.'
'Kita kehilangan delapan persen untuk menjaga seratus persen integritas perusahaan ini saat kasus itu terbuka nanti.' Danu menutup map. 'Saat nama Darmadi muncul di surat dakwaan, setiap langkah kita hari ini akan dibaca ulang publik. Aku mau catatan yang bersih: Abisatya Besari tidak pernah membalas kecurangan dengan kecurangan. Itu warisan ayahku, dan itu yang akan kuserahkan ke anakku nanti.'
***
Di lantai 19, Mitha menyampaikan kabar versi sederhananya ke timnya: ia akan membagi sebagian peran hariannya sementara waktu — dan Rangga akan naik menjadi koordinator lapangan. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada alasan rinci. Tapi tim yang sudah belajar membaca pemimpinnya tidak bertanya macam-macam; mereka hanya berdiri dan bertepuk tangan untuk Rangga yang tersipu kaku di sudut ruangan.
'Bu,' kata Rangga setelah rapat, mendekat dengan canggung, 'aku tidak tahu alasan sebenarnya apa, dan aku tidak akan tanya. Tapi aku mau bilang satu hal: Ibu dulu mengambil risiko untuk anak gudang yang tidak dikenalnya. Sekarang biar kami yang menjaga apa yang Ibu bangun. Pulanglah dengan tenang tiap sore. Unit ini aman.'
Mitha hampir menangis di depan timnya — dan memutuskan bahwa menangis di depan timnya tidak apa-apa, sekali ini saja.
***
Dan di rumah, di tengah semua itu, kehidupan kecil terus tumbuh — harfiah. Usia kandungan Mitha memasuki bulan ketiga. Mual pagi hari datang dan pergi dengan jadwal yang kejam, dan Danu — CEO yang mengendalikan tiga puluh dua perusahaan — belajar membuat jahe hangat dengan tingkat keberhasilan yang awalnya menyedihkan, sampai Pa Handi mengasihianinya dan mengajarinya dengan sabar.
Percobaan pertama: terlalu pedas, dan Mitha meminumnya habis sambil menangis tertawa. Percobaan ketiga: air jahe yang rasanya seperti air putih berdosa. Percobaan kelima — yang disaksikan Pa Handi dengan mata terpejam setengah — akhirnya menghasilkan satu gelas yang membuat Mitha berkata: 'Nah. Ini. Kamu boleh pensiun sekarang, Pa Handi, ada penggantinya.'
'Jangan, Bu,' jawab Pa Handi datar. 'Tiga puluh tahun saya menjaga rumah ini, saya tidak mau pensiun dengan warisan satu gelas jahe.'
Dara mulai menyulam sesuatu yang tidak mau diperlihatkannya pada siapa pun — sampai Bisma menemukannya tertidur di sofa dengan sulaman kecil di pangkuannya: dua huruf yang baru jadi setengah, 'A' dan 'B', dengan benang kuning lembut. Bisma menatapnya lama, menyampirkan selimut ke bahunya, dan tidak berkomentar apa-apa — tapi malam itu juga ia memesan satu set buku tentang bayi ke alamat rumahnya sendiri, dan tidak bisa menjelaskan pada dirinya kenapa.
Dan Gunawan mulai menyebut-nyebut nama calon cucu di setiap kesempatan, sampai Danu berkata: 'Yah, namanya saja belum tahu laki-laki atau perempuan.'
'Bapak menyiapkan dua-duanya. Orang berpengalaman selalu menyiapkan dua skenario.'
Tapi kebahagiaan yang dijaga rapat itu akhirnya bocor juga — bukan ke publik, ke tempat yang paling tidak boleh mengetahuinya.