Kesaksian itu berlangsung tiga hari — tiga hari penuh, dengan dua jaksa, satu penyidik senior, dan rekaman yang tidak pernah berhenti.
Tejo Santoso bicara seperti orang membuka bendungan: pelan di awal, lalu tidak bisa berhenti. Dan yang keluar darinya bukan hanya pengakuan — tapi detail, jenis detail yang tidak bisa dikarang oleh orang yang tidak berada di sana.
Tentang Raka Wijaya: 'Tahun sembilan puluh satu, dua hari sebelumnya, saya dipanggil menghadap. Bukan ke kantor — Darmadi tidak pernah memakai kantornya untuk urusan seperti itu. Ke satu rumah peristirahatan di pinggir kota. Instruksinya persis: auditor muda itu tidak boleh hidup sampai hari Senin, karena hari Senin dia dijadwalkan menyerahkan sesuatu ke redaksi. Harus terlihat seperti kecelakaan. Rem itu pekerjaan saya — saya turunan montir sebelum jadi tentara, dan itu satu-satunya bagian yang tidak pernah bisa saya lupakan: betapa mudahnya. Betapa mudahnya satu nyawa dihapus dengan satu klem yang dilonggarkan.' Ia berhenti, menatap tangannya sendiri seperti baru melihatnya. 'Saya mengawal beritanya di koran tiga hari berturut-turut. "Kecelakaan tunggal." Tidak ada satu pun yang menulis bahwa di balik setir itu ada seorang ayah yang dua minggu lagi akan punya anak.'
Tentang Hardjono Wirawan: 'Yang itu bukan pekerjaan saya — dan ini penting, catat baik-baik. Darmadi tidak memakai saya dua kali untuk hal yang sama; dia tidak pernah memakai alat yang sama di kota yang sama dua kali. Untuk Hardjono dia memakai orang dalam — orang yang sudah ada di dalam sistem lapas. Saya hanya tahu karena saya yang memindahkan uangnya, lewat yayasan, ke satu rekening atas nama perusahaan katering lapas. Setelah Hardjono mati, perusahaan katering itu bubar dalam seminggu. Kalian cari pemiliknya — kalau dia masih hidup, dia rantai terakhir kalian.'
Dan tentang majikannya — bagian yang membuat jaksa penuntut menghentikan rekamannya sebentar untuk memastikan mereka tidak salah dengar:
'Orang-orang selalu bertanya kenapa saya bertahan tiga puluh satu tahun. Uang? Ada. Tapi bukan itu. Darmadi memegang satu hal yang tidak bisa saya lawan: dia satu-satunya orang yang tahu bahwa setiap malam saya tidak bisa tidur. Dia menelepon saya tiap beberapa tahun, tidak pernah membahas pekerjaan, hanya satu kalimat: "Pak Tejo, kita ini orang-orang yang tidak bisa kembali. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah saling menjaga." Tiga puluh satu tahun saya kira itu kesetiaan. Baru di sel ini saya mengerti: itu rantai. Dia tidak menjaga saya. Dia memastikan saya tidak pernah punya tempat lain untuk pulang.'
Rantai itu tersambung. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh satu tahun, jaksa memiliki garis utuh dari uang, ke perintah, ke tangan, ke dua nyawa — dan semua garis itu berhenti di satu nama.
Dan ada satu bonus yang tidak diperkirakan siapa pun: Tejo menyimpan salinan setiap perintah tertulis yang pernah diterimanya — kebiasaan orang yang tidak pernah sepenuhnya percaya pada majikannya. 'Bendahara menyimpan pembukuan. Orang seperti saya menyimpan perintah. Itu satu-satunya warisan yang bisa saya tinggalkan: bukti bahwa saya tidak pernah bergerak atas keinginan sendiri.'
Surat perintah penangkapan untuk Darmadi Sutanto disusun dalam empat puluh delapan jam berikutnya, dengan kehati-hatian ekstrem dan kerahasiaan total.
Tapi Darmadi Sutanto sudah menghilang dua belas jam sebelumnya.
'Kantornya kosong sejak sore kemarin,' lapor Ratih di telepon ke Danu, dan suaranya membawa berita yang sudah ditakuti semua orang. 'Rumahnya rapi — terlalu rapi, seperti ditinggalkan orang yang punya waktu. Rekening-rekening pribadinya mulai bergerak sejak tiga hari lalu, kecil-kecil, ke tujuh negara berbeda. Dia membaca penangkapan Tejo bukan sebagai kemunduran — dia membacanya sebagai bel terakhir. Dan orang yang sudah empat puluh tahun menyiapkan pintu keluar tidak pernah menunggu pintunya diketuk.'
Di ruang komando, peta besar dibentangkan: bandara-bandara, pelabuhan-pelabuhan, jalur-jalur tikus yang sudah dipetakan Bisma dari pola yayasan cangkangnya. 'Dia tidak akan pakai jalur resmi,' kata Bisma. 'Tapi dia juga tidak akan kabur seperti maling. Orang seperti Darmadi kabur seperti raja: dengan kenyamanan, dengan staf, dengan barang-barang yang tidak bisa ditinggalkannya. Dan raja yang kabur dengan kenyamanan hanya punya sedikit pilihan jalur.'
'Satu hal yang kita tahu dari ayahku,' kata Danu, menatap titik-titik di peta itu. 'Orang yang menikmati permainan tidak tahan tidak menonton hasilnya. Dia belum pergi jauh. Sebelum kabur selamanya, dia akan berhenti sebentar — untuk menonton kekacauan yang ditinggalkannya. Itu kelemahannya sejak dulu. Dan kali ini, kelemahan itu satu-satunya kesempatan kita untuk menemukannya sebelum dia menghilang ke tempat yang tidak bisa dijangkau hukum kita.'
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, pemburu dan buruannya berdiri di jarak yang bisa dihitung — dengan satu kota besar di antara mereka, satu surat perintah penangkapan yang menunggu, dan satu lelaki tua yang sedang menyiapkan pertunjukan perpisahannya sendiri.