Persidangan sebuah kasus berumur tiga puluh satu tahun tidak dibangun di atas kebenaran saja — ia dibangun di atas rantai yang tidak boleh putus satu mata pun. Dan di ruang komando rumah besar itu, Bu Ratih menjelaskannya dengan kapur kecil di papan tulis mereka sendiri, dalam kunjungan resminya yang pertama:
'Untuk kasus korupsinya, kita kuat. Pembukuan Rustam, koper Sigit, dua saksi hidup — Darmadi Sutanto bisa saya kenakan pasal berlapis, dan hukumannya akan menghabiskan sisa umurnya.' Ia mengetuk bagian kedua papan. 'Tapi untuk dua kematian — Raka Wijaya dan Hardjono Wirawan — rantai kita putus di satu titik. Kita punya motif, pola, kesaksian Rustam soal tamu misterius, amplop uang bungkam. Semuanya mengarah, tapi tidak ada yang menyentuh langsung. Orang yang menyentuh langsung hanya dua: Darmadi... dan eksekutor itu sendiri. Pak Tejo.'
'Begitu kata hukum,' kata Danu. 'Kalau Tejo tidak bicara, Darmadi hanya dihukum untuk uang — bukan untuk dua nyawa.'
'Begitu kata hukum.' Ratih menatap mereka satu per satu. 'Dan aku harus jujur pada kalian: aku tidak puas dengan itu. Dua orang mati untuk kebenaran — mereka tidak boleh hanya jadi catatan kaki vonis korupsi.'
Maka perburuan kedua dimulai — perburuan terhadap hantu yang bernama Pak Tejo.
Dan lagi-lagi, Bisma yang menemukannya — bukan lewat jaringan jalanan kali ini, tapi lewat pembukuan Rustam itu sendiri. 'Dengarkan baik-baik,' katanya, menyorot satu kolom di salinan pembukuan gelap yang diproyeksikan ke layar. 'Bendahara itu rapi luar biasa. Setiap pengeluaran ada posnya — dan ada satu pos yang muncul dua kali, dua minggu setelah masing-masing kematian: "konsultan keamanan — penyelesaian khusus". Dua kali. Nominalnya besar dan persis sama. Konsultan keamanan apa yang dibayar dengan nominal sama persis untuk dua "penyelesaian" yang berbeda?'
'Orang yang dibayar per proyek,' jawab Bram pelan. 'Dan proyeknya bernama Raka dan ayahku.'
'Pembayarannya lewat satu yayasan cangkang — yayasan yang sama yang tiga puluh satu tahun kemudian masih hidup, dan masih membayar "konsultan keamanan" yang sama tiap bulan.' Bisma memutar layarnya: foto seorang lelaki enam puluhan, rambut cepak putih, berdiri di belakang sebuah acara perusahaan. 'Tejo Santosa — benar-benar cuma mengganti nama depannya jadi marga, orang ini tidak terlalu kreatif. Posisi resmi: Kepala Keamanan PT Sutanto Logistik Nusantara. Bekas tentara, sesuai gosip kantor tiga puluh satu tahun lalu. Dan coba tebak siapa yang tidak pernah sekalipun mengambil cuti dalam sepuluh tahun terakhir? Orang yang tidak pernah bisa pergi jauh dari majikannya — karena mereka saling memegang rahasia yang bisa membunuh keduanya.'
Ruangan itu hening sejenak. Hantu itu punya wajah sekarang — dan wajah itu berdiri di depan kamera perusahaan dengan tenang, seolah dua nyawa yang diambilnya tidak lebih dari dua baris di pembukuan.
Yang paling lama menatap foto itu adalah Saraswati. Ia datang ke ruang komando hari itu untuk mengantar dokumen, dan berdiri mematung di depan layar — menatap wajah lelaki yang menurut semua bukti adalah orang yang merenggut ayahnya dari dunia. Tidak ada teriakan, tidak ada tangis. Hanya satu pertanyaan yang keluar pelan, hampir tidak terdengar: 'Dia punya keluarga?'
Bisma memeriksa datanya. 'Duda. Satu anak, satu cucu. Cucunya baru lahir tahun lalu.'
'Jadi dia pulang ke rumah,' kata Saraswati, masih menatap foto itu. 'Setiap malam, selama tiga puluh satu tahun, dia pulang ke rumah, menyekolahkan anaknya, dan tahun lalu menggendong cucunya. Sementara kami mengubur ayah kami tanpa sempat mendengar vonisnya.' Ia menarik napas panjang, dan ketika berbalik, matanya kering tapi suaranya bergetar. 'Aku tidak mendoakan apa pun untuknya. Tapi cucunya tidak berdosa — ingat itu saat kalian menangkapnya. Jangan ada anak lain yang tumbuh dengan pertanyaan seperti yang dibawa kakakku.'
Tidak ada yang menjawab. Tapi semua orang di ruangan itu mencatatnya dalam hati — termasuk Bu Ratih, yang menatap Saraswati dengan hormat baru: perempuan yang ayahnya dibunuh lelaki itu, dan yang tetap memikirkan cucu lelaki itu.
'Dia mata rantainya,' kata Ratih, menatap foto itu dengan mata penyidik yang sudah membaca kemungkinan-kemungkinan. 'Tapi menangkapnya sekarang sia-sia — dia akan tutup mulut, pengacara Sutanto akan memagarinya, dan Darmadi akan memotongnya dari jauh seperti memotong benang layangan. Kita butuh dia bergerak dulu. Melakukan sesuatu yang bisa kami tangkap basah — sesuatu yang membuat Darmadi tidak bisa lagi menyangkal mengenalnya.'
'Sesuatu yang hanya akan dia lakukan kalau Darmadi sendiri yang memerintahkannya,' tambah Bram.
'Maka kita beri Darmadi alasan untuk memerintahkannya,' kata Danu.
Semua kepala menoleh ke CEO muda itu. Danu berdiri, berjalan ke papan tulis, dan mengetuk kalimat yang ditulisnya berminggu-minggu lalu: *orang yang menikmati permainan tidak tahan tidak menonton hasilnya.*
'Darmadi sudah tahu kita pegang pembukuan Rustam. Yang dia tidak tahu: apakah ada bukti lain yang menghubungkannya langsung ke Tejo. Selama dia mengira tidak ada, dia aman — dan orang aman tidak bergerak.' Danu menatap mereka. 'Jadi kita beri tahu dia bahwa ada. Kita ciptakan satu dokumen yang tidak pernah ada — bukti langsung yang katanya disimpan Rustam di tempat terpisah, yang baru akan diserahkan ke penyidik. Dokumen yang kalau benar ada, akan mengikat dia dan Tejo dalam satu kalimat. Apa yang akan dilakukan orang seperti Darmadi saat mendengar itu?'
'Dia tidak akan percaya begitu saja,' kata Bisma.
'Tidak. Dia akan memeriksanya dulu — lewat telinganya di dalam. Dan telinganya di dalam itu...' Danu tersenyum tipis, '...adalah orang yang sama yang membocorkan permohonan akses arsip kita empat hari sebelum gudang itu terbakar. Kita tidak perlu mencari telinga itu. Kita tinggal membisikkan dokumen palsu kita ke tempat yang sama — dan menonton ke mana bisikannya berlari.'
Ratih menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. 'Itu operasi yang harus saya bawa ke atasan saya hari ini juga. Kalau disetujui, kita semua resmi menjadi satu tim — dan kalian harus siap dengan satu kenyataan: perangkap seperti ini hanya punya satu kesempatan. Kalau Darmadi menciumnya, dia tidak akan pernah mendekati panggung yang sama dua kali.'
'Maka kita pastikan panggungnya sempurna,' kata Danu. 'Karena penonton kita sudah tiga puluh satu tahun berlatih mencium panggung palsu.'