Empat puluh delapan jam pertama perburuan itu memberi satu pelajaran penting: Darmadi Sutanto tidak kabur — dia menguap.
Hari-hari itu dijalani ruang komando seperti rumah sakit jiwa kecil. Tim Ratih menyisir bandara-bandara dan menemukan tiga 'Darmadi' yang semuanya berakhir sebagai orang lain: satu lelaki tua dengan paspor palsu yang bahkan tidak mirip, satu mayat... bukan, satu penumpang kursi roda yang ternyata kakek biasa dari Surabaya, dan satu nama samaran di manifest jet privat yang pemilik jetnya bersumpah tidak pernah mengenal nama itu. Setiap tanda mengarah ke luar negeri — dan justru karena semua tanda mengarah ke luar, Bisma makin yakin orangnya masih di dalam.
Bram menjalani dua hari itu dengan cara yang mengkhawatirkan semua orang: tanpa tidur, membedah ulang setiap dokumen yayasan, sampai Saraswati menarik paksa map dari tangannya dan menyodorkan semangkuk sup. 'Kamu tidak akan menemukannya dengan mata yang berdarah, Kak. Ayah tidak menunggu tiga puluh satu tahun supaya kamu tumbang di dua hari terakhir.'
'Dia merencanakan ini sejak lama, Saras. Tujuh negara, uang berlapis — orang seperti itu tidak meninggalkan satu pun hal kebetulan. Dan aku takut—' Bram berhenti, mengepalkan tangannya, '—aku takut kita sudah sedekat ini, dan dia tetap lolos. Seperti selalu lolos. Seperti tiga puluh satu tahun.'
'Kalau dia lolos, kita tetap sudah menang,' jawab Saraswati tegas. 'Ayah sudah bersih namanya. Raka sudah bersih namanya. Itu yang diperjuangkan mama kamu di suratnya — bukan hukuman untuk satu orang tua, tapi kebenaran untuk semua orang mati. Sekarang makan. Lalu bantu aku meyakinkan Bisma bahwa kamu masih waras.'
Bram menatap adiknya lama, lalu tertawa kecil — tawa pertama setelah dua hari. 'Kamu makin mirip Ibu, kamu tahu itu?'
'Itu penghinaan atau pujian?'
'Itu fakta yang menyebalkan.'
Tidak ada jejak di bandara mana pun. Tidak ada nama di manifest penerbangan privat. Rekening-rekeningnya bergerak ke tujuh negara, tapi tim forensik keuangan melaporkan pola yang aneh: transfernya terlalu rapi, terlalu sekaligus, terlalu terlihat. 'Ini bukan kabur,' kata Bisma, menatap layar penuh titik-titik merah. 'Orang yang benar-benar kabur tidak menaburkan petunjuk. Ini pertunjukan. Dia mau kita sibuk membaca tujuh negara sementara dia duduk manis di tempat yang tidak ada di peta kita.'
Maka peta itu dibalik: bukan mencari ke mana Darmadi pergi, tapi mencari apa yang tidak bisa ditinggalkannya.
'Setiap orang punya barang yang tidak bisa ditinggalkannya,' kata Gunawan di ruang komando itu. 'Kalian mencari orangnya. Aku mengenal orangnya — cari barangnya. Orang seperti Darmadi menghapus masa lalunya di mana-mana, tapi percayalah: di satu tempat, dia menyimpan trofinya. Orang yang menghabiskan empat puluh tahun membangun citra tidak pernah tahan menghancurkan bukti bahwa dia pernah menang.'
Dan benar saja. Dari bedah ulang aset-aset yayasan cangkangnya, tim menemukan satu properti yang tidak pernah disentuh tiga puluh satu tahun: rumah peristirahatan tua di pinggir kota — rumah yang sama yang menurut kesaksian Tejo dipakai Darmadi untuk memberikan perintah-perintah paling kotornya. Rumah itu tercatat 'tidak dihuni' sejak satu dekade, tapi tagihan listriknya hidup, dan seorang tukang kebun datang dua kali seminggu. Di dalamnya, dari pengamatan jauh yang dilakukan tim Ratih: satu ruangan yang terkunci, yang menurut tukang kebun itu 'tidak pernah boleh dibuka siapa pun, termasuk saya.'
'Dia menyimpan sesuatu di sana,' kata Bram. 'Sesuatu yang tidak bisa dibawanya kabur, dan tidak bisa dibakarnya — karena kalau bisa dibakar, sudah dibakarnya dari dulu.'
'Barang yang tidak bisa dibawa kabur dan tidak bisa dibakar,' ulang Danu pelan, 'adalah barang yang akan membuatnya kembali. Orang tidak meninggalkan trofi terbesarnya begitu saja — apalagi orang yang menurut ayahku tidak tahan tidak menonton hasil permainannya.'
Maka panggung terakhir itu dibangun — dan kali ini, penontonnya hanya satu.
Strateginya disusun dengan presisi bedah: satu pengumuman resmi dari kejaksaan bahwa persidangan kasus Kencana Grafika akan digelar dalam dua minggu — dengan satu kalimat kunci yang disisipkan dengan sengaja: bahwa 'seluruh dokumen dan barang bukti pendukung akan dipublikasikan terbuka di hari pertama sidang, sebagai bentuk transparansi penegakan hukum era baru.'
'Itu kalimat yang tidak bisa ditahannya,' kata Ratih. 'Publikasi bukti terbuka berarti semua rahasianya akan dibaca seluruh negeri — termasuk, kalau dia percaya kita menemukannya, isi ruangan terkunci di rumah itu. Orang yang kabur bersih tidak akan peduli. Tapi orang yang menyimpan trofi tiga puluh satu tahun... dia akan datang untuk barangnya. Setidaknya untuk memastikan barang itu tidak jatuh ke tangan kita.'
'Dan kita akan menunggunya di sana,' kata Danu.
'Bukan kita,' jawab Ratih. 'Kami. Kalian menonton dari rumah ini, dengan kopi, seperti penonton yang baik.' Ia tersenyum tipis — senyum pertama yang pernah mereka lihat dari penyidik tegas itu. 'Anggap ini balas dendam kecil saya: kalian boleh membangun panggungnya, tapi tirainya tetap milik penyidik.'
Rumah peristirahatan itu diawasi selama sembilan hari — sembilan hari dengan mata yang tidak pernah berkedip. Dan di hari kesembilan, pukul setengah dua belas malam, satu mobil tanpa pelat masuk ke jalan kecil menuju rumah itu, dan satu lelaki tua turun dari jok belakang dengan langkah yang tidak tergesa-gesa, membawa satu koper kosong.
Darmadi Sutanto pulang untuk trofinya — tepat seperti yang dibaca Gunawan.
Malam itu ia menghabiskan dua jam di dalam ruangan terkunci itu, dan tidak ada yang tahu apa yang dilakukannya di sana — sampai bertahun-tahun kemudian, dalam satu wawancara dari balik sel, ia menceritakannya sendiri: ia duduk di kursi kerjanya yang lama, membuka satu per satu laci yang sudah tiga puluh satu tahun tidak disentuhnya, dan membaca ulang potongan-potongan hidupnya seperti orang membaca ulang buku yang ditulisnya dengan tangan orang lain. Ada foto dirinya berusia tiga puluhan, berdiri di samping Hardjono di hari peletakan batu pertama pabrik baru — dua anak muda miskin yang bersumpah membangun kerajaan bersama. Ada cangkir kopi kesayangannya. Ada satu surat dari ibunya, dari zaman sebelum segalanya. Ia memasukkan semuanya ke koper dengan tangan yang, katanya, tidak gemetar — 'karena orang yang menangis di hadapan masa lalunya sendiri tidak pernah sempat menjadi sebesar saya dulu. Malam itu saya bukan buronan. Malam itu saya penonton terakhir dari pertunjukan saya sendiri.'
'Dia datang,' lapor Ratih dari pos komando. 'Semua tim, posisi. Dan Tuhan, terima kasih — orang tua keras kepala itu akhirnya salah membaca sesuatu dalam hidupnya.'
Di layar besar ruang komando rumah besar, keluarga itu menyaksikan mobil-mobil tanpa lampu bergerak mengepung rumah peristirahatan itu dalam senyap. Danu memegang tangan Mitha. Bram berdiri dengan napas tertahan. Dan Gunawan Abisatya duduk di kursinya dengan mata yang tidak berkedip, membisikkan satu kalimat yang hanya didengar Dara di sebelahnya:
'Tiga puluh satu tahun, Darmadi. Pintu keluarmu akhirnya habis.'
Tidak ada yang berani bicara di ruangan itu setelahnya — bahkan Bisma, yang biasanya selalu punya komentar untuk segalanya, hanya berdiri mematung dengan remote di tangannya. Sembilan hari menunggu telah menajamkan semua saraf di rumah itu sampai ke ujungnya, dan sekarang, di menit-menit penentu, yang bisa mereka lakukan hanyalah menonton lampu-lampu kecil bergerak di layar seperti menonton hujan turun: tanpa kuasa apa-apa, dengan doa apa saja. Dara meraih tangan Bisma dalam gelap dan menggenggamnya — dan baru melepaskannya tiga puluh menit kemudian, saat satu pesan masuk dari Ratih dan membuat seluruh ruangan menghela napas secara serempak:
'Target diamankan. Tanpa perlawanan. Dia sedang mengemasi piala-pialanya.'
'Piala-pialanya,' ulang Dara, setengah tertawa, setengah menangis. 'Dia mempertaruhkan segalanya untuk piala-pialanya. Manusia memang tidak pernah bisa ditebak sampai akhir.'