Membangun panggung untuk menipu Darmadi Sutanto ternyata jauh lebih sulit daripada membangunnya untuk orang biasa — karena seperti kata Gunawan, lelaki itu sudah empat puluh tahun berdiri di pinggir ruangan, mengamati cara orang berbohong.
'Dokumen palsunya tidak boleh terlalu sempurna,' kata Ratih dalam rapat perencanaan yang melibatkan timnya dan tim rumah besar. 'Bukti yang terlalu lengkap itu mencurigakan bagi orang seperti dia. Bukti asli selalu punya cacat — lembar yang hilang, tanggal yang tidak cocok, paraf yang pudar. Kita buat dokumen yang setengah rusak, seperti baru diselamatkan dari tempat yang lembap.'
'Dan ceritanya harus masuk akal dari sudut Rustam,' tambah Bram. 'Dia bendahara yang menyimpan pembukuan gelap tiga puluh satu tahun — masuk akal kalau dia juga menyimpan "kotak kedua" yang lebih berbahaya, yang disembunyikannya bahkan dari kami. Orang ketakutan selalu punya lapis cadangan.'
Maka lahirlah 'Kotak Kedua': satu bundel bukti rekaan — salinan slip pembayaran 'konsultan keamanan' dengan tanda terima bertandatangan, yang menurut ceritanya disimpan Rustam di kota lain dan baru diakuinya setelah diyakinkan pengacaranya. Cerita itu dibangun berlapis-lapis: ada 'pegawai lama keluarga Rustam' yang mengantar kotaknya, ada 'jadwal serah terima' ke penyidik di satu kantor cabang, dan ada satu saluran kebocoran yang dirawat dengan hati-hati — satu pegawai di birokrasi yang sudah diidentifikasi tim Bisma sebagai telinga Darmadi sejak kebakaran gudang.
'Kita tidak membersihkan telinga itu,' jelas Bisma. 'Membersihkannya justru memberi tahu Darmadi bahwa kita tahu. Kita biarkan dia mendengar — dan kita pastikan yang dia dengar hanya lagu yang kita yang menulis.'
Operasi itu diberi nama resmi oleh tim Ratih dengan kode dingin. Tapi di rumah besar, Dara memberinya nama lain saat mendengar rencananya: 'Kalian membangun panggung sandiwara untuk satu penonton berusia enam puluh sembilan tahun. Namanya saja "Operasi Pentas".'
'Operasi Pentas,' ulang Bisma, dan entah kenapa nama itu yang menempel di kepala semua orang mulai hari itu.
Persetujuan dari atasan Ratih turun dua hari kemudian, dengan syarat-syarat yang tegas: tidak ada satu pun anggota keluarga yang berada di lapangan, semua komunikasi tercatat, dan ada garis komando tunggal di bawah penyidik. 'Mulai sekarang kalian bukan tim independen lagi,' kata Ratih saat menyampaikannya. 'Kalian saksi dan pelapor yang dilindungi negara. Yang berarti dua hal: kalian harus mematuhi instruksi bahkan ketika tidak nyaman — dan negara mulai bertanggung jawab penuh atas keselamatan kalian. Dua-duanya tidak bisa ditawar.'
'Kami menerima dua-duanya,' jawab Danu, atas nama semua orang di ruangan itu. 'Keluarga ini sudah selesai dengan cara-cara yang tidak tercatat.'
Ratih menatapnya sebentar, lalu mengangguk puas. 'Bagus. Karena mulai hari ini, kalian resmi jadi bagian dari sesuatu yang jarang terjadi di karier saya: kasus dingin yang dihidupkan kembali bukan oleh negara, tapi oleh orang-orang yang menolak lupa. Jangan rusak itu dengan sembrono.'
***
Di sela-sela persiapan yang menegangkan itu, kehidupan di rumah besar berjalan dengan ritmenya sendiri — seolah rumah itu menolak menjadi benteng dan memilih tetap menjadi rumah.
Minggu-minggu itu kandungan Mitha memasuki bulan kelima. Perutnya mulai terlihat jelas di balik dress longgarnya, dan rahasia itu mulai sulit disimpan dari orang-orang terdekat kantor — sampai akhirnya, dengan persetujuan semua, kabar itu dibuka ke lingkaran yang sedikit lebih luas: tim lantai 19, yang menyambutnya dengan tepuk tangan panjang dan satu kado kolektif berupa bingkai foto meja kerja Mitha yang sudah ditempeli stiker-stiker lucu oleh Rangga. 'Agar juniornya sudah terbiasa dengan lingkungan kerja sejak dini, Bu,' katanya kaku, dan satu ruangan meleleh.
Dan ada satu malam di tengah minggu itu yang menjadi milik Bisma dan Dara sepenuhnya.
Malam itu datang tanpa direncanakan, seperti semua malam terbaik mereka: Bisma pulang dari ruang komando dengan kepala penuh skenario, dan menemukan Dara di beranda dengan dua cangkir teh yang sudah disiapkan — seolah perempuan itu selalu tahu kapan lelakinya butuh berhenti memikirkan perang. 'Duduk,' kata Dara. 'Kamu boleh membenci Darmadi besok lagi. Malam ini kursi ini zona bebas dendam.'
Mereka duduk di beranda belakang setelah semua orang tidur — kebiasaan baru yang tidak diumumkan kepada siapa pun — dan Bisma berkata, sambil menatap taman yang gelap: 'Setelah semua ini selesai, aku mau bertemu ayahmu. Bukan sebagai teman Danu. Sebagai diriku sendiri, dengan satu pertanyaan yang sudah kusiapkan.'
Dara tidak menjawab langsung. 'Kamu tahu ayahku sudah tahu sejak lama.'
'Aku tahu. Dia menatapku seperti menatap proposal bisnis yang meragukan sejak dua bulan lalu.'
'Karena kamu memang proposal bisnis yang meragukan.' Dara tersenyum, lalu bersandar ke bahunya — gerakan yang masih baru dan masih membuat keduanya diam sejenak setiap kali terjadi. 'Tapi dengar, Bis. Ayahku pernah bilang ke Danu: jangan tunggu badai lewat untuk hidup. Kalau kamu mau bertanya sesuatu, bertanyalah sekarang. Badai tidak pernah benar-benar lewat — yang berubah cuma bentuknya.'
Bisma menatapnya lama. 'Itu nasihat yang sama yang mau kupakai.' Ia menggenggam tangan Dara. 'Tapi aku ingin melakukannya dengan benar — dengan izin ayahmu dulu, baru dengan cincin. Aku sudah dua puluh tahun melakukan segalanya dengan caraku. Untuk yang satu ini, aku mau melakukannya dengan cara yang benar.'
'Kapan-kapan ingatkan aku menceritakan ini ke kolom gosip,' kata Dara. 'Bismadikara Hanenda, minta izin. Edisi langka.'
'Kamu tidak akan pernah berhenti meledekku, ya?'
'Tidak akan. Itu salah satu yang kamu sukai dari aku, walau kamu tidak akan pernah mengakuinya.'
Dan tawa mereka berbaur dengan suara jangkrik di taman yang gelap — dua orang yang sedang membangun sesuatu di tengah badai, persis seperti yang dilakukan dua orang lain di kamar atasnya, dan persis seperti yang dilakukan satu lelaki tua di kamar sebelah, yang malam itu tidur lebih nyenyak dari biasanya karena hasil kontrolnya hari itu menunjukkan angka-angka yang terus membaik.
Badai boleh datang. Rumah ini sudah memutuskan untuk tetap hidup.